Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
.12-Zaujatii


__ADS_3

📚.12-Zaujatii



زوجتى انتى حبيبتى انتى


Zaujatii, Antii habiibatii anti


Duhai istriku, Engkaulah kekasihku.


****


Dengan langkah pelan namun pasti,Arsyad mendekat. Membiarkan kakinya mendekati sosok yang tengah menangis pilu tersebut. Ruangan dengan dominasi putih ini memang terlihat sudah lebih rapih dari terakhir kali dilihatnya. Bunga bunga segar nampak menghiasi beberapa sudut,dengan aroma khas yang menyeruak bagaikan pengharum ruangan alami.


Sadar ada yang datang,tangis syahdu itu berhenti sejenak. Diikuti dengan suara lemah yang berikutnya berucap.


"Papih jahat. Kara benci papih!" Ucapnya serak diakhir kalimatnya.


'Kara?' Gumam Arsyad lirih.


"Papih jahat. Papih nikahin Kara sama cowok asing itu. Papi-h jah-at," Ujarnya terbata saat membalikan tubuhnya.


Bukanya menemukan sosok yang dimaksud,dia malah menemukan penyebab utama tangisnya mendera.


Arsyad berhenti sejenak dilangkahnya. Netranya berhasil bertemu dengan netra hazelnut cantik yang berderaian air mata tersebut. Wajah cantiknya penuh air mata,dengan gaun putih brokat berlengan pendek melekat ditubuh mungilnya. Tiara cantik nampak menjadi mahkota yang membingkai rambutnya yang disanggul sederhana. Cantik,namun terlihat amat terluka.


"Mau apa kamu kesini?" Tanyanya tak bersahabat sambil membuang muka.


"Menemuimu." Jawab Van'ar to the point.


"Kara gak mau lihat kamu!" Pongah gadis cantik tersebut.


"Kenapa?"


"Gak mau ya gak mau." Ketus suara tersebut.


"Tapi papihmu memintaku datang."


"Papih?" Ulangnya.


"Hm,"


Arsyad kembali berjalan mendekat. Dia telah mencoba menurunkan etensi irit bicaranya. Dia harus bersabar ketika menghadapi mahluk tuhan paling peka,rapuh,dan mudah terbawa perasaan ini.


"Ulurkan tanganmu," Pinta Aŕsyad yang sudah berdiri tepat dihadapan gadis cantik tersebut.


"Tidak mau."


"Izinkan aku menyematkan cincin ini. Ini hakmu." Ujar Arsyad to the point.


Netra hazelnut tersebut beralih,menatap benda mungil berkilauan tersebut dengan nanar.


"Kara gak mau nikah sama kamu!" Tolaknya.


'Akupun sama,' Lirih sisi muak Arsyad ingin bersuara. Namun dia menahanya dengan istigfar.


"Dengar,aku minta maaf."Lirih Arsyad sambil berlutut dihadapanya.


"Maaf telah membuatmu berada didalam posisi ini,Kara."


Gadis yang dipanggil Kara itu menatap Arsyad sedikit enggan. Lelaki itu masih berlutut sambil memperlihatkan cincin putih ditanganya. Menatap sosok yang kini sudah bisa ia tatap tanpa bosan kedepanya karena sudah berlebel halal.


"Kita mungkin sama sama ingin menolak. Tapi kara,ada beberapa ketetapan tuhan yang tidak bisa kita hindari." Tutur Arsyad memberi pengertian.


"Tapi kenapa harus Kara?"


"Karena Allah yang sudah memilih kamu untuk menjadi penolongku."

__ADS_1


"Penolong. Kapan Kara menolong kamu?"


"Karena kamu ceroboh,"


"Ceroboh. Kara ceroboh,maksud kamu?!" Kesal Kara.


"Karena kamu tidur tanpa mengunci pintu,sampai memberiku akses agar aku bisa masuk. Tapi dari segi baiknya,kamu membuat aku selamat dari kemungkinam buruk lainya."


