Blue Lotus Flower

Blue Lotus Flower
Status Baru


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed.....


...----------------...


Teya menghela nafasnya sejenak, dia lalu menegakkan tubuhnya seraya mulai melangkah menuruni tangga.


Namun, saat melihat banyak orang penting yang hadir di acara pertunangannya dengan Javer, membuat Teya tiba-tiba saja kehilangan rasa kepercayaan diri nya.


Teya pun meneguk ludahnya guna menetralkan perasaan gugupnya. Gadis itu tetap melangkah seraya nengangkat dagunya dengan penuh percaya diri.


Awalnya, Teya sudah berkata jika dia tidak ingin mengadakan perayaan pesta pertunangan, Teya juga tidak ingin jika kabar pertunangannya dengan Javer di ketahui oleh banyak orang. Namun, Javer dengan cepat menolak keras tentang keinginannya itu.


Pria itu berkata "kalau kau ingin pertunangan kita di sembunyikan, bukan kah akan lebih baik jika aku bertunangan dengan boneka? Jadi aku bisa menyembunyikan tunanganku untuk selamanya"


Mendapat penolakan yang di memang cukup masuk akal, Teya pun mau tidak mau hanya bisa menerimanya dengan pasrah. Setidaknya, Teya bisa sedikit bernafas lega karena Javer menepati janji untuk tidak mengijinkan masuknya para wartawan.


Tapi entah kenapa, saat Teya mulai berjalan mendekat ke arah Javer yang sedang menatapnya dengan tajam, jantungnya tiba-tiba saja berdetak dengan sangat cepat. Hingga tanpa sadar, membuat tangannya sedikit meremat pinggiran dress yang dia kenakan.


Jika boleh jujur, Teya sedikit terpesona saat menatap pria gagah yang tengah menunggunya itu.



Pict by : Michele Morrone


Javer pun mengulurkan tangannya untuk menyambut kedatangan Teya. Pria itu tersenyum simpul ketika merasakan tangan Teya yang begitu dingin.


"Apa kau merasa gugup babby? Atau mungkin kau terpesona dengan kharismaku?" Javer berbisik dengan nada sensual di dekat telinga Teya.


"Shu..t Up.. Atau aku akan lari dari acara ini" Teya berkata dengan gigi yang terkatup rapat.


"Lari lah, maka aku akan terus mengejarmu" ucap Javer.


Saat Teya ingin kembali menimpali perkataan Javer, sang pembawa acara sudah lebih dulu menginterupsi.


"Sekarang sudah saatnya untuk acara inti, untuk Tuan Javer Vencentio Griffiths dan Nona Mateya Bifatigirni, di persilahkan untuk saling menyematkan cincin" ucap sang pembawa acara.


Gena yang bertugas sebagai pembawa cincin itu segera mendekati Javer dan Teya, dengan membawa nampan yang berisikan cincin pertunangan yang di design khusus oleh Athena.



Pict by : Pinterest


Teya sekilas melirik Gena dengan tajam saat gadis itu mengedipkan sebelah mata kepadanya.


Javer dan Teya lantas mulai saling menyematkan cincin ke jari manis satu sama lain.


Tepuk tangan terdengar riuh saat Javer mengecup punggung tangan Teya.

__ADS_1


Setelah acara inti selesai, kini mereka mulai berbaur dengan para tamu undangan yang ada. Satu persatu dari para tamu undangan pun mulai memberikan selamat kepada mereka. Hingga Yama dan Athena terlihat menghampiri mereka.


Yama menepuk bahu Javer. "Congrats son.. Jaga gadismu baik-baik"


"Thanks dad" ucap Javer.


"Dan untukmu girl.. Welcome to our family" Athena berkata seraya memeluk calon menantunya itu.. Ah tidak, mungkin Athena sudah bisa menganggap jika Teya adalah menantunya.


Teya pun membalas pelukan Athena. "Terima kasih tante"


"No.. Just call me mommy.."


"I'm sorry, mom.." Teya sedikit canggung saat mengatakan hal itu.


"It's okay honey.." Athena menoleh pada Javer. "Ajaklah Teya untuk berkenalan dengan rekan-rekan bisnismu"


Javer mengangguk lalu melingkarkan lengannya pada pinggang ramping Teya, kemudian membawa gadis itu untuk membaur dengan rekan-rekan bisnisnya.


"Ah, selamat atas pertunangannya Tuan Javer. Saya sungguh terkejut ketika anda tiba-tiba saja mengirimkan undangan pertunangan ke kediaman saya" ucap Sam (rekan bisnis Javer).


"Ya, saya juga tidak menyangka jika Tuan Javer diam-diam sudah memiliki gadis yang sangat mempesona. Maafkan saya yang sebelumnya sudah lancang berniat untuk mengenalkan putri saya pada anda"


Javer hanya menanggapi mereka dengan mengangkat gelas anggurnya.


Teya yang melihat hal itu pun sedikit menarik ujung bibirnya. Karena setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri, Teya baru merasa yakin tentang rumor pria yang sekarang sudah berstatus sebagai tunangannya itu merupakan pria yang sangat dingin. Salahkan saja pria itu yang selalu bersikap menyebalkan kepadanya, sehingga membuat Teya merasa sanksi atas rumor yang sering dia dengar.


Namun anehnya, alih-alih membuat Javer terlihat angkuh, sikap dingin yang di miliki pria itu justru membuat kharisma yang di pancarkannya terlihat semakin menawan.


