Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
86. Jelang Menyongsong Masa Depan


__ADS_3

86. Jelang Menyongsong Masa Depan



"Jelang menyongsong masa depan, akan ada banyak halang rintang yang datang bertandang."-Arsyad An-nass Senopati Az-zzioi


****


Sinar hangat sang surya yang baru menyapa bumi, nampak berhasil menembus gordeng putih yang menutupi jendela. Jendela besar tersebut nampak sebagian sengaja terbuka. Membiarkan angin berhembus, membelai sepasang muda-mudi yang masih terlelap di atas ranjang.


Si lelaki nampak menunjukan tanda-tanda akan membuka mata. Beberapa detik kemudian, sepasang manik gelapnya terbuka. Pandangan cerah ďari interior bernuansa calem, menyambut pandangan pertamanya. Di sampingnya, sang istri masih setia tidur sambil memeluknya.


Arsyad memiliki jam alami terbangun di pukul 04.00 pagi. Namun, selepas salat subuh tadi, istrinya mengajaknya kembali tidur, mengingat semalam mereka tidur cukup dini hari. Hasilnya, kini ia bangun saat matahari sudah mulai meninggi.


Ia menoleh, menatap wajah ayu yang nampak polos seperti bayi dalam pelukannya. Gadis itu terlelap di atas lengannya yang dijadikan bantalan. Tidurnya nampak lelap dan nyaman. Deru nafasnya teratur, terasa menggelitik perpotongan bahu dan dada bidangnya.


Arsyad diam sejenak, sembari menikmati wajah ayu sang istri. Di pagi hari begini, ia tentu harus pandai mengatasi masalah alamiahnya sendiri sebagai seorang lelaki. Belum lagi godaan datang dari sang istri yang belum bisa ia sentuh leluasa. Sebagian dari dirinya ingin berbuat lebih, layaknya sepasang suami istri yang ingin meneguk indahnya surga dunia bersama. Keinginan itu tentu ada, terlebih ia seorang lelaki sehat.


Namun, di sisi lainnya, dirinya menolak keras. Melakukan hal tersebut tentu akan membuatnya mengingkari janji pada banyak pihak. Ia telah berjanji, pantang baginya untuk melanggar. Ia dilahirkan, didik dan dibesarkan dengan adab seorang kesatria yang tentu patuh dan taat. Hal itu tidak akan lepas dari sebagian sifatnya.


Arsyad beranjak dari ranjang dengan pelan, setelah mengecup pucuk kepala sang istri. Ia butuh kamar mandi untuk menyegarkan diri. Tidak enak juga bangun kesiangan di rumah mertua begini.


"Yanda, mau kemana?" Suara serak sang istri memanggil.


Arsyad mematung dalam posisinya. Suaranya itu,


"Yanda, kok diem aja?" Gadis cantik itu bertanya sambil mengucek matanya.


Surai kecoklatannya nampak sedikit terurai tak beraturan. Wajah bantalnya nampak polos seperti bayi. Arsyad sulit menampik, jika istrinya selalu cantik dalam setiap keadaan.


"Mandi." Jawab Arsyad pendek.


"Ikut."


Arsyad menoleh cepat. Ikut, kemana? Arsyad hendak bertanya demikian, sebelum maniknya teralihkan untuk menatap sang istri yang baru saja beranjak.


"Yuk." Gadis itu menggandeng tangan Arsyad memasuki kamar mandi.


Ruangan luas berpintu putih dengan ukiran berwarna emas itu, di dalamnya dihiasi oleh interior mewah. Batu marmer putih menjadi hiasa hampir seluruh sudut. Terdapat bilik kaca yang menjadi pemisah antara wastafel dan bathup mewah di dekat jendela. Dihiasi dengan beberapa jenis bunga dan lilin aroma teraphi di dekat nakas kaca.


"Kara, kamu sedang tidak memancing sesuatu bukan?"


Gadis yang baru saja hendak menyikat gigi itu menyerngit bingung. "Apa?"


Arsyad menggeleng, lantas kembali fokus pada kegiatan mereka. Menggosok gigi. Istrinya tidak mungkin mancing-mancing terhadap hal-hal berbau itu, mengingat istrinya itu sangat polos. Jikapun istrinya sudah mulai mengerti soal kisu-kisu, itupun hasil ajaran Arsyad secara tidak langsung.


"Kara mau berendam, yanda mandi pakai shower aja."


