
109. Welcome To Korea
Karena surel yang membawa tanda tanya besar itu, Arsyad dan rombongan mengikuti usulan Kara untuk segera meninggalkan Jepang. Mengingat Kara tahu betul tabiat Hitake Wataya—kakeknya—yang juga seorang kobun. Mereka langsung memesan tiket penerbangan tercepat menuju semenanjung korea. Setelah chek out dari hotel, mereka bergegas menuju bandara. Bandara Internasional Narita (Narita Kokusai Kūko) (IATA : NRT, ICAO : RJAA), juga dikenal sebagai Bandar Udara Narita, sebelumnya dikenal sebagai Bandar Udara Internasional Tokyo Baru (Shin Tokyo Kokusai Kuko), merupakan nama bandara yang terletak Narita, prefektur Chiba.
Bandara Narita sekarang menjadi tempat mereka berada. Menunggu pesawat yang akan membawa mereka terbang ke semenanjung Korea. Bisa saja Davian menghubungi GG Bersaudara dan meminta mereka mengirimkan jet pribadi. Namun, mengingat jarak tempuh yang sangat jauh, hal itu akan sia-sia saja. Jadilah mereka—Arsyad, Kara, Davin, Aroon, Agam, Adam, dan dua putra Pradipta—memilih menggunakan penerbangan komersial. Lagipula, jarak tempuh antara Jepang dan Korea tidak terlalu jauh.
Namun, sela-sela menunggu security check, kedatangan seorang lelaki berkulit putih seperti porselen dengan wajah baby face, menarik perhatian. Apalagi saat Kara memanggil lelaki itu dengan heboh.
“Hyung!”
Lelaki yang mengenakan sunglasses hitam itu tersenyum miring. Gayanya sudah seperti idol k-pop yang keluar dari majalah. “How are you, baby?” tanyanya seraya memeluk Kara erat
“I’am fine. Bagaimana sama kabar hyung?” tanya Kara balik, saat pelukan mereka terurai.
“Fine,” jawab lelaki tersebut singkat.
“Ppsstt, itu oppa-oppa yang wajahnya kelewat glowing siapa? Sok kenal banget.” Davian berbisik pelan pada sang kembaran.
“Mana kutahu, Dav. Tapi, kayaknya kerabat Mbak Kara deh.”
Davian mengangguk, sebelum kembali bertanya. “Kira-kira doi pakai skincare apa, ya? Kok bisa wajahnya mulus kayak actor Nam Joo Hyuk.”
“Nam Joo Hyuk, siapa tuh? Lo kenal?” bingung Aroon.
Davian memutar bola mata mendengarnya. “Masa lo gak tahu actor Nam Joo Hyuk? Itu loh, actor yang lagi naik daun. Baru-baru ini dia main di drama yang judulnya Star Up. Nonton gak lo?”
Aroon menggeleng polos. “Mana ada waktu buat nonton drakor, Dav.”
Perdebatan keduanya terpotong saat Arsyad angkat suara. Menyapa lelaki yang Kara panggil dengan sebutan ‘hyung’ tersebut. “Kamu di sini, Kak Aiden?”
Mendengar Arsyad memanggil lelaki yang memiliki wajah baby face itu dengan embel-embel ‘Kak’ membuat yang lain terdiam. Padahal sebelumnya mereka belum pernah melihat Arsyad begitu.
“Hm. Aku bertugas membawa kalian ke Korea,” ujar Aiden—lelaki yang Kara panggil hyung—menuturkan.
“Kenapa Hyung bisa tahu kami ada di sini? Apa Nenek ada di sini juga, hyung?” tanya Kara.
“Hm. Nenek sedang bernostalgia dengan mantan suaminya.”
“A-pa? bukannya itu sangat berbahaya, hyung?” kaget Kara.
“Tenang saja, baby. Pria tua itu tidak akan berani menyakiti wanita yang dia cintai.”
“Tapi, Kakek—“
“The law of karma telah bermain, baby. Pria tua itu mulai mendapatkan balasan dari perbuatan-perbuatannya.”
