
📚.25-Mount Elizabeth
“Jika kita mencintai seseorang, kita akan senantiasa mendoakannya walaupun dia tidak berada di sisi kita,”- Bacharuddin Jusuf Habibie.
****
Langit yang dipenuhi mega mendung tersebut membawa kesan tersensiri bagi siapapun yang melihatnya. Kumpulan mega berbentuk gumpalan bak kapas yang nampak berwarna kelabu. Angin yang cukup dingin terkadang menghembus dibeberapa waktu. Pemandangan kota cantik dihadapanya yang diselimuti kemelut mega mendung,nampaknya dapat menggambarkan perasaan gadis cantik satu ini.
Dengan tatapan yang menatap keluar jendela dengan kosong, gadis berpiama baby pink tersebut termenung. Sudah dua hari dia dirawat di rumah sakit ini, namun rasanya seperti setahun. Semuanya terasa membosankan tanpa alasan. Padahal ruangan megah ini seharusnya menjadi tempat yang nyaman untuk dirinya tinggal selama menjalani masa pengobatanya. Belum lagi sang ayah menempatkan lebih dari 4 orang bodyguard yang bisa menjaga putrinya selama 24 jam non-stop.
Karena sikap protectiv ayahnya itulah yang membuat ruang geraknya terasa amat terbatasi. Maunya, dia dirawat didalam negeri saja. Tidak perlu jauh jauh kesini. Akan tetapi, sang ayah selalu membawanya kerumah sakit ini jika sakit ringan maupun parah sekalipun. Agaknya memang rumah sakit ini sudah menjadi langganan duda kaya raya tersebut untuk menjadi tempat putrinya dirawat.
Kara dirawat di Rumah Sakit Mount Elizabeth. Sebuah rumah sakit besar di Singapura. Letaknya di Mount Elizabeth Road, di daerah Orchard. Mount Elizabeth adalah rumah sakit yang Cukup terkenal reputasinya di Asia. Rumah sakit yang berdiri sejak tahun 1976, menerapkan standar The Joint Commission pada RS mereka.
Mount Elizabeth merupakan salah satu rumah sakit swasta di kawasan Asia Tenggara yang menjadi tujuan 'favorit' masyarakat Indonesia untuk berobat. Bahkan, masyarakat Indonesia juga tidak sungkan merogoh kocek terdalam demi mendapatkan pelayanan terbaik dari rumah sakit di bawah naungan Parkway Hospitals Singapore.
Dr Kelvin Loh, mengungkapkan rahasia di balik ketertarikan masyarakat Indonesia pada rumah sakit yang telah memiliki dua cabang, Mount Elizabeth Orchard dan Mount Elizabeth Novena. Menurut Kevin, pasien merasa kebutuhan di rumah terpenuhi juga di rumah sakit ini. Seperti pelayanan yang baik, ramah dan cepat, makanan yang enak, kamar yang nyaman, tenaga medis yang mempuni, serta teknologi kedokteran yang canggih.
"Selain itu, diagnosa yang akurat, serta hasil pemeriksaan yang tidak perlu menunggu lama hingga berminggu-minggu menjadikan Mount Elizabeth Hospitals begitu digemari," kata Kelvin dalam Mount Elizabeth Hospitals Annual Medical Seminar Synergy in Action di Mandarin Orchard Hotel, Orchard Rd, Singapura.
Chief Executive Officer Mount Elizabeth Hospitals, Singapura bersyukur memiliki sejumlah dokter dari spesialis yang berbeda, yang dapat mengoordinasikan perawatan medis bagi pasien dengan lebih dari satu penyakit dalam waktu 24 jam.
Keunggulan lain yang dimiliki oleh rumah sakit yang telah lebih dari 35 tahun menjadi pusat medis terkemuka di Asia Tenggara ini adalah waktu tunggu bagi pasien untuk berkonsultasi dan melakukan pengobatan lebih pendek dan cepat. Sehingga, pasien tidak perlu pergi ke rumah sakit lain hanya demi mendapatkan opini dari dokter yang berbeda.
Jika sudah seperti ini, wajar bila banyak masyarakat dunia, tidak hanya Indonesia, memilih kota Singapura untuk melakukan wisatawan medis. Sebab segala hal yang berhubungan dengan kesehatan masyarakat begitu diperhatikan dengan sangat baik oleh Mount Elizabeth Hospitals Singapura.
