
115. Tasyakuran
Acara tasyakuran 4 bulanan kembali digelar di kediaman Radityan. Untuk menggelar acara tasyakuran 4 bulanan, tuan rumah rela merogoh kocek cukup dalam. Tanpa ada istilah ‘patungan’, seluruh kebutuhan finansial dikeluarkan oleh Arsyad An-nass Senopati Az-zzioi selalu calon ayah dari si jabang bayi. Sedangkan anggota keluarga Radityan yang lain ikut menyumbangkan tenaga dan jasa.
Acara tasyakuran digelar saat usia kehamilan memasuki trisemester kedua, menggunakan cara dan syari’at islam tentunya. Tasyakuran ini digelar sebagai bentuk rasa syukur sekaligus meminta keberuntungan pada Allah agar sang bayi dan ibunya diberi keselamatan. Dalam agama islam, tasyakuran 4 bulanan bukan acara yang diwajibkan, namun secara hukum diperbolehkan.
Tasyakuran 4 bulanan sendiri biasanya diisi dengan serangkaian acara yang penuh dengan kebaikan, misalnya melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an, sholawatan, hingga melakukan sodaqoh bagi orang-orang yang kurang mampu.
Dalam acara ini, ada banyak ayat suci Al-Qur’an yang dapat dibaca dan diniatkan untuk kebaikan janin dalam kandungan, khususnya surat Al-fatihah, Al-Mukminun ayat 12-14, Al-Baqarah ayat 233, Al-Ahqaf ayat 15, Maryam dan surat Yusuf.
Karena adanya agenda tersebut, para wanita di kediaman utama Radityan sudah sibuk sebelum hari H diselenggarakan. Para pekerja di kediaman mewah itu juga jadi bekerja extra karena akan ada perhelatan akbar lagi di kediaman tersebut. Untuk acara tasyakuran cucu pertama dari putra sulung pasangan Keevan’ar Radityan Az-zioi dengan Aurra Putra Haidan, semua diutamakan homemade.
“Kara, makan dulu, nak. Kamu belum makan dari siang, kan?”
Wanita paruh baya yang berpenampilan syar’I itu berujar seraya meletakkan piring berisi nasi dengan lauk bebek goreng Madura dengan sambal hitam, tahu dan tempe goreng, potongan timun, kerupuk, serta sambal ijo.
“Loh, yanda nya memang kemana bunda? Kok bunda yang siapin makanan Kara? Kara, kan, bisa ambil sendiri.” Wanita muda yang tadinya sedang mendengarkan rincian acara itu tampak terkejut saat sang mertua tiba-tiba menyodorkan makanan yang tadi dia minta pada sang suami.
Sore-sore saat orang lain sedang sibuk-sibuknya, dia malah ‘ngidam’ bebek goreng sambal hitam khas Madura yang melegenda. Alhasil sang suami sendiri yang langsung pergi untuk membeli makanan tersebut, padahal sang istri bisa saja beli lewat aplikasi.
“Arsyad barusan izin angkat telepon dari kantor. Jadi bunda yang siapin,” jawab sang mertua. “Ayo dimakan. Katanya cucu bunda mau bebek goreng sambal hitam,” imbuhnya seraya menyentuh permukaan perut sang menantu yang menyembul.
Kara mengangguk dengan senyum tercipta di bibir. “Terima kasih, bunda. Maaf merepotkan.”
“Sama-sama, nak. Bunda juga tidak merasa direpotkan.”
Putri Crazy Rich asal Surabaya itu sekali lagi mengangguk. Tatapannya kemudian tertuju pada bebek goreng yang sudah dipisahkan dari tulangnya, menyisakan bagian daging dan kulit agar mudah dimakan.
“Itu tulang sama daging sudah dipisahkan daging sama Arsyad. Biar kamu mudah makannya,” beri tahu sang mertua yang kini mengambil posisi duduk di samping Kara.
“Masya Allah, perhatian sekali si abang. Calon ayah satu itu memang sigap dan tanggap ya,” goda Lunar yang juga ada di sana. “Gih dimakan, biar keinginan debay nya terpenuhi.”
