Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
. 76. Back To School


__ADS_3

📚. 76. Back To School



"Kembali ke sekolah, selesaikan apa yang belum sempat kita tuntaskan disana."-Arsyad An-nass Senopati Az-zzioi


****


"Om tidak mampir dulu?"


"Iya, Om. Oma sama Opa pasti rindu Om?"


"Om pengen cepet pulang kenapa sih? Katanya mau ngasih kita pelatihan dasar?"


Si kembar bertanya bergantian. Membuat dua pria rupawan yang tak kelam di makan zaman itu tersenyum tipis. Kelakuan si kembar memang selalu beehasil membuat mereka terseju. Mereka ini happy virus ibaratnya.


"Misi kita selesai sampai disini, boys." Om mereka yang paling muda buka suara.


"Pelatihan akan tetap di jalankan. Jika waktunya tiba, Astronot dan Fajar yang akan menjemput kalian secara langsung." Om mereka yang paling irit bicara ikut buka suara.


"Ok deh kalo begitu." Davian mengangkat jempol tangan kanannya tinggi-tinggi. "Salam buat rivalku, Fajar." Imbuhnya.


Gemintang, ayah dari si empunya nama terkekeh kecil. "Nanti Om sampaikan."


"Oh iya, titip salam sayang plus cinta juga buat Senja. Rindu, pengen ketemu."


Kekehan Gemintang kandas seketika. "Masih kecil, jangan belajar jadi fuckboy. Rugi nanti Lunar sama Arkan nyekolahin kamu tinggi-tinggi."


"Davian sih cita-cita jadi fuckboy, tapi yang kejadian malah jadi sadboy." Jawab si empunya nama.


"Dasar." Gemintang bergumam lirih, sambil merangkul bahu Davian. Davian ini sosok yang mengingatkan dirinya pada Fajar, sang putra.


"Om Galaksi?" Aroon memanggil.


"Hm?"


"Salam buat Onti-Onti cantik disana. Astronot, Alas, Angka, Riksa, sama Rora. Kalau libur panjang, ditunggu kedatangannya."


Si empunya nama tersenyum tipis sambil mengangguk. Tak lama kemudian, ia mengeluarkan sebuah amplop dari saku celanananya. "Rora buat khusus untuk kamu."


"Buat Aroon?"


"Ya."


Aroon menerimanya dengan suka cita. Sudah bukan rahasia umum lagi, jika Aurora putri bungsu Galaksi sangat dekat dengannya. Aroon juga sudah menganggap Aurora seperti adik sendiri.


"Aroon terima. Makasih, tolong sampaikan ke Aurora ya Om."


Galaksi mengangguk. Gemintang dan Galaksi memang tidak akan mampir ke Indonesia. Setelah mengantarkan para Cicit Radityan itu dengan selamat, keduanya sudah harus kembali ke New York.


"Sampai jumpa beberapa bulan lagi, anak muridku." Gemintang berujar sambil menyentuh bahu Arsyad.


"Kembalilah ke sekolah, urus urusanmu yang belum tuntas. Baru nanti, kamu mulai segalanya dari awal dengan kami." Imbuh Galaksi.


"Baik Om."


"Jaga diri baik-baik, calon pemimpin dari segala pewaris." Bisik Gemintang sambil tersenyum.


"Calon pemimpin dari segala pewaris?" Bingung Arsyad.


"Sampai jumpa nanti, Syad. Sekarang tuntaskan dulu pendidikanmu." Galaksi berujar sebelum mereka berlalu.


Arsyad mengangguk. Ia dan ketiga saudaranya mengantarkan para Om mereka setelahnya. Dua mantan agen elite itu kembali mengudara setelah beberapa menit tiba di tanah air.


"Yanda?"


Arsyad menoleh, mencari sumber suara tersebut. Sejak ia meninggalkan sang istri yang tengah tertidur, mereka memang tidak berjumpa lagi. Kini, ia bisa melihat istrinya itu lagi. Gadis itu nampak cantik dalam balutan dress berwarna koral, panjangnya 5 centi di atas lutut. Di samping kanan dan kirinya ada masing masing satu bodyguard. Sedangkan di dibelakangnya, ada sang ayah yang nampak berjalan dengan penuh wibawa.


"Yuk, pulang." Ajak Kara, saat tepat berada di hadapan sang suami.


"Papihmu?"


