Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
89. Kehidupan Yang Sesungguhnya


__ADS_3

89. Kehidupan Yang Sesungguhnya



“Apa yang akan kita lalui mudai dari sekarang adalah perjalanan hidup yang sesungguhnya.”—Arsyad An-nass Senopati Az-zzioi


📚📚📚


Ketika datang waktunya tinggal berpisah dari orang tua, maka itu adalah kehidupan yang sesungguhnya. Akan ada masanya seorang anak dituntut untuk berpikir dewasa saat hidup berpisah dari kedua orang tua. Apa yang dilakukan kedepannya akan murni diambil dari keputusan sendiri.


“Selamat datang di kediaman baru kalian.” Pria rupawan pemilik senyum menawan itu mempersilahkan kedua muda-mudi tersebut memasuki kediaman baru mereka.


“Maid yang akan bertugas untuk membersihkan rumah akan datang setiap pukul 07.00 pagi dan pulang pukul 18.00 sore.”


Pria rupawan itu tersenyum kecil saat melangkah menuju ruang tamu. “Kediaman kalian ini luasnya dua kali lipat dari kediamanku. Kalian pasti akan kesepian.” Ia tersenyum kecil diakhir kalimatnya.


“Kecuali, jika kalian segera membuat baby-baby mungil.”


“Om, kita datang ke sini untuk mengenyam pendidikan. Bukan untuk honeymoon.”


“Santay, Syad. Om juga pernah muda kok.”


Arsyad—lelaki yang berdiri di samping sang istri itu mengangguk kecil. Dia dan istrinya memang telah tiba di New York setelah singgah di London, Inggris, guna mengantarkan sang adik. Di sana Arra tinggal bersama teman lama Aurra saat dia kuliah di sana. Kini, Arsyad dan Kara baru saja tiba di kediaman mereka yang ternyata letaknya tidak terlalu jauh dari kediaman Radityan. Oleh karena itu, saat ini hometour mereka adalah pria rupawan pemilik perusahaan terkemuka di kota tersebut.


Pria tersebut dengan sengaja mengosongkan jadwalnya hari ini demi menyambut kedatangan sang keponakan sekaligus murid emasnya.


“Rumah dinas KEDUBES juga tidak jauh dari sini. Beliau teman dekat ayah istrimu bukan?”


Arsyad dan Kara mengangguk bersamaan. Tyoga memang mewujudkan ucapannya. Pria itu benar-benar menitipan sang putrid an menantunya kepada KEDUBES tanah air yang katanya teman dekatnya. Kompleks perumahan mereka jaraknya juga tidak terlalu jauh dengan kediaman Kevanzar Radityan Al-faruq bersama keluarganya. Intinya, kediaman mereka berada di posisi strategis yang mudah dijangkau oleh orang-orang hebat tersebut.


“Wah, sudah datang ternyata.” Seorang wanita berhijab syar’i muncul dari arah dapur. “My sunshine. Kamu sudah ada di sini?”


Wanita itu mengangguk sambil tersenyum kecil. “Iya. Aku ke sini sama si kembar. Mereka barusan izin keliling rumah ini.”


“Wah, ini Arsyad sama istrinya ‘kan?” Ia beralih. Menatap pasangan muda yang ada di hadapannya hangat. “Selamat datang di sini. Kalian pasti berat, harus tinggal jauh dari keluarga. Tapi tenang, di sini Om sama Tante akan berusaha menjadi orang tua wali sementara untuk kalian.”


“Bisa aja istriku.” Ujar pria rupawan tersebut, sambil tersenyum.


“A Gemi gak lanjut kerja?” Tanya sang istri.


“Enggak. Hari ini aku libur dalam rangka menyambut keponakanku.”


Mentari mengangguk, lantas menatap Arsyad dan Kara bergantian. “Jangan sungkan panggil Tante kalau kalian butuh bantuan ya.”


“Baik, tante.” Jawab Arsyad sambil mengulas senyum tipis.


“Duh, mirip mas Van’ar banget kalau Arsyad senyum.”


“Ganteng ya, sayang?” Tanya Gemintang.


“Iya, A. Sebelas-dua belas sama bapaknya.” Puji Mentari. Dari kecil, Arsyad memang sudah tampan menurutnya. Calon bintang itu memang beda pesona-nya.


“Gantengan siapa sama aku?”


“Arsyadlah. Kamu mah apa atuh, udah tua.” Gemintang berdecak lirih. Dia mendadak cemburu karena kalah ganteng dengan lelaki berusia 19 tahun yang baru lulus SMA. Tapi tetaplah, ia is only one di hati istrinya.


“Udah, lebih baik kita lanjut hometournya. Yang, kamu juga ajak anak-anak buat tunggu di ruang tamu.”


“Iya. A.”


