Blue Lotus Flower

Blue Lotus Flower
Hadiah..


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


"Akh, akhirnya kita sampai.." Teya berkata seraya menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. "Aku benar-benar merindukan kehangatan rumah ini."


Javer yang melihat itu tentu saja terkekeh kecil. "Kau meninggalkan rumah ini hanya selama 3 hari, babby.."


Teya memutar bola matanya. "Ayolah Javer, 3 hari di rumah sakit sangat jauh berbeda dengan 3 hari di Maldives."


"Ok-ok.. Aku akan menidurkan Al di kamarnya."


Teya menganggukkan kepalanya.


Javer pun segera menuju kamar Ralvano, kamar yang sudah Javer siapkan sejak 3 bulan yang lalu. Ah tidak, lebih tepatnya Teya lah yang menyiapkan segalanya. Javer hanya perlu memerintahkan orang untuk menuruti semua perintah dari Teya.


Setelah menidurkan Al di kasur miliknya, Javer kemudian kembali menghampiri Teya. Pria itu duduk di samping Teya.


"Apa kau lelah?" Tanya Javer.


Teya menyunggingkan senyumnya. "Tidak terlalu.. Aku cukup menikmati rasa lelah ini."


Teya sedikit memiringkan tubuhnya agar menghadap ke arah Javer. "Kau tahu kan kalau tidak semua wanita bisa mengalami apa yang aku alami. Jadi aku benar-benar menikmati semua rasa lelah yang aku rasakan."


Javer pun menyunggingkan senyumnya. "Ya.. Dan kau hebat babby.. Terima kasih untuk semuanya."


Teya menggelengkan kepalanya. "Jangan berterima kasih. Itu sudah kewajibanku sebagai seorang istri dan juga sebagai seorang ibu. Sebagai seorang istri, aku memang sudah seharusnya mengandung anakmu. Dan sebagai seorang ibu, aku memang sudah seharusnya berjuang untuk melahirkannya."


Mendengar hal itu, seketika saja membuat senyum yang tersungging di bibir Javer kini terlihat semakin lebar. "Come.. Naikkan kedua kakimu, aku akan memijatnya." Pria itu menepuk kedua pahanya.


Teya yang memang merasa lelah pun, menuruti apa yang di katakan oleh Javer. Dia menaikkan kedua kakinya ke atas paha Javer.


"Apa cukup?" Javer bertanya seraya memijat kedua kaki Teya dengan kekuatan sedang.


Teya menganggukkan kepalanya. "Kau yang terbaik." Gadis itu mengacungkan jari jempolnya di depan Javer.


"Kau tahu, aku saat ini merasa seperti memiliki 2 orang bayi.." Celetuk Javer tiba-tiba.


Teya seketika saja mengerutkan dahinya. "Kau menggapku seorang bayi?"


Javer mengangkat bahunya acuh.


"Tcih! Apa kau pikir bayi bisa melahirkan seorang bayi."


Javer mengedikkan bahunya. "Kau buktinya."


"Haish!!" Teya menatap Javer dengan seidikit sinis.


Ting... Nong...


Mendengar bel rumah mereka yang berbunyi, seketika saja membuat Teya tersenyum sumringah. "Itu pasti Hana.."


Tapi sedetik kemudian, Teya tiba-tiba saja mengernyitkan dahinya. "Tapi, bukan kah dia mengatakan kalau dia akan datang di sore hari?"


"Itu bukan Hana, babby.. Itu babby sitter yang mommy carikan untukmu."

__ADS_1


"Aaaa.." Teya mengangguk-anggukkan kepalanya.


Lalu, datanglah Marco dengan seorang gadis yang Teya perkirakan kalau usia gadis itu tidak berbeda jauh dengannya.


"Tuan, Nyonya.." Ucap Marco seraya sedikit menundukkan kepalanya.


Gadis itu pun mengikuti Marco dia sedikit menundukkan kepalanya untuk menyapa Teya dan Javer.


"Apa dia gadis yang akan menjadi babby sitter untuk Al?" Tanya Teya.


"Betul, Nyonya." Jawab Marco.


"Siapa namamu?" Tanya Teya.


Gadis itu lantas sedkit menundukkan kepalanya. "Saya Nayvina, nyonya. Nyonya bisa memanggil saya Nay."


Teya mengangguk-anggukkan kepalanya, dia lalu menurunkan kedua kakinya dari atas paha Javer.


"Karna kau merupakan gadis yang di pilih oleh mommy, kau bisa langsung bekerja hari ini juga. Apa mommy sudah memberi tahumu kalau kau akan tinggal di sini?"


"Sudah Nyonya." Sahut Nay cepat.


"Baiklah, kalau begitu, Marco akan mengantarmu ke kamarmu."


"Baik, Nyonua.."


"Satu lagi, kau bisa mengambil hari libur setiap satu minggu sekali. Kau boleh menentukan harinya sesuai dengan keinginanmu."


"Baik, Nyonya. Terima kasih." Ucap Nay.


"Baik Nyonya."


Marco pun segera mengantarkan Nay ke kamarnya.


Namun, sebelum itu, Teya kembali memanggil Nay.


