Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
94. Peredaran Waktu ke Waktu


__ADS_3

...94. Peredaran Waktu ke Waktu...


...HAPPY READING ALL READERS ❤️💛💚💙🧡💜💜...


...“Jika dilalui dengan kebersamaan dengan seksama, terkadang waktu yang panjang sekalipun tidak akan terasa melelahkan.”—Arsyad An-nass Senopati Az-zzioi...



...****...


Dalam kurun waktu 365 hari yang ada dalam satu tahun, ada saja yang membuat hari-hari itu terasa begitu lama. Setiap hari terasa begitu panjang dan melelahkan. Padahal sehari masih 24 jam. Terkadang pula, selama kurun waktu tersebut terasa singkat dan padat. Tidak terasa, hari-hari telah berlalu. Musim demi musim telah dilalui. Mempertemukan lagi dengan penghujung tahun dan awal tahun baru yang akan menyongsong kehidupan selanjutnya.


Live is adventure. Hidup ibarat sebuah perjalanan. Dalam perjalanan tersebut, seorang menemukan berbagai hal yang bisa dia petik. Bad or good, semua tergantung bagaimana mengambil sikap dan memandang makna keduanya. Terkadang, hidup bukan saja tentang ‘bad or good’, tetapi tentang bagaimana seseorang menjadi pribadi yang mencerminkan perilaku tersebut. Dan bagaimana mereka menjalankan konsekuensi atas apa yang telah mereka perbuat.


Kehidupan tidak akan lepas dari sebuah ujian. Ujian diberikan semata-mata sebagai penguji ketabahan atau kesabaran orang itu sendiri. Seseorang diuji sesuai dengan kadar kemampuannya. Tidak mungkin tuhan menguji umatnya dengan ujian di luar kemampuannya.


Seorang perempuan cantik tampak berjalan gontai memasuki ruang utama tempat tinggalnya. Gema tercipta saat heels bertumit tinggi dari Jimmy Choo yang digunakannya bertemu dengan lantai. Tubuh semampai nya terbalut dress berlengan panjang berwarna coral dari Christopher Kane. Tas selempang dari Gucci miliknya di lemparkan sembarangan ke atas sofa. Bibirnya yang terpoles lipstick berwarna dengan warna bibirnya, mengerucut sebal.


“Yanda ih,” gerutunya kecil.


Dia kesal kepada si empunya panggilan tersebut, karena lagi-lagi lelaki itu tidak bisa menepati janjinya. Padahal sejak sore tadi dia sudah berdandan rapih untuk bertemu dengannya.


Namun, sayang seribu sayang karena janji itu urung terlaksanakan lagi.


Perempuan cantik itu melirik jam dinding untuk sesaat. Hari sudah semakin larut, dan lelaki itu tak kunjung menunjukan tanda-tanda akan pulang. Perempuan cantik itu berdecak sebal. Dengan langkah yang malas, dia menaiki udakan tangga menuju kamarnya. Tempat di mana dia bisa mengistirahatkan tubuh, hati dan pikirannya.


Lelah dengan semua aktivitas yang hari ini ia lakoni, plus dengan kegagalan yang harus dia dapati. Perempuan cantik itu memilih membersihkan diri. Menghapus sisa make up di wajahnya dengan cairan pembersih, lantas merendam tubuhnya dalam genangan air hangat beraroma kesukaannya.


Selepas mandi, perempuan cantik beriris hazelnut itu memilih untuk menunaikan kewajibannya sebagai mahluk beragama. Dia memang tidak sempat menunaikan kewajibannya tepat waktu karena masih berada di caffe tempatnya janjian.


Selesai dengan kewajibannya sebagai umat beragama. Perempuan cantik itu beranjak menuju meja rias. Dia biasa menggunakan skin care untuk merawat wajahnya yang memang jarang dirias make up. Setelah melakukan rutinitasnya, perempuan cantik yang mengenakan gaun tidur berbahan satin itu melangkahkan kakinya menuju tempat tidur.


Pikirannya kembali dongkol saat melihat sisi tempat tidur lain yang kosong. Lelaki yang biasa mengisi space itu pasti tidak akan pulang lagi, pikirnya. Karena lelah, dia memilih memejamkan matanya. Mengistirahatkan tubuh dan pikirannya lebih awal karena lelah yang mendera harinya. Lagi, lagi, dan lagi dia tertidur sendiri di atas tempat tidur king size tersebut.


****


“Besok anda ada jadwal meeting dengan client dari Moscow, Rusia,” ujar pria berkacamata yang tengah sibuk mengoperasikan MacBook tersebut. Jemarinya dengan lincah bergerak mengoperasikan benda tersebut, sambil memaparkan tugas tuan mudanya esok hari.

__ADS_1


“Baik.”


“Besok, tanggal 28 Desember, anda juga—“


“Tunggu,” sela lelaki muda yang duduk di sampingnya.


Pria berkacamata itu menoleh refleks. “Ada apa tuan muda? Apa anda sudah tahu jika tuan Tyoga akan datang besok?”


“Ayah mertua datang?”


“Ya. Apa nona muda belum memberitahu anda? Bukannya malam ini anda memiliki jadwal dinner dengan nona?”


