
📚. 72. Perihal Hati yang Saling Melindungi
"Bukan cuma dia yang berusaha sekuat tenaga melindungi diriku. Akupun tidak akan segan-segan untuk melindunginya."-Atriani Karamina Adriani
****
Sepasang manik hazelnut yang nampak redup dibawah temaramnya cahaya lilin aroma teraphi tersebut, menatap apa yang tersaji dihadapannya. Hari sudah semakin gelap, tetapi sepasang manik hazelnya belum mau beristirahat. Diliriknya lagi sang penguasa hati yang tengah terlelap di sampingnya.
Pemilik wajah rupawan itu nampak terlelap dengan damai. Wajahnya nampak polos seperti bayi baru lahir. Jemarinya rasanya gatal, ingin terus menerus menyentuh permukaan tersebut. Didukung oleh sepasang manik hazelnutnya yang tidak bisa lepas memandangi objek rupawan tersebut. Ah, lelaki rupawan itu terlalu sulit ditolak imannya.
Dia pikir, 3 bulan lebih bukanlah waktu yang cukup untuk jatuh hati. Apalagi mereka menikah bukan karena terencana, apalagi cinta. Akan tetapi pada kenyataanya, di hari pertama ia meyakinkan untuk menikah sekalipun, hatinya telah terikat. Seperti seorang werewolf menemukan mate-nya, dia juga merasakan ikatan kuat ada dengan lelaki rupawan tersebut.
Maka sekarang, dia tidak perlu menutupi perasaanya lagi. Ia mencintai lelaki ini. Lelaki yang berhasil membuatnya terpukau bukan modal tampang saja, tapi karena kedewasaan, tanggung jawab, perhatian, keberaniannya, juga kasih sayang yang dia berikan. Semakin hari ia semakin dibuatnya jatuh hatì karenanya.
"Aku harap, suatu saat nanti anak kita bakal mirip yanda." Lirihnya, sambil menyentuh rahang tegas milik suaminya.
"Rupanya, sifatnya, pembawaanya, karakternya, semuanya yang yanda miliki harus dia miliki juga." Sambungnya.
"Karena nanti anak kita harus jauh lebih tangguh dari kita. Dia tetap harus bisa melawan tuntutan dan gesekan dari internal maupun eksternal."
Manik hazelnya menatap sosok tersebut lekat.
"Kara?"
"Eh," lirih gadis cantik itu kikuk, saat dirasa tubuh suaminya bergerak. Lelaki itu bangunkah?
"Tidur. Ini masih malam." Lirihnya tanpa membuka mata. Tetapi kedua tangannya dengan sigap membawa tubuh mungil istrinya merapat.
"Tidur."
"Hm." Jawab Kara kecil ditengah-tengah jantungnya yang bertalu-talu.
Ketika dirasa hembusan nafas suaminya sudah kembali teratur, itu tandanya dia sudah kembali terlelap. Gadis cantik itu dengan perlahan melepaskan rangkuman tangan sang suami. Setelah berhasil, dia bergerak sepelan mungkin guna meminimalisir bunyi yang tercipta.
Tangannya bergerak cepat menggambil smartphone miliknya. Menelpon sebuah nomer yang sengaja tidak ia beri nama di kontaknya.
"Hallo?" Tanyanya, saat sambungan telphone tersebut tersambung dengan seberang sana.
"Kenapa menelphone?"
"Kara butuh bantuanmu."
"Bantuan??"
"Investasikan 10% saham Karaatas nama suami Kara ke pembangunan pusat rekreasi keluarga di Hokaido. Alihkan juga 10% saham Kara menjadi milik suami Kara."
"Are you insane?! Kamu ingin kakekmu membunuhmu??"
"Apa? Kara tidak peduli. Lakukan saja seperti yang aku minta."
"F*ck. Kau mengangguku dan memintaku berbuat gila? Kau pikir kakekmu itu cuma pria tua biasa? Dia seorang oyabun. Oyabun Kara! Ketua kelompok yakuza."
"Urusan kakek, biar Kara yang menanganinya."
"Gila?!"
__ADS_1
"Jangan memaki-maki. Kara butuh kepastiannya besok."
"Ck." Terdengar decakan kesal dari seberang sana. "Berapa baýaranku untuk pekerjaan kali ini?"
"Penthouse di Atlanta. Cukup?"
"Hm, lumayan."
Manik hazelnut tersebut memutar bola matanya malas. Si pecinta duit ini kalau sudah bernegosiasi, pasti membuat kepalanya pusing. Penthouse di Atlanta yang memiliki nilai jual hampir 2 M itu masih kurang baginya.
"Plus satu mobil Porsche yang kamu mau. Puas?"
