Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
.28-Bukan Marah


__ADS_3

📚.28-Bukan Marah



"fitnah yang ditimbulkannya lebih besar karena bisanya seorang perempuan menganggap biasa jika berduaan dengan kerabat suaminya." (Simak Fathul Baari, 9/332)


****


Udara dingin yang menusuk kulit, agaknya nampak menganggu. Terutama bagi dia yang notabenenya tinggal dan besar di negara yang beriklim tropis. Memang ini bukanlah kali pertama ia berkunjung ke negeri beriklim dingin seperti saat ini, namun lain hanya dengan situasi dan kondisi kali ini. Agaknya situasi dingin itu, bertambah dingin sedingin tatapan pria tampan yang tengah duduk sambil menatap waswas gerak gerik sang istri.


Gadis cantik yang menyandang status sebagai istrinya itu tengah tersenyum manis, tapi bukan untuknya. Tawa kecilnya sesekali terdengar, tapi bukan karena dirinya. Istri cantiknya itu malah tengah duduk lima meter dari tempatnya kini duduk.


"Arsyad mau?"


"Tidak."


Gadis cantik yang mengenakan mantel coklat itu menatap sang suami sedih. Saat ia mendekati sang suami, ia malah mendapatkan respon seperti ini. Apa ada yang salah?


"Kenapa Asryad gak mau? Kue ini enak loh, bentuknya juga cantik." Ujarnya lagi menawari.


Arsyad masih tak bergeming. Kini ia, Kara dan saudari lelaki istrinya itu tengah berada disuatu ruangan yang masih kental akan dominasi interior dinasti kerajaan joseon. Mereka duduk diatas lantai ubin yang terbuat dari kayu, dialasi oleh alas tempat duduk empuk berbentuk persegi empat yang dibuat mirip bantal, namun lebih tipis.


"Arsyad kenapa, marah ya?" Taya Kara lagi.


Gadis cantik itu mulai merasa bersalah, karena tanpa sadar ia telah mengacuhkan sang suami. Sejak tadi mereka memasuki ruangan ini, ia malah sibuk bersama hyung-nya.


"Arsyad, Arsyad marah ya?"


"Arsyad?" Mendengar suara lain memanggil namanya, agaknya si empunya lebih menajamkan pendengaranya.


"Apa kamu memanggil suamimu hanya dengan namanya, baby?"


Kara mengangguk, sebelum bertanya. "Memangnya kenapa?"


"Tidak romantis." Komentar pria tampan berwajah babyface tersebut.


"Setidaknya panggil suamimu dengan sebutan honey, hubby ataupun yang romantis lainya baby." Ujarnya memberi masukan.


Arsyad menatap lawan bicara istrinya itu datar, lalu tanpa pikir panjang ia langsung menarik tangan sang istri.


"Mana?" Tanyanya to the point.


"Arsyad mau kue nya?" Lelaki tampan itu mengangguk.


Kara tersenyum sumringah, lantas ia bergerak cepat mendekat kearah sang suami. Mengudarakan sumpit ditanganya yang mengapit sebuah kue cantik. Dari salah satu kue yang ada diatas meja.



"Enak?" Arsyad mengangguk saja.


Aktivitas keduanya juga tak luput dari manik teduh tersebut. Senyum jenakanya terbit dibibir merahnya yang nampak alami.


"Kalian itu lucu sekali." Komentarnya.


"Kalian menikah muda karena alasan apa sih?" Tanya pria muda tersebut penasaran.


"Hyung kenapa sih tanya tanya, kepo." Ujar Kara sewot.


Tawa kecil pria muda itu mengudara. "Hyung cuma penasaran baby. Masa usiaku yang hampir kepala tiga dikalahkan olehmu?"


"Salah sendiri. Kenapa juga hyung masih suka main main?"


"Hyung cuma masih suka sendiri baby."


Pria tampan itu beranjak, lalu berjalan mendekat kearah keduanya.


"Oh ya, omong omong kita belum berkenalan." Kekehnya.


"Aku Aiden Kim. Panggil saja Aiden." Ujarnya sambil mengulurkan tanganya.


"Eh, bukanya nama hyung itu Kim Se-"

__ADS_1


"Ssstt, itu nama resmi. Yang ini, nama populer baby." Sela pria yang akrab disapa Aiden tersebut.


Arsyad menerima uluran tangan tersebut, sambil menjawab datar. "Arsyad."


"Nama yang bagus." Komentar Aiden.


