Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
.13-Pembicaraan Dua Pria


__ADS_3

📚.13-Pembicaraan Dua Pria



“Saya yakin bahwa saya tidak mempunyai hak sebagai manusia untuk mengakhiri kehidupan. Itu adalah hak prerogative dari Tuhan Yang Maha Esa.” – Bacharuddin Jusuf Habibie.


****


Manusia hidup dan terlahir dengan hak dan kewajiban sebagai hak prerogative dari tuhan yang maha esa. Dari awal mula terlahir kedunia,manusia memiliki hak. Hak asasi manusia-ialah seperangkat hak yang melekat pada diri setiap pribadi manusia. Sedangkan kewajiban dan seperangkat peraturan atau hak yang wajib dilaksanakan oleh setiap individu. Semua manusia memiliki hak,hak hidup bebas,hak memiliki pekerjaan yang layak,dan hak hak lainya yang diatur dalam seperangkat peraturan lainya.


Ketika hak seorang manusia bersinggungan dengan hak orang lain,maka akan terjadi kesalahpahaman. Adanya ketidakbersinambungan,yang tentunya akan membuat seseorang merasa haknya telah terenggut. Hak seorang anak antara lain beruba kebebasan untuk mengeyam pendidikan. Sedangkan kewajibanya antara lain adalah belajar. Akan tetapi,ketika ulah manusia membuat hak manusia lain terancam apa yang akan terjadi.


Agaknya,inilah yang sempat dialami oleh Arsyad. Hak pemuda tampan itu untuk meraih cita citanya kini telah sirnah. Karena ulah usil manusia lain,bahkan haknya untuk mengenyam bangku pendidikan mulai terancam mengingat kini statusnya telah berubah. Akan tetapi,didikan yang kuat telah menumbuhkan mental yang apik pada pribadi seorang Arsyad An-nass Senopati Az-zzioi. Dia dengan tak gentar mengutarakan tanggungjawabnya,tanpa pandang bulu membuat cita citanya tak bisa ia gapai. Yang terpenting baginya,dia menjaga kehormatan seorang gadis.



Gadis yang sekarang telah dia ubah menjadi istri sahnya. Salah satu mahluk tuhan dari kaum hawa yang amat ia hormati. Karena sejak dini,sang ibu juga selalu berpesan untuk melindungi,menghargai,menjaga dan menyayangi seorang wanita. Jangan berani-berani mengangkat tangan kepada seorang wanita,semarah apapun dia. Jangan sampai membuat harga diri seorang wanita tercoreng,karena wanita mahluk yang istimewa. Kehormatanya adalah permata yang harus dijaga.


"Papih dimana?" Tanya gadis cantik itu lirih.


"Didalam."


"Sedang apa. Kenapa ada tentara disini,apa papih manggil tentara?" Tanyanya lagi lirih.


"Itu ayahku."


"Em,maaf. Kara tidak tahu." Cicitnya sambil menundukan kepalanya.


"Tidak apa apa. Nanti juga kamu hafal semua anggota keluargaku." Ujar Arsyad sambil menoleh.


Menatap gadis disampingnya yang masih tertunduk. Kini mereka hanya berdua disini. Duduk berdampingan diruangan tamu lantai dasar,menunggu Van'ar dan Tyoga yang tengah berbicara.


"Hm,ini." Ujar Van'ar sambil menyodorkan sesuatu dari balik saku jaketnya.


"Apa ini?"


"Al-Qur'an dan uang yang tadi aku gunakan sebagai mahar."


Manik hazelnut gadis cantik itu menatap lekat benda mungil dan empat lembar uang yaitu dua pecahan uang seratus ribu, satu pecahan uang dua puluh ribu dan satu pecahan uang dua ribu rupiah tersebut.


"Kara tidak butuh itu. Ambil kembali saja." Tolaknya.


Arsyad menarik nafasnya cepat,lalu menghembuskanya perlahan. Berbicara dengan seorang gadis nyatanya lebih pelik ketimbang berdiskusi soal organisasi dengan Arsen atau Aroon.


"Ini hakmu Kara. Sudah sepatutnya mahar yang seorang suami berikan,menjadi milik istrinya." Ungkap Arsyad datar.