Gemintang tersenyum kecil kala melepas kepergian sang istri. Detik selanjutnya, dia kembali mengajak kedua keponakannya untuk mengelilingi huniah baru mereka. Gemintang beserta anak istrinya tinggal hingga makan malam. Mentari juga sempat memasak banyak untuk mereka makan, sisanya sengaja disimpan di lemari pendingin agar bisa dihangatkan jika Arsyad ataupun Kara lapar saat tengah malam.


Hunian megah yang terdiri dari dua lantai itu sepi menjelang waktu isya. Gemintang beserta istrinya dan anaknya telah pamit pulang. Kini tinggal suami istri muda tersebut yang menghuni bangunan itu bersama para penjaga yang bertugas 24 jam non-stop.

__ADS_1


Para penjaga terlatih tersebut merupakan orang-orang yang Tyoga sewa dari agen intelegen milik Galaksi & Gemintang. Mereka bertugas menjaga keamanan dan keselamatan para pewaris kerajaan bisnis kenamaan tersebut. Arsyad dan Kara—para calon pewaris kerajaan raksasa yang sangat diperebutkan posisinya.


“Yanda?”


“Hm. Ada apa?” Lelaki berpiama hitam kotak-kotak itu beralih, menatap sang istri. Gadis yang mengenakan piama pendek bermotif sama itu tampak gelisah mencari sesuatu.


“Caria pa?”


“Cari formulir sama berkas-berkas penting. Perasaan, semua itu sudah Kara simpan dalam map bening.”


“Formulirnya ada di dalam koper yang kecil. Sudah dichek?”


“Belum, Kara chek dulu.”


Walaupun sudah malam, kedua muda-mudi itu belum bisa beristirahat. Keduanya tengah bebenah guna membereeskan barang-barang bawaan mereka. Besok adalah hari pertama mereka tinggal jauh dari orang tua. Hidup akan terasa sukar atau tidaknya mulai esok.


📚📚📚


“Yanda….” Panggil gadis cantik tersebut, saat dirasa tempat tidur di sampingnya telah kosong.


Pagi telah menyongsong. Dia memang tidur kembali setelah salat subuh, mengingat kantuk masih menggantung di pelupuk mata. Kini, saat ia bangun sang suami sudah tidak ada di sampingnya. Gadis itu beranjak, lantas berjalan menuju kamar mandi untuk gosok gigi dan cuci muka.


“Yanda?” Panggilnya, saat kaki jenjangnya menuruni anak tangga.


Hidungnya bisa mencium aroma lezat dari tempatnya berpijak. Ia tahu dari mana aroma lezat itu berasal. “Yanda?” panggilnya, saat berhasil menemukan sosok yang menciptakan aroma lezat tersebut.


Di depan kompor, lelaki itu berdiri lengkap dengan celemek hitam yang menggantung di tubuhnya. Piama semalam sudah berganti. Lelaki itu tampak segar dengan setelan casual, celana panjang berwarna khaki dengan atasan kaos berwarna putih polos.


“Kamu sudah bangun?”


Kara mengangguk kecil. “Yanda masak?” Tanyanya sambil mendekat.


“Hm. Cuma nasi dengan sayur, lauk yang tante Tari masak kemarin masih banyak di lemari pendingin. Kita masih bisa menghangatkan makanan-makanan itu.”


“Duduklah, kita sarapan.”


“Hm. Yanda bangun dari pagi?”


“Iya. Aku harus membuat sarapan untuk kita.” Jawab Arsyad sekenanya. Namun, bagi Kara itu adalah sebuah kalimat yang menohok relung hatinya.


Di hari pertamanya tinggal berdua dengan sang kekasih hati, dia malah bangun kesiangan dan membiarkan sang suami memasak untuknya. Seharusnya, tugas memasak adalah tugasnya sebagai seorang istri. Tapi, apalah daya Kara yang seumur hidupnya selalu hidup dengan kelengkapan fasilitas dari mulai bangun pagi hingga tidur lagi.


Ayahnya tidak pernah sekalipun mengizinkan sang putri menyentuh peralatan dapur, apalagi memasak. Akan selalu ada pelayan yang mengurusi semua kebutuhan Kara.


“Kenapa tidak dimakan?” Tanya Arsyad. “Tidak enak? Mau aku belikan makanan lain di luar?”


Kara menggeleng sambil tersenyum kecil. “Kara baru mau makan.” Dia lantas mengambil sendok, dan mulai menikmati sarapan paginya.


Arsyad tersenyum kecil. Walaupun ia seorang lelaki dan suami—hal itu tidak menghalanginya untuk cekatan di dapur. Sejak kecil dia sudah diajarkan untuk hidup mandiri. Terlebih lagi dia juga belajar banyak dari sang Ayah yang juga pandai dalam segala hal. Semua itu Arsyad lakukan, karena ingat kata-kata sang Ayah soal tugas seorang suami yang juga harus membantu tugas sang istri jika dibutuhkan.


“Yanda?”


