Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
112. Mau Diseriusin Enggak?


__ADS_3

...112. Mau Diseriusin Enggak?...


...✨✨...


“BALIK KANAN, BUBAR BARISAN, JALAN!”


Intruksi dari suara menggelegar itu menjadi pertanda selesainya acara apel yang pagi ini dilakukan di depan kantor utama. Berbondong-bondong prajurit yang mengenakan seragam dinas lengkap—pakaian dinas harian—kemudian membubarkan diri. Mereka mulai berpencar ke sisi lapangan, tempat di mana sanak saudara maupun keluarga menanti.


“Kakak!”


Hal itu juga berlaku bagi pria muda rupawan yang baru saja melipir ke pinggir lapangan. Senyum tercipta di ujung labium kala sesosok wanita cantik dalam balutan dress brukat sederhana mendekat.


“Kenapa gak bilang mau datang?”


“Mau ngasih suprise buak kakak,” jawab wanita cantik itu seraya menyodorkan buket bunga yang dilengkapi boneka beruang yang mengenakan baju tentara.


“Berangkat jam berapa dari Sukabumi?” tanya si pria seraya meraih sebelah tangan wanitanya untuk dikecup.


“Kak, malu ih.”


“Malu kenapa? Kamu, kan, pacar eh, tunangan aku.”


Wanita cantik itu—Davina Cantikka Sekar Arum—tunangan pria muda yang baru saja menjadi salah satu anggota yang ikut melakukan apel. Pria muda itu bahkan menarik banyak perhatian karena rupa rupawannya yang membuat silau.


“Kamu belum jawab pertanyaan aku. Berangkat jam berapa ke sini?”


“Jam delapan pagi, bareng sama Abi.”


“Abi ada di sini.”


Davina mengangguk seraya tersenyum. “Kenapa kakak kelihatan kaget gitu? Memangnya Abi gak boleh ke sini?”


“Bukan gitu, beb. Takutnya abi nagih janji.”


“Janji?”


“Iya, janji buat nikahin putrinya.”


“Ih, kakak apaan sih.”


Melihat wanitanya tersipu malu, pria itu tersenyum tipis. “Memangnya gak mau dihalalin? Aku udah mau loh.”


“Kak Davin, apaan sih. Bicaranya jangan gitu, aku balikin nih cincinnya.”


“Yakin mau dibalikin? Waktu itu yang nangis-nangis pas dikaih cincin siapa, ya?”


Davin, pria rupawan yang berprofesi sebagai tentara itu kian gencar menggoda sang tunagan. Bahagia rasanya melihat tunagannya secara nyata, bukan lagi lewat layar telepon. Menjalin hubungan jarak jauh selam bertahun-tahun lamanya, tentulah berat. Banyak halangan juga rintangan yang selalu menghadang. Utamanya soal kepercayaan yang harus dijaga.


Selama berpacaran dari SMA hingga sekarang, Davin dan Davina telah melewati 6 tahun bersama. Bolak balik LDR-an Sukabumi-Jakarta, kemudian Magelang-Sukabumi. Namun, sejauh ini pasangan sejoli yang sudah bertuangan itu tidak pernah dihadapkan pada permasalahan yang serius. Mengingat mereka sama-sama berpegang teguh pada kepercayaan terhadap masing-masing.


Davin yang mengikuti AKMIL turut serta melanjutkan studi di tanah air. Davin mengikuti mengikuti pendidikan Taruna TK-I, termasuk dasar keprajuritan Candradimuka di kota Magelang. Sedangkan sang tunangan memilih melanjutkan studi di kota Jakarta. Sekarang, baik Davin maupun Davina mulai bisa bernafa lega. Jalan mereka untuk meresmikan hubungan semakin dekat.


Davin sudah memiliki jabatan yang cukup tinggi, pendidikannya juga telah rampung dijalani. Dia bahkan sempat mendapatkan penghargaan Adhi Makayasa, mengikuti jejak paman-nya Keevan’ar Radityan Az-zzioi. Adhi Makayasa sendiri merupakan penghargaan tahunan yang diberikan kepada lulusan terbaik setiap matra TNI dan Kepolisian, yaitu Matra Darat (dari Akademi Militer Magelang), Matra Laut (dari Akademi Angkatan Laut Surabaya), Matra Udara (dari Akademi Angkatan Udara Yogyakarta), dan Matra Kepolisisan (dari akademi kepolisian Semarang).


Penerima penghargaan adalah mereka yang mampu menunjukkan prestasi terbaik di tiga aspek : akademis, jasmani, dan kepribadian (mental). Penganugerahan Adhi Makayasa secara langsung diberikan oleh Persiden Republik Indonesia atau perwakilan atas nama Presiden. Pemberian anugrah ini dilaksanakan pada saat acara Prasetya Perwira (Praspa) dan sumpah Perwira, yaitu acara pelantikan para taruna Akabri (Angkatan Darat, Laut, dan Udara).


