
📚.63-Cuek Tapi Romantis
"Orang cuek itu punya cara tersendiri untuk menjadi romantis."-Arsenov Rayyan
****
Sudah menjadi sebuah kebiasaan jika seorang anak dididik untuk bekerja keras sejak kecil. Agar kelak, dia hidup dengan mandiri dan tidak hidup bergantung pada orang tuanya terus-menerus. Bukan berarti orang tua tidak mau membantu kehidupan putra putrinya, melainkan mereka hanya ingin putra putrinya mandiri. Karena dunia itu seperti roda berputar, manusia tidak akan pernah tahu kapan ada diatas kapan ada di bawah titik terendah kehidupan.
Karena hal itu pula, para añak muda ini sudah merambah dunia bisnis sejak dini. Mereka berani mengambil langkah untuk menjadi wirausahawan dengan mengandalkan modal pribadi, tanpa uang sepeserpun dari orang tua.
"Syad, kontainer yang baru sampe itu isinya kopi dari petani." Ujar lelaki tampan berapron hitam khas barista lelaki.
"Hm. Langsung bawa ke tempat penyimpanan."
"Ok." Ujar lelaki tampan tersebut, sebelum berlalu pergi.
"Bang?" Panggil lelaki lain, yang juga mengenakan kaos seragam dan apron yang sama sepèrti lelaki tadi.
"Ada apa Ron?"
"Bang, belanja bulanan buat semetara biar dihandle sama anak-anak. Soalnya Arra kan lagi sibuk sama konten barunya."
"Belanja bulanan?"
"Iya. Kebutuhan pokok aja bang. Biasanya Arra ngambil langsung ke produsen."
"Hm."
Lelaki tampan tersebut yang tengah berada dibalik meja bar itu mengangguk faham. Sore ini, sepulang sekolah ia memang menyempatkan waktu untuk mampir ke caffe yang ia rintis bersama kerabat dan sahabatnya.
"Handle aja sama kamu roon."
"Tapi bang, aku gak bisa handle masalah pasar sama produsen." Ujar Aroon ragu.
"Biasanya juga Arra atau Arsen."
"Coba dulu, biar kamu mengerti kedepannya. Bawa anak-anak yang biasa pergi sama Arra atau Arsen juga, biar bantu kamu."
Aroon mengangguk pada akhirnya. Ia juga harus belajar agak kedepannya mampu menguasai bagian tersebut.
"Hoamm.... ngantukk" Ujar lelaki tampan lain, yang baru saja mendudukan dirinya diatas kursi.
Lelaki tampan berkaos hitam polos itu nampak lelah, dengan kantung mata dibawah lingkaran kelopak matanya.
"Baru selesai?" Tanya Aroon.
"Hm. Client kali ini rumit. Minta pecahin sandi brangkas yang udah 10 tahun gak bisa dibuka."
"Sandi brangkas?"
"Hm. Rumit, karena gue harùs ngeretas ratusan lebih user buat cari tahu kata sandinya."
"Wow, amazing."
"He'em. Tapi bayarannya lumayan juga sih." Kekeh Davian.
"Berapa emang?"
"1," Ujar Davian sambil mengacungkan jari telunjuknya.
"Satu apa? Juta? puluh? ratus? atau apa?"
"Satu M." Ujarnya sambil terkekeh. "Lumayan, bisa buat beli PC baru. Yang lama udah mau lembiru." Kekeh Davian, berangan-angan.
PC : Personal Computer
"Lembiru?" Bingung Aroon.
"Lempar beli yang baru." Jawab Davian.
"Well, 1 M mau buat beli PC. Buat nabung atuh sekalian, biar makmur masa depan lu." Ujar Aroon sambil menepuk bahu kembarannya.
"Hidup gue insaallah makmur, selama masih ada client yang butuhin jasa gue." Kekeh Davin bangga.
"Oh iya, sodara bobrok kemana nih? Gak biasanya dia gak nongol."
"Bang Davin di bengkel. Lagi banyak pasien, tadi ada satu bugati Divo yang mau diservis, tapi bang Satria gak ada. Jadi Davin yang handle."
"Bugati Divo?" Aroon mengangguk meng-iyakan.
__ADS_1
"Warna apa?"
"Merah metalic."
"Wihh.... mantap. Pasti sexy banget tuh..." Kekehnya sumringah. "Gue kebengkel dulu deh. Udah lama gue gak servis mobil sport, kangen."
Davian beranjak dari duduknya. Dengan semangat 45, lelaki tampan itu langsung berlalu membawa serta barang-barang miliknya. Sudah menjadi rahasia umum, jika cicit Radityan satu itu suka sekali mengoprek mobil sport. Dunia otomotif selain milik Davin, nyatanya Davian juga meminatinya.
"Davian ke bengkel?" Tanya Arsyad.
"Iya bang. Nemu mangsa kayaknya."
"Hm."
Arsyad beranjak, mengambil alih kuasa mesin pembuat coffe. Ketika dia melihat tiga orang perempuan berdress model sabrina mendekat kearah meja bar.
"Kak, mau pesan boleh?" Tanya salah satunya.