“Hm.” Lelaki yang tengah mencuci peralatan makan bekas sarapan itu menoleh. “Emh, kenapa yanda yang cuci piring? K—ara bisa kok lakuin itu sendiri.”


Lelaki rupawan itu tersenyum kecil. “Tidak apa-apa. Kita bisa saling berbagi tugas dan bergotong-royong mengerjakan tugas yang lain.” Tutur lelaki tersebut. “Kamu bantu bersihkan meja makannya saja, ya?”


“Iya, yanda.”


“Hm. Habis ini kita harus membeli beberapa keperluan dan perabotan yang diperlukan.” Kara mendongrak. “I—tu bukannya tugas Kara?”


“Kenapa? Tidak boleh jika aku mengerjakannya juga?”


“Bukan begitu, yanda. Tapi Kara—“ gadis itu menjeda kalimatnya. Dia Cuma merasa sungkan jika semua tugasnya dilakukan oleh Arsyad. Sebagai seorang istri, dia seperti tidak ada gunanya.

__ADS_1


“Kita kerjakan semuanya bersama-sama.” Arsyad menyudahi acara mencucinya. “Kenapa hm?”


“Yanda, Kara….”


“Ada apa?”


“Maaf yanda.”


“Maaf untuk apa?”


“Kara jadi istri gak berguna.” Lirih gadis tersebut sambil menunduk. “Kara gak bisa masak. Kara gak bisa kerjain pekerjaan rumah tangga. Kara—“


“Ssstt. Dengarkan aku Kara.” Arsyad menyentuh dagu sang istri pelan. Ia menaikkan pandangan sang istri agar bisa menatapnya. “Aku mencari istri, bukan mencari pelayan.”


Kara menatap sang suami tak faham. “Orang lain bisa saja menentukan standar tinggi untuk calon pasangannya. Tapi, kita berbeda. Tanpa aku menetapkan standar apapun untuk calon pendampingku, tuhan sudah kirimkan kamu untukku.”


“Yanda…”


“Tuhan yang telah membuat kita bertemu. Takdir kita telah ditentukan. Sebagai manusia biasanya, kita hanya bisa menerima.”


Kara menatap sang suami dengan tatapan berkaca-kaca. Mereka memang menikah bukan karena cinta. Jika saja tidak ada kesalahpahaman itu, maka mereka tidak akan pernah bertemu dan menikah. Namun, lagi-lagi kuasa tuhanlah yang mengambil kendali di sini. Mereka telah ditakdirkan untuk betemu dan bersatu lewat insiden tersebut.


“Jika kamu tidak bisa, maka masih ada waktu dan kesempatan untuk belajar selagi kamu mau dan mampu. Aku juga tidak mempermasalahkan soal ketidakmampuanmu, Kara. Kita bisa saling membantu dalam berbagai hal.” Ujar Arsyad menjelaskan. Lelaki itu menatap sang istri lembut, seakan-akan tahu kegundahan sang istri.


“Tapi yanda, Kara—“


Cup


Lelaki rupawan itu memtong ucapan sang istri dengan kecupan singkat di keningnya. “Fokus saja pada dua hal, Kara.”


“A—pa itu Yanda?”


“Pertama, fokuslah belajar sesuai tujuan kita datang ke tempat ini. Jangan sampai kita mengecewakan banyak harapan nantinya.” Kara mengangguk mendengarnya.


“Kedua, fokuslah untuk belajar menjadi istri dan calon ibu yang baik untukku, dan calon anak-anak kita kelak.” Kara mengangguk tanpa pandang bulu. Namun, beberapa detik kemudian dia mendonggrak menatap sang kekasih hati lekat.


“Kita belajar bersama-sama untuk menjadi pasangan suami istri yang baik dan benar. Nanti, saat tiba pada waktunya. Kamu harus siap untuk menjadi ibu dari anak-anak kita.”


“M—aksud yanda?”


“Seperti ucapannmu waktu di mansion Ayahmu saat itu. Aku tidak janji kamu akan pulang dalam keadaan sama saat kita meraih apa yang kita kejar nanti.”


“….??”


“Karena aku berubah pikiran.”


“Maksud yanda apa?” Bingung Kara.


“Aku tidak janji jika setelah lulus nanti, kamu tidak mengandung.”


...****...


...TBC...


BCT Update guys?! Absen dulu yuk…. Mana nih suaranya?


Huah… gak kerasa, perjalanan yanda-kara sudah sampai sejauh ini. Tantangan hidup mereka yang sesungguhnya akan dimulai ketika tiba di NYC. Mereka akan dihadapkan dengan permasalahan internal maupun eksternal soal hubungan mereka. Bibit pelakor atau pembinor juga akan muncul nanti.


Ok, Jadi jangan lupa like, vote, komentar, share dan follow Author. Maaf baru bisa update sekarang:'(


Semoga Readers selalu setia & sabar menunggu ya:')


Sukabumi 23 Juni 2021

__ADS_1


__ADS_2