Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
98. Kelulusan


__ADS_3

...98. Kelulusan...



...“Kebahagiaan yang tak terkira adalah berada diantara orang-orang terkasih yang telah lama dirindukan.”—Arsyad An-nass Senopati Az-zzioi...


...**...


Hari yang paling dinanti-nantikan oleh setiap pelajar di seluruh dunia adalah hari kelulusan. Hari di mana hasil yang mereka ngeluti dari awal dengan berbagai perjuangan yang menguras keringat hingga emosi, akan terbayar dengan kelegaan. Setelahnya, mereka akan dihadapkan dengan kenyataan dunia yang sesungguhnya. Mereka akan terjun ke dunia kerja. Dunia di mana mereka akan mengaplikasikan apa yang telah mereka dapatkan saat mengenyam pendidikan.


Hari itu juga telah datang untuk pasangan suami istri satu ini. Di pagi hari yang cukup cerah, disela-sela suhu dingin kota New york. Keduanya yang sudah berpakaian seragam lantas berangkat menuju tempat mereka mengenyam pendidikan. Kebahagiaan tampak terpancar di raut wajah keduanya. Apalagi setelah mereka mendengar jika pesawat rombongan keluarga Radityan juga sudah mendarat pagi hari tadi.


Sekarang mereka tengah berada di kediaman Pradipta. Vano, Arkia, Dimas, Sayla, Aurra, Lunar, Arkan, Triple D, Arion, ditambah dengan Arsen, datang bersama. Mereka juga sempat singgah ke London, Inggris, guna menjemput Arra. Sedangkan Van’ar, tidak bisa hadir di hari bahagia sang putra karena tengah menjalankan tugas di Negara gajah putih.


Nanti keluarga besar Radityan akan datang bersama keluarga Pradipta untuk menghadiri acara kelulusan Arsyad dan Kara.


“Kara masih enggak percaya,” lirih wanita cantik yang tengah menatap jalanan dengan manik hazelnut yang berbinar.


“Tidak percaya sama apa?”


“Kita sudah lulus.” Wanita cantik itu menjawab sembari menoleh.


Kara masih tidak percaya jika mereka berhasil menyelesaikan pendidikan mereka tanpa gangguan yang berarti. Hanya ada beberapa masalah internal saja yang kerap kali menyambangi. Selebihnya, tidak ada yang berarti. Atau mungkin, Kara yang tidak sadar jika selama ini marabahaya tetap ada. Namun, pertahanan yang dibangun di sekelilingnya sudah lebih dari cukup untuk menghalau semua itu.


Arsyad hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan sang istri. Istrinya memang tidak terlalu tahu soal ancaman yang selama ini mendekati mereka dalam sekala kecil. Semua itu sudah diselesaikan oleh orang-orang suruhan Tyoga atau pun oleh Arsyad sendiri. Tidak sia-sia hasil latihannya selama ini bersama dua Pradipta bersaudara.


Hasilnya Arsyad bisa membuat sang istri tetap aman dan nyaman. Padahal dunia begitu kejam kepada mereka. Saking kejamnya, tampa sepengetahuan sang istri. Setiap malam Arsyad akan memilih terjaga ataupun mengoperasikan berbagai perangkat lunak yang terhubung dengan sistem keamanan kediaman mereka.


Ketika mereka selesai berkuliah, Arsyad masih memiliki rencana untuk meriah gelar magister disela-sela tugasnya memimpin perusahaan. Arsyad tidak akan kesulitan beradaptasi dengan posisinya di perusahaan, karena selama berkuliah di New york dia juga sudah turun tangan secara tidak langsung ke dunia bisnis.


“Habis ini kita pulang, kan, yanda?”


Mendengar pertanyaan sang istri, pria rupawan itu mengangguk sembari tersenyum kecil. “Iya.” Sebelah tangannya terangkat guna meraih jemari sang istri yang dihiasi cincin pernikahan.


“Sudah kangen rumah hm?”


“Iya,” jawab wanita cantik itu antusias. “Kara kangen pulang ke Indonesia. Kangen tidur di mansion Papih yang ada di Surabaya. Kangen masakan bunda Aurra, kangen kebun bunga Kara juga. Pokonya banyak yang Kara kangenin.”


Arsyad tertawa kecil mendengarnya. “Kita pulang setelah ini.”


Kara mengangguk antusias. “Akhirnya kita bisa pulang.”


“Hm.”