Kara mengernyit mendengarnya. Wanita cantik itu tampak kebingungan. Kendati demikian, bukan hanya Kara yang kebingungan, Arsyad dan yang lain juga sama-sama didera kebingungan. Apa yang dimaksud dengan the law of karma telah bermain?
“Nanti akan aku jelaskan saat diperjalanan. Sekarang, mari kita berangkat. Pesawatnya akan segera lepas landas,” ajak Aiden seraya merangkul bahu Kara mesra. Membuat Arsyad hanya bisa menghela nafas pelan melihatnya. Dalam hati ia mensugesti jika mereka dekat karena kerabat. Meminimalisir percikan sebentuk rasa bernama cemburu.
Dalam perjalanan menuju Korea, Aiden menceritakan semuanya. Mereka tidak jadi menggunakan pesawat komersial, melainkan menggunakan pesawat binis milik keluarga nenek Kara. Tanpa ada yang tertinggal, Aiden menjelaskan soal kedatangannya ke Jepang bersama Kim Eun Ha. Pun dengan alasan kenapa Hitake Wataya mundur teratur secara tiba-tiba, padahal taruhannya adalah nyawa pria itu sendiri.
Menurut penuturan Aiden, Hitake Wataya menyerahkan semua sahamnya karena berawal dari sebuah mimpi. Mimpi itu dialami berulang kali. Sempat pula dialami oleh Kim Eun Ha. Di mana dalam bunga tidur itu, mereka didatangi oleh Theresia Kim—ibu Kara—yang tampak bersimbah darah. Wanita yang meninggal secara tragis itu tak berhenti menangis sembari meratapi kondisi sang putri. Karena hal itu pula, Hitake Wataya dan Kim Eun Ha sempat tertekan.
__ADS_1
Mungkinkah lewat bunga mimpi itu, ibu Kara ingin menyampaikan jika mereka harus menyudahi permusuhan sebelum pertumpahan darah kembali terjadi. Mereka harus bisa meredam ego agar tidak ada lagi yang tersakiti. Jadilah, Kim Eun Ha terlebih dahulu mengambil tindakan. Wanita tua itu sadar jika usianya tidak muda lagi. Jadi, tak apa jika perusahannya berpindah ke lain tangan yang lebih mumpuni dan kompeten.
Kedatangan Kim Eun Ha ke Jepang juga untuk menyadarkan mantan suaminya. Bagaiamanapun juga mereka pernah saling mencintai dalam sebuah ikatan suci bernama pernikahan. Jadi, ia cukup hafal tabiat Hitake Wataya.
Pria tua itu pada akhirnya menyerah pada situasi. Ia juga lelah didatangi putri sematawayangnya setiap memejamkan mata. Ia merasa jadi ayah paling kejam di dunia, karena keegoisannya telah membuat darah daging satu-satunya tewas mengenaskan. Jadi, Hitake Waataya memilih mengakhiri semua itu. Sekalipun nyawanya sendiri akan menjadi taruhannya. Kara begitulan jalan seorang samurai. Jika tidak mampu menaggung malu, maka ia akan menghabisi diri sendiri dengan pedang miliknya.
Oleh Karena itu Kim Eun Ha datang untuk memastikan jika mantan suaminya tidak berbuat gegabah setelah hukum karma berlaku. Karena pria tua itu juga berhak tahu jika adalah calon penerus lain yang tengah tumbuh dan berkembang.
Tiba di bandara bandara Internasional Incheon (terkadang disebut Bandar Udara Internasional Incheon-Seoul), Bandar udara terbesar di Korea Selatan dan merupakan salah satu yang terbesar di Asia itu, rombongan Arsyad dan Kara dijemput dengan 3 mobil Tesla hitam yang mewah. Namun, di sana pula mereka harus berpisah dengan Tim Davian. Pria itu tidak lagi memiliki tugas setelah Arsyad dan rombongan keluar dari Negara Jepang. Davian dan dua rekannya harus kembali ke New York.
