Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
. 81. Rindu Ingin Betemu


__ADS_3

. 81. Rindu Ingin Betemu



"Iya, gue punya segalanya. Tapi, menggapai dia aja gue gak bisa."-Naraess AlGean Hazka Dwiarga


****


"Huft, kenyang."


"Kenyanglah, habis makan stik, lo ngegares pasta juga. Mana bisa gak kenyang." Komentar lelaki yang baru saja mendudukan dirinya di dekat sang sahabat tersebut.


"Cak, si boss dimana?"


"Lagi angkat telpon, masih telponan kali." Jawab lelaki bernama Cakrawala tersebut. "Eh, Gar. Kita kan udah lulus nih, lo jadi stay di Indo atau out nih?"


"Hm, gue sih kayaknya mau out ke luar. Gue udah apply ke beberapa universitas juga."


"Wih, gak bilang-bilang lo!" Protes Cakrawala.


"Memangnya gue gak tahu, lo juga udah keterima di universitas Zùrich di Swiss kan? Ngaku deh lo. Pengkhianat." Sarkas Sagara.


Cakrawala menggaruk belakang kepalanya kikuk. "Kebetulan kali, dewi fortuna lagi baek sama gue."


"Tai lah, memangnya kita sahabatan baru setaun-dua tahun? Kita udah sahabatan sejak masih zigot. Gue tahu sepinter apa isi otak lo itu, Cak."


"Biasa ae lah." Kekeh Cakrawala.


"Udah kenyang lo pada?" Tanya seorang lelaki rupawan berjas rapi tersebut.


"Udah dong." Jawab Sagara sambil mengelus perutnya. "Thank you so much, boss. Gila, lidah gue dimanjain banget hari ini."


Lelaki rupawan itu mengangguk sambil mendudukan dirinya di sofa. Mereka memang tengah berada di rooftop sebuah caffe ternama di kota kembang. Dalam rangka perayaan kelulusan angkatan mereka, lelaki rupawan itu memboyong satu kelas teman-temannya untuk makan gratis di caffe tersebut.


"Sering-sering deh lo nraktir anak-añak sekelas. Gue jamin, sebentar lagi lo kismin bos." Kekeh Cakrawala.


"Gimana mau miskin, orang tiap hari keluarga gue nyari duit. Mana ada waktu buat ngehabisinnya."


"Njirr, omongan lo bener amat boss." Timpal Sagara.


Lelaki rupawan itu terkekeh kecil. "Tagihan udah gue bayar. Sepuluh juta doang, gampang."


"Sepuluh juta, sekali makan?" Kaget Sagara dan Cakrawala.


Gean mengangguk mantap. "Itu bisa dibilang kecil. Sobat gue yang tinggal di Amrik, sekali makan bisa dua kali lipat dari itu."


Sagara dan Cakrawala saling berpandangan. Kaget akan sikap santuy sang sahabat. "Dompet lo gak kering boss?"


"Iya. Gak makin tipis kan?"


Gean menggeleng mantap. "Dompet gue memang udah tipis, orang isinya kartu semùa." Jawab Gean, sambil menunjukan dompet kulit miliknya. Ia memang jarang mengantongi uang tunai. Sekalipun mengantongi uang tunai, bentuknya adalah mata uang negara lain seperti dollar, euro, poundsterling, dan sebagainya.


"Tapi, lo pada jangan lupa ketring yang gue minta ya. Buat 500 orang." Ujar Gean mengingatkan.


"Angkut di mobil lo, Gar. Gue malam ini bawa Porsche yang biasa."


"Ok." Setuju Sagara. "Memangnya itu buat siapa sih boss?"


"Kaum duapa sama ayak yatim piatu." Jawab Gean gamblang.


"Heh?" Kaget Sagara dan Cakrawala.


"Gue lama gak mampir ke panti asuhan bunda Maryam. Mereka pasti kangen sama gue. Gue bawa makanan itu buat mereka, samà kaum duapa di sekitar."


Sagara dan Cakrawala manut-manut mengerti. Ini memang sisi lain Gean yang jarang orang ketahui. Gean itu orangnya 'gatelan'. Tangannya selalu gatal jika kebanyakan uang ada di dalam sakunya, tanpa digunakan untuk apapun. Hidup serba berkecukupan, membuatnya terkadang kebingungan menggunakan uang. Oleh karena itu, Gean suka memberikan uang sakunya secara cuma-cuma.


Bukan saja kepada kedua sahabatnya, Sagara dan Cakrawala. Teman satu kelasnya saja langganan traktiran Gean. Karena orang tuanya sibuk bekerja, pun dengan kakaknya yang sibuk mengurus bisnis keluarga. Gean sering kesepian. Oleh karena itu, menghamburkan uang agar bisa membeli kebersamaan bersama banyak orang sering kali Gean lakukan.