Terdengar gelak tawa renyah dari seberang sana. "Ok. Kamu memang client paling pengertian sedunia."
"Dasar, mata duitan." Sindir Kara. "Besok Kara mau semuanya selesai."
"Ok, aku anggap itu pujian. Besok semuanya selesai, Sakura-chan."
Gadis cantik bermanik hazel itu memutuskan sambungan telphonenya tidak lama kemudian. Setelahnya, ia memilih berbaring kembali di samping sang suami. Memeluk tubuh peluk-able tersebut erat, mencari tempat ternyama untuknya tidur.
"Yanda pasti lelah. Kara tahu, kakek pasti sudah menekan yanda." Bisiknya.
"Harusnya yanda jujur."
"Yanda seharusnya bilang sama Kara. Kara gak mau yanda kenapa-kenapa karena Kara." Lirihnya, sambil memejamkan matanya.
"Kara sayang yanda, sangat." Bisiknya. "Kara gak mau yanda terluka karena kara."
Sepasang manik hazel tersebut terpejam. Mengistirahatkan netra hazelnutnya, setelah difungsikan 24 jam lamanya. Ketika ia sudah benar-benar jatuh kedalam amam mimpi, sepasang manik gelap disampingnya bergerak dan terbuka. Bergerak lirih, memutar beberapa derajat kesamping dari posisinya.
Ditatapnya sosok yang tengah tidur dalam damai tersebut. Sosok yang beberapa menit lalu menggetarkan hatinya lewat ucapan sederhananya. Dia mendengar semuanya. Mendengar pernyataan sang istri yang mengkhawatirkan keadaanya. Ternyata, keputusannya untuk menjaga sang istri merupakan jalan yang benar.
Cup
Membiarkan wangi shampo khas istrinya itu memenuhi rongga pernapasannya. Sambil merengkuh tubuh mungil tersebut, ingatannya mereka ulang pembicaraanya dengan kakek Kara.
"Buat cucuku memberiku keturunan pengganti."
Deg
"Hadirkan garis keturunanku dari rahimnya, dan biarkan aku membesarkan dan mendididiknya untuk menjadi pengganti ibunya."
Sebuah opsi yang dilontarkan pria berwajah datar itu, tentu tidak akan mudah Arsyad lupakan dalam benaknya. Sekalipun otaknya menyangkal untuk lupa, hatinya bekerja keras untuk tetap stabil dan tidak emosional.
"Tidak." Jawabnya mantap, sambil mendongrak.
"Saya tidak akan menghancurkan mimpi Kara."
"Mimpi?" Pria tua itu menarik perhatiannya. "Cucuku ditakdirkan untuk menjadi penerusku. Apalagi yang harus dia mimpikan?"
"Tidak. Kara berhak untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Sudah cukup, selama ini Kara sudah terlalu terkekang."
"Kau pikir, lepas dariku akan membuat Sakura bebas? Kau lupa fakta jika dia juga mewarisi darah bangsawan Korea. Kau pikir mudah menguasai dia untuk dirimu sendiri?"
Arsyad tidak bergeming. Sebelum ia mendongrak dan buka suara. "Saya tidak bermaksud mendikte setiap kehidupan Kara. Akan tetapi, saya hanya bertanggung jawab atas apa yang seharusnya saya lakukan sebagai seorang suami."
Arsyad beranjak dari duduknya, dirasa ia sudah cukup berbicara. Sebelum keadaan semakin tidak kondusif, dia harus segera pergi. Bukan karena takut, ia malah lebih memikirkan kondisi sang istri.
"Duduk." Hatake Wataya buka suara.
__ADS_1
"Saya sudah cukup berbicara kepada anda. Saya tekankan sekali lagi, Kara maupun darah daging kami kelak, tidak akan saya biarkan anda menyentuhnya."
Hatake Wataya menyeringai tipis. Dia menganggap remeh gertakan pemuda yang belum genap berusia 19 tahun tersebut. Dia sudah menghabiskan seumur hidupnya untuk menjadi seorang Yakuza. Mentalnya sekuat baja. Gertakan saja tak ada artinya bagi dirinya.
"Duduk."
"Maaf, saya harus segera menyusul istri saya."
"Duduk." Ujar Hatake Wataya, lagi.
"Maaf,"
"Duduk, atau lehermu akan kupatahkan." Enzo buka suara, sambil mengarahkan samurai bermata tajam yang tadinya ada di tangan patung, ke arah leher Arsyad.
Arsyad menoleh kearah Enzo. Si empunya nama yang ditatap demikian, menyerngitkan dahinya bingung. Baru kali ini, dia mengancam seseorang dengan samurai tajam, namun seseorang itu malah balik menatapnya.