Walaupun ekspresi dan kata katanya masih tergolong datar dan acuh. Namun percayalah,jika Arsyad tengah berusaha memperbaiki sifat acuhnya tersebut. Terlebih lagi ia telah memiliki istri sekarang. Perempuan biasa mau lebih banyak diperhatikan bukan? Nah,Arsyad tengah mencoba membawa dirinya keranah sana.


"Begitukah?"


"Iya. Ini milikmu,hakmu. Walaupun nilainya tidak seberapa,tetapi ini pemberian pertama dariku untukmu,Kara."


Kara mendongrak,menatap balasan pemuda yang tengah menatapnya lekat. Mereka awalnya hanya dua orang asing yang tidak saling mengenal. Arsyad yang pada dasarnya hampir hilang kendali,tanpa sadar masuk kekamar Kara dan menumpang menenangkat hasrat menggelora didalam tubuhnya dikamar mandi ruangan tersebut. Salahnya,Arsyad malah lupa jika dia belum sempat pergi dari sana dan malah berakhir tidur diranjang queen size milik Kara. Sedangkan Kara-gadis itu juga memang ceroboh,karena lupa mengunci pintu kamarnya sehingga Arsyad bisa masuk.


Namun,mau bagaimanapun juga itu sudah atas kehendak-Nya.


Apa yang terjadi merupakan ketidaksengajaan,yang tentu saja tidak bisa membuat keduanya disalahkan disini.


"Hm,sebenarnya masih ada satu lagi." Ungkap Arsyad,saat melihat Kara mulai mengambil Al-Qur'an beserta uang yang dijadikanya sebagai mahar. Gadis itu memasukan kedua benda tersebut kedalam kotak cantik berukir flora berwarna emas dengan taburan batu batu mulia.


"Apa?" Tanyanya sambil menoleh.


"Nanti,aku akan berikan saat kita sudah sampai dirumah."

__ADS_1


"Iya," Kara mengangguk tipis,lalu mènutup kembali kotak cantik tersebut.


"Kenapa disimpan disana?" Tanya Arsyad basa basi.


"Hm,karena ini milik Kara kan?"


Arsyad mengangguk akward-ucapan gadis itu menang ada benarnya.


"Hm,Kara simpan disini karena ini barang berharga. Barang yang kamu kasih ke Kara untuk pertama kalinya." Ungkap gadis itu menuturkan.


"Ini kotak perhiasan milik mamih. Kata papih,mamih suka simpan barang barang yang dianggapnya berharga disini. Dan al-Qur'an sama uang mahar tadi berharga buat Kara. Jadi Kara simpan disini."


Arsyad mengangguk samar,rasanya ada gelenyar hangat yang memeluk hatinya. Gadis itu menganggap pemberianya berharga. Padahal Al-Qur'an kesayangan Arsyad itu tidak seberapa harganya. Al-Qur'an pemberian sang bunda-yang katanya pemberian sang ayah juga. Kini Al-Qur'an itu menjadi milik Kara-istrinya. Sèdangkan uang 222.000,00 Arsyad pilih karena memiliki artian tersendiri.


22 diawal mata uang tersebut melambangkan tanggal dimana ijab qabul ia dan Kara berlangsung. 22 Desember,bertepatan disalah satu villa dpuncak bogor. Sedangkan angka 2 diakhir nominal mewakili 2 insan yang disatukan pada tanggal 22 tersebut. Arsyad berharap dengan begitu,pernikahan yang memang tidak terencana ini tetap akan membawa kebahagian dan keridhoan. Karena mau bagaimanapun juga,menikah hanya sekali seumur hidup. Pernikahan bukanlah permainan,bukanlah untuk dimainkan pula.


Berbanding terbalik dengan keadaan keduanya yang masih nampak canggung juga akward saat mengobrol. Kedua pria beda usia yang tengah bertatap muka didalam ruangan lain malah lebih nampak saling bersitegang. Pria yang sudah memasuki kepala empat berjas formal dihadapan pria berwajah tenang itu terlihat tengah serius mengutarakan sesuatu.


"Apa kau tidak mengenalku?" Tanya pria berjas formal tersebut.