Perjalanan yang cukup memakan waktu itu terasa singkat jika diselingi dengan pembicaraan. Tiba di universitas tempat mereka mengenyam pendidikan. Keduanya langsung menuju ruang aula tempat diselenggarakannya acara kelulusan. Berbagai mahasiswa dan mahasiswi dari berbagai Negara, suku, dan ras hilir-mudik mengenakan seragam kelulusan lengkap dengan toga.


Acara kelulusan sudah dimulai saat rombongan Radityan tiba. Arsyad bisa melihat orang-orang terkasih yang sangat dia rindukan hadir mengisi kursi-kursi yang kosong. Ketika namanya dipanggil sebagai lulusan terbaik penyabet gelar summa cumlaude, manik jelaganya bisa menangkap binar bahagia yang terpancar di manik teduh sang Ibu. Kain niqab yang digunakan wanita itu tampak basah oleh air mata saat sang putra menyampaikan sepatah-dua patah kata di atas podium.


Ibu mana yang tidak terharu melihat buah hati yang dulu dia kandung kini sudah sebesar ini. Namanya digaungkan di Negara orang sebagai salah satu mahasiswa jenius. Rasa syukurnya begitu besar terhadap Tuhan yang telah membuatnya menjadi seorang Ibu bagi Arsyad, Arra dan Arion.


“Bunda.” Arsyad memanggil wanita yang telah melahirkannya ke dunia itu dengan senyum terpatri di bibir. Tubuhnya refleks bergerak memeluk wanita tersebut.


“Masya Allah, putra bunda.” Wanita berkhimar itu berucap sembari menyentuh surai gelap sang putra. “Bunda bangga sekali sama Abang. Ayah juga pasti bangga sekali dengan apa yang telah abang peroleh.”


“Terimakasih, bunda. Semua ini juga karena doa dan support dari orang-orang yang sayang sama Abang.”


Arsyad mengurai pelukannya dengan sang Ibu. Senyumnya masih terpatri di bibir saat jemari mungil Aurra menyentuh rahangnya. Wanita itu kembali menangis haru.


“Kenapa Bunda menangis? Ini hari bahagianya Abang. Bunda enggak boleh sedih,” ujar si bungsu Arion yang kini sudah menjelma menjadi pria muda yang tampan.

__ADS_1


“Masya Allah, putra-putra bunda. Bunda terharu, nak.” Aurra menatap kedua putranya bergantian. Sungguh, perasaanya tidak bisa tergambarkan oleh kata-kata.


Arsyad baru saja menyelesaikan kuliah S1 nya. Dia bahkan ditawari beasiswa full untuk S2 oleh 4 universitas kenamaan di dunia. Arra juga sudah menyelesaikan pendidikannya, lebih cepat satu bulan dari sang kembaran. Gadis cantik itu sekarang sedang melanjutkan studinya untuk meraih gelar dokter spesialis. Sedangkan Arion, si bungsu sekarang sedang mengenyam pendidikan di salah satu universitas ternama di dalam negeri, sembari menjalani pendidikannya di Akademi Angkatan Udara (AAU) di Yogyakarta untuk meraih cita-citanya sebagai TNI AU republik Indonesia.


“Ayah kalian pasti akan bangga sekali jika ada di sini.”


“Ayah sedang bertugas, bunda. Ayah adalah kebanggan Negara, bukan saja kebanggan kita. Jadi, Abang pasti bisa memaklumi hal itu.” Si bungsu Arion menatap sang kakak sembari mengurai senyum.


Arsyad tersenyum tipis sembari menyentuh kepala sang adik. Rambut pria muda itu berpotongan rapi, sesuai standar seorang tentara nasional Indonesia.


“Sekarang kamu sudah besar, Arion.”


Si empunya nama tersenyum lebar. Dengan cepat dia melakukan gerakan hormat dengan sikap tubuh siap. “Lapor, saya karbol Arion saat ini masih menjalani pendidikan di Akademi angkatan udara, senior.”


Karbol* adalah sebutan untuk taruna angkatan udara.


Menyaksikan sang adik melakukan penghormatan kepadanya, Arsyad pun melakukan hal yang sama.


“Laporan diterima.”


Interaksi kakak-beradik itu tentu menarik banyak perhatian. Bukan saja perhatian para anggota keluarga Radityan yang hadir. Namun, perhatian semua orang yang ada di sekeliling mereka. Termasuk Kara yang tengah dipeluk oleh sang Ayah. Wanita cantik itu ikut senang melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah sang suami.