Kara mengangguk dengan mantap. Wanita yang tengah hamil muda itu kemudian pamit undur diri untuk makan di kamar. Di saat orang lain sibuk wara-wiri, mengerjakan berbagai macam tugas, dia malah asik-asikan makan, pemikiran itu membuat Kara memutuskan untuk makan di atas sembari menyusul sang suami.
Kini tinggal Lunar dan Aurra yang tersisa di meja makan yang dipenuhi dengan berbagai kudapan manis yang biasa dijajahkan di pasar tradisional. Mulai dari bolu kukus, kue apem, bika ambon, kue cucur, kue carabikang, dadar gulung, klappertaart, lapis legit, kue lumpur, nagasari, onde-onde, putu ayu, klepon, cente manis dan kawan-kawannya.
“Konsumsi sudah selesai semua, Lun?”
“Sudah, mbak. Ini aku juga sedang cek ulang. Takutnya ada yang ketinggalan,” jawab si empunya nama.
“Ini, aku juga lagi nyicipin es selendang mayang. Nanti es ini dimasukkan ke dalam cup dan disimpan di prasmanan.”
Aurra melirik mangkuk putih berisi bongkahan es batu dan potongan makanan bernama selendang mayang dengan warna pelangi yang tengah berenang di kolam air berwarna putih seperti susu. “Alhamdulillah kalau sudah siap semua. Berarti tinggal eksekusi.”
Lunar mengangguk, menyetujui. “Alhamdulillah, tinggal acara intinya. Semoga lancar sampai selesai.”
“Amin,” sahut Aurra.
“Aku kadang masih enggak nyangka kalau sebentar lagi bakal ada yang panggil kita nenek, mbak. Perasaan baru kemarin Arsyad, Arra, Arion sama triple lahir. Bahkan bentar lagi Arra juga nyusul abangnya.”
“Iya. Setelah Lunar, Davin juga bakal nyusul, kan?”
“Iya kayaknya. Lagian si kakak udah pacaran dari SMA kalau enggak salah. Padahal aku gak setuju kalau si kakak pacaran, tapi apalah daya. Udah kejadian juga, yang terpenting sekarang kakak bisa jaga kepercayaan yang diberikan aku, papanya, sama orang tua Davina.”
Aurra mengangguk dengan tangan bergerak membenahi beberapa kue di atas meja agar lebih rapih. “Davin pasti bisa menjaga kepercayaan orang tuanya. Davin anak yang baik dan bertanggung jawab.”
Lunar tersenyum tipis seraya menatap kakak iparnya. “Iya, si kakak sekang sudah dewasa. Apalagi semenjak masuk AKMIL.” Dia kemudian melirik handphone miliknya yang sempat berkedip, menampilkan foto 3 putranya sebagai background. “Habis kakak, ada si bungsu yang udah ikut wedding list,” tutur Lunar kemudian.
“Kakak sama si bungsu udah kebelet nikah kayaknya, soalnya mereka terus nanya kapan Aurra nikah. Cuma si tengah yang kalem-kalem aja.”
“Arra Alhamdulillah tinggal cari tanggal. Tapi, sebelum itu Gean masih bilang harus menunggu. Soalnya kakak Gean juga mau menikah dalam waktu dekat,” balas Aurra.
“Kakak calonnya Arra mau menikah juga? Kakaknya Gean itu pilot juga?”
Aurra mengangguk. Wanita paruh baya dengan pakaian syar’I itu sudah diberi tahu soal wacana pernikahan kakak calon menantunya. Oleh karena itu, pernikahan Arra dan Gean harus ditunda sebelum kakak Gean dan pasangannya menikah.
“Wah, berarti tahun ini padat sekali ya, mbak. Omong-omong, calon besan mbak itu besanan sama siapa?”
“Kalau soal itu aku belum tahu.”
Lunar manggut-manggut. “Alea juga bakal nikah dalam waktu dekat deh, mbak. Soalnya aku dengar dari mbak Airra kalau Alea udah dikhitbah sama cowok sholeh.”
“Dikhitbah?”
“Iya. Kaget, kan? Aku juga kaget awalnya. Tapi, Alea memang enggak berminat pacaran.”
