
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed.....
...----------------...
Sebelumnya..
Namun, saat mereka hendak mendekati gerbang.. Teya menghentikan langkahnya, tangan gadis itu terangkat untuk memijat pangkal hidungnya karena kepalanya yang tiba-tiba saja terasa berdenyut..
"Oh god.." Teya berkata seraya menatap lurus ke arah luar gerbang kampus.
.....
"I'm sorry Teya.. But.. Sepertinya aku harus mengambil kembali kunci mobilku" ucap Gena seraya mengambil kunci mobilnya yang ada di genggaman Teya.
Hana perlahan menepuk-nepuk bahu Teya. "Setelah ini, kau harus menyiapkan mentalmu untuk menerima berbagai gosip yang akan bermunculan" ucap Hana dengan nada yang dibuat sedramatis mungkin.
"Semangat....!!!" Gena berkata seraya mengepalkan tangannya di depan wajah Teya lalu menarik Hana untuk pergi dari sana.
Teya menatap kepergian teman-temannya dengan tatapan sendu.. "Haaahhhhh...." gadis itu pun menghela nafasnya dengan pasrah.
Kali ini, Teya tidak tau harus berkata apa lagi. Karena di depan sana, Teya melihat Javer yang sudah menunggu dengan menyandarkan tubuhnya pada mobil. Namun, bukan itu yang membuat Teya terkejut. Gadis itu terkejut karena pakaian Javer yang terlihat berbeda dari biasanya. Dan yang membuat Teya lebih terkejut lagi adalah satu bucket bunga yang di pegang oleh pria itu.
Pict by : Michele Morrone
*Note: Anggap aja si Javer lagi pegang bunga ya wakk.. Ga nemu yang sesuai soalnya, wkwk..
"Hahhh..." lagi, gadis itu kembali menghela nafasnya.
Sejenak Teya menatap Javer yang juga tengah menatap ke arahnya. Sebenarnya, Teya juga sempat berpikir jika pria itu adalah pria yang perhatian, karena akhirnya pria itu mengabulkan permintaan Teya untuk menutupi hubungan mereka.
Tapi, setelah melihat hal ini, sepertinya Teya akan menarik kembali tentang pemikirannya itu. Karena jika sekarang Javer melakukan hal seperti ini, itu tandanya pria itu benar-benar ingin membuka hubungan mereka secara terang-terangan.
Mungkin, jika Javer mendatangi Teya dengan berpenampilan seperti biasanya. Teya bisa saja mengelak dengan mengatakan jika Javer adalah atasannya atau dengan berbagai alasan apa pun, karena mereka sama-sama menggeluti dunia fashion. Namun, jika seperti ini, Teya tidak tau harus menyangkalnya dengan mengatakan apa.
Ayolah.. Kalian juga sudah tau kan jika Teya menutupi indentitas aslinya. Akan sangat menggemparkan jika Javer tiba-tiba memiliki hubungan dengan seorang gadis yang orang-orang tahunya jika gadis itu berasal dari kasta yang berbeda dengan Javer.
Entahlah.. Membayangkannya saja membuat kepala Teya semakin berdenyut dengan sangat kuat.
Setelah menghela nafas untuk yang ke sekian kalinya, Teya pun segera melangkah mendekati Javer dengan sedikit menundukkan kepalanya. Gadis itu berusaha mengabaikan banyak pasang mata yang kini mulai menatap ke arahnya, gadis itu juga berusaha mengabaikan bisikan-bisikan yang mulai terdengar di telinganya.
Hingga saat Javer hendak menyapa Teya, gadis itu mengabaikannya dengan langsung masuk ke dalam mobil.
Yang mana, hal itu membuat Javer mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"What's wrong, babby?" tanya Javer setelah pria itu masuk ke dalam mobilnya.
Teya menatap Javer dengan tatapan tajam. "Apa kau tidak menyadarinya?? Kau mengundang begitu banyak perhatian, Javer.."
Javer mengangkat bahunya acuh. "Bukan kah aku memang selalu mengundang perhatian??" Javer bertanya seraya mulai melajukan mobilnya.
Kedua tangan Teya seketika terangkat untuk menutupi wajahnya. "Oh astaga Javeeeeer...!!" rutuk Teya dengan suara yang sedikit teredam. Rasanya, Teya ingin sekali merobek mulut Javer yang selalu berkata dengan tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Bukannya merasa kasihan, Javer justru terkekeh geli. Sejujurnya, pria itu lebih dari tau kenapa Teya bisa merasa begitu frustasi. Namun, dia tidak bisa jika harus menutupi tentang hubungan mereka. Katakanlah Javer egois, dia hanya tidak ingin jika sampai ada pria lain yang mendekati gadis itu.
"Jangan tertawa... Kau telah menghancurkan kehidupanku yang tenang" kini Teya tidak bisa menahan rengekan frustasinya.
Javer pun segera menghentikan kekehannya. "Ok, ok.. Aku tidak akan tertawa.. Maafkan aku, sepertinya aku memang bersikap terlalu berlebihan"
Mendengar permintaan maaf dari Javer, seketika membuat Teya menatap pria itu dengan tatapan terkejutnya. Apa kupingnya tidak salah berfungsi?? Apa benar Teya baru saja mendengar permintaan maaf dari seorang Javer Vencentio Griffiths?? Sungguh, rasa kesalnya tiba-tiba saja melebur entah kemana.
Karena selama Teya mengenal Javer.. Ah tidak.. Maksudnya, selama Javer mengejar-ngejarnya, dia belum pernah mendengar Javer berkata maaf barang satu kali pun.