"Jadi, selamat datang adik ipar. Semoga kamu bisa bertahan dilingkup keluarga kami yang masih kolot ini." Ujar Aiden sambil menatap Arsyad seksama.


Aiden memang pasih berbahasa Indonesìa. Mengingat pria muda tersebut juga pernah tinggal di Indonesia beberapa tahun lamanya, dalam rangka mengembangkan anak perusahaanya di tanah air.


"Ah ya, jangan cemburu apalagi marah melihat kedekatan kami. Kami-aku dan Kara maksudnya, memang sudah dekat sejak kecil." Imbuh Aiden.


Kara cemberut mendengar penuturan Aiden. Padahal mereka juga bisa melihat bagaimana Ekspresi Arsyad ketika melihat kedekatan antara istrinya dan juga sang saudara.


"Kita akrab dari kecil, jadi santai saja." Ujarnya sambil menepuk bahu Arsyad santai.


"Hyung pergi dulu baby. Ada angry bird yang siap meledak disini." Kekehnya, sebelum benar benar berlalu dari ruangan tersebut.


Kara mengangguk kecil. Saudaranya itu usil sekali, walaupun usianya memang tidak muda lagi. Aiden beberapa bulan lagi genap berusia 29 tahun, namun karena wajah babyface yang dimilikinya ia sering kali disalah artikan sebagai remaja SMA. Bagaimana tidak, wajah babyface pria itu selalu bisa mengecoh siapapun. Tanpa operasi plastik pun, Aiden memang sudah terlahir dengan kulit putih mulus bak porselene seperti kebanyakan kulit wanita korea.


Karena keusilan Aiden juga, Arsyad menjadi lebih dingin kepada Kara. Gadis itu bisa merasakan perbedaan yang cukup signifikan diantara sikaf sang suami.


"Arsyad masih marah sama Kara ya?" Tanyanya lagi, untuk kesekian kalinya.


Pemuda tampan yang masih duduk diatas sejadah itu menoleh.


"Arsyad marahkan?"


"Tidak."


"Terus, kenapa Arsyad diemin Kara terus?" Bukanya menjawab, pemuda tampan itu malah mengulurkan tanganya.


Membiarkan sang istri menyalami tànganya, seperti kebiasaan mereka selepas melaksanakan salat berjamaah.


"Itu bukan sebuah definisi dari kemarahan, cuma sedikit ekspresi kegundahan." Tutur Arsyad, setelah Kara menyalami tanganya.


Gadis cantik yang berbalut mukena pink tersebut menatap sang suami lekat.


"Kamu itu istriku, jadi harus menjaga perilaku dengan pria lain yang bukan muhrim."


"Tapi, hyung itu-"


"Sssttt." Arsyad menyela, sambil menyimpan telunjuknya didepan bibir Kara.


"Itulah salah satu contohnya. Dalam agama islam dikatakan, fitnah yang ditimbulkannya lebih besar karena bisanya seorang perempuan menganggap biasa jika berduaan dengan kerabat suaminya. (Simak Fathul Baari, 9/332)."


"Menurut beberapa hadist, berduan dengan kerabat suami atau kerabat dari pihak istri itu hukumnya tidak boleh. Karena pada dasarnya, itu bukan muhrim."


Kara mengangguk kecil. Ia mengerti apa yang hendak sang suami sampaikan. Suaminya itu ingin menyampaikan makna tersirat dari balik sikap kurang bersahabatnya tadi. Namun dibalik itu semua, Arsyad juga mencoba memberikan pengarahan yang benar kepada sang istri sesuai ajaran agama islam.


"Jadi, Arsyad tadi bersifat begitu karena kecewa Kara dekat dengan hyung?"


"Bukan begitu." Arsyad menganggam salah satu tangan Kara.


"Aku hanya merasa kecewa belum bisa memberikanmu pemahaman yang mendalam, tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan seorang perempuan setelah menikah."


"Begitukah?" Arsyad mengangguk.


"Jadi kalau Kara berduaan dengan hyung, itu hukumnya dosa?"


"Hm."


"Apa malaikat nanti akan mencatat dosa Kara?"


"Hm"


"Apa Kara akan dilarang masuk surga?"


Arsyad tersenyum tipis, lalu menatap sang istri intens.


"Allah maha mengetahui, juga maha pengampun. Jika umatnya berbuat dosa dan merasa bersalah, lantas ia meminta pengampunan setulus hati dan berniat kembali memperbaiki diri sesuai ajaran agama Allah. Niscaya, Allah akan mengampuni dosanya."

