Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
. 44-Mawar Berduri


__ADS_3

📚. 44-Mawar Berduri



"Ada beberapa hal yang nampak cantik dan rapuh, seolah-olah mudah untuk kamu permainkan. Tapi, pada kenyataanya semua itu berbeda."-Atmariani Karamina Adriani



****


Dentuman musik EDM yang keras dan gemerlap lampu disko, menyambut kedua anak adam yang baru saja bergabung kedalam ruangan yang cukup pengap tersebut. Bau nikotin terbakar, bercampur aduk dengan bau khas alkohol bahkan beradu dengan bau percumbunan yang lumrah terjadi ditempat tersebut. Dua anak adam berjalan bersama, sambil menatap kesekelilingnya hati-hati.


"You okay?" Tanya si lelaki, hafal akan gerak gerik tak nyaman gadis disampingnya.


"It's okay, Dylan."


Lelaki itu tersenyum tipis, lantas menepuk tudung berbulu yang menutupi kepala gadis disampingnya. Patut sekali jika mereka disebut manusia salah kostus yang datang ke club malam. Lelaki berkemeja maroon tersebut, menggandeng gadis berdress coklat muda yang melapisi dresnya dengan mantel bertudung dengan bulu-bulu lembut disekitar tudung yang melindungi kepalanya. Sekilas, tampilan gadis itu lebih mirip tokoh melegenda sigadis bertopi merah diantara remangnya ruangan tersebut.


"Apa, papih tahu?"


"Kamu tahu sendiri jawabannya." Kekeh lelaki tersebut.


"Jika Om Tyoga tahu, leherku pasti akan ditebas."


Gadis itu tersenyum tipis. Ya, dalam 17 tahun hidupnya baru kali ini ia berani mengambil tindakan. Dibalik diamnya putri terkurung seperti dirinya, ada yang coba ia ngebleng dalam dirinya kala harus terkunci dibalik kastil. Toh, ia suatu saat nanti harus bisa menjaga diri ketika harus dihadapkan dengan kepelikan dunia. Dia memang dilahirkan sebagai pewaris tahta. Tak ada dalam kamusnya untuk terus menjadi lemah, dan terus mengandalkan sang ayah. Ada kalanya, dia harus bisa menghandle segalanya sendiri.


"Dia adalah salah satu tamu VIP disini."


"Jadi benar, dia sering pesta obat disini?"


"Yeah, cuma mereka yang tahu." Lelaki itu mengedipkan bahunya acuh.


"Ingat, kita kesini cuma untuk mengambil sample dan bukti tambahan, Dylan." Tekan gadis tersebut.


"Sesuai keinginanmu, lady." Patuh lelaki tersebut, sambil menggiring gadis disampingnya ke meja bar.


"Ruang VIP, seperti biasa. Apa kosong?" Tanyanya, kepada pria bertato dibalik meja bar tersebut.


"Atas nama?"


"Rudolf Reef." Pria bertato itu diam sejenak, menerka-nerka nama yang cukup asing baginya.


"Jika tidak percaya, aku bisa tunjukan gold card member. C'mon,"


"Gold card member?"


"Yeah. Kau cukup tahu fungsi card tersebut bukan?"


"Ya. Aku mengerti. Temanku akan segera mengantarmu keatas."


Dylan--lelaki itu tersenyum miring. Lantas, ia kembali memutar tubuh untuk menatap pasangannya.


"Ayo, pertunjukkan akan segera dimulai." Ujarnya, sambil menggandeng gadis yang sebenarnya enggan masuk ketempat seperti ini.


Namun, demi satu nama yang dua bulan kurang ini hidup bersamanya. Berbagi tempat tidur, juga berbagi pengertian, setidaknya ia mau turun tangan langsung memberi pelajaran bagi seseorang yang telah mengusik hidupnya.


"Apa orang-orangmu sudah ada didalam?"


"Iya. Mereka sedang mencekoki dia. Mungkin, dia sedang sakaw saat ini."


"Sakaw?"


"Lihat saja nanti." Gadis bertudung itu mengangguk paham.


"Tapi ingat, ini pertama dan terakhir kalinya kamu menginjakkan kaki ditempat seperti ini. Paham?" Gadis itu mengangguk.


