Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
.45-Drama Senin Pagi


__ADS_3

📚.45-Drama Senin Pagi



"Ada yang bisa buktikan jika ucapanmu itu sepenuhnya benar? Atau, hanya bualan semata?"-Arsyad An-nass Senopati Az-zzioi


****


Suasana kelas XII IPA I terasa begitu lenggang pagi hari ini. Beberapa bangku masih kosong, karena memang waktu masih bisa dibilang cukup pagi. Hanya ada beberapa bangku yang sudah terisi, termasuk bangku dibarisan tengah yang ada di jajaran paling depan. Bangku tersebut sudah terisi oleh lelaki tampan yang tengah menatap layar laptop miliknya.


Senin pagi, sudah kembali menyapa bumi. Sudah delapan hari berlalu, setelah insiden rumor tentang statusnya kala itu. Pasca adanya berbagai rumor tersebut, tentu ada perubahan yang hinggap setelahnya. Akan tetapi, hal itu tidak terlalu menjadi penghalang untuk tetap bisa mengenyam pendidikan di sekolah tersebut. Kecuali, soal fakta hubungan jarak jauh yang masih dijalani olehnya hingga kini.


"Syad, lo datang kepàgian?" Sapa Arsen, yang baru saja tiba.


"Hm."


Lelaki itu mengangguk, lantas mendudukkan dirinya disamping Arsyad.


"Lo jadi lanjutin studi di New york University?" Tanya Arsen, sedikit terkejut saat melihat sahabatnya itu tengah melihat profil universitas tersebut.


"Belum pasti."


"Gue kirain, lo mau lanjut di Harvard kayak om lo itu. Atau Universitas yale, kayak om lo yang anggota FBI itu." Ujar Arsen.


Arsyad tak menjawab, toh ia juga tengah memikirkan mana opsi terbaik untuk ia ambil. Banyak universitas bagus didalam maupun diluar negri, namun yang pasti ia harus bisa menimbangnya sesuai situasi dan kondisi. Dia bukan lagi pria lajang, ada makmum yang sekarang bergantung kepadanya.


"Kalo Arra, mau lanjut dimana?"


"Di London, universitas tempat bunda dulu menimba ilmu."


"Owh, jauh ya." Lirih Arsen. Ia memang tahu, jika gadis beriris bening itu ingin melanjutkan profesi sang bunda dibidang kedokteran. Walaupun ia mengambil spesialis yang berbeda.


"Kenapa?"


"Enggak!" Jawab Arsen cepat. "Gue kira, Arra mau stay di Indo. Dia kan bisa kuliah di UNAIR, kayak om Van'ar. Atau di Universitas ternama lainya, 'kan di Indo juga banyak univ yang gak kalah bagus."


"Hm, Arra yang mau. Dia juga mau lanjut S2 di Inggris." Jawab Arsyad datar.


Arsen menghembuskan nafasnya kecil. "Jadi, lo mau dimana Syad? Harvard, oxford, yale, UNY, atau di Inggris kayak Arra?"


"Belum aku putuskan."


"Memangnya lo mau ambil jurusan apa?"


"Managemen bisnis dan hukum." Jawab Arsyad.


Arsen mengangguk faham. Ia juga masih sedikit bingung soal tujuannya kuliah nanti. Dia memiliki beberapa rekomendasi universitas ternama didalam dan luar negeri. Dengan otak yang cukup bisa dibanggakan, tentu Arsen pun memiliki beberapa peluang untuk melanjutkan kuliah lewat jalur beasiswa. Ia juga sempat berencana untuk mengikùti tes untuk mendaftar ke beberapa universitas ternama didalam dan luar negri.


"Gue juga sèbenernya masih bingung. Gue mau stay di Indo, bisa masuk ke UNAIR, UGM, ITB, IPB, UPI, atau universitas lainya. Tapi, gue juga mau coba peruntungan ngenyam pendidikan diluar negeri."


"Jurusan apa?"