Javer sekilas melirik Teya yang terus saja menatapnya. "Apa kau terpesona padaku babby?"
Dan dengan bodohnya, gadis itu perlahan mengangguk-anggukan kepalanya. Tapi sedetik kemudian, gadis itu menggeleng-gelengkan kepala seraya memalingkan wajahnya yang tiba-tiba terasa panas.
"Kau.. Kau terlalu percaya diri"
Meskipun mulut Teya berkata demikian, tapi ketahuilah.. Setelah Teya menatap Javer dalam jarak se dekat ini, gadis itu memang sedikit terpesona akan penampilan Javer yang lain dari biasanya.
"Kau terlalu berharap" gumam Teya.
Javer mengangkat bahunya acuh. "Bukan kah berharap kepada pasangan itu adalah hal yang wajar?"
Teya pun hanya menanggapinya dengan mencebikkan bibirnya.
"Tunggu dulu.. Kali ini kau akan membawaku kemana!!" gadis itu tiba-tiba berseru saat Javer melewati jalur yang tidak semestinya.
"Berkencan.. Anggap saja untuk mendekatkan diri, bukankah status kita sudah bukan orang asing lagi?"
"Cih.." Teya berdecih seraya memalingkan wajahnya.
Namun ketahuilah, gadis itu kini tengah mengulum senyumnya. Karena jika boleh jujur, Teya sedikit luluh pada Javer yang selalu berbicara lembut padanya.
.....
Setelah menempuh perjalanan selama hampir 2 jam, mereka sampai di sebuah bukit yang sangat indah. Mereka pun segera turun dari mobil.
Teya menatap sekitar bukit dengan mata yang berbinar seraya nenghirup dalam-dalam udara sekitarnya yang terasa sangat segar.
"Apa kau juga menyukai tempat seperti ini?" Teya bertanya tanpa menoleh pada Javer yang ada di samping kanannya. Mata gadis itu terlalu fokus menikmati pemandangan indah yang ada di depannya.
__ADS_1
Javer menoleh pada Teya. "Hmm.. Aku cukup sering ke tempat ini."
"Tapi, kenapa aku baru tahu jika ada bukit di sekitar sini? Juga, kenapa bukit ini terlihat sepi? Bukankah seharusnya banyak orang yang mendaki?"
"Hanya orang-orang tertentu yang bisa mendatangi tempat ini."
Teya mengangguk-anggukan kepalanya, pantas saja bukit ini di jaga dengan sangat ketat.
Namun, Teya menatap Javer saat dia menyadari sesuatu. "Tapi, kenapa orang-orang yang menjaga bukit ini berpakaian serba hitam? Bukankah itu terlihat aneh?"
"Ini adalah bukit pribadi milik Mommy. Mommy cukup hobby mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi dan Daddy pun membelikan jalur beserta bukitnya untuk mommy gunakan sesuka hati," Javer lantas mengangkat bahunya acuh. "Jadi ya, jangan heran jika kawasan bukit ini di jaga ketat oleh anak buah daddy."
"Haaa.." Mulut gadis itu seketika terbuka lebar, dia tidak bisa membayangkan tentang seberapa besar Yama mencintai Athena.
Kini Teya mengerti, kenapa banyak rumor mengatakan jika Athena adalah alasan tobatnya Yama yang katanya terkenal dengan julukan Iblis pencabut nyawa itu.
Sepertinya, mulai saat ini, Teya tidak akan pernah lagi meragukan berbagai rumor tentang keluarga Griffiths. Karena semakin dia meragukannya, semakin dia melihat fakta-faktanya.
Melihat Teya yang menatapnya dengan mulut yang terbuka, membuat Javer tidak lagi bisa menahan rasa gemasnya. Pria itu bergerak kehadapan Teya lalu menangkup wajah gadis itu dengan gerakan cepat. Dan tanpa basa basi lagi, pria itu menutup mulut Teya yang masih sedikit terbuka menggunakan mulutnya sendiri.
Teya yang menerima ciuman mendadak dari Javer seketika merasa terkejut, dia terdiam mematung dengan tubuh yang tegang. Namun, saat Javer mulai ******* bibirnya dengan lembut. Entah kenapa, tubuhnya tiba-tiba saja terasa begitu rileks.
Gadis itu pun kini perlahan memejamkan matanya, mencoba menikmati setiap ******* yang Javer berikan.
Merasa Teya mulai menerima ciumannya, Javer perlahan mulai menyapu setiap deratan gigi Teya dengan lembut. Meminta gadis itu memberikan akses untuk Javer merasakan rongga terdalam mulut gadis itu.
Bak gayung bersambut, Javer mulai membelit lidah gadis itu secara perlahan, menyapu setiap inci rongga mulut gadis itu yang kini mulai terasa begitu candu untuknya.
Hingga saat Javer merasakan Teya yang meremat lengannya dengan kuat, pria itu pun segera menyudahi lumatannya.
Javer lalu menatap wajah Teya yang kini terlihat memerah hingga ke telinga. Saat Teya tengah mengatur nafasnya yang masih sedikit tersengal-sengal, ibu jari kiri pria itu tergerak untuk mengelus pipi kanan Teya.
Pria itu lantas tersenyum saat Teya mendonggakkan kepalanya.
Sejenak, Javer menatap sendu pada Teya yang juga tengah menatapnya. "*Babby, can you open your heart to me?" tanya Javer kemudian.
(*Sayang, bisa kah kau membuka hatimu untukku?)
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Salam sayang dari sensi π
__ADS_1
Bye bye..