
📚. 43-LDR II
"Biarpun jauh dijangkauan mata, jauh dari dekapan tangan, kamu tetap menaungi rongga dada."-Arsyad An-nass Senopati Az-zzioi
****
Seorang gadis cantik berdress floral berwarna dusty pink, terlihat tengah serius menatap layar gaway dihadapannya. Sudah beberapa menit ia mempusatkan segala perhatiannya kepada semua yang dikerjayakannya. Sesekali, jemari lentiknya berhenti berselancar ketika tengah mendengarkan telphone dari sebrang. Dia menggunakan sistem multiprocessing, dimana dalam satu waktu ia bisa melakukan lebih dari satu kegiatan.
"Aku mau semua informasi tentang lelaki itu." Ujarnya, sambil mengetik diatas keyboard gawaynya.
"...."
"Iya. Dia Galangger Adimana Sanjaya." Ujarnya penuh penekanan.
"...."
"Besok. Aku mau kamu kirim semua informasi tentang dia. Dah oh, jangan lupa soal informasi tentang pria bernama Devix. Founder salah satu kantor berita, yang mengunggah berita itu."
"...."
"Aku tunggu." Ujarnya, sambil memutuskan sambungan telphonenya.
Gadis cantik beriris hazelnut itu menghembuskan napasnya gusar. Tanganya bergerak menekan tombol power, untuk mematikan gaway miliknya. Bosan, satu kata yang ingin ia kumandangkan. Seminggu sudah, ia menempati rumah besar sang Papih yang berada di Surabaya. Ya, mansion milik crazy rich Surabaya itu kini menjadi penjara untuk putrinya sendiri.
Seminggu full, gadis cantik ini terkurung. Terputus dari yang namanya sambungn intenet, yang menghubungkannya dengan dunia lain. Hari ini, tepat seminggu ia tinggal disini. Kala sang Papih pergi keluar kota, ia akhirnya memiliki kesempatan untuk memegang gaway. Selain itu, ia juga bisa memiliki kesempatan untuk menggali informasi. Empat hari yang lalu, pemberitaan yang menyangkut pautkan statusnya sudah dilarat dari berbagai media. Tapi, ia tak mau tinggal diam hanya karena semuanya telah hilang dari berbagai media. Ia perlu memberi orang orang itu pelajaran, karena telah menganggu ketenangannya dan sang suami.
Ngomong-ngomong, soal suami. Kara sama sekali belum mendengar suara lelaki itu seminggu ini. Mereka benar benar menjalin hubungan jarak jauh-LDR-tanpa ada sedikitpun komunikasi yang terjalin. Sungguh, Kara rindu akan lelaki tampan tersebut. Ingin sekali ia berjumpa, menyapa, juga memeluknya. Ingin sekali, Kara mendengar suara khas yang datar itu bertanya kepadanya.
Sambil menimang-nimang, gadis cantik itu menggigit bibir bawahnya bingung. Apa dia harus menelphone sekarang? Tapi, apa tidak apa-apa jika ia menelphone?
Kara ragu, takut menganggu lelakinya tersebut. Ia juga takut jika karena rumor itu, nanti lelakinya itu akan terganggu dalam kegiatan belajarnya. Sebentar lagi dia akan menghadapi serangkaian pelatihan, pengayaan, pemantapan pra ujian. Kara hanya tidak mau menganggu. Tapi, ada rindu yang meminta dituntaskan didada. Ada ingin yang minta diusaikan dihati. Ada sesak yang minta dilepaskan didada.
"Telphone atau tidak?" Bingungnya.
"Telphone, atau tidak ya?" Bingungnya, sambil berjalan mondar-mandir, kesana-kenari.
"Astagfirullah." Kagetnya, saat tahu tahu nama kontak yang sedari tadi dipandangi olehnya, kini sudah terhubung via telphone.
"Hallo?"
Deg
Suara itu? Kara hapal betul akan siapa pemilik suara bariton khas tersebut. Suara yang satu minggu ini ia rindukan.
"Hallo," Jeda suara disebrang sana sejenak. Kara menunggu dengan risau disini. Apa, dia juga rindu seperti apa yang dirasakan olehnya?
"...Kara, kamu disana?"
Deg
Ya, Kara disini. Ucap Kara dalam hati. Dia disini, mendengar dengan setia. Menunggu dengan setia, selama apapun ia harus menanti untuk mendengar suara dan hadirnya.
"Yanda..." Ucapnya, pada akhirnya.
"...."
"Yanda..."
"Itu kamu?" Tanya suara disebrang sana, penuh keyakinan.
"Yanda, Kara rindu."
