Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
.53-UJIAN


__ADS_3

📚.53-UJIAN



"Ada yang tahu mata pelajaran apa yang paling sulit diujiankan? Matematika? Bukan. Bukan Matematika, atau fisika dan sebagainya, melainkan ujian hidup dari dia-Calon mertua"-Arsenov Rayyan


****


Tiga suara yang berbeda karakter, terdengar memenuhi area pemancingan milik pribadi tersebut. Suara-suara terdebut berkumandang kala melontarkan pertanyaan dan menjawabnya. Seperti saat ini contohnya, ketika pertanyaan kembali di lontarkan saat kail berisi umpan mereka behasil dimakan ikan.


"Kalian tinggal di luar Jakarta?"


"Iya om."


"Enggak om."


"Kalian anak SMA?"


"Iya om."


"Apa alasan kalian berada di tempat ini?"


"Mancing om."


"Hubungan kalian dengan tuan rumah ini?"


"Orang asing om."


"Cucu mereka om."


Dua manik beda warna itu menatap si empunya suara penuh selidik.


"Kenapa? Gue memang cucunya Apih sama Amih." Tuturnya, menatap rivalnya sengit.


"Sok ngaku-ngaku lo!"


"Eh remahan oreong, gue ini memang cucunya tuan rumah ini!" Sengit si lawan bicara tidak mau kalah.


"Kamu cucu dari pihak mana?" Tanya Van'ar menengahi.


Setahunya, mertuanya tidak memiliki cucu model begini. Ia juga tidak tahu siapa orang tua dari lelaki rupawan yang sayang terlalu menawan ini. Ya, terlalu menawan hingga sebelah telinganya di anting macam perempuan. Ish, Van'ar mendapatkan satu minus dari penilaiannya untuk Gean.


"Dari relasi bisnis dan teman lama." Jawab Gean.


"Bukan satu darah dengan keluarga Haidan?"


"Bukanlah om. Kalau sedarah, mana bisa saya nikahin chèri kelak." Ujarnya gamblang.


Van'ar menatap datar lawan bicaranya. Menikahi putrinya? Lewati dahulu 1001 macam halang rintangan yañg akan diberikannya. Tidak akan semudah itu meraih putri kesayangannya. Toh, Van'ar pun belum memiliki niatan untuk melepaskan putri cantiknya.


"Mimpi lo!" Cibir Arsen.


"Yeh, nyahut bae lo bambang." Jawab Gean tak suka.


"Apa?"


"Lo yang apaan?!"


"Sudah, sudah. Kalian tidak malu berdebat didepan saya?!"


"Hehehe, maaf om." Kekeh Gean menyudahi.


"Maaf om." Ujar Arsen juga.


"Hm."


Sudah 60 puluh menit berlalu, selama itu pula mereka bertiga memancing di tempat tersebut. Duduk sambil menatap air kolam yang keruh, sambil sesekali menjawab pentanyaan calon mertua. Sedangkan yang lainnya, memancing di kolam pemancingan lainnya. Ada Arsyad yang didampingi oleh istrinya, si triple, Arra, Sagara dan Cakrawala. Mereka bahkan sesekali menetawakan Gean juga Arsen yang tengah menghadapi UJIAN saat ini. Iya, UJIAN dari calon mertua.


"Lo tahu gak, ujian, ujian apa yang paling sulit?" Tanya Sagara, saat ia dan Cakrawala tengah menonton boss mereka beraksi.


"Matematika. Iya kan? Secara, matematika itu bikin mumed."


"Salah."


"Terus, apaan dong? Atau fisika? Fisika kan juga sama kayak matematika, banyak rumus." Ujar Cakrawala tak mau menyerah.


"Salah."


"Lah, terus?" Bingung Cakrawala.

__ADS_1


"Yang paling sulit adalah...."


"Ujian yang diadakan oleh camer." Jawab suara lain, selain keduanya.


"Gue bener kan?" Tanyanya.


Sagara mengangguk, lemot seketika. "Kok lo bisa tahu?" Tanyanya.


Davian, si empunya jawaban tersenyum tipis. "Terlalu sering nyobain. Gue kan, punya segudang cewek." Kekehnya, membuat Sagara dan Cakrawala terbengong-bengong.


📚📚📚


'Ujian masih berlanjut, harap tenang pemirsa.' Gumam lelaki tampan yang kini sudah memegang pisau daging tersebut. Menggantikan pancingan yang digunakannya dua jam yang lalu.


'Ujian hidup.... lebih berat dari ujian nasional.' Batin lelaki lainnya, yang tengah memegang seekor ikan Mujair tersebut. Arsen.


"Ayo. Kalian kenapa malah diam?" Tanya sebuah suara berat yang langsung membuyarkan lamunan keduanya.


"I-ya om." Ujar keduanya serempak.