"Kara?" Panggil suara familiar tersebut.
"Kara mau pulang."
"Iya. Tapi kalau Kara sudah sehat."
"Kara sudah sehat, papih." Ujar Kara meyakinkan.
"Ok. Kalau begitu besok kita pulang."
"Papih janji?" Tanya gadis cantik itu antusias.
Iris hazelnutnya yang tadi nampak kosong,kini kembali memancarkan cahayanya.
"Hm."
"Terimakasih, papih. Kara sudah mau pulang."
"Iya. Besok kita pulang." Ujar Tyoga, sambil mengecup pucuk kepala putrinya.
"Ada apa?" Tanya pria itu saat melihat putrinya kembali terdiam.
"Kara mau pulang, papih."
"Iya, besok sayang."
"Papih sudah janji, berarti besok Kara harus pulang kerumah."
"Iya. Rumah yang dimana, papih akan bawa kesana besok."
"..."
"Puncak?" Tanya sang Ayah,yang langsung dijawabi gelengan oleh sang putri.
"Kalau bukan puncak, berarti Bali?"
"Bukan."
"Surabaya. Disana bunga Matahari kesukaan Kara akan ditananam."
"Enggak?!" Tolak Kara lagi.
"Terus, Kara mau pulang kemana? Apa mau kegriya tawang yang ada disini saja?"
*Griya tawang (penthouse) adalah apartemen mewah yang terletak di lantai paling atas gedung, atau yang dibangun di atas atap.
"Rumah Arsyad. Kara mau pulang kesana, papih."
Pria paruh baya itu diam sejenak,lalu menatap sang putri yang sudah siap menangis. Manik hazelnut milik putrinya itu mulai nampak berkaca-kaca.
"Kenapa mau kerumah itu?"
"Karena ada Arsyad."
"Kenapa dengan Arsyad?"
"Arsyad suami Kara, pak Usèp dulu pernah bilang. Kalau seorang istri itu harus tinggal sama suaminya, dimanapun suaminya tinggal."
Deg
Tyoga merasa tersentil lirih oleh ucapan sang putri. Jika sudah begini bagaimana coba?
__ADS_1
Tyoga juga tidak pernah memprediksi jika putrinya akan semudah ini percaya akan suaminya itu. Lelaki asing yang baru beberapa hari mempersuntingnya. Jika sudah begini, akan ada banyak usaha lagi yang harus Tyoga lakukan. Belum lagi sang putri terus menerus dipertanyakan keberadaanya oleh sang kakek dari Jepang sana.
"Begini sayang, untuk saat ini Kara belum bisa tinggal dirumah Arsyad."
"Tapi kenapa?" Tanya Kara sedih.
"Karena papih mau bawa Kara ke halmeoni."
"Halmeoni, Korea?"
"Iya."
"Kara mau lihat istana lagi bukan?" Gadis cantik itu nampak menimbang-nimbang sejenak.
"Apa disana ada hyung juga?"
*Hyung : panggilan untuk kakak laki-laki/lelaki yang lebih tua satu tahun dari usianya.
"Iya. Hyung-mu akan menjemput kita dibandara nanti." Ujar Tyoga meyakinkan.
"Tapi, Kara harus minta izin Arsyad. Dia suami Kara, papih."
Tyoga mengangguk mengerti. Putrinya ini memang tidak pernah banyak menolak apalagi memberontak. Kara itu tipikal gadis yang penurut dan mudah diatur. Namun jika sudah dikecewakan sekali saja, maka tak ada maaf baginya.
"Bagaimana, Kara mau?"
"Tapi, Arsyad?"
"Jangan khawatir. Soal dia, biar papih yang nanti bicara denganya."
"Tapi, Kara mau sama Arsyad."
Deg
Tyoga menghembuskan nafasnya gusar. Jika sudah begini, putrinya itu pasti telah menemukan seseorang yang dirasanya tepat untuk menjaganya. Kara itu tak mudah dekat apalagi percaya kepada seseorang. Jika sudah begini, berarti orang itu telah berhasil menggambil hatinya.
"Sayang, dengar. Papih bisa saja minta tolong ke ayah Arsyad untuk bilang ke Arsyad jika Kara tidak percaya lagi sama Papih."
"Bukan begitu pih, tapi Kara cuma mau bicara sama Arsyad dulu."