"Kedokteran, spesialis penyakit dalam. Sama, grafis. Lo tahu sendiri kan, gue suka dunia grafis. Tapi, disatu sisi gue juga mau lanjutin cita-cita mulia almarhum nyokap sebagai dokter."


"Hm."


Almarhum ibu Arsen memang dokter. Wanita tangguh yang semasa hidupnya berjibaku dengan simbahan darah diruang operasi. Karena profesi mulianya itu pula, wanita tangguh tersebut meregang nyawa karena kelelahan pasca menjadi sukarelawan didaerah perbatasan. Pada akhirnya, Arsen yang selalu melihat kegigihan sang ibu tergerak hatinya untuk melanjutkan study dibidang kedokteran. Sedangkan Ayahnya sendiri, seorang ahli grafis/Animasi/Animator. Ayahnya acak kali berada dibalik layar film-film Animasi besutas sutradara sekelas Disney. Dari sana pula, hobby akan dunia grafis diturunkan kepada Arsen.


"Gue sih, mulai coba coba nyari info soal tes PTN didalam negri sama diluar negri. Pak Benny kemarin juga nawarin."


"Kenapa gak di London, bareng Arra?"

__ADS_1


Arsen menoleh refleks. "Ah, itu. Gue masih mikir-mikir sih Syad. Soal kehidupan gue disana, gue juga harus pikirin 'kan?" Ujarnya, sambil menggaruk tengkuknya.


Mengenyam study bertahun-tahun lamanya di negeri orang, bukan perkara mudah. Selain karena biaya finansial yang tidak murah, Arsen juga berat meninggalkan sang ayah yang hingga saat ini masih betah dengan kesendiriannya. 10 tahun menyandang status duda, tak membuat Ayahnya kembali mencoba mencari pasangan. Padahal, Asren mengijinkan jika Ayahnya ingin menikah lagi. Tapi hingga kini, Ayahnya masih betah dengan status dudanya.


"Kalau mau stay disana, ada rumah singgah Opa Dimas. Dulu, bunda juga tinggal dirumah itu."


"Rumah singgah?"


"Iya. Arra bakal tinggal dirumah itu, selama mengenyam pendidikannya." Tutur Arsyad.


"Lo bicara gini sama gue, maksudnya apa nih syad? Gue telmi ini?" Kikuk Arsen, kebingungan.


Ia memang agak telmi-telat mikir, soal apa yang menjadi tujuan yang dimaksud dari ucapan sang sahabat.


"Arra butuh seseorang yang menjaga dia." Ujar Arsyad to the point.


"Davin, Davian dan Aroon masih stay di Indonesia. Aku kemungkinan ada di New york, Arra sendiri di London."


"Tunggu, tunggu. Jadi maksudnya, loe mau gue jaga Arra. Gitu?"


"...."


"Lo, memangnya percaya sama gue?"


"..."


"Lo gak takut gue gimana-gimanain kembaran lo, syad?" Tanya Arsen lagi gencar.


"Kalau kamu ngehormatin Arra, sebagai perempuan. Kamu, pasti jaga dia 'kan?"


"Itu, gue-"


Deg


"G-ue, gue...." Kikuk Arsen, sambil menggaruk tengkuknya kikuk.


"Kalau kamu sudah memutuskan pilihanmu. Temui Ayahku, beliau mau bicara mengenai Arra."


Deg


"Itu, syad. Gue-" Kikuk Arsen kebingungan, akan suasana yang tiba-tiba menjadi runyam.


"Iya. Lo gak lihat artikelnya?"


"Artikel apaan?"


"Itu, yang lagi viral. Coba buka link yang di share digrup."


"Ok, gue lihat dulu."


Obrolan kedua leĺaki yang pernah menjabat sebagai ketua OSIS itu tertahan karena kedatangan beberapa orang siswa. Mereka nampak sibuk membicarakan sesuatu, sambil menatap sesuatu di gaway mereka.


"Wah, kaget gue. Ternyata, si Galang sebobrok itu."


"Iya. Kirain, dia cuma nakal biasa. Taunya, nyampe bisa sakaw gitu."


"Iya. Bobrok banget tuh bocah."


