Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
.27-Kunjungan


__ADS_3

📚.27-Kunjungan



تعال ، لنأخذ هذه العلاقة بجدية أكبر في المستقب


taeal, linakhidh hadhih alealaqat bijidiyat 'akbar fi almstqbl.


"Ayo, kita menjalin hubungan ini lebih serius kedepannya."


****



Semilir angin dingin, menyambut sepasang insan yang baru saja menginjakkan kakinya di ibu kota negeri gingseng tersebut. Salju nampak memenuhu beberapa sudut kota, membuat hamparan putih tersebut nampak dominan di netra. Sambil mengeratkan mantel hitam digunakanya, lelaki tampan tersebut memilih untuk mengeratkan pelukanya pula.


Setelah melakukan beberapa jam perjalanan diudara, mereka akhirnya tiba ditempat tujuan. Tyoga-ayah mertuanya langsung di jemput oleh segerombolan pria berpakaian serba hitam. Kini, mereka tengah menuju ke tempat dimana keluarga besar dari pihak almarhum ibu Kara tinggal.


"Nyenyak sekali," Lirihnya, sambil menyentuh pipi mulus gadisnya.


Istri kecilnya itu terlelap sejak masih didalam pesawat. Alhasil, tadi ia mengambil alih untuk menggendong sang istri ala bridal style. Tak rela rasanya, jika harus melihat istrinya itu disentuh oleh pria lain. Kecuali jika itu Tyoga-ayahnya.


"Hm," Geram kecil gadis cantik tersebut.


"Sudah bangun?"


Gadis cantik itu mengangguk samar, sambil mengerjap-nerjapkan kelopak matanya.


"Apa sudah sampai?" Tanyanya.


"Mungkin sebentar lagi."


"Papih ada dimana?"


"Di mobil yang ada didepan sana." Ujar Arsyad menuturkan.


Mereka memang tidak satu mobil dengan Tyoga. Pria itu sendiri yang meminta agar Arsyad dan putrinya tidak satu mobil denganya.


"Kara sudah lama tidak bertemu Halmeoni."


Cerita Kara, sambil membenahi posisi duduknya.


Gadis cantik itu kini mulai kembali terjaga, dan mulai menikmati pemandangan disekeliling jalanan yang tertutup salju.


"Kapan terakhir kali kesini?"


"Hm, mungkin pas masih sekolah dasar. Atau, mungkin pas sudah SMP juga. Kara lupa!" Tutur Kara, sambil menampilkan ekspresi cemberutnya.


Gadis itu agaknya kesal, karena lupa kapan terakhir kali berkunjung ke negri yang terkenal akan k-pop nya ini.


"Ceritakan sesuatu, soal keluargamu disini?"


Kara mengangguk sambil tersenyum tipis. "Dirumah halmoni, samchon ada-"


"Gunakan bahasa Indonesia, agaŕ mudah aku pahami." Intruksi Arsyad.


"Ah, iya. Maaf, maksud Kara ada nenek, paman, bibi, hyung dan para pelayan juga." Cerita Kara.


"Hyung tadi tiďak menjemput kita di bandara ya?"


"Hyung?"


"Iya. Hyung atau hyeong. Putra tunggalnya paman dan bibi."


"Hm"

__ADS_1


"Jadi di rumah inti cuma ada nenek, paman dan bibi. Hyung, terkadang juga ada kakek kedua-Kara biasa panggil begitu. Beliau itu kakaknya nenek Kara."


"Hm"


"Apa Arsyad takut bertemu keluarga Kara?"


Arsyad menoleh, menatap lawan bicaranya seksama.


"Kalau Arsyad ditanya tanya yang tiďak tidak, jangan dijawab saja. Biarin!" Putus gadis itu memberikan solusi.


"Mana bisa begitu?"


"Bisa. Yang penting, Arsyad tidak perlu menanggapinya."


Tangan lelaki tampan itu terulur, menyentuh pucuk kepala sang istri. Menyentuhnya pelan, namun penuh akan makna tersirat.