But, wait.. Tidak, tidak, tidak.. Teya segera menggelengkan kepalanya guna menghilangkan pikiran konyolnya itu, tidak seharusnya dia jatuh dalam pesona pria itu dalam waktu sesingkat ini.


Yang mana, hal itu membuat Javer menatap Teya dengan kening yang sedikit mengerut. "Baby, are you okay?"


Teya lantas menoleh pada Javer. "Ha.. Apa kau mengatakan sesuatu?"


Javer menatap Teya dengan lembut. "Apa yang sedang kau pikirkan, hmmm?"


"Ah tidak" Teya tersenyum canggung seraya mengusap tengkuknya. "Aku hanya merasa sedikit lelah karena terus berdiri" hanya itu yang bisa Teya katakan. Tidak mungkin kan jika Teya harus memberitahu Javer tentang pemikiran konyolnya. Lagi pula, Teya juga tidak berbohong, kakinya memang benar-benar terasa pegal karena terlalu lama berdiri.


Javer lantas melingkarkan lengannya pada pinggang ramping Teya. "Come, aku akan membawamu untuk beristirahat" pria itu berkata seraya menuntun Teya menuju kursi.


Rekan-rekan bisnis Javer yang melihat hal itu seketika merasa terkejut. Karena selama mereka mengenal Javer, mereka baru pertama kali melihat sisi lembut dari seorang Javer Vencentio Griffiths. Namun, mereka segera menetralkan rasa terkejutnya lalu kembali berbincang.


Setelah Teya duduk di kursi, Javer melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. Tak terasa, waktu kini sudah menunjukkan pukul 9 malam. Jadi wajar saja jika Teya merasa kelelahan, karena mereka melakukan acara sejak puku 4 sore. Bahkan sekarang hanya tinggal beberapa tamu saja yang masih sibuk berbincang.


"Aku akan mengantarkanmu kembali ke kamar" Javer berkata kemudian.


Teya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak, aku bisa kembali sendiri"


"Why? Apa kau takut kepada tunanganmu sendiri?" Javer bertanya seraya menaikkan sebelah alisnya.

__ADS_1


"Ti..dak.. Untuk apa aku takut padamu" sanggah Teya.


"So.. Come, biarkan aku mengantarmu kembali ke kamar"


"Orang tuaku tidak akan mengijinkannya"


"Javer bisa mengantarmu kembali ke kamar jika kau merasa lelah"


Teya terkejut saat tiba-tiba mendengar suara Amaya yang menyahuti perkataanya. Teya sekarang penasaran, apa kah mamanya sekarang sudah berubah menjadi makhluk astral?? Dia selalu muncul tiba-tiba dalam situasi dan kondisi yang tidak menguntungkannya.


"Maaaa.. Kenapa mama akhir-akhir ini sering sekali muncul secara tiba-tiba." Teya berkata seraya melirik mamanya dengan tajam.


Amaya pun hanya mengangkat bahunya acuh. "Ah ya, mama belum memberi selamat pada kalian"


"Tidak perlu, aku tidak ingin mendengar ucapan selamat dari mama" sahut Teya cepat.


Amaya terkekeh geli karena reaksi yang di berikan oleh Teya sesuai dengan tebakannya. "Ok, mama tidak akan memberimu ucapan selamat. Tapi.." Amaya menepuk lengan Javer sekilas "selamat untukmu karena sudah menjadi bagian dari keluarga Bifatigirni. Dan maafkan papa yang tidak sempat memberimu ucapan selamat, dia terlalu terburu-buru untuk menyelasikan pekerjaannya"


Javer tersenyum kecil lalu berkata "Aku bisa mengerti"


Teya lantas mendengus seraya melirik sinis pada Javer dan Amaya. Gadis itu sekarang merasa seperti menjadi orang asing.


"Kalau begitu, ajaklah Javer untuk beristirahat di kamarmu, dia juga pasti merasa lelah. Biarkan mama dan papa yang mengurus sisa acaranya" Amaya berkata pada Teya seakan tidak memiliki beban.


"Maaa..."


"What?? Bukan kah kalian sudah bertunangan? Tidak ada salahnya kan Javer beristirahat di kamarmu. Lagi pula, mama percaya pada Javer."


Teya sekilas melirik Javer yang terlihat mengulum senyumnya. Sungguh, Teya kini sanksi jika Amaya adalah ibu kandungnya. Lihatlah, betapa mudahnya dia membiarkan anak gadisnya di bawa oleh seorang pria. Meskipun pria itu sekarang sudah berstatus sebagai tunangannya, tapi tetap saja..


"Ah sudahlah..." ucap Teya seraya berlalu pergi menuju kamarnya. Gadis itu kini terlihat sudah kehilangan kesabarannya.


Namun, saat Javer hendak menyusul Teya, Amaya segera menghentikan langkah pria itu.


"Javer.."


Javer pun menatap Amaya, menunggu apa yang akan di katakan oleh calon ibu mertuanya itu.


"Jangan terlalu kasar.. Ok.." ucap Amaya lalu mengedipkan sebelah matanya.


Javer hanya membalas Amaya dengan tersenyum simpul seraya menganggukkan kepalanya, kemudian kembali melangkah untuk menyusul Teya.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Salam sayang dari sensi πŸ’•

__ADS_1


Bye bye..


__ADS_2