Ya, ada rindu yang tak terhingga dihati. Ada rindu yang menumpuk didada. Ada rindu yang minta dituntaskan hayati. Ada rindu yang minta segera bertemu agar terpatri tuk hayati. Ada rindu yang memupuk dihati dua anak Adam tersebut.
📚📚📚
"Abang kenapa sih bisa sakit begini?!" Tanya gadis berpasmina pink itu, khawatir.
"Abang kayaknya kelelahan, tèh." Jawab bocah tampan yang berdiri disamping gadis tersebut, sambil menyodorkan dua kaplet obat.
"Benar begitu bang?"
"Hm." Jawab si empunya nama datar, dengan suara parau miliknya.
"Kenapa bisa kelelahan? Abang gak minum suplemen yang dikasih bunda? Telat makan juga ya?" Tanya kembarannya, gencar.
"Arra, abang pusing."
"Pusing? Mau Arra panggilin bunda? Atau mau Arra panggilin dokter? Atau-"
__ADS_1
"Tèh, abang pusing dengerin introgasi dari tètèh." Sela sang adik.
"Eh?"
"Abang butuh istirahat. Jangan ditanya-tanya dulu, kasihan." Lanjut bocah tampan yang masih duduk dibangku Sekolah menengah pertama tersebut.
"Masa iya sih?"
"Iya tèh."
Arsyad, lelaki yang tengah berbaring diatas ranjang itu tersenyum tipis. Kembaran dan adiknya ini ada ada saja tingkahnya. Ia memang kurang enak badan, sepulang dari caffe sore tadi. Tapi, sakit bukan bèrarti membuatnya lemah. Ia bahkan masih sempat membantu sang saudara mengelola keuangan caffe. Walaupun pada akhirnya, selepas salat isya tubuhnya terasa kian drop. Dan akhirnya ia ambruk, tak sanggup menghalau rasa pening dikepalanya. Dia memang jarang jatuh sakit. Sekali sakit saja, hanya sakit ringan dan biasa.
"Ya sudah, abang istirahat ya. Jangan mikirin masalah caffe atau apapun dulu."
Titah sang kembaran.
"Hm."
"Jangàn mikirin mbak Kara juga. Mbak Kara pasti baik baik saja."
Mau tidak dipikirkan, bagaimana caranya coba? Dia itu istrinya, pendamping yang secara tidak langsung telah melekat disebagian jiwanya. Dia tidak mungkin tidak memikirkan istrinya bukan?
"Abang istirahat ya?"
"Hm." Ujar Arsyad kecil, sebelum membiarkan kedua saudaranya pergi.
Pening memang masih menghantui kepalanya. Tekanan darahnya turun, maka bisa dipastikan jika pening dan pandangan berkunang-kunang adalah efek dari kurang darah. Akhir akhir ini, caffe juga bengkel dan gym tengah mengalami sedikit problem. Mulai dari adanya uang omset bulanan yang ditilep pegawai kepercayaan, hingga adanya beberapa tangan jahil yang mengutil beberapa barang. Arsyad juga tidak tahu kenapa, semua itu bisa terjadi. Padahal, sebelum sebelumnya tidak pernah terjadi.
Derrrt
Derrrt
Bunyi getaran dari arah ponsel, agaknya mampu mengurungkan niatnya yang hendak mengistirahatkan diri.
Derrrt
Derttt
Arsyad memang hendak mengabaikan getaran tersebut. Ia memang butuh istirahat sekarang. Tapi, ia juga memiliki kepenasaran akan siapa yang menelphonenya malam-malam begini.
"Hallo?" Panggilnya, kala mengangkat telphone dari nomer asing yang tidak tersimpan dikontaknya tersebut.
"Hallo," Jedanya sejenak. Tiba-tiba, ada nama yang muncul dikepalanya. Apa benar, ini istrinya yang menelphone?
Tapi jika iya, kenapa istrinya itu menelphone dengan nomer asing? Apa Tyoga kembali membatasi koneksi istrinya?
"Yanda..." Ucapnya, pada akhirnya.
Deg
"...."
Itu suara istrinya. Sungguh, suara yang seminggu ini dirindukan indra pendengarannya. Suara lembut khas milik istri kecilnya, yang seminggu ini luput dari jangkauan netra gelapnya.
"Yanda..."
"Itu kamu?" Tanyanya, penuh keyakinan. Arsyad benar-benar yakin jika itu adalah istrinya. Siapa lagi yang memanggilnya yanda, selain Kara?
"Yanda, Kara rindu."
Deg
Rindu? Tentu. Arsyad juga memiliki perihal yang sama soal masalah rindu. Tapi mau bagaimana lagi, rindu ini mungkin cuma sebatas ujung kuku. Tak sebanyak rindu yang nanti akan dipupuk dikemudian hari. Rindu kali ini hanya beberapa hari, entah dengan jarak rindu nanti dikemudian hari.
