Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
.19-Ilapat Hati


__ADS_3

📚.19-Ilapat Hati



.لا أعرف ثم تا عزيزي!


laa 'aerif thuma ta eazizi


"Tak kenal maka tak sayang!?"


****


Tentang ilapat hati siapa yang tahu pasti. Hati itu seperti teka-teki yang tiada akhir yang pasti. Ada banyak misteri dalam hati tiap hayati. Baik dan buruknya apa yang membuat risau dihati,itu kembali lagi kepada diri sendiri. Ilapat hati terkadang hadir karena risau yang dirasakan sendiri. Firasat akan datangnya sesuatu yang terkadang kebenaranya bisa terungkap atau tidaknya.


"Arra,aku tinggal dulu sebentar ya?" Tanya salah seorang gadis berkuncir kuda tersebut.


Gadis cantik dengan hijab putih longgar itu mengangguk. Senyum tipisnya mengudara,terpatri dibibir pucatnya.


"Kamu gak mau titip sesuatu gitu? Aku mau kekañtin sekalian."


"Enggak,terimakasih buat tawaranya Safa."


Gadis itu mengangguk mengerti. Dia adalah salah satu anak PMR yang bertugas jaga di Unit Kesehatan Sekolah hari ini. Sepeninggalanya,gadis yang tengah berbaring diatas bad itu menatap langit langit ruangan tersebut nanar. Hari ini adalah hari senin,dimana rutinitas pagi disetiap instansi sekolah adalah melangsungkan upacara bendera merah putih. Karena melewatkan sarapan jùga banyaknya pikiran yang tengah dipikirkanya,membuat kondisi drop.


Ketika upacara bendera tengah berada ditengah tengah bagian intinya,tubuhnya ambruk tak sadarkan diri. Membuat beberapa teman sekelasnya terkejut,lalu dengan segera memanggil anak PMR yang tengah berjaga. Namun sebelum mereka mengangkat tubuh gadis cantik itu ketandu,tiga Arjuna tampan dengan sigap mendekat. Salah satunya langsung membawa tubuh mungil itu ala bridal style.


Selama pingsan,ketiga arjuna itu juga ambil bagian menjaganya. Namun karena Arra tidak mau merepotkan siapapun,jadilah dirinya membiarkan ketiganya untuk kembali melakukan rutinitasnya masing masing.


"Kenapa abang bohong sama Arra?" Monolog gadis itu kecewa.


Hatinya terluka,bagaimanapun juga ilapatnya tentang sesuatu yang buruk benar benar terjadi. Kembaranya tersebut pulang membawa istri yang tentu membuat orang lain terkejut. Terlebih lagi,Arsyad menikah tampa persetujuan keluarganya ataupun memberi tahu kembaranya terlebih dahulu. Itu yang membuat Arra kecewa disini.


Dia dan Arsyad lahir dan berbagi kehidupan yang sama sejak dalam kandungan hingga lahir kebumi. Rasanya ia teramat kecewa jika sang kakak tak memberitahunya berita sebesar ini.


"Arra?" Panggilan dari arah samping membuatnya tertegun.


Tanpa menoleh sekalipun,dia sudah hafal betul siapa pemilik suara barithon tersebut.


"Kenapa abang disini?" Tanyanya tanpa menoleh.


"Jika tengah berbicara,pandang lawan bicaramu kecuali dia bukan muhrimu." Intruksi suara bariton tersebut tenang.


"Kenapa bisa sampai pingsan begini? Kamu tidak sarapan tadi?"


Gadis itu merubah posisinya mejadi memunggungi sang kembaran.


"Arra kenyang makan kekecewaan."


Pemuda tampan berseragam SMA itu menghela nafasnya berat lalu mendekat kearah sang kembaran.


"Maaf,abang tidak sempat memberitahu Arra." Ujarnya lirih.


Arsyad itu seseorang yang sulit untuk terbuka kepada banyak orang. Dia itu mandiri seperti Ayahnya,saking mandirinya dia tidak mau membuat orang orang disekelilingnya cemas akan apa yang menimpanya.


"Semuanya terjadi begitu tiba tiba Arra." Ujarnya sambil menatap punggung kembaranya tersebut.


"Kamu tahu,ini berat buat abang. Berat sekali Arra."