"Kamu tahu sendiri konsekuensinya jika Om Tyoga tahu. Aku bisa dimutasi ke Afrika selatan nanti."


Gadis itu mendongrak, memperlihatkan iris hazelnutnya yang mempesona. "Maaf." Lirihnya tulus.


"Aku sudah banyak menyusahkan kamu."


"Sudahlah, jangan risau." Lelaki itu mengusap poni rambut coklat gelap kebanggaanya.

__ADS_1


"Terpujilah lelaki yang sudah menjadi suamimu itu. Dia benar benar beruntung mendapatkan dirimu."


"Bukan." Sela gadis tersebut.


"...?"


"Bukan dia yang beruntung, tapi aku." Imbuhnya.


Bukan soal beruntung atau tidaknya, tapi ia memang bersyukur. Toh, ia melakukan semua ini untuk sedikit membantu memberi pelajaran. Setidaknya, sebagai istri dari lelaki yang mandiri ia juga harus bisa mandiri sendiri. Ia harus bisa memberi pelajaran dia yang telah mengusik hidup suaminya.


📚📚📚


"Uanjay gurinjay takinjay kinjay, ini pujaan hati gue lagi fhotoshoot dimana ya?" Celoteh lelaki berhoodie maroon tersebut.


"Pujaan hati sapa? Halu lo ya?"


"Enggak! Gue lagi nge-stalk IG mantan cuy." Kekeh lelaki bernama Sagara tersebut.


"Cakra, lo gak balikan lagi sama si mawar berduri itu 'kan?" Imbuhnya lagi.


"Mawar berduri siape? Gak tahu gue!"


"Itu, mantan lo yang anak mentri."


"Anak mentri?" Cakrawala menoleh, mengalihkan tatapannya dari burger extra keju ditangannya.


"Iya. Muantan tercintamu, nàk!" Kekeh Sagara.


"Oncom lo. Itu bukan mantan gue!"


"Oh, kirain." Kekeh Sagara. "Ya, kalau dipikir-pikir buat apa juga anak mentri kayak dia mau sama lo. Mendingan juga sama gue!"


"Serah lo, kunyuk!"


Kedua lelaki tersebut kembali larut dalam pembicaraanya. Sedangkan satu lelaki lainnya, fokus pada gaway ditangannya. Ketiga lelaki tersebut, tengah hangout disalah satu caffe yang instagram-able didaerah Jakarta pusat. Weekend begini, mereka yang sering kali dijuluki trio cogan itu sering kali wara-wiri bersama. Ketika tidak ada jadwal flight, mereka terkadang kumpul-kumpul bersama teman-teman satu tongkrongannya.


"Eh, itu selebgram itu bukan sih?" Cakrawala nyeletuk seru.


"Selebgram mana?" Bingung Sagara.


"Anak sultan? Bodyguardnya bayak? Siapa?" Bingung Sagara.


"Itu, Arrabella Lumiera Humaira Rajapatni Az-zzioi."


"Owh, yang pandawanya lima itu?"


"Ho'oh?!"


Lelaki berkaos hitam yang dilapisi jaket parasut berwarna dongker itu menoleh. Mengalihkan segala fokusnya kearah yang dimaksud kedua sahabatnya.


"Anjay gurinjay, cuantik banget bro. Adem banget lihatnya. Bidadari dunia akherat bro!" Puji Sagara, saat melihat segerombolan manusia memasuki caffe bersama sosok yang ia maksud.


Seorang gadis bergamis putih bersih yang menjuntai hingga mata kaki, dipadukan dengan pasmina berwarna cream, yang senada dengan warna flathshoes dan slim bag miliknya. Cantik, satu kata yang dapat menggambarkan visual gaďis tersebut. Selain cantik, wajah ayunya yang teduh juga selalu terlihat ramah kepada siapa pun.


"Mau fhotoshoot kali?"


"Iya. Lo gak lihat, mereka bawa barang barang seabreg gitu."