"Apa?"


"Itu, yanda mandi di situ." Kara menunjuk bilik Kaca di sebrang mereka.


Arsyad sungguh ingin bertanya, antara polos dan sengaja itu beda tipis atau bagaimana? Ini istrinya polos atau bagaimana?


"Kamu yakin?"


Gadis berpiama itu mengangguk. "Tidak malu?" Tanya Arsyad lirih.


"M-alu sih." Lirih Kara sambil mengangguk. "Soalnya, k-ata hyung kalau sudah menikah itu harus melakukan apa-apa bersama. Makan, mandi, bobo, main-"


"Ssstt." Arsyad menyela. Tuh kan, istrinya ini.... Arsyad harus bilang apa ya?


"Siapa yang bilang?"


"Hyung."

__ADS_1


"Aiden?" Kara mengangguk. "Kapan?"


"Kemarin hyung telpon. Kara cerita soal prom night. Terus hyung kasih beberapa tips and trik."


Arsyad memijit pelipisnya sejenak. "Salah satunya ini?"


Kara mengangguk. "Katanya biar yanda makin lengket sama-"


Grep!


Lelaki rupawan itu memeluk istrinya erat. Tuh kan gemas? Gimana dong, habis istrinya itu menggemaskan sekali. Arsyad juga baru tahu kalau namanya perempuan itu mahluk yang unik dan sukar dimengerti.


"Tanpa kamu berbuat seperti inipun, kita sudah terikat erat Kara."


"Hm, tapi-"


"Jangan mancing-mancing, bisa? Aku juga lelaki biasa." Lirih Arsyad frustasi. Kara hanya mengangguk dalam pelukan sang suami.


"Sekarang kamu mandi terlebih dahulu. Ada saatnya kita bisa melakukan mandi bersama. Faham?" Kara mengangguk.


Lantas, lelaki itu beranjak untuk keluar. "Yanda mau kemana?"


"Keluar."


"Biar Kara aja yang mandi di kamar sebelah. Yanda disini aja." Usul Kara. Tidak tega harus membiarkan sang suami menunggu.


"Tidak apa-"


"Kara mandi di luar aja. Bye." Gadis itu berlalu cepat sambil melakukan kiss bye di udara. Arsyad hanya tersenyum kecil menanggapinya.


"Suamiku..." Kara bergumam kecil sambil tersenyum. Gadis cantik itu berdiri di depan pintu kamar mandi. Jantungnya berdebar tak karuan. Barusan itu, bahaya sekali. Tapi, ia hanya ingin mengetes sang suami.


Ia hanya ingin membuktikan kepada sang Ayah, jika suaminya itu berpegang teguh terhadap janjinya untuk tidak menyentuhnya. Barusan lihatlah sikap sang suami. Kara bangga sekali dengan pertahanan diri suaminya itu.


📚📚📚


"Hm. Kalian terlambat?" Dehaman keras menyambut muda-mudi yang baru saja mendudukkan diri tersebut.


Tyoga, si empunya rumah menatap keduanya lekat. Putri dan suaminya itu nampak hadir dalam balutan pakaian berwarna senada yaitu baby blue. Keduanya juga terlihat baru saja selesai mandi. Rambutnya sama-sama terlihat lembab.


"Kamu baru pecah telor ya?!" Dia bertanya ngegas. Menatap Arsyad tajam. Arsyad yang ditatap demikin menjadi bingung sendiri.


"Pecah telor?" Bingung Kara. "Maksud papih apa?"


"Lupakan. Duduklah." Ralat Tyoga. Arsyad dan Kara duduk dengan patuh.


Namun, walaupun sudah duduk dan makanan untuk sarapan sudah dihidangkan. Manik tajam milik Crazy Rich tersebut tetap menatap Arsyad lekat. Lekat penuh intimidasi.


"Tidak terjadi sesuatu, pak. Anda bisa tenang." Ujar Arsyad, mengerti akan maksud dari tatapan sang mertua.


Mereka baru saja hendak mulai sarapan.


"Kamu yakin?"


"Seratus persen." Jawab Arsyad. "Apalagi ini jelang menyongsong masa depan, saya paham akan apa yang bapak khawatirkan."


Kara menatap sang suami dan ayahnya bergantian. "Kok yanda bicara sama Papih masih formal gitu? Gak enak kedengarannya. Coba deh, yanda panggil Papih."