"Kemungkinan buruk apa? Kamu disini,ďikamar Kara. Dan hasilnya,kamu dan Kara dinikahkan?!"


"Iya. Tapi setidaknya aku masih tetap menjaga kehormatanmu,begitupun dengan diriku sendiri."


Kara-gadis cantik yang masih menatap Arsyad intens itu masih diam. Memilih untuk menatap setiap inchi wajah tampan dihadapanya tersebut.


"Kamu istriku sekarang,kita sudah menikah. Terlepas dari apa yang sudah terjadi,kamu tanggung jawabku sekarang. Sudah jadi tugasku untuk membimbing,menjaga dan menyayangimu." Ujar Arsyad tulus.


Sambil menatap manik hazelnut dihadapanya,tanganya bergerak mengenakan cincin ditanganya agar berpindah kejari manis Kara. Dan syukur alhamdulillahnya,cincin tersebut sangatlah pas dijari manis Kara.


"Kamu istriku,mulai hari ini Atmariani Karamina Ardiani." Ujar Arsyad mantap.


Dengan segera ia beranjak,berdiri lalu mengadap kearah sang istri intens.


"Kamu mau apa?" Cicit Kara kecil.


Arsyad tidak mengubris,dia hanya ingin menjalankan kewajibanya secara lengkap. Apa yang harusnya ia lakukan setelah mengesahkan ijab qabulnya tadi.


Cup


Kara termangu dalam posisinya saat ini. Satu kecupan mampir tepat dikeningnya,membuat debaran jantungnya mengila. Belum lagi secara lembut lelaki dihadapanya melantunkan sebuah do'a sambil menyentuh kedua sisi kepalanya dengan posisi yang masih tertahan.


"Bismillahi allahumma barikly fihya wabarik laha fi (ya Allah berkahilah dia untuku,dan berkahilah untuknya). Allahumma inni as-aluka khairo-ha wa khaira-ha ma jabaltaha 'alaihi wa a-'udzu bika min syarriha wa min syarri majabataha 'alaihi (ya Allah,aku mohon kebaikanya dan kebaikan tabiat yang ia bawa.Dan aku lindungi dari kejelekannya dan kejelekan tabiat yang ia bawa)."


Setelah melantunka do'a yang biasa dibaca saat sentuhan pertama seorang suami kepada istrinya tersebut. Arsyad kembali menormalkan posisinya. Menatap Kara yang juga tengah menatapnya penuh tanya. Wajah cantiknya terlihat dihiasi jejak air mata yang nampak menganggu.


"Mulai sekarang,rumahku adalah rumahmu. Apa yang aku miliki,juga menjadi milikmu." Ucap Arsyad sambil membelai pucuk kepala Kara.


📚📚📚


"Papih?" Panggil gadis cantik yang menyembulkan wajahnya dari balik punggung Arsyad tersebut.


Tyoga bernafas lega,tidak sangka jika putri kesayanganya akan dengan mudah dibujuk oleh orang asing. Orang asing? Agaknya Tyoga harus memikirkan baik baik status orang asing yang sudah berubah menjadi menantunya tersebut.


"Putri Papih," Panggilnya senang,sambil membuka kedua tanganya lebar lebar.


"Tidak mau peluk papih hm? Sudah ada tempat berlindung yang baru?"


Gadis cantik itu menggeleng,sambil keluar dari tempat persembunyianya dia segera menghambur kepelukan sang ayah.


"Papih jahat hiks." Tangis kecilnya kembali mengudara.


Tyoga mengusap punggung putrinya pelan. Dia tahu kenapa alasan putrinya itu menangis. Kara bukanlah cengeng,tetapi sebagai seorang gadis hatinya terlalu rapuh dibanding gadis kebanyakan. Kara ini juga gadis yang terkadang tidak tegaan.


"Ini semua demi kebaikan Kara."


"Tapi Kara belum mau menikah pih! Kara masih kecil?!" Rajuk sang putri.


"Sssttt,sekarang Kara sudah besar. Sudah dewasa,karena sudah memiliki suami." Ujar Tyoga memberi sang putri wejangan.