Tyoga mengangguk mengerti. Ia lebih memilih opsi untuk membawa putrinya itu ke Korea ketimbang Jepang. Setidaknya, negeri gingseng itu lebih aman untuk putrinya ketimbang negeri sakura. Akan tetapi, kini sang putri agaknya sulit untuk dibawa kesana tanpa embel-embel Arsyad sang suami.
"Iya. Habis dari sana Kara boleh bertemu sama Arsyad."
"Janji?"
"Papih janji, sayang." Kara tersenyum tipis, lalu memeluk sang ayah erat.
"Tentu, apapun akan ayah tepati untuk Kara." Jawab Tyoga sambil mengusap punggung mungil sang putri sayang.
"Sekarang Kara istirahat dulu. Obatnya jangan lupa diminum, biar cepat sembuh."
"Iya, pih." Gadis cantik itu menurut.
Lantas dengan segera ia mengambil makanan yang tadi dibawa suster untuknya. Menikmatinya dengan senang hati, karena jika ia sembuh ia akan segera bertemu dengan Arsyad. Begitu kiranya yang dipikirkan oleh Kara. Sedangkan sang ayàh, mengamati sang putri yang tengah menikmati makananya.
Hingga deringan smartphone miliknya, membuat pria itu beralih fokus.
"Kenapa?" Tanyanya datar.
"Boss, mereka disini." Tanya suara disebrang sana.
"Siapa?" Tanya Tyoga bingung.
"Menantu bòss."
"Ck." Tyoga berdecak kesal.
"Tahan mereka. Jangan dibiarkan sampai kesini?!"
"Baik boss."
Tyoga menutup sambungan telephone setelah itu. Dengan was was ia menatap sang putri yang masih asik menikmati makanan dari rumah sakit. Sedangkan Tyoga, ia mulai berpikir keras untuk bisa membuat sang putri agar tak bertemu dengan Arsyad saat ini.
"Papih kenapa?"
Tyoga tersenyum tipis sebelum menjawab. "Papih tidak kenapa-kenapa."
"Hm. Papih kelihat sedang memikirkan sesuatu."
"Iya, papih harus bekerja saýang. Jadi papih memikirkan itu."
"Papih itu banyak kerja." Ketus sang putri.
"Itu semua demi Kara. Papih kerja agar Kara bisa tercukupi segalanya."
"Kara gak perlu uang yang banyak, pakaian brandid, fasilitas mewah ataupun segalanya. Kara cuma mau papih sama mamih."
Tyoga beralih,menatap sang putri sendu. Soal ini, adalah salah satu kunci kelemahanya. Kara selalu rindu mamihnya, wanita yang amat dicintainya yang sudah meninggalkanya sejak 17 tahun yang lalu. Wanita cantik yàng tak akan tergantikan tempatnya oleh siapapun.
"Maaf, papih sering buat Kara kesepian." Tangan tegapnya merengkuh sang putri yang mulai menangis.
"Mamih, Kara mau mamih hiks."
__ADS_1
"Sssttt. Mamih bakal sedih kalau lihat Kara begini."
"Kenapa mamih gak pulang pih?" Tanya Kara disela-sela isakanya.
"Mamih sudah menjadi malaikat cantik yang memiliki banyak tugas mulia. Jadi, mamih belum bisa pulang."
"Begitu ya pih?"
"Iya."
"Mamih pasti kelihatan cantik jadi malaikat."
"Hm."
"Kara sayang mamih, pih."
"Iya. Papih tahu."
"Kara juga sayang papih juga."
"Iya. Papih juga tahu sayang. Papih juga sayang Kara."
Tyoga memeluk putrinya erat, takut takut putrinya itu akan hilang saat ia lengah. Tidak pernah ada yang mengerti, hidup dan matinya Tyoga menjaga buah hatinya. Ketika banyak manusia diluaran sana yang mengincar nyawa putrinya. Padahal, Kara itu cuma gadis kecil biasa. Dia tak tahu apa apa soal kebencian orang orang diluaran sana. Namun faktanya, kekayaan yang dimiliki Kara lebih dari apa yang dibayangkan. Jika warisan dari ibunya, dihitung dengan warisan dari sang kakek dan nenek, kekayaan Kara sudah bisa menggeser posisi sang ayah sebagai Crazy Rich Surabayan. Tanpa Kara sadari, namanya selalu tercantum sebagai pemilik saham terbesar dibeberapa perusahaan ternama di Jepang dan Korea.