Arra nampak terenyuh,hatinya mendadak berdenyut nyeri dan sesak. Ia tahu,inilah juga yang tengah dirasakan oleh kembaranya. Semua orang juga tahu betapa besarnya keinginan Arsyad untuk mengabdikan dirinya dikemiliteran RI. Namun karena insiden ini,pemuda tampan itu harus menelan pil pahit karenanya.


"Kenapa abang bisa sampai melakukan itu?" Gadis itu berbàlik,lalu menatap saudaranya.


"Kenapa abang bisa sampai menikah sama dia?"


"Ceritanya terlalu panjang,namun intinya klise."

__ADS_1


"Persingkat. Abang pintar meringkaskan?" Arsyad tersenyum tipis.


Dia tahu jika saudarinya ini tidak akan mampu berlama-lama mendiaminya. Karena bagaimanapun juga dia memiliki sebagian watak seperti Aurra,selalu mau mendengarkan perjelasan apapun sebelum menindaklanjutinya.


Arsyad mulai buka suara,menceritakan titik point utama masalah yang menimpanya. Karena dengan begitupun,ia harap kembaranya itu mau menerima kenyataanya kini. Apa yang tersaji dihadapanya adalah kenyataan,saudara kembarnya telah memiliki istri saat ini.


"Apa,gadis itu baik?" Tanya Arra yang kini sudah mengubah posisinya menjadi duduk.


"Baik ataupun buruk tabiatnya,dia tetaplah tanggungjawab abang sekarang."


Ruang UKS cukup sepi dijam istirahat begini. Para penghuni sekolah pasti tengah bergentayangan dikantin sekolah dijam jam saat ini. Oleh karena itu,dapat dipastikan jika mereka aman ketika bercerita begini.


"Tapi,apa abang masih bisa sekolah kedepanya? Bagaimana jika pihak sekolah tahu?"


"Insaallah,semuanya sudah diatur. Setidaknya,abang masih bisa sekolah sampai lulus nanti."


"Begitu ya,memangnya bisa?"


"Insaallah bisa." Arra mengangguk,lalu kembali menatap sang kembaran.


"Kedepanya abang mau gimana? Kalau gak jadi TNI RI,abang mau jadi apa?"


Arsyad termenung sejenak,sebelum mengulas senyum tipisnya. "Masih banyak profesi didunia ini Arra. Abang bisa bekerja apa saja,yang penting halal."


Arra tersenyum sambil mengangguk meng-iyakan. Kembaranya saja bisa lapang dada akan apa yang menimpanya,sebagai saudarinya dirinya juga harus lapang dada. Karena bagaimanapun juga,Arsyad pasti membutuhkan dukungan untuk melewati semua ini.


"Arra?"


"Iya bang,ada apa?"


"Arra sudah memaafkan kesalahan abang?"


"Iya. Arra cuma manusia biasa,Allah saja mampu memaafkan dosa dosa umatnya. Kenapa Arra tidak?" Jawab Arra sambil tersebum.


"Minta apa bang?"


"Terima Kara dengan baik,bisa?"


Arra diam sejenak,dia juga memang belum mengenal gadis yang sekarang menjadi kakak iparnya tersebut.


"Insaallah,akan Arra usahakan. Tapi caranya? Dia kelihatan pendiam bang."


"laa 'aerif thuma ta eazizi." Jawab Arsyad.


*Tak kenal maka tak sayang.


"Berarti Arra harus berkenalan begitu?" Arsyad mengangguk.


"Ok. Arra insaallah akan coba."


Arsyad mengulas senyumnya tipis. Selain Aurra,kembaranya-lah yang selalu bisa membuat senyumnya muncul. Namun kelak,pasti ada sosok lain yang bisa senyumnya sering mengudara. Itu pasti.


📚📚📚


"Assalamualaikum,Kara?" Uluk salam pemuda yang baru saja memasuki kamarnya tersebut.


Arsyad menyerngitkan dahinya bingung,saat melihat kamarnya kosong melongpong. Padahal ibunya juga bilang jika istri kecilnya itu tidak keluar kamar sama sekali,setelah Tyoga pergi dari rumah ini.


"Kara,kamu dimana?" Panggilnya lagi,sambil menyimpan tas dan jas almamaternya ditempat biasa.