Aroon sempat menahan kepergian sang kembaran, tetapi hasilnya nihil. Davian tetap pergi, tetapi meninggalkan janji. Janji bahwa ia akan pulang dalam waktu dekat. Dengan berat hati, Aroon akhirnya melepaskan kepergian sang kembaran.
Aiden kemudian memboyong para tamu kehormatannya menuju kediaman keluarga besar Kim. Sebelum esok hari mereka akan dikenalkan pada anggota dewan direksi. Tentu dengan identitas baru. Arsyad sebagai CEO contohnya.
“Ada apa?”
Arsyad yang baru saja keluar dari kamar mandi pasca membersihkan badan, mengernyitkan kening saat melihat sang istri yang tampak mematung di depan cermin rias.
“Perut kamu sakit?” tanyanya, seraya mendekati sang istri.
Wanita cantik yang mengenakan gaun malam berbahan sutra itu tak menjawab. Masih enggan beranjak dari buaian angan-angan.
“Kara?” Arsyad kembali memanggil sang istri seraya menyentuh pipinya perlahan.
“Ah, iya.” Wanita cantik itu tersadar. “Yanda udah selesai mandinya?”
Arsyad mengangguk kecil. “Ada apa? Kenapa kamu banyak melamun.”
“Enggak apa-apa, kok. Kara cuma capek,” dalih Kara.
Kara menggeleng seraya tersenyum tipis. Wanita cantik itu kemudian mengambil botol kaca berukuran medium, mengeluarkan isinya ke telapak tangan, kemudian membuat gerakan menepuk pelan pada wajah sang suami.
“Biar enggak kusam,” ujarnya seraya tersenyum tipis.
Mendapati perhatian seperti itu, Asyad urung bertanya lebih lanjut. Kedua tangannya kini terangkat, melingkari pinggang sang istri. Kedua netra gelapnya terkunci pada netra hazelnut milik sang istri.
“Apa itu? Terasa dingin di kulitku.”
“Skincare, biar kulit yanda enggak kering.” Kara menjawab seraya menyunggingkan senyum tipis. “Kalau mau, Kara juga bisa kasih yang sheet mask. Biar wajahnya lembab dan sehat.”
“Tidak perlu.”
“Kenapa?”
“Karena aku tidak mau,” jawab Arsyad sekenanya.
Kara tertawa kecil. Tawa yang mampu membuat hati Arsyad menghangat.
“Iya, deh. Yanda jangan perawatan. Enggak perawatan aja udah ganteng, apalagi kalau perawatan. Lee Min Ho aja lewat,” canda sang istri.
Arsyad tersenyum tipis mendengarnya. “Jadi kamu mengakui ketampanan suamimu?”
Kara mengangguk mantap. “Memang Kara belum pernah bilang yanda ganteng? Perasaan udah sering deh.”
“Entahlah. Aku baru mendengarnya barusan.”
__ADS_1
Kara tersenyum lebar seraya melingkarkan tangannya di leher sang suami. Kedua kaki jenjangnya kemudian berjinjit agar dapat berbisik tepat di telinga sang suami. “Suami aku gantengg banget. Saking gantengnya, sampai banyak yang naksir.”
Arsyad tersenyum tipis tanpa sepengetahuan Kara. Dengan sigap ia kemudian membawa tubuh sang istri ala bridal style. Menurunkannya tepat di tengah-tengah tempat tidur, sebelum ikut bergabung. Namun, sebelum itu Arsyad terlebih dahulu menanggalkan atasannya. Membiarka tubuh bagian atasnya yang bidang dan berotot terekspose. Melihat itu, wajah Kara dinaungi rona merah yang amat kentara.
Arsyad menaikkan sebelah alisnya seraya menatap sang istri. Sebelah tangannya bergerak menuju ban celana piama yang ia gunakan.
“Y-anda mau ngapain buka-buka celana segala?” tanya Kara horor.
“Mau ibadah,” jawab si empunya nama gamblang.
“I-badah apa? Bukannya tadi kita udah salah Isya?” bingung Kara.
“Ibadah sunnah di malam jum’at.”