Arsen mencuri-curi dengar. Ia juga penasaran dengan apa yang tengah mereka semua bicarakan.


"Mereka ngomongin apaan sih? Bawa bawa si Galang segala?" Bingungnya.

__ADS_1


Arsyad hanya mengedipkan bahunya acuh. Lelaki tampan itu memilih meng-close pencarianya tentang artikel artikel yang memuat soal Universitas New york. Lelaki itu lantas meng-close, kemudian mengarahkan cursor dilaptopnya untuk menekan perintah shutdown agar benda tersebut mati.


"Eh, itu ada apaan ribut ribut diluar?" Tunjuk Arsen.


Arsyad menoleh, menatap keluar kelas. Benar kata Arsen, ada keributan yang entah dipicu oleh apa diluar sana.


"Bang?!"


"Astagfirullah." Kaget Arsyad dan Arsen bersamaan.


"Bikin kaget aja lo pada?!" Sembur Arsen, sambil menatap ketiga pelaku garang.


"Apa?" Arsyad buka suara.


"Lo udah lihat ini bang?" Tunjuk Davian, menunjukkan layar gawaynya.


Manik jelaga Arsyad memincing, menatap sederetan kalimat dilayar tersebut.


"Nih, videonya. Lihat juga bang!" Ujar Davin, menyodorkan layar handphone miliknya.


Arsyad dan Arsen menatap video yang berdurasi 4 menit itu dengan ekspresi berbeda. Diawal-awal, video tersebut hanya memutar tentang kondisi remang remang sebuah tempat hiburan malam. Hingga masuk ke menit kedua, mulai lah nampak seorang lelaki dalam video tersebut. Lelaki yang mengenakan jaket denim hitam, yang tengah duduk disebuah sofa yang melingkari meja berdiameter bulat. Ditengah meja, ada berbagai jenis minuman, gelas, rokok, dan beberapa plastik putih berstrip perekat seperti plastik obat.


Baik Arsyad maupun Arsen masih menonton dengan seksama. Hingga video berdurasi 4 menit itu berakhir, keduanya langsung diam tak berujar sedikitpun.


"Kaget 'kan, sama. Gue juga!" Ujar Davian angkat bicara.


"Si Galang barusan dibawa ke kantor kepsek." Imbuh Davin. "Ada polisi juga. Kayaknya, anak songong itu bakal digelandang kekepolisian."


"Iya. Gue juga pikir gitu." Dukung Davian.


"Tapi tunggu dulu, yang bikin gue penasaran. Siapa yang udah nge-share video ini?" Tanya Aroon, mengutarakan kepenasarannya.


"Ho'oh. Selama ini 'kan, yang buat masalah sama Galang selalu out dari muka bumi. Dia 'kan punya dekengan, bapaknya itu." Imbuh Davian.


"Betul, betul, betul. Bokapnya 'kan dewan."


Ketiga lelaki itu berspekuli dengan opini yang topiknya sama. Siapa, dalang dibalik penyebaran video tersebut?


Sedangkan Arsyad dan Arsen, sama-sama terdiam dalam tempatnya. Kedua lelaki pandai tersebut tengah sama-sama menerka-nerka akan apa yang terjadi. Drama di Senin pagi ini, kembali menghebohkan SMA Dandelion. Terhitung dalam 2 senin berturut-turut, ada dua kasus yang berhasil mengemparkan sekolah ternama tersebut.


****


TBC


Selamat siang semua👐


Jum'at berkah, apa kabar semua?? sehat2kan semua?? Semoga semua sehat yo😊


Hayooo, part ini gimana? ada yang terkejut dengan pengakuan ceceorang? jadi, kalian team mana. Gean or Arsen?? dan, kalian tahu siapa yg share video itu? mau ucapin apa ke Galang?


Tulis jawabanya dikolom komentar yo✌


Jangan lupa like, vote, share, follow jika berkenan.


Udah gagah bet, jadi TNI😍😍



Nanti, kita temu rindu dipart selanjutnya❤


Sukabumi 08 Januari, 2021

__ADS_1


__ADS_2