__ADS_1


Kara mengangguk mengerti. Senyum manisnya terbit, ketika mendengarkan penjelasan tersebut. Inilah salah satu rutinitas yang disukai oleh Kara, mendengarkan sang suami bercerita singkat setelah salat ataupun mengaji dan mengkaji al-Qur'an beserta isi kandunganya. Rutinitas tersebut selalu membawa energi positif, membuat hati terasa adem dan lebih tentram.


"Apa kalau Kara berbuat salah, Arsyad akan marah?"


"Tergantung dengan kesalahan Kara."


"Eh, kenapa begitu?"


"Hm, karena pada dasarnya manusia mahluk yang perasa. Walaupun Allah selalu menyuruh umatnya agar bersabar juga ikhlas, namun tetap saja ada sebagian besar dari manusia yang sukar melakukanya."


Kara menoleh, gadis cantik yang sudah melepaskan mukenanya itu kembali menatap sang suami.


"Apa Kara gak sopan, panggil Arsyad cuma nama?"


"Itu kembali kepadamu. Yang terpenting, kamu nyaman saja." Ujar Arayad sambil menyentuh pucuk kepala sang istri.


"Hm, kalau Kara panggil Arsyad dengan panggilan Yanda gimana?"


"Yanda?" Bingung Arsyad.


"Pelesetan lain dari panggilan untuk Ayah." Tutur Kara. "Kalau Kara panggil abang, nanti kayak adik ke kakaknya. Kalau Mas, kurang cocok. Kalau baby, darl, hubby, atau apalah itu terlalu kekanak-kanakan. Gak cocok buat Arsyad."


Arsyad tertawa kecil, mendengar celotehan sang istri. Ia benar benar tertawa, karena melihat ekspresi sang istri yang begitu menggemaskan dimatanya.


"Arsyad ketawa?" Kaget Kara, baru tersadar.


"Ekhem, siapa yang tertawa?"


"Barusan Arsyad ketawa?"


"Tidak."


"Iya. Yanda barusan ketawa ih??"


"Tidak ada."


"Yanda ketawa, ya ampun. Kara gak nyangka bisa buat yanda ketawa." Antusias gadis cantik tersebut, sambil berjingkrak-jingkrak senang.


Bagaimana tidak senang, ekspresi Arsyad itu biasanya didominasi oleh wajah flat. Atau sesekali tersenyum tipis, saking tipisnya malah sampai tidak bisa terlihat. Tetapi kali ini, Arsyad benar benar tertawa walaupun kecil.


Keduanya kini memang sudah berada di kamar yang dulu ditempati oleh Kara. Tempatnya tidak terlalu jauh dari rumah inti keluarga Kim. Sambil mengobrol kecil, pasangan muda ini menghabiskan waktunya bersama. Menonton hujan salju yang mengguyur kota seol di malam hari dari balik jendela kamar, sambil menikmati secangkir teh olong pemberian bibi Kara.


Arsyad mencoba untuk memantaskan diri untuk diterima dikeluàrga besar Kara. Secara langsung, mereka menerima kehadiranya. Namun, secara tidak langsung mereka juga sempat memperlihatkan sebagian ketidaksukaanya terhadap Arsyad. Akan tetapi semua itu tak membuat Arsyad gencar. Ia malah kian bertekad untuk membuktikan jika dirinya mampu menjadi suami bagi Kara.


Lambat laun, ia juga akan berusaha membuat Kara melawan fhobianya. Membuat gadis itu tersenyum juga tertawa lepas, dengan hal hal baru yang mereka lakukan bersama. Jalan Arsyad dan Kara masih panjang membentang didepan sana. Apapun halangan rintanganya kelak, Arsyad harap Kara selalu bisa percaya kepadanya. Selalu bisa istiqamah tinggal dan menetap bersamanya.


Cup



"Selamat malam, istri kecilku."


****


TBC


Hallo reader semua 🖐🖑


BCT update setelah beberapa hari mangkir yoo📣📣


Maaf buat All Readers semua menunggu, habisnya beberapa hari ini aku sedang kurang fit. Kubota Hp juga mulai melarat😢😢


Makanya karena kurang fit, mood nulisnya jadi Ambyarrr. Makanya, BCT baru bisa update. Maaf yo, dimaafin gak nihh??


Ayoo, buat part ini mana komentarnya. Ada yang kagen ama Yanda gak nih??


Kira kira sebutan Arsyad ke Kara ada gak ya?


Cuss, komentar aja❤


Sukabumi 18 Nove 2020

__ADS_1


__ADS_2