Blue Lotus Flower

Blue Lotus Flower
Berjalannya Rencana - Part 1


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


"Cek, cek.. Halo.. Halo.." Kheil menekan earphone kecil yang terpasang di telinganya. "Kalian bisa mendengarku?"


Kheil menatap salah satu layar kumputernya yang menampilkan pergerakan Javer dan Marco, serta satu layar komputer lainnya yang menampilkan 2 titik merah di mana Liam dan Enzo berada.


(Ya..) -Liam dan Marco


(Suaramu terlalu lantang..) -Enzo


Sedangkan Javer? Dia hanya menyahut dengan gumaman kecil.


(Hm!)


"Bukan suaraku yang terlalu lantang, tapi lubang telingamu yang terlalu lebar.." Kheil menyahuti perkataan Enzo dengan acuh tak acuh.


(Haish!! Kenapa kau mengejekku!!) Enzo terdengar tidak terima atas apa yang baru saja di katakan oleh Kheil.


"Aku tidak mengejekmu, itu kenyataan!"


(Yakk!! Ka...)


(Apa kalian akan terus berdebat?) Terdengar suara Javer yang mengintrupsi perdebatan Kheil dan Enzo.


Yang mana, hal itu seketika membuat Kheil dan Enzo mengatupkan mulut mereka rapat-rapat.


"Baiklah, mari kita mulai.. Javer dan kau Marco, kalian bisa melakukan apa yang seharusnya kalian lakukan."


Tanpa mendengar jawaban apa pun, Kheil sudah melihat Javer dan Marco yang mulai melakukan aktifitas mereka masing-masing.


"Apa pita suara kalian akan putus kalau mengucapkan 1 atau 2 patah kata untuk menyahuti perkataanku?" Kheil bertanya dengan sedikit bersungut-sungut.


(Hm!) Gumam Javer dan Marco secara bersamaan.


"Haish!! Kalian berdua memang makhluk yang sangat sulit untuk di ajak berbicara!!"


Kheil menunjuk-nunjuk layar monitor yang menampilkan Javer dan juga Marco dengan sedikit kesal.


(Lalu, apa yang harus kami lakukan?) -Liam.


Kheil segera melupakan rasa kesalnya.


"Ah ya, untukmu dan juga pria tengik yang ada di sebelahmu, kalian hanya harus mengikuti arahan yang aku berikan."


(Andai saja kau ada di depanku, akan ku pastikan kalau mulutmu kini sudah aku robek dengan sangat sadis!!) Suara Enzo terdengar sangat kelas.


Namun, Kheil memilih untuk mengabaikannya. Pria itu memperbesar peta yang menampilkan 2 titik merah, di mana Enzo dan Liam berada.


(Tunggu dulu, bukan kah akan lebih mudah jika mendaki lewat bukit? Bukan kah ini bukit ini milik Aunty Athena, kenapa kita juga harus melewati jalan rahasia?) Terdengar suara Enzo yang menyuarakan protesannya.

__ADS_1


(Sebaiknya kau diam dan ikuti apa yang di arahkan oleh Kheil. Bukan kah sudah ku katakan padamu untuk datang saat pembahasan rencana? Kau terlalu sibuk dengan para jalangmu itu!!) Terdengar Liam yang menyahuti perkataan Enzo dengan sedikit geram.


Kheil yang mendengar hal itu pun hanya bisa menahan tawanya. Dia benar-benar geli mendengar Liam yang akhirnya bisa merasa geram terhadap tingkah ajaib Enzo.


Karena selama ini, Liam merupakan orang yang acuh tak acuh terhadap apa pun yang di lakukan oleh Enzo. Dan sikap Liam yang geram pada saat ini adalah hal langka yang di tunjukkannya. Tapi itu berarti, apa yang di lakukan oleh Enzo benar-benar sudah melewati batas ke acuh tak acuhan yang di tunjukkan oleh Liam.


"Sebaiknya kalian berhenti berdebat dan bergegas menuju titik pengintaian." Kheil berusaha melerai perdebatan antara Liam dan Enzo yang masih saja terus berlangsung.


Mendengar apa yang di katakan oleh Kheil, lantas membuat Liam dan Enzo menghentikan perdebatan mereka kemudian bergerak menuju titik pengintaian. Hal itu bisa di lihat oleh Kheil melalui 2 titik merah yang merupakan Liam dan Enzo yang bergerak menuju titik pengintaian.


.....


Di sisi lain..


"Babby, are you okay?" Javer bertanya pada Teya yang baru saja datang menghampirinya.


"Entahlah.. Perutku sedikit sakit.." Gadis itu menatap Javer dengan pandangan sedikit memelas.