"Aku kesini karena ingin memperkenalkan diri sebagai suami cucu kesayangan mereka. Pantas atau tidaknya aku, itu terserah akan penilaian mereka."


"Yang terpenting adalah, aku sudah memenuhi tugasku untuk memperkenalkan diri sebagaimana harusnya. Suka atau tidaknya, aku dan kamu sudah menikah. Mau atau tidaknya, kita memang sudah terikat oleh ikatan suci tersebut."


Senyum Kara terbit setelah mendengarnya. Gadis cantik itu langsung memeluk sosok dihadapanya dengan segera.


"Kara percaya sama Arsyad." Ungkapnya.


Diam diam, Arsyad mengangguk kecil sebagai jawaban. Sebuah keharusan bagi Kara untuk percaya kepadanya. Karena bagaimanapun juga, mereka membina mahligai rumah tangga ini harus dibarengi dengan kepercayaan terhadap satu sama lain.


Perjalan kembali berlanjut, hingga rombongañ yang membawa mereka memasuki sebuah komplek perumahan. Mobil yang mereka tumpangi, memasuki sebuah gerbang dengan hiasan khas rumah rumah pada dinasti kerajaan korea (Hanok). Mobil masih tetap melaju, walaupun sudah melewati gerbang. Menyusuri jalanan yang dikanan dan kirinya ditumbuhì pepohonan yang berjajar rapih. Hingga tiba diujung jalan, sebuah komplek perumahan khas rumah orang korea berdiri nampak megah disana. Kokoh dengan bangunan yang terbuah hampir 70 -80% dari kayu.




Kolam ikan koi juga menjadi penyambut utama dihalam depan rumah, ketika mereka baru saja keluar dari dalam mobil. Dua orang wanita berpakaian khas pekerja kantoran, beserta seorang pria berjas hitam dan berkacamata menyambut mereka. Mengatakan jika kedatangan mereka telah ditunggu tunggu oleh keluarga besar Kim.


Bukanya tersinggung akan tindakan antisipasi tersebut. Setidaknya, sebagai seorang cucu menantu dia tidak dicurigai sedemikian rupa. Untung saja, Aroon dan Arsen tidak jadi ikut bersamanya ke Korea. Jika iya, maka keduanya pasti akan merasa bingung akan keadaan seperti ini.


"Masuklah, halmoni menunggu kita." Ajak Tyoga, sambil menggiring sang putri.


"Ayo, Arsyad. Jangan takut, ada Kara disini." Namun, gadis itu memilih meraih tangan sang suami.


Memeluknya erat, seakan-akan tahu kebimbangan yang tengah dialami sang suami. Tyoga yang melihatnya hanya bisa tersenyum getir. Ck, putri tercintanya mulai berpindah haluan ternyata.


"Ayo masuk, kita sudah ditunggu."


"Baik." Arsyad menjawab singkat.


Dia harus bisa menyelesaikan semua ini sendiri. Ini kunjungan perdananya kemari. Di kunjungan perdananya ini, dia langsung membawa status yang spesial. Walaupun begitu, ada setitik rasa risau yang menganggunya. Bagaimana tidak, Arsyad merasa posisinya tidak akan diterima semudah itu pastinya.


"Nae sonnyeo (cucuku)??" Sapaan hangat, menerpa indra pendengaran Arsyad kala memasuki ruangan yang memiliki interior kental akan masa kerajaan dinasti Joseon tersebut.



"Halmoeni?!" Jawab Kara antusias, sambil buru buru berlari kearah wanita paruh baya yang duduk diatas kursi roda tersebut.


"Don't run Kara." Intruksi sang ayah melerai.


"Mianae papih." Ujar Kara kecil, sebelum kembali melanjutkan langkahnya.


"Halmoeoni, apa kabar?" Kara menyapa menggunakan bahasa Korea dan Inggris.


Wanita baya yang rambutnya sudah nampak dipenuhi uban tersebut tersenyum sebelum menjawab.


"Neomu aleumdawo (cantik sekali)." Ucapnya sambil membelai pucuk kepala sang cucu.


