
121. NOSTALGIA
Setelah mengudara kurang dua belas jam lebih lima menit di atas langit, pesawat yang terbang dari Jakarta (JKT) tiba bandara Istanbul Atatȕrk (IST). Setelah mendarat dengan selamat, Keevano membawa dua cucu serta cucu menantunya ke tempat peristirahatan sementara yang tidak jauh dari bandara. Rencananya mereka akan melanjutkan perjalanan setelah beristirahat. Kasihan Kara yang tengah hamil jika langsung bertolak ke Ankara. Jadi mereka setuju untuk istirahat telebih dahulu di Istanbul, minimal satu malam.
Sedangkan untuk rencana mengunjungi salah satu bangunan ikonik di Istanbul—Masjid Hagia Shofia—akan dialihkan ke bagian terakhir dari perjalanan mereka selama berada di Turki. Besok mereka akan ke Ankara untuk bertemu kerabat dari pihak keluarga Arkia, kemungkinan menginap beberapa hari kampung halaman ayah Arkia tersebut. Baru setelah pulang dari Ankara, mereka bebas mau melakukan apapun.
“Kita pesan makanan dulu untuk mengisi perut. Biar nanti diantar ke kamar,” ujar Vano memberitahu. “Kalian bisa mencoba teh Turki yang cara penyajiannya sangat unik, coba juga ayran—minuman khas Turki yang terbuat dari yogurt yang dicampur sedikit garam, atau kopi Turki yang tidak kalah unik. Kalian bisa menikmati salah satunya dengan simit—roti berbentuk bundar dengan bagian tengah bolong yang taburan wijen putih di atasnya. Jika ingin makan makanan berat, kalian bisa pesan pilav—nasi Turki yang diolah dengan butter, garam, kacang polong, beserta rempah dan bahan campuran lain. Bisa juga pesan nasi kebuli, atau sepiring nasi hangat dengan patlican tava—terong yang dimasak bersama cabai, irisan daging, dan beragam bumbu.
Jika tidak mau makan nasi, kalian bisa membeli kumpir—sajian kentang yang dipanggang bersama beragam topping, seperti sosis, sayuran, serta saus. Rasanya gurih dan lezat. Ada juga beraneka ragam kebab yang bisa kalian pilih, seperti kebab jenis doner, shish kebab, iskender kebab, dan banyak lagi.”
Keevano menuturkan seraya berjalan di depan cucu-cucunya dan cucu menantu. Laki-laki yang sudah berusia senja itu dengan satai memberitahukan sedikit wawasannya tentang kuliner lezat yang bisa dinikmati di Turki. Keevano juga sudah mengurus masalah booking hotel, jadi mereka tinggal chek in saja.
“Kamar Arsyad dan Kara nomer 144. Sedangkan kamar opa dan Davian nomer 145, dilanjut kamar para pengawal,” kata Vano saat mereka memasuki lift. Ia memang sudah seperti tour gouid yang bertugas menjelaskan ini dan itu.
Bohong jika Keevano tidak merasa bahagia bisa kembali ke Negara ini. Namun sayang, kali ini ia datang seorang diri tanpa sang istri. Mengingat Arkia punya kesibukan dengan yayasan Radityan yang perempuan itu kelola secara mandiri. Yayasan yang didirikan untuk membantu anak-anak kurang mampu. Arkia aktif membantu di sana, karena memang ia katanya bosan jika hanya berdiam diri di rumah saja.
“Kita istirahat saja setelah makan. jika ingin keluar untuk membeli sesuatu, minimal kalian harus ditemani oleh dua orang pengawal,” pesan Vano. Mengingatkan.
“Baik opa,” sahut Arsyad yang sejak tadi tidak sedetik pun jauh dari sang istri. Ibu hamil satu itu memang tampak kelelahan.
“Makanan yang kalian pesan akan segera diantarkan. Sebelum itu, kalian bisa membersihkan badan atau meluruskan kaki barang sejenak,” tambah Vano saat mereka keluar dari lift. “Jika ada sesuatu yang janggal, langsung hubungi opa,” pesannya untuk pasangan suami-istri yang saat ini berdiri di hadapannya.
Agar tidak mencolok, mereka memang chek in terlebih dahulu empat orang. Sedangkan para pengawal yang disiapkan, dibagi menjadi dua tim. Satu tim chek in sebelum mereka, dan satu tim lagi chek in setelah mereka melakukan chek ini.
“Baik, opa.” Arsyad menjawab seraya mengangguk.
“Kita akan langsung telepon opa kalau ada apa-apa,” tambah Kara.
“Hm. Kalau begitu kita berpisah di sini.” Keevano beralih pada cucunya satu lagi yang sejak tadi anteng. Tumben?