“Dijodohkan?” tebak Aurra. Hanya satu topik yang tiba-tiba tercetus di kepalanya, yaitu perjodohan.
__ADS_1
Aurra tahu betul Alea. Gadis sholehah itu tidak mungkin berpacaran. Dalam agama islam tidak ada yang namanya pacaran. Adanya ta’aruf, khitbah, dan nikah. Alea juga sempat menelepon dan bercerita. Gadis jenius itu juga meminta pencerahan soal pernikahan. Dia belum bercerita banyak soal masalah khitbah, hanya meminta do’a agar diberi kemudahan dalam mengambil sebuah keputusan.
“Aku kurang tahu soal itu. Tapi katanya calon suami Alea adalah calon paling potensial, makanya sudah diberi lampu hijau sama mas Anzar. Mbak tahu sendiri, kan, gimana posesif nya masa Anzar?”
Aurra lagi-lagi mengangguk sebagai jawaban.
“Nah, kalau udah diberi lampu hijau begitu, berarti calonnya sudah lulus seleksi. Katanya Alea akan menikah dalam waktu dekat karena calonnya udah ada. Kemungkinan Arra juga keduluan sama Alea deh, mbak?”
“Kalau itu bukan masalah. Toh, Alea lebih tua dari Alea dari segi posisi di keluarga Radityan,” ujar Aurra. “Lagipula Arra dan Gean juga masih bisa menunggu.”
“Arra sama Gean mah bisa menunggu. Lah, anak-anak aku?” sahut Lunar galau. “Si kakak udah ditanyain kapan nikah orang tua sama rumah Davina. Sedangkan si bungsu juga mau cepet halalin tunangannya juga. Berbanding terbalik sama si tengah yang udah jadi bang Toyib. Disuruh pulang juga susahnya minta ampun, apalagi disuruh nikah.”
Aurra tersenyum kecil di balik kain penutup wajah yang dia gunakan. “Bisa saja Davian pulang langsung bawa calon, Lun.”
“Amin, deh. Asal seiman dan satu pemikiran. Aku mah gak muluk-muluk soal calon menantu, yang penting seiman, baik, dan dapat menerima kekurangan dan kelebihan yang anak-anak aku miliki.” Hembusan napas berat tampak terdengar setelahnya. “Aku selalu mendoakan yang terbaik buat mereka bertiga. Tinggal mereka yang memilih dan menentukan sendiri, mana yang akan mereka ambil sebagai istri. Toh, mereka sudah besar. Cuma terkadang aku takut, mbak. Takut salah satu di antara mereka salah mengambil langkah hanya karena cinta. Aku takut mereka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan cinta, seperti yang dulu dilakukan mas Anzar.”
“Secantik, sebaik, dan sepintar apapun jodoh yang kita inginkan untuk putra-putra kita, akan kalah dengan jodoh yang telah tertulis dalam lauhmahpudz-nya. Karena sebagai manusia kita hanya bisa berdo’a dan berusaha. Apapun hasil yang didapat nantinya, semua itu sudah diatur dengan baik oleh Allah.” Aurra membalas dengan suara tenang.
Lunar setuju dengan pemikiran Aurra tentang itu. Namun, sebagai seorang ibu yang memiliki 3 orang anak laki-laki, ketakutan tetap terpatri di dalam hati. Di takut jika godaan duniawi akan menggoyahkan iman dan pelajaran yang telah dia dan suaminya ajarkan pada sang buah hati. Dia takut jika salah satu putranya ada yang mengulang peristiwa buruk di masa lalu.
“Mbak.”
“Ya?”
“Mbak kangen sama si bungsu enggak?”
Kening Aurra tampak berkerut mendengarnya. “Maksud kamu Arion?”
Lunar mengangguk. “Arion, kan, jarang pulang semenjak masuk AKMIL. Sama kayak Davin.”
“Tentu saja aku rindu sebagai seorang ibu,” jawab Aurra jujur.
Si bungsu memang jarang masuk ke dalam topik pembicaraan. Selama ini pusat perhatian dan pembicaraan hanya berpusat pada si kembar—Arsyad dan Arra—yang ada dalam jangkauan mata. Beda dengan si bungsu yang bisa sampai satu atau dua lebaran tidak pulang, karena tugas sebagai abdi Negara.