Pak Usèp dan istrinya yang ada disana hanya bisa menatap majika dan putrinya tersebut haru. Sedangkan Arsyad-dia masih setia menjadi penonton disana.


"Sekarang rumah Kara bukan disini lagi. Tapi dirumah suamimu."


"Tapi Kara mau tinggal sama papih?" Ujarnya sambil menitihkan air matanya lagi.


"Don't crying baby." Risau Tyoga.


Pengusaha kaya raya itu tidak tega melihat air mata purinya luruh. Rasanya jantungnya sesak jika melihat satu-satunya harta paling berharga miliknya itu menitihkan air mata.

__ADS_1


"Papih akan selalu ada untuk Kara. Tapi sekarang,ada Arsyad yang akan menemani Kara."


"Arsyad siapa?" Bingung Kara.


Tyoga menoleh kearah sang menantun,sambil menatapnya bingung. Seolah-oleh bertanya kenapa putrinya bisa tidak tàhu nama suaminya sendiri.


"Arsyad. Arsyad An-nass Senopati Az-zzioi nama suami Kara." Gadis itu menoleh,menatap Arsyad yang masih berdiri didekat pintu.


"A-syad?" Cicitnya pelan.


"Iya. Dia Arsyad-suami Kara." Tutur Tyoga.


Kara tidak tahu harus berkespresi seperti apa. Rasanya terlalu begitu ilusi semua ini. Diusianya yang masih belia,dia bahkan sudah memiliki seorang suami.


"Kita pulang ya,"


"Pulang kemana pih? Ini rumah Kara."


"Kita pulang ke-"


"Surabaya ya? Ayo pih. Kara sudah kangen si mbok." Ujar gadis itu menyela.


"Bukan,tapi kerumah suami Kara."


"Kara tidak mau pih." Tolak gadis itu mentah mentah.


"Kara harus mau,itu sudah kewajiban Kara untuk tinggal bersama suami Kara."


"Tapi pih-"


"Kamu harus ikut bersamaku Kara," Suara bariton Arsyad membuat gadis itu menoleh.


"Rumahku adalah rumahmu. Dimanapun aku tinggal,begitupun dengan kamu akan ikut tinggal bersamaku. Kamu tanggungjawabku." Imbuh Arsyad yang langsung membuat gadis cantik itu menunduk.


"Ayo pulang bersamaku,Kara." Ajak Arsyad sambil mengulurkan tanganya.


Kara mendongrak,menatap mata lawan bicaranya lekat. Menyari keyakinan yang mungkin akan membuatnya ragu,namun nihil. Sosok itu akan berpegang teguh akan ucapanya.


"B-aik,K-ara mau ikut." Ucapnya pada akhirnya.


Membuat senyum tipis Tyoga menguďara. Sedangkan Arsyad,diam diam dia juga melantunkan syukur didalam hatinya. Perjalanya baru akan dimulai dengan status baru ini. Status sebagai seorang suami yang memiliki tanggungjawab penuh akan istri mungilnya agar dapat mencari ridho Allah SWT kelak.


"Bismillah,semoga ridhomu selalu menyertai kami ya Rabb." Lirihnya kecìl.


****


TBC


Met Pagi readers semua^^


Bct update lagi yo📣📣


Gimana,Gimana buat part ini? udah mulai ada yang baper sama bang Arsyad??


Maaf nih kalau typo masih banyak bertebaran:(


Aku lagi coba usahain update tiap hari di NT/MT ini. Sedangkan di Wttp lagi off dlu updatenya. Ok,jangan lupa komentarnya yo,yang rajin komentar itu masih 5 orang yang sama ya. Yang lain kemana sih???


Komentar dung,aku tunggu!


Nanti aku jadi mogok update lagi😔


Wokee,udah dulu ya buat part hari ini. Salam dari Author,semoga semua readers sehat selalu ya.Amiin^^


Wettss😀


__ADS_1


Sukabumi 18 Okt 2020


__ADS_2