“Kamu sedang apa main handphone terus? Dari dalam pesawat sampai tiba di sini, benda mati itu terus kamu mainkan. Tidak takut meledak?” omel Vano.
“Nggak dong, opa. Masa telepon pintar mudah meledak. Lagian Dadav lagi menghubungi rekan bisnis.”
“Ya sudah, dilanjut nanti saja di kamar. Jangan main handphone sambil berjalan.”
__ADS_1
“Baik, opa.”
“Kita pergi dulu. Kalian juga sebaiknya bergegas masuk.”
Setelah berkata demikian, Vano berpisah dengan Arsyad dan Kara yang sudah berada di depan pintu kamar hotel mereka. Sedangkan Vano dan Davian ada di samping kamar hotel mereka.
“Capek hm?”
“Sedikit,” kata Kara saat Arsyad berhasil membuka pintu dengan key card.
“Sini, aku hilangkan rasa capeknya dulu.”
“Memang yanda tahu caranya?” bingung Kara saat mereka sudah berada di dalam kamar.
“Tentu saja.”
“Memang caranya seperti apa?”
Arsyad tersenyum misterius, kemudian menggerakan tangan untuk menggapai bagian belakang kepala sang istri. Untuk beberapa saat Kara terkesiap kala mendapatkan serangan tersebut. Namun, seperkian detik berikutnya, tubuh ibu muda itu seolah-olah terkena sengatan listrik yang mengejutkan jantung kala satu kecupan mampir di keningnya dengan durasi yang cukup panjang.
“Bagaimana hm? Capeknya sudah sedikit berkurang?”
“Cuci tangan dan kaki dulu, jika tidak mau membersihkan badan. Baru berbaring.”
“Iya.”
“Biar aku yang bongkar koper, kamu masuk ke kamar mandi terlebih dahulu. Nanti pakai bathroob kalau keluar,” pesan Arsyad seraya membelai permukaan perut sang istri yang buncit.
Kara hanya bisa menyetujui perintah suaminya yang sangat peka itu. Sebuah kebahagiaan sendiri memiliki suami yang dari luar berkesan dingin, datar, dan tidak tersentuh, namun sebenarnya sangat care, peka, serta pengertian.
“Hati-hati berpijak jika lantainya basah. Kalau terlalu rawan, panggil aku saja.”
“Iya, yanda,” ujar Kara gemas. Ia kemudian melepaskan mantel serta tas selempang miliknya. Menyimpan di atas tempat duduk dekat meja kaca. “Tapi….”
“Tapi kenapa?” pria rupawan itu berbalik kala hendak membuka koper.
__ADS_1
“Kara ….mau ditemani,” lirih sang istri, membuat sang suami terkekeh kecil seraya mengangguk.
“Takut?”
“Nggak ih,” bantah Kara sebal. “Mau yanda temenin aja, biar bersih-bersihnya hemat waktu. Jadi pas makanan datang, kita sudah selesai bersih-bersih.”
“Itu menurut kamu.” Arsyad mendekat, tak jadi membuka koper. “Kalau menurutku, kita akan menghabiskan waktu yang cukup lama untuk membersihkan badan jika bersama.”
“Apa sih, bukan ngitu maksud Kara,” ketus sang istri seraya buru-buru mengambil langkah 1000 ke dalam kamar mandi.
“Jangan cepat-cepat, nanti kamu jatuh,” panggil Arsyad seraya menyusul sang istri.
**
“Opa sedang apa di balkon? Nggak dingin?” tanya Davian yang baru saja bergabung di balkon bersama Keevano.
“Opa sedang bernostalgia.”
“Dengan Negara ini?”
“Lebih tepatnya dengan kenangan di tempat ini,” koreksi Vano. “Seperti kata kamu saat berada di pesawat, sebuah kota menjadi kenangan atau tidak, tergantung dengan siapa kamu melewatinya.”
Davian mengangguk seraya menatap hamparan kota Istanbul yang begitu cantik di malam hari. Kerlap-kerlip lampu di berbagai penjuru, seolah-olah menciptakan karya seni tersendiri.
“Dulu opa membuat banyak kenangan bersama oma kamu di sini. Di Negara ini pula, om kamu—Anzar tumbuh dan besar. Selain itu, ayah Arsyad dan ibumu juga dilahirkan di sini. Lebih tepatnya di Ankara, tempat yang akan kita kunjungi besok.”
“Tempat ini memang memiliki banyak historis untuk opa, ya?”
“Tentu. Lebih tepatnya untuk keluarga Radityan. Jika dulu opa tidak datang ke Negara ini untuk mencari oma, maka opa tidak yakin keluarga Radityan akan utuh seperti hari ini.”
**
TBC
SEMOGA SUKA 🧚
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR, SHARE, TABUR BUNGA SEKEBON 💐
Sukabumi 05-08-22