Belum lagi jika Kara menggunakan Klan Kim ataupun Wataya pada namamya, makan akan lebih banyak lagi kekayaan yang bisa diraupnya. Akan tetapi, Tyoga lebih memilih menyematkan nama Adriani dibelakang nama putrinya. Dimana nama tersebut berasal dari nama nenek Kara dari pihak ayah.
BRAK
Masih dengan posisi berpelukan, ayah dan anak tersebut terperanjat kecil saat melihat pintu yang terbuka dengan paksa. Menimbulkan bunyi yang cukup nyaring dan menganggu tentunya.
"Kara?"
"A-rsyad?" Panggil Kara tak percaya.
"Kara, aku datang untuk menjemputmu." Lirih lelaki tampan yang tengah berdiri diambang pintu tersebut.
Kara beranjak, membebaskan diri dari dekapan sang ayah. Ia bahkan turun dengan tergesa-gesa,tanpa mempedulikan jarum infuse yang terlepas dengan paksa hingga mengeluarkan darah dari luka bekas jarum tersebut tanganya.
"Kara?" Panggil Tyoga cemas.
"Arsyad?" Gadis itu tidak peduli.
Etensi kepedulianya kini beralih sepenuhnya kepada lelaki tampan yang nampak penuh luka diambang pintu sana. Walaupun begitu, senyumanya tetap terpatri dibibir walaupun tipis.
Grep
"Kara kangen Arsyad." Ungkap gadis cantik itu sambil memeluk sosok tampan dihadapanya.
Arsyad bahkan hampir terhuyung kebelakang karena serangan tiba-tiba tersebut.
"Kara mau pulang, mau bertemu Arsyad." Ungkap Kara kembali.
"Kara mau sama Arsyad."
Arsyad tersenyum kecil sambil membalas pelukan sang istri. Rasa risau dihatinya menguap seketika, saat sosok yang terus datang dimimpinya kini dalam dekapanya. Walaupun harus jauh jauh datang ke Singapura, dan harus melewati para bodyguard Tyoga. Arsyad tetap bersyukur bisa melihat sang istri walaupun tubuhnya penuh luka begini.
"Arsyad enggak kangen sama Kara ya?" Gadis itu melonggarkan sejenak pelukanya.
"Kenapa Arsyad diem aja?" Desak gadis cantik tersebut.
Arsyad tersenyum tipis, lalu iris jelaganya menatap wajah cantik dihadapanya lekat lekat.
Cup
"Jika bukan karena rindu, hatiku tidak akan pernah tidak menentu begini."
Ungkap lelaki tampan tersebut setelah meninggalkan satu kecupan dikening sang istri. Arsyad sudah mengambil resiko besar dengan datang kesini. Dia juga rela dikeroyok baodyguard Tyoga, asalkan netranya bisa bertemu rindu dengan istri kecilnya.
Jika cinta memang belum menguasai hati, tapi ada ikatan suci yang telah mengikat hati. Lambat launya membuat hati terpatri, karena karunia cinta disetiap hayati bisa membuat lupa diri. Semua itu adalah pasti,karena tak dapat dipungkiri lagi. Takdir setiap manusia telah ditetapkan sejak dalam kandungan ibu.
Jika setelah ini pria yang tengah menatapnya tajam itu mengusirnya dari sini, Arsyad siap untuk melakukan pembelaanya. Dia datang kesini untuk membawa istrinya pulang, dimana letak kesalahnnya?
****
TBC
Selamat pagi All readers 🖐🖑
Bang Arsyad updateeee📣📣
Hayooo, ada yang mulai baper belum sama cerita bang Arsyad & Kara ini. Di sequel BSJ ini, Arsyad memang banyak rintanganya untuk hidup bersama sang istri. Selain itu, dia juga harus membuktikan diri sebagai lelaki yang mapan dan mampuh menjadi imam bagi Kara.
Makanya, readers semua yang setia ya mengikuti kisah cinta juga perjuangan keduanya. Karena selain keduanya, masih ada cerita lain di BCT. Ok, jangan lupa like, komentarrrrr dan vote bagi yang ikhlas😀
Maaf kalau aku jarang up, karena tugasku lagi banyakkk🙏
Jadi sabar sabar aja yoo nunggu mereka 👍👍
(Saking lengketnya, Kara disakuin aja mau:')
Sukabumi 11 November 2020
__ADS_1