Arsyad menatap sang istri tak yakin. "Papih juga, coba panggil yanda sama nama aja. Biar akrab gitu. Masa nanti kalau Kara sama yanda punya baby, lihat opanya panggil yandai 'hey, kamu' gitu, 'kan gak akrab."


Dua pria beda usia itu terhenyak. Kenapa tiba-tiba gadis itu membahas soal bayi?


"Uhuk... uhuk..." Tyoga tersedak setelahnya.


"Papih gak papa?" Kara buru-buru memberi sang ayah segelas air putih.

__ADS_1


"Sudah, tidak apa." Ujar Tyoga.


Arsyad masih membatu di tempatnya. "Arsyad," Ia mendongrak, saat namanya, untuk pertama kalinya digaungkan oleh sang mertua.


"I-ya, pih." Jawabnya kikuk.


"Setelah lulus dan dokomun kelulusanmu selesai dibenahi, segerakan pergi ke New York bersama Kara. Kalian harus mengunjungi tempat kalian tinggal disana. Chek apakah ada yang kurang? Nanti pengurus kediaman kalian akan mengurusnya."


"Baik."


"Jangan lupa, ambil dokumen pernikahan kalian disini sebelum pergi."


"Baik."


"Dan ya, jangan cemari otak putriku."


"Baik." Arsyad mendongrak setelahnya. Maksudnya apa? Pikirnya.


"Jangan ada anak sebelum Kara menyelesaikan studynya. Sebelum dia bekerja, dan puas mengelilingi dunia dengan status kalian yang hanya berdua. Camkan itu."


Arsyad mengangguk patuh. Ia tahu, beban juga tanggung jawab yang akan ia pikul akan lebih berat ke depannya. Tanpa sepengetahuan Tyoga, Kara mengenggam tangan Arsyad di bawah meja dengan erat.


"Pih,"


"Iya, ada apa putriku?"


"Kalau semisal Kara sudah sudah selesai study juga sudah bekerja, dan di saat itu Kara pengen punya baby, Papih jangan menolak dengan berbagai alasan."


Tyoga menatap putrinya terkejut. "Memangnya kamu siap? Mamih kamu saja perlu bertahun-tahun untuk menikmati hidup bebasnya."


"Papih tidak bisa menjaga kebebasan kamu baru sedikit saja sampai kamu lulus SMA. Kamu sudah menikah di usia dini karena kelalaian Papih. Kamu kehilangan kebebasan kamu, sayang?" Tyoga menatap putrinya lekat.


Ada kegagalan yang ia ingat setiap kali mengingat apa yang menimpa putri semata wayangnya tersebut. Ia merasa gagal telah menjaga harta berharga peninggalan sang istri tercinta.


"Papih gak salah. Ini sudah takdir tuhan. Kara maupun yanda juga gak tahu takdir tuhan kedepannya bagaimana. Jadi," Kara menatap sang suami sambil tersenyum lembut.


"Jangan kaget kalau nanti, Kara pulang dengan keadaan perut sudah buncit."


****


TBC


YUHUU.... BCT UPDATE🔥


Yok... ramaikan. Apa kabar readers semua nih? maaf lamaaa gak update. kondisi kurang fit, jadi susah juga buat up teratur. Barusan juga aku baru dapat informasi kelulusan, karena selama ini digantung kayak perasaan😔


Tapi, sekarang sudah up. Jadi, apa yang mau readers kritik, saran atau masukan buat BCT ke depannya? tulis di KOMEN ya. Jangan lupa like, vote, follow dan share cerita ini biar banyak yang baca. Follow IG Karisma022 juga boleh.


Oh iya, aku juga mau ngenalin anak baru. Namanya MY MYSTERIOUS WIFE


Gendre : romance/youngadult


status : on going


lapak : WP


Author : @nengkarisma



Bagi readers yang suka baca certa teka-teki terus sad, mampir ya. Ini berkisah soal sang cassanova yang harus menikahi mantan teman tidurnya yang gak sengaja dia perawani terus hamil. Ternyata, si cewek itu mengidap ganggual alter ego (berkepribadian lebih dari satu) pokoknya, kisah rumah tangga mereka bakal rumit. Apalagi ada campur tangan PELAKOR di dalamnya.


Penasaran? cus... kepoin di WP🤗


Sukabumi 03 Juni 2021

__ADS_1


__ADS_2