"Duduk atau...." Enzo tidak menyelesaikan ucapannya lagi, saat melihat tindakan tanggap yang dilakukan oleh tangan lawan bicaranya.
Seperkian detik berikutnya, samurai tersebut jatuh ke lantai. Menimbulkan bunyi yang cukup bergemerincing. Menyita perhatian dua pria berkewarganegaraan Jepang tersebut untuk sejenak.
"Sudah cukup, pembicaraan ini selesai sampai disini." Ujar Arsyad buka suara, tanpa mempedulikan Enzo yang masih shok melihat kepiyawayannya dalam mengelak. Mungkin informasi jika dirinya pemegang sabuk hitam tingkat 2 luput dari pantauannya. Mungkin prestasinya di berbagai olahraga beladiri juga luput dari pantauannya, sayang sekali.
Putra dari prajurit tangguh RI dan Dokter pemberani tidak semudah itu untuk diremehkan.
"Sekali lagi saya tekankan, tuan Hatake Wataya yang terhormat. Saya menyayangi cucu anda. Saya menghargainya sebagai seorang pendamping hidup. Saya tidak akan segan-segan melawan, jika ada yang berani menyentuhnya, atau menyentuh garis keturunan kami." Pungkas Arsyad final, sebelum membungkuk dan undur diri.
"Tuan, saya siap menjalankan perintah anda." Enzo buka suara sambil berlutut.
Arsyad masih bisa mendengarnya, sebelum ia benar-benar pergi dari ruangan tersebut. Menurutnya, keputusan tersebut adalah opsi yang terbaik. Dia datang kesini untuk mempertemukan Kara dan kakeknya, guna mengurangi etensi saling memburu diantara garis kewenangan Hatake Wataya. Bukan ini yang Arsyad inginkan.
Jika dia diminta memilih antara istri dan calon buah hatinya, tentu Arsyad tidak akan memilih salah satunya. Keduanya amat berarti baginya. Ibarat kata, tidak ada seekor induk hewan manapun yang rela anaknya disakiti. Apalagi dengan manusia. Kara dan calon buah hati mereka kelak, adalah anugrah tuhan untuknya.
Dia dan Kara memang belum berencana untuk memiliki momongan. Akan tetapi, anak itu adalah anugrah dalam sebuah pernikahan. Bukti dari adanya perasaan kuat yang mengikat diantara dia dan istrinya. Tidak pernah terpikirkan sekalipun untuk memisahkan istri dan buah hati mereka kelak. Jika itu sampai terjadi, ia saja dengan hewan paling hina di muka bumi.
Arsyad meraih benda pipih miliknya di nakas dekat tempatnya berbaring. Jemarinya berselancar cepat diatas keyboard touchscreen miliknya, untuk menuliskan seuntai pesan. Pesan tersebut ditujukan untuk para Om-nya yang berdomisili di New york. Kali ini tanpa ragu, dia siap mengambil tawaran tersebut.
"Tidur yang nyenyak hm." Lirihnya, sambil menatap wajah permai sang istri lekat.
Pesan darinya telah terkirim, tinggal menunggu jawaban dari seberag.
"Mulai detik ini dan seterusnya, kamu harus berjanji. Janji untuk berdiri lebih kuat demi dirimu sendiri, selama aku memperkuat diri." Lirihnya, sambil menyelipkan beberapa helai rambut, ke telinga sang istri.
Arsyad telah menerima tawaran untuk bergabung dengan Om-nya. Itu berarti, tantangan yang sesungguhnya akan segera di mulai. Dia juga harus mulai mempersiapkan diri untuk pendidikannya dengan para Om-nya nanti.
"Kita akan tinggal di New york. Hidup baru akan kita mulai disana. Aku harap, aku akan selalu bisa memenuhi kebutuhanmu, Kara."
Arsyad tahu keputusan yang ia ambil akan diiringi dengan seabreg konsekuensi dibelakangnya. Akan tetapi dia telah mengambil keputusan ini, yang berarti jika ia juga siap untuk menanggung segala resikonya.
****
TBC
Yuhu.... bang Arsyad Update🔥
Gerceppp baca yang katanya kemarin penasaran sama keputusan yanda. Jadi, sekarang gimana? sudah terbayarkah?
Jangan lupa like, vote, komentar dan share cerita ini ya jika berkenan. Aku juga agak miris, kenapa yang like dan lihat ceritaku semakin sedikit. Apa karena tulisanku bermasalah? padahal aku sudah usahakan update disela-sela kegiatannku. Kemarinpun aku mau update, tapi aku ada zoom meeting sama konsultan kedubes Inggris untuk Relawan TIK.
Kita jumpa lagi di part berikutnya. Semangat buat yang lagi shaum ya😀
__ADS_1
Bye bye👐
Sukabumi 17 Arp 2021