Arion juga menuruni sebagian sifat-sifat sang ayah. Anak itu pantang pulang jika misi belum diselesaikan. Sejauh ini hidup si bungsu lurus-lurus saja. Anak laki-laki yang suka menghapalkan Undang-Undang itu juga tidak neko-neko. Semenjak masuk AKMIL, Arion menjadi anak yang lebih mandiri. Dia juga jarang pulang, karena memilih menetap di markas atau kompleks perumahan tentara. Jika para kakaknya sudah ribut ikut list menikah, si bungsu satu ini belum ada tanda-tanda akan menikah dalam waktu dekat.
Setiap kali ditanya apa Arion punya pacar atau tidak? dia akan menjawab dengan mantap, TIDAK. Arion memang belum terdeteksi memiliki hubungan dengan seorang gadis, karena sifat cuek yang dimiliki anak itu dua kali lipat dari sifat cuek sang ayah. Padahal tak sedikit kaum Hawa yang ingin menjadi pacarnya. Arion nya saja yang enggan pacaran.
“Kapan ya, kira-kira keluarga kita bisa kumpul dengan anggota lengkap? Aku kangen momen itu. Lebaran tahun lalu saja, anak aku enggak pulang. Kalau seperti Davin dan Arion yang jelas mengabdi untuk Negara, aku bisa paham. Lah, Davian ini kan kerjanya tidak berkaitan dengan Negara. Anak itu lebih sering disambangi malaikat maut ketimbang saudara-saudaranya karena pekerjaan yang dia lakoni,” curhat Lunar.
“Sebenarnya aku gak rela Davian terjun ke dunia intelegen, mbak. Apalagi dia kerja untuk Nagara lain. Aku takut dia kenapa-kenapa.”
“Iya, mbak. Semoga saja si happy virus itu selalu berada dalam lindungan Allah Subhana wataala.”
“Amin ya Rabbal alamin.”
**
“Dihabiskan ya, itu bebek terakhir dan satu-satunya yang tersisa,” bisik pria rupawan yang baru saja menyelesaikan pembicaraan lewat telepon.
“Iya, Abba. Ini sedang umma dan adek habiskan,” jawab sang istri dengan suara yang menirukan suara anak kecil.
Pria yang mengenakan kaos abu-abu berlengan panjang itu tak kuasa menahan senyum. Kemudian diciumnya kening sang istri sayang. “Ada yang mau dibeli lagi? mumpung aku free, aku belikan sekarang.”
Kara tampak berpikir untuk sejenak. Nasi dengan lauk bebek goreng sambal hitam di piringnya sudah habis separuh. Dia tampak lahap menikmati makanan yang baru dua kali dia nikmati tersebut. Yang pertama kali saat diajak sang suami makan langsung di tempatnya. Sekali pun hanya angkringan pinggir jalan dengan atap tenda biru, Kara tak merasa ilfeel karena memang rasa makanan yang dijual seenak itu.
Dirasa sudah cukup dengan apa yang dia dan bayinya inginkan, Kara lalu menggelengkan kepala. “Udah, ini aja cukup yanda. Nanti Kara juga mau makan kue basah sama es selendang mayang yang dibuat bunda sama Onty Lunar di bawah. Yanda juga harus coba, apalagi es selendang mayang nya. Katanya recommended.”
“Aku tidak terlalu suka yang manis-manis.”
“Enggak manis banget kok. Manisnya pas,” sahut Kara menjelaskan.
“Hm,” jawab Arsyad pada akhirnya. Membuat sang istri tersenyum penuh kemenangan. “Sekarang habiskan makanannya. Habis itu kita mandi, dan turun ke bawah.”
“Uhuk, uhuk.” Mendengar kata ‘kita’ dan ‘mandi’ dalam waktu bersamaan, membuat wanita cantik itu tersedak saliva nya sendiri.
“Kenapa kamu tiba-tiba tersedak hm?” goda sang suami seraya menyodorkan segelas air putih pada sang istri. Diterima dan diminum langsung oleh wanita cantik tersebut.