"Kara?"


"Kara,kamu-"


"Kamu sudah pulang?" Suara lembut dari belakangnya,membuat Arsyad menoleh.

__ADS_1



Netra gelapnya kini bisa menangkap sosok bermanik hazelnut yang tengah berdiri sambil memegang sesuatu. Senyumnya terpatri sambil menatap kearahnya.


"Darimana?" Tanyanya sambil mendekati istri kecilnya.


Gadis itu menggeleng kecil, "Kara gak kemana-mana."


Arsyad mengangguk meng-iyakan. Gadis itu memang tidak pergi kemana-mana seperti ucapan sang bunda.


"Apa?" Bingung Kara saat Arsyad menyodorkan tanganya.


"Salim?" Tanya Kara lagi,yang langsung diangguki oleh Arsyad.


Gadis itu menurut,mengambil tangan yang disodorkan Arsyad lalu dikecupnya.


"Waalaikumsalam,Arsyad." Ujarnya sambil tersenyum tipis.


Arsyad terdiam untuk sejenak. Senyum itu agaknya mampu membuat manik hitamnya terpaku,seiring dengan dadanya yang memburu.


"Arsyad kenapa?" Bingung Kara,sambil melambaikan tanganya didepan pemuda tampan tersebut.


"Hm,aku tidak apa-apa." Ujar Arsyad sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Kara mengangguk kecil,lalu memunjukan benda yang dibawanya. Diperlihatkan didepan Arsyad yang terlihat begitu terkejut.


"Ini sketsa gambar Arsyad. Kara bosan dikamar terus,tadi ada pensil dan buku gambar punya Arsyad. Maaf,Kara pinjam tapi gak bilang bilang." Lirih gadis tersebut sambil menunduk.


"Ini untukku?" Lirih Arsyad sambil mengambil buku gambar berisi sketsa gabar wajahnya yang amat mendetail tersebut.


"I-iya. Arsyad marah ya? Arsyad gak suka?" Cicit Kara takut takut.


Pria itu menggeleng,lalu bergerak menarik bahu mungil istri kecilnya tersebut.


"Terimakasih,aku suka sketsanya." Jawabnya sambil mengecup pucuk kepala istrinya.


Kara tersenyum senang,ia pikir Arsyad akan marah. Tapi nyatanya,pemuda tampan itu tidak marah sama sekali.


"Kara senang,Arsyad suka sama sketsanya." Ujarnya sambil memeluk tubuh pemuda dihadapanya.


Arsyad menegang,ini adalah tindakan yang baru dia rasakan. Sebelum ini dia tidak pernah berpelukan dengan perempuan lain kecuali ibu dan saudarinya. Kalì ini,ada sosok lain yang mampu memberikan tersebut tanpa takut dosa akan sentuhan fisik yang terjadi.


"Hm. Aku suka apa yang kamu berikan." Lirihnya,sambil berlama lama dipucuk kepala Kara.


Walaupun Arsyad tidak berpengalaman soal cinta. Tetapi dia memiliki panutan,yaitu orang tuanya. Dia bisa melihat,bagaimana cara ayahnya memperlakukan bundanya. Karena hal itu pula,secara naluriah Arsyad menerapkanya kepada kehidupan berumahtangganya dengan Kara. Dia mungkin masih bisa dibilang bocah kemarin sore,tapi soal tanggungjawab jangan diragukan lagi keteguhanya.


****


TBC


Uwuuuuu,ada yang baper✌


Yuhuuu,BCT update lagi walaupun terlambat😔


Maaf ya readers,soalnya ada beberapa kendala kemarin. Nah loh,sekarang BCT udah update,jadi jangan lupa jejak dan komentarnya😚


Kedepanya,bukan cuma keuwuuuan Bang Arsyad sama Kara aja yang dibahas,tapi tentang konflik sekolah,keluarga dan sahabat. Dab tentunya tentang masa depan setelah gagalnya Arayad jadi TNI:'(


Padahal bang Arsyad kalau jadi TNI ganteng banget loh😭😭😭



Tapi dasar Author jahattttt,malah dinikahin dulu😂😂


Sukabumi 30 Okt 2020

__ADS_1


__ADS_2