Sedangkan untuk Davina sendiri memilih melebarkan sayap di dunia kesehatan. Wanita cantik asal kota Santri itu menempuh program studi kedokteran, dilanjutkan mengambil pendidikan spesialis untuk menjadi dokter Forensik. Dokter forensik atau ahli forensik biasanya identik bekerja di ruang autopsi. Dokter ini bertugas memberikan keterangan ahli untuk memperjelas suatu perkara di persidangan maupun didalam tahap pemeriksaan oleh penyidik atau penuntut umum (pasal 186 KUHAP).


“Jadi, adek Davina mau diseriusin enggak?” tanya Davin seraya tersenyum manis. Tangannya yang gemas bergerak mengunyel-unyel pipi sang tunangan.


“Ih, kakak. Malu dilihatin orang,” protes Davina, malu karena mereka menjadi pusat perhatian.


“Iya, maaf.”

__ADS_1


Davin tersenyum kecil secara menarik tangannya. Kini, tangan itu beralih meraih tangan sang tunangan. “Ya udah, ayo pulang. Aku mau ketemu Abi.”


Davina mengangguk setuju. “Mampir dulu buat cari makan siang, boleh, Kak?”


Davin mengangguk seraya menoleh. “Apa sih yang enggak buat kamu,” ujarnya jenaka.


Davina menatap Davin dengan wajah cemberut. Jika sudah begini, luntur sudah kharisma sang tunangan yang tadinya terlihat gagah dan berani. Namun, di dalam hati yang paling dalam, Davina sebenarnya sudah tak sabar ingin segera dipersunting oleh pria ini. Pria yang telah mewarnai hari-harinya sejak bangku SMA.


✨✨


“Sayang, laperr!”


Wanita cantik yang tengah menggelung rambut rambut coklat gelapnya itu berbalik, menghadap ke arah sumber suara. Di dekat pintu penghubung antara pantry dan ruangan lain, berdiri seorang pria bersetelan rapih yang tengah melonggarkan dasi yang tampaknya terasa mencekik leher.


“Baru selesai meeting?”


“Hm. Client kali ini repot, banyak maunya.”


“Tapi feedback-nya bagus buat perusahaan, ‘kan?”


“Iya. Tau banget sih kamu.”


Wanita cantik itu mengulum senyum. Gemas setiap kali sang kekasih berkata demikian. Padahal sekilas kekasihnya itu tipikal pria yang datar, macam karakter utama novel-novel romansa. Akan tetapi, kekasihnya ini berbeda. Dia bisa saja terlihat datar, tetapi di lain waktu dia juga bisa terlihat sangat manis.


“Mau aku masakin apa?” tanyanya seraya menimpan jas sang kekasih di hanger dekat pintu.


“Apa aja asal kamu yang masak, pasti aku makan.”


“Aku masakin bangkai mau?”


Pria itu menautkan alis simetris. “Bangkai apa dulu, nih? Kalau bangkai belalang atau ikan, mau-mau aja karena hukumnya halal. Kalau yang lain, no debat. Haram.”


Aarin, wanita cantik yang berprofesi sebagai master chief itu tersenyum lebar seraya menatap sang kekasih yang jauh lebih muda darinya. Saat dia sudah lulus kuliah saja, kekasihnya masih duduk di bangku SMA. oleh karena itu, pasca Aarin pergi ke luar negeri untuk melanjutkan S2, dia sempat negative thingking soal perasaanya pada pengelola caffe tempatnya dulu bekerja. Namun, siapa sangka Tuhan kembali mempertemukan mereka, sekembalinya Aarin ke Jakarta.


Tak peduli apa kata orang diluaran sana. Toh, di sini Aarin yang menjalani. Dia serius ingin menjalin hubungan dengan Diano Aroon Dee Prameswari yang lebih muda 3 tahun darinya.


Usia boleh saja muda, tetapi ‘berondong tajir’ yang sekarang berubah menjadi tunangan ini sifatnya lebih dominan dewasa. Dari perawakan hingga pembawaan. Aroon malah dapat membuat orang lain salah mengira. Terlebih lagi ‘berondong tajir’ satu ini sempat mengisi posisi CEO. Membuatnya digandrungi banyak kaum Hawa, karena memenuhi kriteria boyfriend material & husband material.


Namun, layaknya Aarin yang jatuh hati setengah mati pada Aroon. Pria itu juga tampaknya tidak pernah bermain-main soal perasaanya. Dia bahkan berani melamar Aarin langsung ke hadapan orang tua Aarin yang tinggal di Los Angles.


“Yang.”


“Hm. Kenapa? Ada masalah lagi sama perusahaan?”