Sejak kecil Gean lebih banyak diasuh oleh pengasuh. Pengurusnya biasa mengajak Gean pergi ke panti asuhan semasa kecil. Hasilnya, hingga dewasa sekalipun Gean selalu senang berkunjung ke panti asuhan. Bunda Maryam adalah mantan pengasuhnya, yang dulu bekerja untuk menjaganya. Kini wanita itu mengabdikan hidupnya untuk mengurus anak yatim piatu yang hidup sebatang kara.

__ADS_1


"Eh, ternyata SMA Dandelion juga lagì ngadain Prom Night malam ini." Ujar Cakrawala, sambil menunjukan gambar di layar smartphone miliknya.


"Oh, iya. Gue juga lihat di unggahan website resmi SMA Dandelion. Acaranya di sekolah gitu sih, tapi gak kalah meriah."


Gean yang sedari tadi hanya menyimak, ikut penasaran. Ia ingin memastikan tentang seseorang yang kemungkinan besarnya ada di acara tersebut.


"Mana, coba gue mau lihat." Ia merebut smartphone milik Cakrawala cepat. Ia menatap lekat setiap gambar yang dimuat dalam artikel yang diunggah di laman website resmi tersebut.


"Wih, iya nih. Selebgram Arrabella juga buat bomerang pas acara." Tambah Sagara. "Cantiknya calon bidadari syurga."


"Mana, gue lihat." Ujar Gean cepat.


"Eh, eh, HP gue boss?"


"Bentar, gue mau lihat."


"Lo kan bisa ngestalk IGnya, boss. Gak usah manipulasi user dong. Lo gak follow Arrabella memangnya?"


"Follow." Ujar Gean jujur.


"Lah, terus?"


"Mau aja ngestalk dia lewat akun lo pada." Ujar Gean yang langsung membuat Sagara dan Cakrawala menepuk jidat keras.


"Ampun dah, orang bucin gitu amat."


"Hooh. Orang bùcin buang aja ke laut kali ya?" Usul Sagara. "Iya juga tuh." Jawab Cakrawala cepat.


"Berani lo pada buang gue ke laut? Mau gu suruh Hotman Paris buat nuntut lo pada?!" Gean menatap kedua sahabatnya geram.


"E-enggak boss, canda." Kekeh keduanya kikuk.


"Dia kelihatan berkali-kali lipat lebih cantik kalau senyum. Sayang, gue gak bisa jadi sumber senyumnya dan gak bisa lihat secara langsung senyumnya." Gean bermonolog. Sagara dan Cakrawala kompak terdiam.


"Ck, lihat mukanya makin rindung gue. Apalah daya, jarak membentang. Walaupun gue susulin ke Jakarta, mustahil gak ada si kutu kupret Acean yang SOK kegantengan itu di sisinya." Lanjut Gean.


Katakanlah Gean bucin. Tapi, dia memang tulus menyukai putri salah satu tentara kebanggaan RI tersebut. Ia ikhlas mengalah beberapa waktu kebelakang, karena ia harus bolak-balik Indo-New York. Belum lagi saat ini Gean juga dituntut untuk lebih fokus kepada dunia penerbangan.


"Ok." Jawab Sagara dan Cakrawala. Mereka manut saja, karena tahu jika mood Gean yang langsung berubah setelah melihat wajah yang dirindukan. Gean rindu ingin bertemu. Tapi, untuk saat ini sepertinya tuhan belum mengizinkan.


📚📚📚


"Buruan, lelet amat lo pada? Perasaan tadi udah sarapan 5 lembar roti sama nut*la. Ditambah dua gelas susu coklat. Kok lo pada masih lelet geraknya?" Decak kesal lelaki bertopi putih keluaran brand nike tersebut.


"Capek bos, kelebihan muatan di perut."


"Iya. Engap nih, kayaknya gue butuh inhaler."


"Alesan. Lo pada jarang olahraga sih, makanya mager." Decak lelaki rupawan bertopi tersebut.


Tubuhnya terbalut pakaian sport serba putih-abu. Dengan bawahan celana joger sport, dipadukan dengan sepatu sport putih keluaran nike yang harganya bisa mencapai belasan juta.


"Istirahat dulu napa boss, kita beli kue banros. Enak kayaknya, masih anget-anget lagi."


"Iya, boleh tuh. Kalau gue cilor aja jalan kok. Atau Surabi lima biji." Tawar Sagara dan Cakrawala.


Gean memutar bola matanya malas. Ia mengajak keduanya ke Gazibu untuk berolahraga, bukannya berwisata kuliner. Pada hari minggu seperti saat ini, area Gazibu yang dekat dengan salah satu ikonik kota kembang yaitu Gedung Sate, pasti akan ramai dipadati pengunjung. Setiap minggu memang akan ada pasar Gazibu, dimana berbagai kios berdiri di sekeliling area monumen perjuangan rakyat.