Lelaki rupawan dalam balutan jas formal itu menajamkan pendengarannya. “Apa?” tanyanya memastikan.


“Nona sudah mereservasi tempat dinner. Anda tidak membaca pesan yang nona berikan?”


Lelaki muda itu buru-buru membuka smartphone miliknya. Dia memang sempat menerima pesan dan telepon dari sang istri. Namun, hanya pesan yang sempat ia jawab. Itupun dengan jawaban singkat jika dia tidak bisa menghadiri ajakan sang istri.


“Tuan muda?” panggil pria berkacamata tadi kecil. Melihat raut wajah sang tuan muda, ada yang tidak beres telah terjadi.


“Putar balik mobilnya.”


“Putar balik mobilnya!” ulang sang tuan muda penuh penekanan. Jantungnya mulai berdebar tidak karuan sekarang. Bagaimana bisa dia sampai lupa akan hari ini. Bagaimana bisa dia melupakan apa yang terjadi pada tanggal ini beberapa tahun silam?


Sibuk mengejar study, juga mendalami ilmu bisnis secara bertahap membuatnya memang terkadang melupakan beberapa hal penting. Tidak mudah baginya menyesuaikan diri dengan posisinya yang semakin hari semakin meninggi. Beban yang dipikulnya juga terasa semakin berat. Dampaknya, walaupun tinggal seatap dengan perempuan yang dicintainya, belakangan ini dia bahkan tidak memiliki waktu barang sedikitpun untuk memperhatikan perempuan tersebut.


Bahkan untuk beberapa kesempatan, dia sering kali mengingkari janji temu dengan perempuan tersebut.


“Tuan muda, sudah tidak ada nona muda di dalam sana,” ucap pria berkacamata tadi. Mencegah sang tuan muda yang hendak turun dari mobil.


“Apa maksudmu?”


“Nona muda sudah kembali ke mansion,” ucap pria berkacamata tadi.


Lelaki rupawan itu menghembuskan nafasnya gusar. Dia telah membuat kesalahan fatal, lagi.


“Kita pulang sekarang.”

__ADS_1


****


Ketika fajar masih belum menyingsing, seorang lelaki tampak mulai bangun dari pulau kapuk. Jam biologisnya sebagai seorang manusia normal akan membangunkannya sejak waktu salat subuh tiba. Sambil merenggangkan otot-otot di lengannya, dia menoleh ke samping. Tempat di mana sang istri biasanya tertidur. Namun, kali ini perempuan cantik itu sudah tidak ada di sana.


Ketika kembali kemarin malam, dia disuguhi pemandangan punggung sang istri yang sudah terlelap dengan damai. Perempuan cantik itu agaknya tertidur sejak awal tanpa memiliki niat untuk menunggu. Toh, berulang kali perempuan itu menunggu, dia acak kali diabaikan karena urusan lain.


Lelaki rupawan itu menghembuskan napanya gusar. Dia lantas beranjak dari posisinya menuju kamar mandi. Selesai dengan urusan di kamar mandi dan menunaikan ibadahnya sebagai umat muslim, dia turun ke lantai dasar untuk menemui sang istri.


“Di mana istriku, Bu Ismi?” tanyanya pada wanita paruh baya yang dia temui di ruang makan.


“Nona pergi pagi-pagi sekali ke bandara, tuan muda,” ucap wanita yang bekerja sebagai asisten rumah tangga tersebut.


“Pergi ke bandara?”


“Iya. Tuan Tyoga akan datang hari ini.”


Lelaki rupawan itu mengangguk. Dengan langkah pelan dia mengayunkan kakinya menuju lemari pendingin. Dia butuh air dingin untuk membasahi tenggorokannya. Padahal fajar belum juga menyingsing, tetapi dia sudah tidak bisa menemui barang sejenak saja. Perempuan cantik itu benar-benar tidak memberinya waktu untuk menjelaskan.


“Bi Ismi,”


“Iya, tuan muda.”


“Ini cake siapa?” tanyanya. Saat mengambil air tadi, dia tidak melihat ada cake cantik di dalam sana. Saat hendak mengembalikan botol air minumnya kembali, dia tanpa sengaja melihat cake cantik tersebut. Berada diantara bahan makanan lain yang tersimpan di dalam lemari pendingin.


“Semalam ada kurir yang ngantar cake ini dari toko pastry langganan nona muda. Tapi, nona tidak menyentuh cake ini sampai sekarang,” tutur Ismi.


Lelaki itu mengangguk faham. Dari cake tersebut dia bisa melihat betapa besar usaha perempuan tersebut. Serentetan kalimat yang tertulis di atas cake tersebut kembali membuatnya sesak. Bagaimana bisa dia lupa akan hari jadi pernikahannya sendiri?


...****...


...TBC...


...Anniversary ke-berapa ayo??...


...Lanjut lagi??...


...Jangan lupa VOTE, LIKE, KOMENTAR, FOLLOW ME, & SHARE cerita ini biar semakin banyak yang baca ❤️💛💚💙🧡💜🤍🤎🖤...

__ADS_1


...Sukabumi 04/08/21...


__ADS_2