Blue Lotus Flower

Blue Lotus Flower
Perhatian Kecil Yang Berarti


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


Di sisi lain.. Masih di malam yang sama..


Melihay daerah yang sedikit asing untuknya, lantas membuat Eliza menatap Enzo yang duduk di kursi penumpang depan lalu menatap Liam yang tengah mengemudikan mobil.


"Kalian akan membawaku ke mana?" Eliza bertanya kemudian.


Liam melirik Eliza sekilas melalui spion depan mobilnya. "Bukan kah Zia ingin bertemu dengan Zia Mona?"


"Tapi, ini bukanlah arah menuju kediaman Mona.." Kata Eliza seraya memperhatikan jalanan yang tengah di laluinya.


"Kami tidak sedang menuju kediaman Zia Mona, melainkan menuju kediaman keluarga Griffiths." Sahut Enzo.


Mendengar nama keluarga Griffiths, sontak saja membuat Eliza menelan ludahnya karena tiba-tiba saja teringat akan masa lalunya.


"Keluarga Griffiths?" Eliza bertanya dengan nada suaranya yang terdengar sedikit bergetar.


Mendengar perubahan nada suara Eliza, sontak saja membuat Liam dan Enzo saling melemparkan tatapan penasaran.


"Ya, keluarga Griffiths.. Zia Mona sedang menunggu di sana.. Apa Zia tidak baik-baik saja akan hak itu??" Tanya Enzo kemudian.


"Tidak.. Hanya saja.." Eliza menggantungkan kalimatnya. "Ah, lupakan.. Aku hanya tidak sabar untuk bertemu dengan Mona.."


"Apa Zia yakin?" Liam bertanya dengan menaikkan sebelah alisnya.


"Ya.." Eliza menganggukkan kepalanya. "Sebaiknya kau fokus saja mengemudi.. Maafkan aku karena telah mengganggu kalian dengan menanyakan banyak hal."


Karena ya, selama mereka dalam perjalanan. Eliza banyak mengajukan pertanyaan mengenai berbagai hak yang dia lewatkan beberapa puluh tahun terakhir ini.


Mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Ekila, lantas membuat Enzo menoleh pada wanita itu dengan senyum kecil yang tersungging di bibirnya.


"Tak apa, Zia bisa menanyakan hal apa pun yang ingin Zia ketahui.." Enzo berkata kemudian.


Eliza pun membalas senyuman Enzo. "Terima kasih.. Kalian pria yang baik.. Andai saja aku memiliki anak seperti kalian.."


"Kalau begitu, Zia bisa menganggap kami sebagai anak Zia.." Sahut Liam.


"Terima kasih.." Ucap Zia dengan senyum yang terus tersungging di bibirnya.


....


Sesampainya di kediaman keluarga Griffiths, Liam, Enzo dan Eliza pun segera keluar dari dalam mobil setelah Liam memarkirkan mobilnya di pekarangan rumah.


Namun, saat mereka hendak masuk ke dalam. Eliza sempat menghentikan langkahnya karena merasa sedikit ragu.


Tapi, Eliza segera menghela nafas panjang guna menghilangkan keraguannya itu karena ini merupakan jalan satu-satunya yang bisa dia tempuh untuk menyelamatkan nyawa anaknya.

__ADS_1


Wanita itu pun kembali melangkahkan kakinya untuk menyusul Liam dan Enzo yang sudah berada beberapa langkah di depannya.


Setelah penjaga rumah membukakan pintu, mereka pun segera masuk ke dalam.


Melihat betapa megahnya rumah yang di mikiki oleh Yama, benar-benar membuat Eliza berdecak kagum. Karena selain dia sudah lama tidak pernah menginjakkan kaki di dunia luar, rumah yang di miliki oleh Yama sungguh berkali-kali lipat lebih besar jika di bandingkan dengan rumah milik Mona yang sempat di tinggalinya.


Hingga ketika mereka sampai di ruang keluarga, mata Eliza tiba-tiba saja berkaca-kaca tat kala tatapan matanya bertemu dengan tatapan Mona.


Merasa sedikit tidak percaya dengan apa yang di lihatnya, lantas membuat Mona beranjak dari sana kemudian melangkah mendekati Eliza.


"Apa kau benar-benar Eliza?" Mona bertanya dengan di penuhi rasa ketidak percayaan atas wanita yang tengah berdiri di hadapannya saat ini.


"Aku benar-benar Eliza kaak.." Sahut Eliza cepat seraya menatap wanita yang sudah di anggapnya sebagai kakak perempuannya itu dengan tatapan yang di penuhi kerinduan.


Karena ya, Mona 2 tahun lebih tua darinya. Jadi, sedari dulu, Eliza selalu memanggil Mona dengan sebutan kakak.


Kedua tangan Mona lantas terangkat untuk menyentuh kedua belah pipi Eliza.


"Katakan sekali lagi, apa kau benar-benar Elizaku? adik perempuanku??" Mona kembali bertanya dengan suara yang sedikit bergetar.


Eliza mengangguk-anggukkan kepalanya. "Ya, aku Eliza.. Eliza.. Adik perempuanmu.." Wanita itu berkata dengan derai air mata yang mulai mengalir membasahi pipinya.


Setelah yakin kalau wanita yang ada di hadapannya itu benar-benar Eliza, lantas membuat Mona menarik perempuan itu ke dalam dekapannya.