"Maaf,tapi saya memang tidak mengenal anda. Saya terlalu sibuk dikesatuan akhir akhir ini,jadi saya kurang mengupdate lingkungan luar diluar luang lingkup keluarga dan pekerjaan."


Tyoga berdecih tidak suka akan jawaban pria dihadapanya. Ternyata walaupun wajah rupawanya sering wara wiri dihalaman utama majalah bisnis atau koran,tidak membuat besanya ini mengenal dirinya. Mau ditaruh dimana muka seorang Tyoga?


Pembisnis kaya raya yang dibegi gelar The Crazy Rich Surabayan ini ternyata tidak dikenal oleh besanya sendiri.


"Kalau begitu saya mau to the point saja."


Van'ar mengangguk,dia juga inginya pembicaraan ini to the point saja. Ketimbang harus berbasa basi yang unfaedah menurutnya. Walaupun tahu pria dihadapanya ini bukan orang biasa. Tapi,dia memang tidak mengenal siapakah senenarnya pria yang berstatus sebagai besannya ini.


"Jadi anda dan kekuarga anda tinggal dimana?"


"Dimansion Radityan atau rumah dinas?" Tanya Tyoga lagi.


"Saya yakin,putra saya tidak akan membuat putri anda sulit. Tapi soal kenyaman tempat mereka tinggal,itu kembali lagi pada Arsyad. Dia suami putri anda sekarang. Mau dimanapun tempat tinggalnya,sudah sepatutnya putri anda mengikutinya dengan ikhlas."


"Iya. Tapi setidaknya pria yang bertanggungjawb tidak akan membawa istrinya hidup sengsara." Jawab Tyoga memungkas.


"Kaya atau tidaknya tidaklah menjamin sebuah kebahagiaan. Yang terpenting adalah kedewasaan keduanya. Membangun rumah tangga berati keduanya harus siap dengan tanggungjawab masing masing dalam mahligai yang mereka bangun." Jawab Van'ar lagi.


"Saya mengerti,sebagai seorang ayah anda hanya ingin yang terbaik untuk putri anda. Tetapi untuk masalah nafkah,anda tidak perlu khawatir. Putra saya sudah memilik pekerjaan yang lebih dari cukup untuk menafkahi istrinya."


Kening Tyoga menyerngit, "Bekerja sebagai apakah remaja yang bahkan belum lulus SMA seperti dia?"


Van'ar tersenyum tipis mendengar ucapan pria tersebut. Arsyad putranya memang tidak pernah berujar secara gamblang akan pekerjaan sampinganya. Namun dari sang putrilah,kebenaran itu terbuka tanpa celah.


Orang luar pasti hanya akan menganggap putra putrinya hanya bisa menikmati harta yang dimiliki kedua orang tuanya sebagai bagian keluarga besar Radityan. Namun jauh dari semua itu,pepatah buah jatuh tidak jauh dari pohonya memang benar adanya.


Jika sang putri-Arra sudah menjadi seorang selebgram,model busana muslimah muda yang menjadi brand ambasador disetiap busana rancangan Lunar. Bahkan,pendapatan Arra saja sudah cukup membuat tabungan gadis itu melimpah setiap tahunya. Sedangkan Arsyad si sulung-siapa sangka hobby berbisnis Van'ar tertulah kepada Arsyad. Jika Van'ar dulu memiliki RaRa's caffe hingga kini memiliki 10 cabang diberbagai kota di Indonesia. Arsyad malah memiliki lebih banyak bisnis yang dirambahnya diam diam.


"Anda mengenal Ar3coffe yang akhir akhir ini tengah naik daun?"


"Ar3Coffe. Coffe shop yang sempat viral ditahun lalu hingga kini itu?" Tanya Tyoga membenarkan.


"Iya. Orang luar mungkin tidak akan percaya jika saya mengatakan ini. Siapa sangka,owner coffe shop yang sudah memiliki 4 cabang di Jakarta itu seorang remaja yang bahkan belum lulus SMA?"


Tyoga menatap lawan bicaranya tak percaya. Ar3coffe memang coffe shop yang terkenal dikalangan semua masyarakat. Baik tua maupun muda,orang orang di Jakarta pasti mengenal tempat tersebut. Bukan saja menjual berbagai racikan coffe,tempat tersebut juga memiliki strategi pemasaran yang jitu. Hingga bisa meraup omset yang luar biasa ditiap bualanya.