"Papih ikut kok. Papih mau nginep."

__ADS_1


Deg


"Mampus. Crazy rich Surabaya mau nginep di rumah. Mana moodnya lagi buruk lagi." Davian berbisik kecil pada saudaranya, Davian.


"Rumah kita bukan gubuk reyot kali, sans aja." Timpal Davian.


"Bukan gubuk reyok apa? Ini Crazy Rich loh, pernah nginep di rumah kita sekali juga udah gak betah. Noh, tanya sekretaris pribadinya. Katanya, kasur rumah kita kurang empuk."


"Masa sih?" Bingung Davian.


"Gue nyadap percakan mereka lewat interkom yang terhubung di telinga mereka, noh." Tunjuk Davian sambil terkekeh. "Guekan iseng. Mau tau reaksi Crazy rich kalau nginep dirumah orang."


"Dasar, elu. Itu privasi orang woi!"


Davian mengedipkan bahunya acuh. "Di dunia ini, gak ada koniksi yang gak bisa dijangkau selama gue ada." Kekehnya bangga.


"Serah lu deh, penjahat dunia maya."


"Gini-gini gue juga sodara lu ya?! Kita lahir dari rahim yang sama slurrr."


"Tau ah, gelap."


"Terang cinta."


"Gelap, karena wajahmu."


"Asuuuu." Ujar Davian ketus.


Kepulangan Arsyad, Kara dan si kembar tentu disambut baik oleh seisi mansion Radityan. Van'ar dan Aurra selaku orang tua Arsyad juga kini bisa bernapas lega, karena putra sulung mereka pulang dengan selamat tanpa kekurangan apapun. Kedatangan Tyoga juga tak ubahnya seperti sebuah tamu kehormatan.


Sehubungan dengan adanya Tyoga, Van'ar juga tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ayah tiga anak itu langsung meluruskan masalah putra-putri mereka agar kedepannya tidak akan ada perseteruan lagi.


"Apa?!" Tyoga menatap lawan bicaranya tajam. "Bisa-bisanya dia mengambil keputusan ini tanpa sepengetahuanku!"


Van'ar menghembuskan nafasnya gusar. Agaknya pembicaraan kali ini tidak akan mudah.


"Bisa anda tenang? Biar saya uraikan keputusan yang putra saya ambil."


"Pak, tolong pelankan suara anda. Saya mengerti kerisauan anda."


Tyoga menatap lawan bicaranya tak bersahabat. "Anda memiliki waktu 20 menit untuk menjelaskan."


Van'ar memulai penjelasannya. Ia sudah mengetahui keputusang sang putra, langsung dari sumbernya. Pun dari kedua saudaranya, Galaksi dan Gemintang. Van'ar pikir, ia harus menyelesaikan masalah ini dengan besannya tanpa mengulur-ulur waktu lagi. Takutnya, nanti kesalahpahaman terjadi lagi.


"Jadi dia akan membawa putriku tanpa sepengetahuanku?" Tyoga bersuara.


"Arsyad pasti akan memberitahu anda, pak. Pada waktu yang tepat. Saya hanya meluruskan sebagian maksudnya."


Tyoga nampak berpikir sejenak. Membiarkan sang putri tinggal di luar negeri bukanlah perkara mudah. Baik Nenek maupun Kakek Kara memiliki koneksi yang mumpuni untuk menjangkau putrinya. Tidak. Tyoga tidak mau lagi sang putri berada dalam bahaya.


"Apa keselamatan putriku bisa kalian jamin?"


"Insaallah. Kami upayan yang terbaik. Jika masih ada yang terjadi di luar prediksi, itu sudah kehendak tuhan."


Tyoga mengangguk faham. "Siapa guru putramu itu?"


"Galaksi dan Gemintang."


"Ok." Tyoga merespon singkat sambil menatap gaway puluhan juta miliknya. Tangannya sibuk mengetik untuk beberapa saat.


"Baik. Tempat tinggal untuk mereka sudah siap. Lokasinya dekat KEDUBES Indonesia untuk New York, Amerika Serikat."


"Maksud anda?"


"KEDUBES indonesia untuk As masih memiliki hubungan kekerabatan dengan keluargaku. Aku hanya memastikan keselamatan putriku selama jauh dari jangkauanku."