"Oh Tuhaaan.. Eliza.. Kemana saja kau selama ini!! Aku benar-benar merindukan dirimu!! Tidak tahukan aku selalu mencari keberadaanmu!! Betapa teganya kau pergi tanpa memberikan kabar kepadaku!!" Mona berkata seraya terisak kecil.


Eliza yang tidak tahu harus berkata apa pun hanya bisa membalas pelukan Mona dengan sangat erat.


"Oh Tuhaaann!! Bagaimana kau menjalani hidup selama ini!! Tubuhmu benar-benar hanya tersisa tulang belulang saja!!"


"Maafkan aku kaaaak.. Maaf.." Eliza semakin mempererat pelukannya pada Mona.


Melihat pemandangan kedua wanita yang tengah saling menyalurkan rindu itu pun lantas membuat Liam, Enzo, dan Athena menyunggingkan senyum kecil mereka.


Tapi tidak dengan Yama, pria itu hanya menatap pemandangan itu dengan tatapan datarnya. Bukan karena dia tidak peduli, tapi karena memang begitulah dirinya.


Tanpa harus di jelaskan pun kalian sudah tau pasti mengenai bagaimana sifat Yama yang sesungguhnya.


Setelah puas saling mengungkapkan rasa rindu, Mona pun segera melerai pelukannya kemudian meminta Eliza untuk duduk bersama dengan yang lainnya.


"Liam, Enzo.. Terima kasih karena telah membawa Eliza dalam keadaan yang sangat baik-baik saja.." Mona berkata setelah dia dan Eliza duduk di sofa.


"Tidak usah berterima kasih pada kami, itu sudah tugas kami untuk menjalankan setiap hal yang di rencakan oleh Javer dan kheil.." Sahut Liam.


"Ah ya, aku hampir saja melupakan anak-anak nakal itu.." Mona menghela nafasnya sejenak. "Di mana mereka? Aku juga harus mengucapkan banyak terima kasih pada mereka berdua.."


"Javer masih berada di hotel bersama dengan Teya, mungkin mereka akan kembali esok hari. Sedangkan Kheil, kita tidak tahu keberadaannya." Jawab Enzo.


Mendengar hal itu, lantas membuat Mona menghela nafasnya.


Hingga ketika Mona hendak kembali berbicara, dia harus menelan kembali kalimatnya tat kala Athena sudah lebih dulu bersuara.

__ADS_1


"Apa tidak sebaiknya kita membiarkan Eliza untuk beristirahat terlebih dahulu? Dia benar-benar terlihat sangat lelah.." Athena berkata seraya menatap Eliza dengan lembut.


Mereka yang ada di sana pun menganggukkan kepala, menyetujui apa yang baru saja di katakan oleh Athena.


Tapi tidak dengan Yama, pria itu hanya memainkan rambut Athena tanpa ada niat untuk menatap Eliza sedikit pun. Karena yang selalu menjadi fokus untuknya hanyalah Athena seorang.


"Kalau begitu, aku akan membawa Eliza untuk beristirahat." Ucap Mona kemudian.


"Hmm.." Athena menganggukkan kepalanya.


Namun, sebelum Mona dan Eliza beranjak, Athena menahan mereka untuk sejenak.


"Ah ya, Mona.. Bukankah kau sudah mengetahui tata letak rumah ini?" Tanya Athena.


Mona mengangguk kecil, membenarkan apa yang baru saja di tanyakan oleh Athena.


"Kalau begitu, jangan membawa Eliza ke kamarmu, bawalah Eliza menuju kamar yang ada di dekat lorong menuju ruang musik yang terletak di lantai 4, para maid sudah menyiapkan kamar untuknya. Akan lebih baik untuknya kalau dia beristirahat di kamarnya sendiri." Tutur Athena seraya menatap Eliza dengan senyum kecil yang tersungging di bibirnya.


Mendengar hal itu, seketika saja membuat Mona menyunggingkan senyum simpulnya. Wanita itu sedikit terkejut karena Athena ternyata diam-diam sudah meminta maid untuk menyiapkan kamar.


Karena sedari pagi dia berada di rumah ini, Mona sama sekali tidak melihat kalau Athena berbicara dengan para maid. Jadi, ketika mendengar kalau Athena sudah meminta para maid untuk menyiapkan kamar, tentu saja membuat Mona merasa sedikit terkejut.


"Kau memang selalu menjadi yang terbaik Athena.." Mona berkata kemudian.


Namun, Athena hanya menanggapinya dengan senyum kecil yang kembali tersungging di bibirnya.


Merasakan perhatian yang di berikan oleh Athena, lantas membuat Eliza menatap Athena dengan senyum yang tersungging di bibirnya.


Sejujurnya, Eliza sedikit tidak mengira kalau Athena memiliki kepribadian yang begitu hangat. Karena dari apa yang dia dengar, Athena merupakan seorang perempuan yang memiliki kepribadian yang hampir sama persis dengan Javer.


Namun, ketika dia melihat kepribadian Athena secara langsung, kini Eliza tidak akan percaya lagi pada rumor yang beredar tentang kepribadian buruk wanita setengah baya yang masih terlihat sangat cantik dan segar itu.


"Terima kasih banyak, Athena.." Ucap Eliza kemudian.


"Jangan sungkan.. Anggaplah sebagai rumah mu sendiri. Kau bisa meminta apa pun yang kau butuhkan pada maid yang bertugas." Sahut Athena.


Eliza menganggukkan kepalanya. "Sekali lagi terima kasih.."


Athena pun mengembangkan senyum tulusnya kemudian menganggukkan kepalanya.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•

__ADS_1


Bye bye..


__ADS_2