"Iya. Boleh," Ujar Aroon ramah.
"Ice Americanonya satu, dalgona coffenya satu, sama lecy izy icenya satu." Pesan perempuan berambut curly tersebut.
"Ok. Bisa ditunggu sebentar ya kak."
"Iya." Ujar perempuan tersebut, sambil mencuri lirik kearah Arsyad yang tengah sibuk dibalik mesin pembuat coffe.
"Mbak?"
"Eh, iya?"
"Bisa nunggunya sambil duduk? Itu yang lain ngantri. Nanti pesanannya diantar kok." Ujar Aroon memberi tahu.
Tiga perempuan itu mengangguk kìkuk. Tanpa sadar, mereka memang membuat antrian lain menunggu lama.
Selama berkunjung ke caffe, Arsyad memang tak segan-segan untuk menjadi barista ataupun waiters. Hanya saja, jika dia melakukan itu maka para pelanggan akan melakukan berbagai cara untuk berlama-lama memesan. Oleh karena itu, Aroon meminta Arsyad untuk tetap berada dibalik meja bar dan membiarkan yang lain menjadi waiters.
Caffe yang didirikan oleh Arsyad dan kawan kawan memang letaknya strategis. Selain itu, harga makanan dan minumannya ramah dikantong. Setiap akhir bulan akan ada potongan harga, dan setiap awal bulan akan ada launching menu baru plus potongan harga khusus. Selain itu, mereka juga selalu mengutamakan kualitas bahan baku yang terbaik untuk semua olahan yang mereka buat. Dari koki, asisten koki, tukang bantu-bantu di dapur, witers, penjaga meja bar, barista, hingga kurir antar pesanan daring, semuanya merupakan kalangan anak muda/mudi. Hal itu juga menjadi magnet tersendiri untuk menarik minat penggunjung.
Seperti saat ini contohnya. Walaupun hari sudah malam, para pekerja laki yang rata-rata memiliki wajah diatas rata-rata sudah dibanjiri peluh dan kelelahan, para pengunjung caffe malah semakin membludak. Sebagian besar pengunjung adalah kaum hawa yang masih betah nongki-nongki cantik, sambil menikmati suguhan alunan musik yang ditampilkan oleh band besutan Davian. Lelaki tampan tersebut sudah dengan sangat piyaway, menyanyikan tiap bait lagu yang dibawakannya dengan penuh penghayatan. Kepiyawayan dan aura memikatnya, tentu mampu membuat banyak kaum hawa terpukau.
"Si Davian tempe mulu bisanya." Kekeh Davin, sambil menonton pertunjukan yang disuguhkan didepan matanya.
"Tempe?" Bingung Arsen. "Enak dong?"
"Gak nyambung." Ujar Arsen sambil menyimpan dua gelas coffe latte ke atas nampan.
"Pesanan meja nomer berapa nih?" Tanya Davian, yang dengan sigap mengambil alih nampan berisi dua coffe latte tersebut.
"Nomer 29. Sama pesan dua cheesy cake juga." Imbuh Aroon.
"2 cheesy cake." Ujar Arsyad yang datang membawa pesanan kudapan manis tersebut.
"Good. Gue jadi waiters ganteng dulu." Ujar Davin sambil mengedipkan matanya, jenaka.
"Dasar. Punya sodara kok tempe semua." Komentar Aroon, sambil menepuk jidatnya.
"Sodara lo itu." Sindir Arsen sambil terkekeh.
"Yoii bang. Sodara sedèng semua."
Arsen tertawa renyah mendengarnya. Tawa yang mampu membius banyak hawa disana. Banyak mata yang malah beralih menatapnya detik itu juga.
"Ups. Maaf, saya kelepasan." Ujarnya sedatar mungkin.
"Oh my baby?! Ganteng banget!"
"Ya alohhhh, ganteng abis."
"Gumesssh."
"Cogan lagi ketawa bikir ser-seran, sukaa." Ujar para kaum hawa disana, riuh saat melihat tawa Arsen menggema.
"Pesona yang cuek mah beda." Komentar Davin yang sudah kembali.
"Ya iyalan." Ujar Aroon menambahi.
Arsyad yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya tipis. Sedari tadi, ia juga risih sendiri saat banyak mata yang curi-curi pandang kearahnya. Selain itu, malam ini ia juga harus lembur hingga malam di caffe hingga jam kerja selesai. Padahal ia juga sudah ingin pulang ke rumah. Sejak pulang sekolah, ia langsung menuju tempat ini. Tanpa pulang dan bertemu orang rumah terlebih dahulu, termasuk istri tercintanya. Arsyad jadi ingin pulang karena ingin segera bertemu dengan sang istri. Namun, agaknya itu masih belum bisa terealisasikan mengingat masih banyak pelanggan.
Cringgg
Bunyi lonceng yang berdering dari pintu caffe, agaknya membuat Arsyad menoleh. Biasanya ia tak pernah terlalu peduli untuk memperhatikan pintu. Tetapi kali ini, ada sebagian hatinya yang mendorongnya untuk menatap pintu tersebut. Ketika seorang gadis muncul dibalik pintu tersebut, jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat. Nyanyian merdu Davian juga terasa berhenti seketika saat gadis cantik berdress midi berwarna hijau muda selutut tersebut.