Selepas memancing, ujian dilanjutkan lewat sesi bincang-bincang lewat cara lain. Ya, kini pria yang berprofesi sebagai TNI itu tengah meminta kedua pemuda yang tadi diintrogasinya untuk mengolah hasil memancing mereka. Van'ar cuma mau melihat, sejauh mana skill keduanya ketika di hadapkan dengan aktivitas sehari-hari seperti memasak.


"Ikannya kalian potong."


"P-otong gimana om? Mereka masih mengap-mengap gitu. Saya gak tega." Gean buka suara.


"Tidak tega?" Tanya Van'ar memincing.


'Bunuh nyamuk aja gue gak tega om. Apalagi bunuh ikan hidup dan gemuk kek gini!' Batin Gean.


"Kamu tidak berani memotong ikan?" Tanya Van'ar.


'Etdah busyet, udah dibilangin gak tega om. Gean kan cinta alam dan sesama mahluk hidup.'


Van'ar menatap lelaki muda di hadapannya penuh intimidasi. Membàca raut wajah pemuda satu ini mudah, terlampau mudah.


'Ada yang gak beres nih.' Batin Gean, sadar akan kemampuan Van'ar.


Maka dengan segera ia merubah mimik wajahnya. Jangan lupakan darah penjelajah langit yang mengalir di tubuhnya. Selain itu, ada darah orang-orang jenius juga yang mengalir ditubuhnya.


'Dia mengandalikan ekspresinya.' Gumam Van'ar, sambil tersenyum tipis.


Van'ar tersenyum tipis melihat guratan pisau yang melintang apik, bah chief ahli ketika memotong ikan. Ada teknik tersendiri dalam memotongnya.


"Kenapa om? Aneh ya sama potongan ikannya?" Tanya Asen kikuk. "I-ini cara ayah saya kalau motong ikan. Melintang dibagian pundak, supaya sebagian dagingnya terbelah. Atau disayat di beberapa bagian dagingnya, agar mudah saja saat memasaknya, dan bisa cepat matang."


"Hm."


Arsen menghela nafasnya kecil. Setidaknya ia masih mendapatkan respon yang baik. Dia memang sudah terbiasa soal masak-memasak. Toh, ia dan ayahnya hidup mandiri berdua selama betahun-tahun lamanya.


"Ini om, ikannya sudah siap." Ujar Gean menyela, sambil menyodorkan ikan Mas yang tadi sempat ragu ia bunuh karena tak tega.


"Kamu sudah potong ikannya?"


"Iya om. Lihat, saya cuma butuh memotong sedikit bagian." Tunjuknya, pada bagian goresan yang hampir luput dalam penglihatan.


Gean cuma mengiris bagian perut bagian bawah dengan ukuran sedang, sekiranya cukup untuk mengeluarkan isi perut si ikan. Sisanya, ia tidak menggores bagian lain, karena ia tahu ikan Mas memiliki struktur daging yang lembek. Jika di goreng akan memakan waktu cukup lama untuk matang, dan sukar kering.


"Darah ikan Mas cenderung lebih banyak dari jenis ikan payaw pada umumnya, jadi tadi saya cuci cukup lama di bawah air yang mengalir." Tutur Gean.


"Kapan?" Bingung Van'ar, tak sadar jika pemuda itu berbuat demikian.


"Barusan, pas om ngombol sama nih orang." Tunjuknya, pada Arsen.


'Satu sama, cuy.' Batin Gean. Membuat Arsen berdecak kecil, tak mau kalah dengan mudah.


"Hm." Respon Van'ar.


Ia juga cukup terkejut, karena nyatanya bocah yang awalnya takut memetong ikan dengan dalih tak tega itu, bisa memotong ikan dengan rapih.


"Terus, ini mau di masak apa om?" Tanya Arsen, bertanya terlebih dahulu.


"Kalian, harus masak sesuatu dengan hasil memancing kalian. Jangan meminta bantuan kepada siapapun." Ujar Van'ar, sebelum ia berlalu membawa ikan hasil memancingnya sendiri yang sudah ia bersihkan.


"Ok. Waktunya masak!" Ujar Arsen sambil tersenyum tipis.


"Ck. Anak mamah Gea di suruh masa? Dunia bisa geger nyium aromanya nanti, apalagi nyicipinnya." Ujar Gean berbangga diri.


Arsen menatap rivalnya datar. Dia juga tidak mau kalah, lihat saja nanti. Baik Arsen maupun Gean akhirnya berlalu untuk menyelasaikan ujian terakhir mereka. Sedangkan para muda mudi lainnya, tengah asik menunggu di ruang makan. Di jamu dengan hasil mancing Van'ar di awal, yang sudah di olah menjadi berbagai menu.

__ADS_1


"Em, Ayah, boleh Arra tanya?"


"Hm."


"Tujuan ayah melakukan semua itu, apa?" Tanya Arra, sambil menatap sang ayah.


Semua orang di sana juga penasaran. Apa yang mendasari Van'ar untuk melakukan semua itu. Mengintrogasi Arsen dan Gean dengan cara yang terbilang unik.