Kara melotot mendengarnya. “Besok yanda ada urgent meeting, kalau kesiangan bangunnya gimana?” cicitnya.
Arsyad melepaskan senyum jumawa seraya bergabung dengan sang istri. Menarik selimut, kemudian membawa sang istri kungkungan dada bidang dan legannya sebagai bantalan. Ia memang bercanda soal ibadah sunnah. Niatnya cuma ingin menggoda sang istri yang tampak banyak melamun sejak tiba di kediaman Kim.
“Enggak jadi?” tanya Kara dengan suara kecil.
Arsyad tak menjawab. Alih-alih menjawab, ia malah mengeratkan pelukannya pada pinggang sang istri. Sedangkan indra penciumannya menghirup aroma khas sang istri dalam-dalam. Harum dan menyenangkan. Arsyad baru tahu jika menghirup aroma body mist seorang wanita bisa semenyenangkan ini. Terlebih aroma itu milik wanitanya. Calon ibu dari buah hatinya.
“Ayo tidur, Kara. Kalian butuh istirahat yang cukup.” Arsyad berujar seraya membelai perut ramping sang istri dari luar. “Sepulang dari sini, ayo kita pergi ke dokter kandungan untuk memeriksa dia.”
“Iya, yanda.”
“Aku ingin sekali melihatnya,” bisik Arsyad.
Kara tersenyum tipis seraya membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami. “Nanti ya, masih beberapa bulan lagi.”
“Apa dia akan mirip aku?” monolog Arsyad. Membayangkan jika ada satu atau dua mahluk mungil yang menjiplak wajahnya, membuat dada Arsyad menghangat.
Kara tersenyum mendengarnya. “Yanda maunya dia cowok atau cewek?”
“Apapun jenis kelaminnya, aku ingin dia lahir dengan sehat.”
Arsyad tidak mau muluk-muluk. Ia hanya ingin sang buah hati lahir dengan sehat. Begitu pun dengan sang istri. Ia berharap jika ibu dan juga bayinya sehat hingga berhasil melewati proses persalinan nantinya.
“Yanda.”
“Hm?”
“Kara mau tau, kenapa Mamih enggak pernah datang ke mimpi Kara? Sedangkan Mamih sempat datang ke mimpi Kakek dan Nenek.”
Mendapati pertanyaan seperti itu, Arsyad membisu. Ia tahu berat duka masa lalu yang dipikul sang istri selama ini. Wanitanya selalu mendambakan kehadiran seorang ibu, sekalipun sosok itu sudah tak ada lagi di dunia.
“Dulu, waktu Kara masih gak mengerti kenapa Mamih pergi ninggalin Kara sama Papih, Kara sempat berpikiran untuk marah. Tapi, sekarang Kara juga tahu kalau Mamih juga pasti berat ninggalin Papih sama Kara.”
Arsyad tidak bersuara. Akan tetapi gerakan tubuhnya selalu membuat Kara dilingkupi kehangatan, sekalipun sebagian rongga dadanya digerogoti luka di masa lalu. Melalui pillow talk begini, Kara ingin membagi apa yang ia rasakan selama ini. Karena pria yang sekarang memeluknya erat, menyalurkan kehangatan, adalah pria yang ia cintai. Pria yang telah membuatnya merasakan kesempurnaan sebagai seorang wanita.
“Besok, saat orang-orang tahu kalau suami Kara yang telah menjadi pemimpin mereka, Kara akan selalu berada di samping yanda. Sekalipun harus mempertaruhkan nyawa karena berada di posisi ini, Kara rela. Karena ada yanda. Jika pun Kara harus pergi seperti Mamih, Kara akan pergi dengan ikhlas. Mengingat Kara yakin kalau yanda akan jadi orang tua hebat kayak Papih. Ayah tangguh untuk buah hati kita kelak.”
**
Jadi, mau Ending apa buat BCT? kalau dipikir-pikir semua happy ending. kalau BCT sad ending, gimana?
__ADS_1
Sukabumi 12/11/21