Van'ar mengangguk faham. Mungkin jalan pikiran orang kelewat kaya memang begitu. Ingin memantau putrinya saja sampai-sampai lewat KEDUBES. Koneksi seorang Tyoga Yosep Djuarta sang Crazy Rich Surabaya memang tidak bisa di ragukan lagi.


📚📚📚


"Ih, kok dasinya miring?" Tangan mungil itu cekatan membenarkan apa yang menurutnya kurang estetik.


"Alat tulis yanda sudah, topi sudah, jas sudah, tinggal apa lagi?" Gadis cantik yang juga mengenakan sèragam sekolah itu, menggigit bibirnya saat mencoba berpikir.

__ADS_1


"Jangan digigit."


Gadis cantik itu refleks melepaskan bibir bawahnya yang ia gigit. Senyum kikuknya mengudara, saat sadar jika ia sedari tadi di perhatikan.


"Hari ini homeschooling?"


"Iya. Sama les juga."


"Les apa?"


"Hm, banyak." Jawab gadis cantik tersebut. "Kalau yanda jadwalnya hari ini apa?"


"Seperti biasa." Jawab lelaki rupawan tersebut, sambil menyentuh pucuk kepala sang istri, gemas.


"Seperti biasa itu gimana?"


"Upacara bendera, masuk kelas, belajar, mengerjakan tugas, isoma, belajar lagi, pulang setelah *** selesai, dilanjut ekstrakulikuler." Arsyad menuturkan dengan detail.


"Kara tuh gak pernah upacara bendera. Gimana sih rasanya?"


"Hah?"


"Kara gak pernah boleh ikut upacara bendera pas sekolah dasar. Paling Kara duduk di tempat teduh, atau diam di kelas. Masuk sekolah menengah pertama, Kara udah homeschooling."


Ucapan sang istri itu agaknya mampu membuat Arsyad tertegun. Dengan segera, lelaki rupawan itu memeluk tubuh mungil sang istri erat.


"Apa hidupmu begitu terkekang?"


Gadis itu mengangguk, sambil mengeratkan pelukannya. "Kara gak pernah punya temen. Gak pernah ngerasain keliling sekolah secara nyata. Gak pernah belajar di kelas yang ramai. Kara juga gak pernah jajan di kantin sekolah. Kara-"


"Cukup." Arsyad menyela. "Sudah cukup." Lelaki rupawan itu tak kuat mendengarkan lebih jauh lagi.


Ia tak sanggup membayangkan bagaimana sang istri dulu hidup didampingi hari-hari monoton yang membosankan.


"Kara?"


"Hm."


"Di New york nanti, ayo kita hidup apa adanya."


"Hidup apa adanya?"


"Hm." Arsyad melonggarkan pelukannya. "Kita lakukan apapun yang kamu mau?"


"Sungguh?" Manik hazelnut milik gadis cantik itu berbinar antusias.


Arsyad mengangguk sebagai jawaban. "Yanda udah janji, ya. Yanda harus tepati janji." Ukarnya antusias, sambil memeluk sang suami erat.


"Yanda sudah janji sama kara. Jangan ingkar janji."


Arsyad membalas pelukan tersebut tak kalah erat. "Ya, aku janji. Ayo kita hidup apa adanya nanti."


"Aku akan berusaha lebih keras, agar apa yang kamu inginkan dapat terwujud, Kara."


Untuk saat ini, tugas Arsyad adalah back to school. Ia harus menuntaskan pendidikannya dan meraih hasil yang memuaskan. Barulah setelah itu, ia akan memenuhi janjinya pada sang istri. Ia akan berusaha dengan keras membuat hari-hari sang istri lebih berwarna dan bermakna.



****


TBC


Yuhuu.... yanda update👐


Absen dulu yuk.... pakai tahun kelahiran ya 😊


Ayo.... yang nunggu up mana? maaf baru bisa up yo. Tugas di dunia nyata sedang numpuk. Aku sedang buat beberàpa artikel buat Relawan TIK. Wokeee.... jangan lupa like, vote, share, komentarrrrr dan follow Author. IG Karisma022 dan Tendeansenopati.wp juga di follow ya.


Maaf kalau pendek partnya. Aku usahakan habis sahur update, karena pas sahur sinya lebih bagus. Jaringan disini buruk. Jadi tolong di maklumi ya🙏


Jika berkenan, mampir juga ke TENDEAN di wttp💙


Sukabumi 02 Mei 2021

__ADS_1


__ADS_2