Setelah saling memberikan hormat, kedua pria rupawan itu kemudian saling berpelukan guna melepaskan rindu. Tidak terbayang seberapa lama mereka menunggu momen-momen seperti ini terjadi.


“Abang hebat sekali. Arion jadi semakin ngefans.” Puji Arion. Dia memang mengidolakan sang kakak sejak kecil. Karena baginya, selain sang Ayah, kakaknya adalah pria yang patut dijadikan idola.


“Kamu juga akan menjadi lebih hebat dari Abang, karbol.” Arsyad menjawab sembari mengurai pelukan mereka. Banyak perubahan yang bisa dia lihat pada sang adik. Terutama perubahan fisik.


Bocah SMP yang dulu suka sekali setoran hafalan Undang-Undang Dasar itu kini sudah tumbuh menjadi pria rupawan dengan tubuh proposional. Kendati kulitnya agak gelap karena terbakar sengatan sinar matahari, semua itu tetap tidak mengurangi Kharismanya. Apalagi jika sudah tampil dengan seragam TNI AU lengkap dengan baret biru kebanggannya.


“Teruskan jejak Ayah. Lanjutkan mimpi abang yang tidak pernah tercapai di dunia militer, dek.” Arsyad menepuk-nepuk bahu bidang sang adik pelan.


Adhi Makayasa adalah penghargaan tahunan yang diberikan kepada lulusan terbaik dari dari setiap mitra TNI dan kepolisian. Sebuah kebanggan yang sangat luar biasa.


Setelah melepas rindu yang mengharu-biru, Arsyad beralih kepada sang kembaran. Gadis cantik yang dulu sangat possessive menjaga dirinya itu, sekarang sudah menjelma menjadi wanita dewasa yang mengharumkan nama bangsa di kancah internasional. Dokter muda yang sebentar lagi akan segera taken.


“Apa kabar Arra-nya abang?”


Wanita cantik yang mengenakan khimar longgar itu menitihkan air matanya tersedu-sedu. Pelukan erat ia berikan kepada pria yang sangat ia rindukan tersebut.


“Abang jahat, ih. Kenapa enggak pernah jenguk Arra di London? Apa susahnya sih main ke London? Arra tuh kangen, abang.” Celoteh wanita cantik tersebut sembari meluapkan kerinduannya. Air matanya tidak terbendung lagi saat bisa memeluk tubuh sang kembaran yang selama ini hanya bisa dia hubungi lewat telepon.


“Maafin abang, ya. Abang tidak bisa sembarangan pergi karena itu bisa berbahaya buat mbak kamu.”


Arra mengangguk dalam posisinya yang masih memeluk sang kembaran. Dia memang tahu jika sang kakak memiliki tanggung jawab besar guna menjaga putri Crazy Rich Surabaya tersebut.


“Bu dokter enggak boleh menangis. Apalagi sebentar lagi ada yang mau mempersunting.”


Arra tersenyum malu sembari melonggarkan pelukan mereka. Untuk sejenak manik kecoklatannya bertemu dengan manik milik pria rupawan berseragam pilot lengkap yang telah berhasil membuatnya jatuh hati.


“Bang,” panggilan serempak itu datang dari tiga pria muda ruapawan berwajah mirip. Ketiganya lantas mengambil alih posisi Arra untuk memeluk Arsyad.


Arsyad yang mendapatkan serangan tiba-tiba itu mengukir senyum sembari membalas pelukan triple D. Davin, Davian dan Aroon. Tiga saudara sekaligus sahabatnya. Ketiganya kini sudah menjelma menjadi pria muda yang hebat di bidang-nya masing masing.


Davin sudah sering kali mengharumkan nama besar militer Indonesia. Pria muda tersebut berkiprah di akademi militer angkatan darat seperti ucapannya beberapa tahun silam. Disusul si tengah, Davian yang sukses menjadi agen shadow di bawah naungan dua Pradipta bersaudara. Belakangan ini, pria itu ikut menyukseskan misi penggagalan penyelundupan narkotika antarnegara dibawah naungan mantan anggota Mafia. Sedangkan si bungsu, saat ini sibuk menggantikan posisi Arsyad di perusahaan inti Radityan Corp’s. Bersamaan dengan itu, Aroon juga harus menjalankan bisnis mereka yang lain seperti caffe, gym dan bengkel.