“Bukan,” jawab Aroon seraya mendekati Aarin yang sibuk di balik cabinet dapur. “Kemarin Dadav telepon aku, curhat gitu.”


“Bagus, dong. Sekarang dia lebih mudah dihubungi. Dulu dia sempat sulit dihubungi, kan? Sampai-sampai mamah khawatir.”


“Mamah?”


“Iya, mamah,” ulang Davina seraya menatap sang kekasih.


“Mamah aku atau mamah kamu?”


“Calon mertuaku,” jawab Aarin, gemas sendiri. “Omong-omong soal Mamah, kemarin aku dikirimin gamis lagi. Aku jadi sungkan, tiap bulan dikirim ini-itu. Padahal aku udah bilang gak usah. Kamu bantu aku bujuk Mama, ya?”


Aroon tersenyum tipis seraya menggeleng. “Itu karena aku, kok.”


“Kamu?”


Aroon mengangguk. “Soalnya kamu tunangan aku. Beberapa orang sunda yang masih pake tradisionalnya, kalau tunangan itu ibaratnya udah kayak nikah. Tiap bulan harus dikasih sandang atau pangan.”


“Masa sih?”

__ADS_1


“Iya. Itu kata Amih yang tinggal di Bandung. Jadi, karena aku Alhamdulillah mampu, aku lakukan.”


“Padahal gak perlu gitu-gituan. Aku juga bisa mencukupi kebutuhanku sendiri.”


“Gak papa, hitung-hitung latihan. Nanti juga kebutuhan kamu aku yang penuhi.”


Aarin yang tahu kemana arah pembicaraan ini berlangsung kontan mencubit pinggang Aroon. Membuat pria itu meringis kecil.


“Sakit, yang.”


“Maaf, habisnya gemes.”


Aroon mengerucutkan bibir, membuat Aarin melepaskan tawa. “Duh, bapak CEO ngambeknya gemes amat. Jadi gak kuat.”


“Harus kuat, yang. Kita belum sah, gak boleh sun-sun dulu.”


“Siapa juga yang mau sun kamu?” ralat Aarin.


“Katanya gemes, gak kuat. Pasti mau cium, kan?”


Aarin mengangguk seraya mengurai tawa. “Iya, kayak gini…”


CUP!


Aroon yang mendapatkan serangan tiba-tiba di pipi kanan kontan melotot. Sedetik kemudian dia beristigfar heboh.


“Astagfirullah, sayang. Kok main nyosor? Gak boleh, loh. Aku aja yang gemes pen nyium ditahan.”


Aarin kembali tertawa. Tawa tercantik yang pernah Aroon temui. Tangannya kemudian bergerak, menyentuh pucuk kepala sang tunangan. “Jangan gitu lagi, ya. Tahan sampai aku nikahin kamu. Pas udah nikah, kamu bebas mau cium aku di manapun.”


“Bahasa kamu ambigu tau,” ujar Aarin yang kembali fokus pada kegiatan memasaknya.


“Soalnya aku juga pengen cepet-cepet nikahin kamu, takutnya keburu ditikung orang.”


“Ucapan itu adalah do’a. Jadi, mas-nya jangan asal ucap.”


Aroon mengangguk seraya bersidakep dada. “Jadi, mau diseriusin enggak?”


“Yakin kamu nanya gitu?”


Aroon mengangguk yakin.


“Kamu pikir aku terima cincin ini waktu itu, berharap apa selain diseriusin?” tanya Aarin balik seraya menunjukkan cincin bertahtakan berlian besar di jari manisnya.


Aroon tersenyum lebar seraya mengangguk. Kemudian, jawaban jenaka muncul dari bibir kissable-nya. “Ok, berarti wacana nikah kita masuk antrean dulu. Soalnya, selain kita, ada banyak pasangan yang kebelet nikah. Contohnya Davin-Davina. Jadi, calon nyonya Diano Aroon Dee Prameswari harap bersabar sebentar lagi.”


"Aye aye kapten."


✨✨


TBC


Note : Setiap manusia punya pilihan untuk memilih pasangan nya masing-masing, tapi semua kembali pada kuasa Tuhan. (Kalau di sini kuasa Author 😂)


Kadang ada yang bilang, jodoh cerminan diri. Kalo Author suka ingkar janji (update lagi besok, eh ingkar) nanti jodoh Author juga tukang ingkar janji, gitu?


Ada juga yang bilang, jodoh itu saling mengisi kekurangan masing-masing. Semisal Author bolong-bolong ibadah, memang bolong-bolong itu bakal diisi sama doi, enggak, 'kan?


Jadi, definisi jodoh menurut readers itu, apa? adakah yang mau kritik soal jodoh per-jodoh tokoh BCT?


Silahkan, isi kolom komentar.


Tanggerang 17/02/21

__ADS_1


__ADS_2