Gean masih menatap lekat objek yang berdiri beberapa meter dihadapannya tersebut. Gadis itu sendiri, dalam antian sendiri tanpa 5 pandawa yang mengawalnya. Bagus bukan, kesempatan yang harus ia manfaatkan sebaik mungkin.


"Eh, lo mau kemana Ge?"


"Toilet."


"Toilet?" Bingung Sagara dan Cakrawala.


"Mau boker, ikut lo pada?" Kesalnya.


"Boker aja ngajak-ngajak. Sans ae lo bro!"


"Ya kali, lo berdua mau ikut gue." Datar lelaki tampan yang akrab disapa Gean tersebut.


Selesai meladeni kedua sahabatnya, lelaki tampan itu membawa kakinya kearah yang ia maksud. Namun, bukan lagi toilet yang menjadi tujuannya. Melainkan satu ruangan yang agaknya hari ini dipesan secara private.

__ADS_1


"Hai?" Sapanya, sambil tersenyum manis.


"Apa kabar, Chèri?" Mengabaikan keterkejutan lawan bicaranya, ia malah melanjutkan sapaanya.


Ia terlanjur senang, ketika melihat gadis ini hadir tanpa pandawa lima disekelilingnya. Bukannya takut, Gean cuma ingin PDKT-an secara alamian terlebih dahulu tanpa ada gangguan sedikitpun.


"Kamu?"


"Iya, gue. Kenapa kaget, ya?"


"Ngapain kamu disini?" Tanya gadis itu tak bersahabat.


"Hangout. Ya kali, di caffe gini numpang pup."


Arrabella--gadis cantik itu menatap lawan bicaranya tak suka. Entah mengapa, sikap agresif lelaki dihadapannya tersebut membuatnya risih sejak pertama berjumpa.


"Jangan bilang lo lupa sama gue, Chèri?"


"Aku gak kenal sama kamu."


"Lo lupa beneran sama gue?!" Gean menatap lawan bicaranya tak terima.


"Arrabella Lumiera Humaira Rajapatni Az-zzioi, masa lo lupa sama calon laki?"


"Kamu bicara apa sih, ngalantur!"


"Gue--"


"Maaf menyela, kamu bisa pergi dari sini? Aku harus kerja."


"WTF?! Lo ngusir gue, chèri?" Kaget lelaki tampan tersebut.


"Maaf tapi aku--"


"Lo beneran ngusir gue?" Gean melangkah lebar, mendekat kearah Arra.


"Kamu mau apa? Diam disitu!"


"Gue Gean, lo jangan lupain gue dong?!"


"Aku--"


"Lo jangan lupain gue, gue aja gak bisa lupain lo chèri." Ujar Gean, sambil mengulurkan tanganya untuk menyentuh bahu Arra. Akan tetapi,


PLAK


"Jangan sentuh aku!" Tangan lelaki itu berhasil ditampik Arra dengan cepat.


"Wow, lo pintar jago diri ya chèri?" Tebak Gean, melihat ketangkasan gadis cantik dihadapannya.


"Gue jadi makin suka. Gue--"


DUG


"Aww." Ringis Gean nyeri.


"Jangan bicara ngelantur, kita gak saling kenal?!" Ujar Arra final, sambil berjalan pergi setelah menendang tulang kering sebelah kiri Gean.


Gadis cantik tersebut memang memiliki refleks yang cepat jika ada yang membuatnya risi. Sungguh, Gean malah kian dibuat terpukau oleh keagresifan gadis teduh tersebut saat menolaknya. Dia berbeda, tidak seperti gadis sebaya kebanyakan. Arra itu seperti mawar berduri. Cantik, dengan segala kepiyawaiyannya, dan juga mempesona dengan segala kemandirian dan caranya memproteksi diri.


"Makin mabuk kepayang gue sama lo, chèri."


****


TBC


Bang Syad Update😍😍


Hayoo, mau bilang apa ke bang Syad? ke Kara? ke Arra? ke Gean? atau ke Galang?


Jangan lupa like, vote, komentarrrrrrr, sharw dan follow ya. Gabung jg di GC, biar gak ketinggalan info😘😘


Maaf kalau typo bertebaran, dan upnya lama

__ADS_1


🙏🙏


Sukabumi 06 Januari 2020


__ADS_2