“Kagen ih,” ucap ketiganya kompak.


Arsyad mengangguk sembari mengurai senyum.

__ADS_1


“Congrations, bang.” Triple D kembali berucap bersamaan. Membuat tawa dia antara mereka pecah.


“Abang makin ganteng aja. Enggak kayak Davin yang makin item.” Si bungsu berujar seraya menyikut lengan kembaran tertuanya.


“Hitam itu eksotis, bro.” si sulung bersuara sembari bersidakep dada.


“Iye. Udahlah, sodara-sodara sekalian. Kalau mau bacot di rumah aja, jangan di sini,” sela si tengah.


Menyaksikan argument ketiganya, Arsyad tidak kuasa menahan senyum. Sungguh, dia juga rindu akan ketiganya. Bagaimanapun juga mereka tumbuh dan besar bersama di mansion Radityan.


Selepas melepas rindu bersama triple D, Arsyad beralih kepada Kakek dan Neneknya dari pihak Ibu maupun Ayah. Mereka juga ikut hadir dan memberikan selamat bagi sang cucu. Tidak lupa dia juga menyapa Lunar, Arkan, Anzar yang datang bersama Airra dan Alea, dua Pradipta yang datang bersama istri dan anaknya, serta calon adik iparnya. Algean. Pria itu datang jauh-jauh dari Aachen guna membawa keluarga besar Radityan ke New York secara suka rela.


“Apa? Gak kenal sama gue, lo?”


Mendapatkan pertanyaan demikian, Arsyad mengurai senyum kecil. Mana mungkin dia melupakan pemilik rupa, suara, sikap. hingga tutur kata yang familiar di ingatannya tersebut.


“Dokter Arsen, apa kabar?”


Bukannya menjawab, si empunya nama malah terkekeh kecil sembari bersidakep dada. “Kirain lo enggak kenal sama gue, calon bos besar.”


“Mana mungkin lupa, Sen.”


Pria rupawan yang berprofesi sebagai dokter itu tertawa renyah mendengarnya. Siapa lagi kalau bukan Arsen. Sahabat, rekan sejawat dan patner terbaik yang pernah Arsyad miliki.


“Congrats, bro. gue ikut bangga sama pencapaian yang lo dapet.” Arsen mernagkul bahu sang sahabat sembari berkata.


“Terimakasih sudah datang.”


“Kembali kasih,” jawab Arsen sembari tersenyum kecil. “Nih, kenalin juga. Dua malaikat kesayangan gue.”


Pria rupawan itu menunjukan sebuah foto yang menjadi wallpaper di smartphone miliknya. Di foto tersebut, ada seorang perempuan berkhimar syar’I juga menggunakan kain penutup wajah yang tengah menggendong bayi. Jelas sekali jika background foto tersebut adalah sebuah ruangan rawat inap.


“Istri sama anak gue.”


Arsyad tersenyum sembari menatap sang sahabat. Dia ikut senang mengetahui jika sang sahabat sudah menikah, bahkan sudah memiliki seorang putri.


“Selamat atas pernikahanmu dan kelahiran putrimu.”


“Sama-sama.” Arsen melirik Kara yang masih berdiri di samping Tyoga untuk sejenak. “Jadi, kapan lo nyusul? Gue yang baru nikah dua tahun aja, udah punya baby. Lo kapan?”


Arsyad terdiam sejenak. Topik ini lagi.


“Tapi, buat posisi lo saat ini pasti enggak mudah buat ngambil keputusan ini.” Arsen menepuk bahu sang sahabat pelan. “Jalani aja apa yang menurut lo paling benar buat lo sama istri.”


Arsyad mengangguk sebagai respon. “Insaallah.”


“Insaallah apa dulu, nih?” goda Arsen.


“Insaallah nyusul kalau sudah waktunya,” jawab Arsyad sembari menatap sang istri. Seulas senyum ia terbitkan untuk wanita yang empat tahun ini telah menemaninya suka maupun duka. Dia sudah mengambil keputusan soal topic ini jauh sebelum pertanyaan demi pertanyaan datang menyambangi. Dan, Arsyad sudah memiliki jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu.


...**...


...TBC...


...Double update. Jangan lupa Vote, komentar, share dan follow Author....


...Masih mau lanjut? siapa yang paling dikangenin? Ayah Van'ar?...


...Atau yang lainnya?...

__ADS_1


...Sukabumi 23 Agustus 2021...


__ADS_2