“Gak ada. Tadi Kara cuma salah dengar,” dalih calon ibu muda itu. Tatapannya langsung tunduk, mengarah pada makanan yang tersisa di piring.
“Ya sudah, kalau begitu lanjutkan makannya,” ujar Arsyad. Dia mengambil alih sendok yang digunakan sang istri, agar dapat digunakan untuk menyuapi istri cantiknya itu.
Jika memiliki waktu senggang, Arsyad memang akan mengisi waktunya untuk bersama sang istri. Misalnya makan bersama, bahkan tak segan menyuapi sang istri dengan tangan sendiri.
Makan bersama istri hingga menyuapi dengan tangan sendiri adalah salah satu sunnah Rasulullah. Jadi Arsyad selalu mencoba melaksanakan amalan tersebut jika memiliki kesempatan. Bukan saja untuk meraih pahala, kegiatan tersebut juga dapat menguatkan keromantisan dengan pasangan. Banyak sunnah yang dapat ditiru oleh para pasangan suami-istri di zaman ini lewat kisah Rasulullah bersama istri-istrinya.
“Sini, Kara bantu keringkan.”
Arsyad yang baru keluar kamar mandi dengan pakaian lengkap yang sudah melekat dan rambut basah itu lantas mendekati sang istri. Setelah menemani sang istri makan, Arsyad sempat ikut turun ke bawah menemani sang istri yang katanya mau ngemil. Padahal jarang-jarang Kara mau ngemil, karena biasanya wanita itu cuma ngemil buah organik saja.
__ADS_1
Semenjak hamil Kara memang terkadang minta dibelikan sesuatu yang belum pernah dia coba. Namun, tidak seperti kebanyakan ibu hamil pada umumnya, Kara masih menjaga pola makannya dengan baik. Jika merasa lapar—karena ibu hamil terkadang merasa mudah lapar—maka Kara akan minta dikupaskan buah. Dia jarang makan makanan berat, kecuali lunch atau dinner. Itu pun jika benar-benar ingin. Misalnya Kara pernah seharian tidak mau makan nasi, karena katanya sebal lihat nasi. Namun, pada dini harinya, wanita cantik itu meminta dibelikan nasi Jinggo khas bali dan ayam bakar madu paling legendaris se-jabodetabek.
(Nasi Jinggo)
Dengan telaten wanita cantik yang mengenakan gamis berwarna broken white yang menonjolkan bagian perut itu mengeringkan rambut sang suami yang masih basah. Suara hairdryer terdengar cukup nyaring, mengisi kekosongan di antara mereka. Arsyad dengan senang hati membiarkan sang istri melakukan tugasnya, sedangkan dia sendiri berpuas diri menikmati wajah istrinya yang malam ini tampak sangat cantik.
Wajah yang sudah cantik itu dipulas make up tipis, sehingga kian paripurna. Lengkap dengan hijab yang kini sudah bisa dia gunakan dengan rapih.
“Ini siapa yang bantu pakaian kan hm?” tanyanya seraya menyentuh pucuk kepala sang istri yang tertutup hijab.
“Kara pakai sendiri.”
“Hm?”
“Sambil lihat tutorial di YouTube Arra,” imbuh Kara, meluruskan. “Kenapa? Gak cocok ya?”
Arsyad menggeleng sambil tersenyum lebar. “Cantik,” pujinya.
Pujian itu tak pelak membuat rona merah di pipi sang istri timbul. Karena gemas, Arsyad memajukan wajahnya untuk mencium sang istri. Namun, Kara dengan cepat memundurkan wajahnya. “Jangan macam-macam. Kita, kan, sudah wudhu,” peringati sang istri.
Arsyad tak menjawab apa pun selain membuat senyum kian lebar. “Umma pelit sekali.”
“Acaranya udah mau mulai yanda, sebaiknya kita cepat turun ke bawah,” ujar Kara, mengalihkan topik pembicaraan.
Arsyad terkekeh geli. Dengan gemas pria itu kemudian mengecup permukaan perut sang istri yang membuncit sebagai gantinya. Setelah puas, pria rupawan itu kemudian memboyong sang istri ke luar kamar. Acara akan segera di laksanakan sebentar lagi.