"Nay.." Ucap Teya.


Nay pun menghentikan langkahnya kemudian kembali menghadap pada Teya. "Ya Nyonya?"


"Setelah kau menata barang-barangmu, segeralah turun. Aku akan menjelaskan apa saja yang perlu kau kerjakan."


"Baik, Nyonya."


Lalu, Marco dan Nay pun benar-benar berlalu pergi dari sana.


.....


Sore hari pun tiba.. Sesuai dengan apa yang di katakan oleh Hana tadi malam, sore ini Hana benar-benar berkunjung ke rumah Teya. Gadis itu datang dengan membawa kotak yang cukup besar yang di mana kotak itu di selimuti kertas kado.


Setelah berbincang untuk beberapa waktu, Teya kini terfokuskan pada kotak yang sebelumnya di bawa oleh Hana.


"Han.. Apa isi yang ada di dalam kotak ini?" Teya bertanya seraya membolak balikan kotak itu. Dia mencari sudut atau lipatan untuk membuka kotak itu.


"Buka saja.. Kau pasti akan menyukainya." Sahut Hana.


Teya seketika saja mengernyitkan dahinya. "Apakah isi di dalam kotak ini untukku?"

__ADS_1


Hana mengangkat bahunya acuh. "Lantas, untuk siapa lagi? Aku yakin, Al tidak membutuhkan apa pun lagi dari ku. Jadi, aku membelikan Haidah untukmu. Lagi pula, akan sia-sia saja jika aku membelikan sesuatu untuk Al sekarang. Dia akan tumbuh besar dengan cepat, sesuatu yang aku belikan pasti akan terpakai hanya untuk sebentar saja. Aku akan membelikan sesuatu untuk Al di saat nanti dia sudah bisa meminta sesuatu."


Teya mengedikkan bahunya. "Alasanmu memang masuk akal."


Teya lantas segera membuka kotak itu. Dia merasa sangat penasaran akan isi yang ada di dalam kotak itu. Hingga saat kotak itu sudah terbuka, Teya tiba-tiba saja menatap Hana dengan mata yang memicing tajam.


Teya benar-benar merasa tidak habis pikir. Bagaimana bisa sahabatnya itu memberikan hadiah yang sedikit tidak masuk akal. Ah, tidak, sebenarnya masuk akal saja. Hanya saja, Teya belum pernah menggunakan hadiah yang di berikan oleh Hana barang satu kali pun.


Melihat tatapan Teya yang seperti ini, seketika saja membuat Hana terkekeh geli. "Kau menyukainya?" Gadis itu menaik turunkan kedua alisnya.


"Apa kau gila?" Teya meletakkan kotak itu di atas meja dengan sedikit kasar.


"Ck! Ayolah.. Buat suasana baru, Te.. Siapa tau Al bisa mendapatkan adik dalam waktu dekat."


Teya sontak saja menatap Hana dengan tatapan horor.. "Apa kau pikir hasrat s*ex ku menyimpang! Kau benar-benar gila Han.."


Hana seketika saja memutar bola matanya. "Tidak semua orang yang menggunakan alat-alat ini memiliki kelainan s*ex yang menyimpang.. Ini hanya untuk sekedar kepuasan."


Hana lantas mengambil kotak itu, gadis itu membuka kotak itu kemudian memperlihatkan isi kotak itu pada Teya.


"Lihatlah, benda-benda ini tidak akan menyakitimu.. Vibra*tor ini berukuran kecil.. Cambuk ini terbuat dari bulu. Penutup mata ini terbuat dari kain sutra. Borgol ini juga di lapisi bulu.. Dan ini, ini ju.."


"Stop!! Jangan di teruskan.. Kepalaku tiba-tiba saja berdenyut.." Teya menatap isi kotak itu dengan tatapan horor.


Ya, isi di dalam kotak yang di bawa oleh Hana adalah satu set alat-alat untuk BD*SM. Namun alat-alat itu merupakan alat-alat yang terbuat dari bahan premium dan sangat aman untuk di gunakan.


*Note : Kalo wakk wakk ada yang ga tau BD*SM itu apa, sok silahkan cari di google.. Soalnya kalo sensi jelasin di sini, nanti udah pasti ga bakalan lulus review 😁


"Aaa.. Sudahlah, singkirkan kotak itu.. Aku tidak membutuhkannya." Teya memalingkan wajahnya.


Namun, percayalah.. Teya diam-diam membayangkan, bagaimana rasanya kalau Javer sampai menggunakan alat itu padanya saat mereka tengah berhubungan.


Memikirkan hal itu, tiba-tiba saja membuat Teya bergidik ngeri.


"Apa kau tengah membayangkannya?" Hana menaikkan sebelah alisnya.


Teya menggeleng cepat. "A ha ha.. Tidak!! Lupakan!!" Teya mengibaskan tangan kanannya di udara.


Melihat Teya yang sedikit salah tingkah, sontak saja membuat Hana menatap Teya dengan tatapan jahilnya.


"Yakk!! Apa yang kau lihat!!" Teya menatap Hana dengan sinis.


Hana seketika saja tertawa terbahak-bahak.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•


Bye bye..

__ADS_1


__ADS_2