"Selain itu,bengkel didaerah dekat SMA Dandelion. Bersebelahan dengan pusat kebugaran ARR gym. Bengkel motor car hingga super car yang cukup terkenal dikalangan pecinta kendaraan bercc tinggi tersebut. Para montirnya hampir sebagian besarnya anak SMA dan anak magang kuliahan. Tempat tersebut juga memiliki penggagas yang sama."


"Tidak ada yang ingin saya sombongkan dari putra saya sebagai seorang Radityan. Namun terlepas dari gelar Radityan dibalik gen keluarganya,dia adalah sosok yang mandiri. Soal nafkah lahiriah saya pastikan putri anda tidak akan kekurangan."


Tyoga manut manut mengerti. Bagaimanapun juga sebagai seorang ayah dia ingin putrinya mendapatkan segalanya yang layak. Fasilitas,kasihsayang juģa kenyamanan dilingkungan barunya kelak.

__ADS_1


"Soal nafkah batin,apa anda bisa memberikan suatu jaminan?"


Van'ar mengangguk mantap. "Jika anda ragu,saya berani memberikan keyakinan jika putra saya akan menjaga hal demikian hingga waktu yang ditentukan."


"Tapi mereka sudah menikah. Apa putramu tidak akan menuntut haknya?"


"Insaallah Arsyad sudah cukup dewasa untuk memutuskan hal tersebut."


"Hm,"


Tyoga memilih terdiam sejenak. Menatap nyalang kearah acak. Yang berbicara didepanya adalah seorang abdi negara,ucapanya sudah pasti bisa dipegang pertanggungjawabanya. Inilah yang ingin Tyoga dapatkan dari pembicaraan empat mata ini. Sudut pandang seorang ayah yang mengenali putranya sejauh mana. Sebagai seorang yang sering melanglang buana didunia bisnis,sudah bukan hal lumrah lagi jika ia mengenal keluarga Radityan. Pemilik perusahaan Radityan yang memiliki cabang hampir disetiap negara negara besar seperti di Amerika,Inggris,Malaysia,


Singapura,dan sebagainya.


Tyoga hanya memastikan lebih rinci lagi,soal menantunya tersebut. Sebelum ia mengintrogasi menantunya itu secara langsung,dia memilih untuk mencari tanggapan dari sudut pandang ayahnya.


"Ada lagi yang anda ingin tanyakan?"


"Ada."


"Apa tanyakanlah,anda berhak melunasi rasa kepenasaran anda soal Arsyad putraku."


"Apakah dikeluargamu semua wanita menutup pakaianya secara syar'i?"


Van'ar menyerngit bingung mendengar pertanyaan tersebut.


"Ya. Semua wanita dikeluargaku menutup auratnya dengan syar'i."


"Termasuk penutup wajah?"


"Ya."


Tyoga terdiam sejenak dalam duduknya. Membuat Van'ar bingung dengan reaksi pria dihadapanya tersebut.


"Ada yang menganggu anda dengan hal itu?" Tanya Van'ar hati hati.


"Putriku mengalami Vestifobia."


"Vestifobia?"


****


TBC


Holla,BCT Update lagi yo readers🖐


Hayooo,Kara mengidap apa katanya??


Vestifobia-apa kira"?


Inilah tantangan buat Arsyad kelak,gangguan yang dibawa Kara sejak kecil. Karena itu juga Kara nanti menjaga jarak sama Aurra-mertuanya sendiri. Tapi guys,disinilah Arsyad berperan besar. Selain karena Kara yang sulit ditebak-kedatangan Arsen juga kian menambah tantangan rumah tangga Arsyad.


Cus,komentarnya yo^^


Novel ini insaallah bakal banyak konflik tapi tetep dijalur yang seharusnya kok.


Makanya,readers jan bosan bosan bacanya.


Jangan lupa tinggalkan jejaknya (Like,komentar dan kalau ikhlas boleh vote:)


Typo masih bertebaran yo🙈


__ADS_1


Sukabumi 19 Okt 2020


__ADS_2