Saat tiba di lantai bawah, para anggota keluarga sudah tampak siaga. Sebagian tamu yang diundang juga sudah datang. Ba’da isya, hampir semua tamu yang diundang sudah datang. Sealin keluarga, kerabat, sahabat, teman dekat dan tetangga, mereka juga mengundang anak yatim, dan beberapa santri dan santriwati dari pondok pesantren yang dikelola oleh Ustadz yang mengisi acara tasyakuran.
Sekali pun acara sudah hendak dimulai beberapa menit lagi, kursi-kursi juga sudah terisi. Namun, rasanya ada yang kurang bagi dua orang ibu. Aurra dan Lunar sama-sama menanti kedatangan putra mereka yang hari ini berhalangan hadir. Davian dan Arion memang tidak bisa hadir, begitu juga dengan Arra yang sedang menyelesaikan pendidikan Magister nya di Inggris.
Sedangkan Davin yang sama-sama berprofesi sebagai TNI, kebetulan bisa hadir karena tidak berada di luar kota. Beda dengan Arion yang sedang ditugaskan ke ujung barat pulau Jawa. Sedangkan Davian sendiri, lost kontak dengan sang ibu. Terakhir pria muda itu berjanji akan pulang sebulan setelah misi menjaga Kara dan Arsyad selama di Jepang terlaksana. Namun, hingga kini dia tak kunjung datang.
“Arion juga tidak pulang ya, mbak?” lirih Lunar dengan pandangan tertuju pada pintu yang terbuka sangat lebar di depan sana.
Aurra menggelengkan kepala. “Ayahnya tadi juga sudah coba menghubungi dia, tapi tidak bisa karena gangguan jaringan. Kemungkinan Arion tidak akan pulang dalam waktu dekat.”
“Kayak Davian berarti. Padahal aku rindu sekali sama mereka. Terutama Davian—“
Kalimat wanita yang telah memiliki tiga orang putra itu berhenti seketika saat pandangannya menemukan sesuatu yang janggal.
“Mbak.”
“Iya. Kenapa Lun?”
“Kayaknya aku halusinasi deh.”
“Eh?” bingung Aurra. Wanita berpakaian syar’I itu kemudian menolehkan kepala agar dapat menatap sang ipar. “Maksud kamu?”
“Masa aku lihat putraku sedang berdiri di ambang pintu.”
“Apa?”
“Dia kelihatan gagah dan tampan sekali, mbak. Ada Arion juga, kelihatan gagah dan berani banget kayak bang Van'ar”
Aurra yang semakin kebingungan, memilih mengikuti arah pandangan Lunar. Sesaat kemudian dia menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya kebingungan. Tangan kanan Aurra kemudian refleks terangkat ke depan bibirnya yang tertutup kain.
“Masya Allah, itu bukannya Davian dan Arion, Lun,” ujarnya terharu.
Di depan sana, dua orang pria muda berdiri tegap dengan tatapan lurus ke depan. Mereka mengenakan pakaian yang berbeda, satu pakaian serba hitam, mulai dari atasan, rompi pelindung, bawahan, hingga sepatu yang dikenakan. Sedangkan yang satunya lagi menggunakan pakaian dinas harian dilengkapi dengan baret menghiasi kepala.
Sekali pun ada jarak yang masih cukup panjang membentang, dua orang ibu itu tahu betul jika dua sosok itu bukan bayangan saat mereka memanggil dengan suara yang familiar.
“As’salamualaikum. Bunda ….anakmu pulang.”
**
TBC
Reunian lagi ✌️
Update ini juga menandai akan aktif nya aku di lapak ini dan Bukan Dijodohkan.
Gimana? puas gak baca part ini? 3K lebih loh dalam satu part. Jika cepat aku nulisnya, aku double update. Kalau tidak, update besok ya ☺️
Jangan lupa like, vote, spam komentar 🌼💐🌹🥀🌺🌷🌸💮🏵️🌻🌼 & follow Author 🥰
Sukabumi 30/05/22
__ADS_1