__ADS_1
Banyak lelaki yang juga mencuri pandang kearah perempuan tersebut. Tanpa bisa berkedip, merka terpana akan sosok cantik bermanik hazelnut tersebut.
"Yanda?"
Suara lembut itu mengalun pelan, ketika tubuh mungilnya berdiri tepat dihadapan tubuh si empunya panggilan yang tak bergerak sedikitpun.
"Yanda kenapa?" Tanya gadis cantik itu, sambil menyentuh rahang tegas si empunya. Tidak peduli jika mereka saat ini tengah menjadi bahan tontonan.
"Kata bunda, yanda lembur. Tadi bunda titipin ini buat yanda." Ujar gadis cantik itu, sambil menunjukan barang bawaanya.
"Yanda...?" Panggilnya lagi, karena tak ada respon sedikitpun.
"Kamu, kesini dengan siapa? Ini sudah malam, kenapa kamu keluar rumah?" Ujar lelaki tampan tersebut buka suara.
"Kara kesini sama supir. Tadi udah izin papih juga, papih bolehin kok."
"Kalau sampai ada apa-apa bagaimana? Kenapa kamu nekad kesini?"
Kara tercekat akan kata-kata sarat kecemasan tersebut. Awalnya ia hanya ingin memberi suprise dengan datang ketempat ini. Tapi, ia tidak menyangka akan jadi seperti ini.
"Maafin yanda. Kara," Jeda gadis itu sambil menunduk.
"Hm. Lain kali jangan begini lagi." Ujar Arsyad melembut, sambil mengusap ujung kepala Kara.
Para kaum hawa disana langsung dibuat menjerit histeris. Pria tampan yang sedari tadi terlihat cuek dan dingin, ternyata bisa seromantis itu kepada pacarnya. Mereka tentu berspekulasi demikian, kala melihat interaksi Kara dan Arsyad.
"Kita ke atas." Ajak Arsyad, sambil mengenggam tangan Kara. Membawanya bersama dengannya, meninggalkan ruangan yang kembali riuh karena dirinya.
"Cuek tapi romantis." Komentar Davin sambil tersenyum tipis.
****
"Ayo, aa." Titah gadis cantik tersebut. Jemarinya dengan telaten menyuapi pria tampan dihadapannya.
"Kamu gak makan?"
"Kara udah makan dirumah. Sekarang tinggal yanda. Yanda harus kenyang makannya." Ujar gadis cantik tersebut, sebelum kembali menyodorkan suapan nasi beserta lauk pauknya tersebut.
"Kamu kurusan." Komentar Arsyad.
"Hm, enggak kok. Itu menurut yanda aja."
"Hm."
Gadis cantik itu tersenyum tipis, saat suapan suapan berikutnya hingga nasi beserta lauk pauk yang ia bawa dalam sebuah tupperware habis. Lelaki tampan itu mengucapkan hamdalah. Lantas dengan telaten, Kara menyeka sudut bibir sang suami dengan tissu. Membiarkan sudut bibir lelaki tampan itu kembali kering, setelah menyeka sisa air minum yang tertinggal disana.
"Kara?"
"Ya?" Gadis itu mendongrak, menatap lawan bicaranya seksama.
Cup
Gadis cantik itu mengerjap kaget, manik hazelnutnya menatap lelaki tampan yang baru mengecup keningnya itu seksama.
"Yanda..."
"Apa kamu mau tahu, aku rindu kamu."
Deg
"Yanda apa...?"
"Rindu kamu." Ujar lelàki tersebut gamblang.
Kara tiba-tiba diserang degupan liar dirongga dadanya. Ucapan lelaki dihadapannya itu benar benar racun untuk jantung dan otaknya. Ck, Kara bisa gila hanya karena baper.
"T-adi pagi kan yanda lihat Kara sebelum sekolah. K-enapa harus rindu?" Lirih Kara gugup, sambil membenahi alat makan yang dibawanya.
"Entahlah, aku juga bingung."
Gemas. Kara gemas sendiri dengan kegamblangan lelaki tampan satu ini. Pantas saja banyak yang mengagumi sosoknya. Walaupun cuek, jika sudah romantis dia tidak akan setengah setengah. Tapi ia bisa bersyukur, karena sikap romantis itu hanya ditunjukan kepada dirinya.
****
TBC
BCT Update.....
Uluuu.... bang Syad buciiinnn.... setuju gak nih kalau yanda jadi bucinnya Kara? tapi gak mungkin bucinnnn banget juga sih. Yang penting, cuek tapi romantis😍
__ADS_1
Hayo.... readers sekarang kangen sama siapa? ArraGean? ArraArsen? atau jodoh2 si triple? jawab ya. Jangan lupa like, vote, komentar, share dan follow me jika berkenan. Maaf upnya lamaaa🙏 alasan aku masih sama, dengan kesibukan dunianya nyataku yang bejibun banget.
Sukabumi 27 Feb 2021