"Cantik seperti ibumu." Imbuhnya.

__ADS_1


Kara yang tentu mengerti sedikit banyaknya bahas Korea, sesekali menanggapi pujian dari sang nenek. Dia juga nampak senang sekali, bisa kembali berjumpa dengan neneknya.


Wanita paruh baya itu memang mengalami kelumpuhan dikedua kakinya sejak beberapa tahun silam. Oleh karena itu, untuk beraktivitas sehari hari beliau biasa menggunakan kursi roda dan sesekali dibantu oleh asisten pribadinya.


"Dan itu, apa tidak mau dikenalkan kepada nenek?" Kara menoleh refleks.


Saking senangnya bertemu dengan sang nenek, dia bahkan sempat lupa akan keberadaan Arsyad disana.


"Kara husband." Ucapnya gamblang.


"Suami?" Bingung wanita yang tengah berada dibalik kursi roda sang nenek-bibi Kara.


"Iya. Kara sudah menikah sekarang." Ucap Kara penuh percaya diri.


Semua mata diruangan itu, kini tertuju kepada Arsyad. Sosok yang menjadi pusat etensi dari segala perhatian diruangan tersebut. Jadi, mau tak mau kini Arsyad memperkenalkan dirinya sebagaimana tadi Kara memperkeñalkanya.


"Nae sawineun aju jal saeng-gyeossda." Puji nenek Kara.


"A-pa?" Bingung Arsyad lirih.


"Kata nenek, Arsyad ganteng banget." Bisik Kara, yang kini berdiri tepat disamping Arsyad.


Arsyad tersenyum canggung. Dia hanya bisa mengandalkan bahasa Inggris disini. Tidak seperti Kara yang bisa bahasa Korea. Namun sejauh ini, sambutan dari nenek, paman, bibi dan anggota kekuarga lainya cukup bersahabat. Syukurlah, Arsyad bisa bernafas lega sekarang.


"Baby?"


Hingga sebuah suara mengumandangkan kata 'baby' semua orang beralih fokus, tak terkecuali Arsyad. Ia bertanya tanya dalam hati, siapa dan kenapa dia mengumandangkan panggilan 'Baby'. Untuk apa coba?


"Hyung?!" Antusias Kara.


Arsyad langsung menoleh refleks. Apa, barusan yang dipanggil baby itu istrinya?


"C'mon, I miss you so bad baby." Lanjut suara lembut yang berasal dari lelaki tampan berwajah putih bersih khas Oppa Oppa korea tersebut.



Kara dengan girang beranjak, lalu dengan cepat mengambur memeluk tubuh lelaki yang tingginya dibawah Arsyad tersebut.


"Hmm, I really miss you baby." Gumamnya, sambil memeluk Kara.


Walaupun lirih, tapi Arsyad masih bisa mendengar itu.


"Me too, hyung." Jawab Kara sambil mengeratkan pelukanya.


Diam diam Arsyad mengepalkan tanganya kuat. Hatinya menceleos melihat hal tersebut. Bibir kissablenya bergumam kecil untuk beristigfar. Kini, pertanyaan yang muncul dibenaknya cuma satu. Siapakan bocah ingusan yang berani benarinya memanggil istrinya dengan sebutan baby, plus dengan santainya mengatakan rindu


Sambil memeluk sang istri erat. Tidakkah engkau tahu wahai oppa, ada hati yang cemburu disini.


****


TBC


Hello, BCT udate ya readers 🖐🖑


cungg, yang nunggu bang Arsyad update🖐🖑


Hayooo, gimana oppa-nya Kara? imoed banget gak sehh?? Itu oppa oppa aku nemu gak sengaja, rasanya cocok aja jadi hyungnya Kara. Wajahnya baby face, tapi usianya lumayanlah😅😅


Nah, makan jangan lupa boom komentarnya. Vote dan like jika ikhlas❤


Nihh, dikasih Aa ganteng yang mulai cembukur. Senyumnya itu lohh, maniseee💋



Sukabumi 15 November 2020

__ADS_1


__ADS_2