Mulai dari sandang, kebutuhan dapur, makanan, dan berbagai kebutuhan lainnya bisa dijumpai di pasar tersebut. Area pasar berdekatan dengan area Gazibu, tempat Gean mengajak kedua sahabatnya berolahraga pagi di sepanjang lintasan lari yang ada.



"Yuk boss, rehat dulu."


"Iye, lapar bos. Macam mana nih?"


"Ck. Brisik lo pada. Gak lihat apa kita jadi tontonan!" Dengus Gean kesal.

__ADS_1


"Bukan kita, tapi lo boss." Ujar keduanya bersamaan.


"Hah?"


"Lo sih dandanannya necis gitu. Dari atas sampe bawah berduit semua."


"Iya. Harusnya lo pake baju karung goni aja boss, jadi gak mencolok."


Gean memutar bola matanya malas. Makin siang, kelakuan kedua sahabatnya makin ngawur. Belum lagi dengan keadaan perut keduanya yang kosong, kombinasi yang sangat pas.


"Udah, kita minggir." Ajak Gean.


"Yes!" Seru Sagara dan Cakrawala senang. Tentu keduanya senang, karena akhirnya mereka bisa terhindar dari lautan manusia yang tengah berolahraha di lintasan.


"Tadi tuh bukan lari pagi, tapi jalan santai." Komentar Sagara.


"Iya. Lelet banget."


"Lelet karena lo pada yang bangun kesiangan. Jadi keburu banyak orang!" Keal Gean. Sagara dan Cakrawala hanya cengegesan mendengarnya.


"Udah, buruan ambil mobil. Kita sarapan di caffe biasa."


"Ok boss."


Ketiganya berlalu menuju parkiran, tempat mereka memarkir kendaraan mereka. Selama berada di area Gazibu, mereka memang nampak mencolok. Gean utamanya. Lelaki itu nampak memiliki magnet tersendiri walaupun gayanya sederhana. Nominal yang melekat pada setiap benda yang dipakaianya, tentu tidak bisa dibohongi.


"Eh, ngapain lo berhenti boss?"


"Iya. Mobil kita didepan, noh?"


Gean tak menggubris. Maniknya masih tertuju pada satu titik yang kini menarik perhatiannya.


"Lo lihatin apaan boss?"


"Itu,"


"Itu?" Bingung Sagara dan Cakrawala. "Itu bukannya..."


"Arrabella." Jawab Gean lirih. Disana, di sebrang tempatnya berdiri, gadis itu hadir secara nyata.


Ia nampak tengah membeli bunga pada seorang pria tua penjual bunga. Di sampingnya, berdiri seorang lelaki yang wajahnya familiar bagi Gean. Lelaki itu nampak akrab bersama gadis berhijab tersebut. Dia malah rela merepotkan diri membawa banyak belanjaan.


"Itu sama, mantan ketua OSIS SMA Dandelion 'kan?" Lirih Cakrawala.


"Iya. Arsen, namanya Arsen kan." Imbuh Sagara.


Gean tidak merespon. Lelaki bertopi itu hanya tersenyum kecut menanggapinya. Melihat keduanya Gean sadar. Sadar akan besarnya perbedaan diantara ia dan lelaki tersebut.


"Cabut."


"Eh," kaget Sagara dan Cakrawala. "Bukannya lo rindu dia boss?"


"Hm, udah kebayar kok. Bisa lihat dia aja, gue bersyukur." Pungkas Gean sebelum berlalu. "Yuk balik, gue harus packing. Penerbangan gue dipercepat."


"Ok." Jawab Sagara dan Cakrawala patuh. Keduanya tahu kondisi hati Gean.


Lelaki yang gelagatnya seperti f*ckboy itu, agaknya menjadi sadboy hari ini. Mungkin benar, tuhan belum memberi tuan muda mereka kesempatan dibalas cintanya. Sabar tuan muda, nona mudamu masih dalam perjalanan.



****


TBC


Hello... BCT update lagi ya👐


Kangen sama mereka kan? part ini Gean dulu yang mùncul. Dia lama gak nongol, jadi harus ada part buat dia biar gak syirik. Besok, kita jumpa sama Acean😘 rindu Acean, Arra dan Triple D?


Ok, sebelum itu tinggalkan like, vote, komentarr, share, dan follow Author. Follow IG Karisma022 atau akun WP @nengkarisma ya🖒

__ADS_1


Kita jumpa lagi nanti, see you. ILYSM FOR ALL READERS😘😘


Sukabumi 20 Mei 2021


__ADS_2