"Yanda, enggak rindu Kara?"
Deg
"Tidak." Jawabnya, sambil tersenyum tipis. Membayangkan ekpresi gadisnya disebrang sana.
"Kenapa enggak? Yanda suka ya, jauh dari Kara?" Tanya suara disebrang sana menuntut.
"Tidak."
"Terus, kenapa yanda gak rindu Kara?"
"Rindu itu hanya untuk seseorang yang telah kehilangan pasangannya. Tapi aku, tidak kehilangan kamu."
"...."
Hening, si penelphone disebrang sana tak menjawab.
"Kenapa rindu, hm?"
__ADS_1
"Gak tahu. Kara cuma mau yanda!" Tuntut suara disebrang sana. Membuat Arsyad gemas sendiri.
"Rajin rajin salat sama berdoa kepada Allah, biar cepat selesai jauh-jauhannya."
"Iya. Kara sudah mengadu sama Allah, ini sedang menunggu proses dikabulkan do'anya. Giliran Kara ngadu ke Papih, biar semakin cepat terealisasikan do'anya." Cerita suara disebrang sana.
"Syukurlah."
"Yanda?" Panggil Kara.
"Iya. Kenapa, rindu?"
"Iya."
Aryad tersenyum tipis mendengarnya.
"Jangan rindu, yanda disini. Tidak kemana-mana."
"Iya, Kara mengerti."
Lelaki tampan itu mengubah posisinya menjadi duduk. Memudahkanya ketika menerima telphone tersebut. Walaupun rasa pening masih tak terhingga, setidaknya rasa rindu yang terobati bisa sedikit memperbaiki keadaan.
"Yanda baik-baik saja 'kan?" Selidik suara disebrang sana.
"Kenapa tanya begitu?"
"Yanda sedang sakit kan?" Lelaki tanpan itu terhenyak kecil.
"Darimana tahu?"
"Just feeling." Jawab suara disebrang sana mantap.
"Yanda sakit, Kara bisa rasakan itu."
Senyum Arsyad sekali lagi mengudara. Apa benar, sakit karena rindu itu bisa terobati hanya karena rindu itu telah terbalaskan?
"Cuma pening."
"Sudah minum obat? Sudah periksa kedokter belum? Perlu Kara panggilkan dokter?"
"Tidak usah."
"Tapi Yanda sakit 'kan?" Tanya suara disebrang, risau.
"Besok juga sembuh. Jangan khawatir."
"Apa benar?"
"Iya. Jangan khwatir." Ujar Arsyad meyakinkan.
"Apa papih tahu, kamu telphone yanda?"
"Enggak. Papih lagi pergi keluar kota sama Dylan. Akhir-akhir ini Dylan selalu ada dimansion, kadang kadang Dylan juga yang jagain Kara."
"Dylan?"
"Itu, putranya om Setyo."
"Hm."
"Yanda.... enggak cemburu 'kan?" Tanya suara disebrang sana hati-hati.
"Untu apa cemburu? Cemburu itu hanya buat orang yang tidak percaya diri."
Untuk apa cemburu? Toh, Arsyad sendiri tahu untuk siapa hati istri kecilnya itu terpaku. Setidaknya, untuk sejauh ini Arsyad bisa berbangga diri untuk mengklaim Kara beserta hatinya adalah miliknya. Tapi memang benar begitu adanya bukan? Biar saja berapa jauh jarak yang membentang. Berapa banyak rindu yang memupuk. LDR ini cuma ujian sesaat, untuk menguji kadar ditiap segi rasa yang keduanya miliki. Untuk saat ini, biarlah ruang dan waktu menjadi penghalang. Tapi kelak, akan ada masanya indah pada waktunya. Asyad percaya itu.
****
TBC
Hello, Yanda update lagi👐
Gimana nih kabar readers, baik?? Semoga semua baik-baik saja ya. Yang sakit cepat sembuh, yang rindu cepat bertemu. Takut kayak yanda, LDR-an mulu. Gak kuat nahan rindunya😂😂
Hayo.... jangan lupa komentarrrrrrrrrrrrr buat part ini. Like, vote, follow akun @nrisma/@nengkarisma dan share jika berkenan.
Buat hari ini segini dulu, nanti dilanjut lagi. Jangan lupa jaga kesehatan. Salam Yanda 😍😍😍😍
(Yang punya aplikasi wttp jangan lupa mampir ke TENDEAN ya ^_^)
Sukabumi 04 Januari 2021
__ADS_1