Teya memegangi perutnya menggunakan tangan kirinya, sementara tangan kanannya menggandeng tangan kiri Javer.


Karena entah kenapa, sejak 3 jam yang lalu, Teya mengalami masalah pencernaan. Padahal, jika di pikir kembali, Teya tidak memakan makanan yang aneh atau memakan makanan yang mungkin saja bisa menyebabkan perutnya menjadi sakit.


Melihat wajah Teya yang sedikit pucat, lantas membuat Javer menatap Teya dengan di penuhi rasa kekhawatiran.


"Apa sebaiknya kau kembali ke kamar?" Tanya Javer kemudian.


Karena kebetulan, acara peresmian pemegang saham di adakan di salah satu hotel milik keluarga Griffiths. Hal itu sengaja di lakukan oleh Javer untuk mengantisipasi kalau-kalau Teya merasa kelelahan. Jadi, akan tidak terlalu sulit untuk Teya mengistirahatkan diri jika gadis itu benar-benar merasa lelah.


"Bagaimana? Kau mau aku mengantarmu ke kamar? Wajahmu benar-benar terlihat pucat, babby.."


Teya menggelengkan kepalanya. "Tak apa, aku akan baik-baik saja.. Aku sudah meminum obat yang sebelumnya aku minta dari Marco.."


"Kau yakin?"


"Hmm.." Teya menganggukkan kepalanya. "Aku baik-baik saja.."


Javer lantas melepaskan tangan kirinya dari gandengan Teya, pria itu kemudian melingkarkan tangan kirinya pada pinggang ramping Teya. Berjaga-jaga kalau saja Teya tidak kuat menopang tubunya karena masalah pencernaan yang di alami perutnya.


Karena kebetulan, acara yang tengah di selenggarakan kini adalah acara yang tidak menyediakan kursi.


*Note : Kalo ada yang tau istilahnya apa, tolong kasih tau sensi yak..


Teya yang mendapatkan perlakuan seperti itu dari Javer pun sedikit mendongakkan wajahnya untuk menatap Javer.


"Terima kasih.." Ucap gadis itu dengan suara yang sedikit lirih.


Javer lantas kembali menatap Teya, pria itu mengembangkan senyum kecilnya.


"Apa pun untukmu, babby.."


Mereka lalu kembali memfokuskan pandangan pada sang pembawa acara yang masih saja mengatakan kata-kata pembukaan.


Saat semua orang sibuk memperhatikan sang pembawa acara, Javer menggulirkan matanya ke setiap sudut arah untuk mencari keberadaan Fabio.

__ADS_1


Hingga matanya terpusat pada arah jam 10, di mana Fabio dan Horis tengah berbincang dengan kolega-kolega yang lainnya.


Pria itu lantas mengangkat tangan kanannya untuk menekan tombol earphone yang terpasang di telinganya.


"Arah jam 10." Ucap Javer cepat.


(Target terkunci!) Sahut Kheil cepat.


Mendengar Javer yang berbicara, lantas membuat Teya melirik pria itu sekilas.


"Rencana apa yang sedang kau lakukan? Kenapa kau tidak memberitahuku?" Gadis itu bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari si pembawa acara.


Alih-alih menjawab, Javer justru kembali memberikan pertanyaan untuk Teya.


"Kau menyadarinya?" Pria itu bertanya juga tanpa mengalihkan fokusnya dari si pembawa acara.


Mendengar apa yang Javer tanyakan, seketika membuat Teya memutar bola matanya. "Oh ayolah.. Aku tidak sebodoh yang kau kira." Gadis itu berkata dengan gigi yang terkatup rapat.


Javer seketika saja terkekeh kecil. "Kau terlalu pintar untuk aku anggap bodoh, babby.."


"Ck!!" Gadis itu mencubit pinggang Javer dengan sedikit gemas. "Jangan mengalihkan pembicaraan!!"


"Baiklah-baiklah, karena kau sudah mengetahui apa yang sedang terjadi. Sebaiknya kau membantuku untuk melakukan sesuatu."


Teya lantas berpikir untuk beberapa saat.


(Apa kau benar-benar akan membawa Teya dalam rencana ini?) -Kheil.


"Hm.." Gumam Javer cepat.


..........


*Note : Kira-kira, bantuan apa nih yang bakalan di minta Javer dari Teya??


Terus, konflik kayak gimana lagi yang bakalan muncul??


Penasaran ga??


Kalo penasaran, tetep pantengin terus ya kelanjutan ceritanya..


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•


Bye bye..

__ADS_1


__ADS_2