"Ayah cuma ingin mengenal mereka." Jawab Van'ar, singkat, jela dan padat.


Bukan, bukan alasan untuk mencari mana kandidat terbaik untuk putrinya. Akan tetapi, yang Van'ar lakukan hanya tes untuk mengetahui sifat juga karakteristik keduanya secara tidak langsung. Secara tidak langsung, Van'ar hanya ingin mengenal juga melihat bagaimana potensi para anak muda jaman sekarang saat dihadapkan dengan sesuatu yang serius. Toh, Van'ar sendiri tidak memberikan lampu hijau untuk siapapun yang berani mendekati putrinya. Karena untuk saat ini, belum waktunya sang putri diganggu. Mungkin kelak, baru Van'ar akan pikirkan jika ada yang berniat serius. Itu pun jika Arra suďah berhasil menyelesaikan study-nya, juga meraih apa yang dicita-citakan olehnya.


"Om, ini ikannya sudah masak." Ujar Arsen, membuat mereka semua beralih fokus.


"Woah, masak apaan lo sen?" Antusias Davian.


"Pecak ikan mujair."



"Wih, mantap tuh." Komentar Davin, tak kalah antusias.


"Nih, namanya ketos multitalenta. Masak bisa, otak encer, usaha jalan, wajah oke. Mantul deh!" Komentar Davian, sambil di hadiahi dua acungan jempol dari saudara kembarnya.


"Harusnya sedep bener!"


"Hooh, bikin ngiler." Antusias si kembar.


"Wah, si boss bau-baunya bakal kalah nih." Bisik Cakrawala.


"Hooh. Saingannya ketos, dia mah apa atuh. Anak sultan yang suka rebahan." Imbuh Sagara.


"Eh, bawa apaan lo boss?" Bingung Cakrawala, saat melihat Gean datang membawa sebuah mangkok persegi yang terbuat dari kaca. Di dalamnya, ada sesuatu yang terbalut alumunium foil.


"Pepes ikan mas." Ujar Gean, bangga.


"Pepes?" Kiki Sagara. "Lo biasanya kan makan steik, katsu, ayam krispis, dan kawan-kawannya. Mana bisa lo masak gituan bos?" Imbuhnya.


"Kupret, lo ngatain gue?" Kesal Gean, tak mau di remehkan.


"Cuma ragu aja sama kemampuan lo bos!"


Gean tak membalas. Ia lebih memilih menyimpan bawaanya di meja, sambil membuka bungkusan alumunium foil tersebut. Ketika terbuka, semua orang di buat terkejut bukan main.


"Fffftt, lo masak bambu bos?" Cibir Sagara, tak kuat menahan tawa.


"Heh, kutil onta! Jangan sok-sokan lo ya, ini bambu bukan sembarang bambu." Ketus Gean.


"Om, ini hasil masakan saya. Makanan merakyat, bisa dinikmati oleh semua kalangan. Jangan khawatir sama duri-duri ikannya yang menganggu, saya jamin daging, duri hingga tulangnya lunak. Karena saya sengaja masak dengan batu bara dengan api yang stabil dan waktu yang cukup lama." Tutur Asen.


Van'ar memincing, menatap tak percaya akan ucapan lelaki di hadapannya.


"Batu bara?"


"Iya om. Di belakang, amih biasa nyimpen batu bara buat bakar-bakar gitu pas ada acara nyate. Nah, saya pake buat bikin pepes ini."


"Kalau bambunya dari mana?" Tanya Van'ar buka suara.


"Minta."


"Minta?"


"Iya. Mang Ucup tadi bawa bambu buat bikin saung, ya saya minta saja satu ruas." Tutur Gean.


"Dan ini, pepes ikan Mas di dalam bambunya, sudah siap dinikmati selagi masih hangat."



Semua orang terbungkam, karena kali ini penuturan lelaki tampan yang biasanya petakilan itu berhasil membuat mereka tak bisa banyak bicara. Ya, siapa sangka anak sultan bisa kepikiran masak pepès ikan di dalam bambu? Di saat banyak anak sebayanya yang lebih memilih masak ikan yang gampang-gampang saja, di goreng contohnya.


Ujian kali ini, awalnya dipimpin oleh Arsen. Tapi di akhir klasemen, ada Gean si cheesyboy yang mencuri start.


****


Bang Syad update👐


Hayooo.... yang kangen cung? yang ngakak pas baca cung? atau yang salut sama Gean cung? walaupun rada rada error, anak papa Al sama mamah Gea jangan diragukan. Penjelajah langit--beberapa tahun kedepan readers bakal klepek-klepek😆


Hayoo, komentarrrrr. Jangan lupa like, vote, komentar, share juga follow jika sempat. Maaf jika typo masih bertebaran yo🙏

__ADS_1


Sukabumi 24 Januari 2021


__ADS_2