Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
.51-Bertemu


__ADS_3

📚.51-Bertemu



"Ada kalanya kita bertemu dengan apa yang tidak ingin kita temui."-Arabelle Lumiera Humaira Rajapatni Az-zzioi


****


Kehadiran tamu tak diundang diakhir pekan ini, agaknya menarik banyak perhatian. Hingga niat utama si tamu terutarakan, wanita paruh baya itu curi-curi lihat kearah gadis cantik yang duduk di samping Arsyad. Yang di tatap hanya acuh, sambil menatap sang suami yang juga tengah fokus mengerjakan tugasnya. Ia tak sadar, jika seorang wanita tengah curi-curi lihat kearahnya.


"Hm, kalau boleh saya tanya. Siapa gadis ini?" Tanyanya memberanikan diri, ingin jawaban pasti dari kepenasarannya.


Aurra--lawan bicara Sekar angkat bicara. Hendak menjawab pertanyaan wanita yang penasaran akan sosok menantu cantiknya tersebut.


"Dia--"


"YANG pacaran jangan nempel mulu lah, bikin ngiri!" Sela suara Davian, nyeletuk keras dan penuh penekanan.


"Ho'oh, bikin IRI ey?!" Imbuh Davin.


"Hust, orang pacaran kok di ganggu." Aroon menimpali.


"Lagi pula mereka cuma duduk kok, gak aneh-aneh. Lo pada yang ngiri." Imbuh Aroon, melirik kedua saudaranya.


Aurra menatap si kembar bingung. Ada apa ini?


"Iya. Mbak Kara, gak boleh deket deket sama bang Arsyad. Belum muhrim, lihat tuh. Mereka jaga jarak kok." Imbuh Arra, tanggap meneliti keadaan.


"Jadi.... mereka pacaran?" Tebak Sekar.


"Ya." Jawab si triple dan Arra bersamaan, kompak.


"Oh, jadi begitu ya."


"Iya. Mereka malahan sudah tunangan." Imbuh Davian. "Makanya, jam segini udah pada nempel." Kekehnya menambahkan.


Sekar mengangguk faham. "Maaf sudah salah paham waktu itu. Saya harap, kalian dapat memakluminya." Pinta Sekar.


"Ya, ya, ya." Kekeh Davian jenaka.


'Seenaknya aja minta maaf, gak malu apa sama sikap anarkisnya waktu itu?' Batin Davian.


"Iya. Bang Syad udah maafin tante kok." Davin ankat bicara.


'Maafin, tapi gak ngelupain nyinyiranmu tante.' Batin Davin.


"Kalau begitu saya pamit, saya harus pergi ke suatu tempat.


"Ya, pergi aja." Ujar si triple bersamaan, membuat Sekar menyerngit.


"Kalau begitu, saya pamit. Maaf telah menganggu pagi kalian." Ujar Sekar pamit undur diri.


Pergi dari kediaman Radityan, saat dirasa semuanya telah clear. Toh, ia juga memaklumi jika para anak muda tersebut ingin cepat-cepat ia pergi. Karena tindakanya dahulu, pasti menyakiti mereka. Terlebih lagi si kembar Arsyad dan Arrabella.


"Kalian berbohong?" Introgasi Aurra.


"Em, itu bunda, " Lirih si triple kebingungan menjawab.


"Twins cuma mau menyembunyikan status abang sama mbak, biar gak terjadi hal-hal yang tìdak diinginkan." Tutur Arra.


"Dengan cara demikian?"


"Maaf bunda, itu satu-satunya pilihan yang paling tepat." Aroon buka suara, mewakili.


"Sudah bunda, mereka mungkin cuma mau membantu abang." Arsyad buka suara.


Aurra menghembuskan nafasnya lemah. Toh, para anak muda itu memang mau menjaga nama baik putranya. Mau bagaimana lagi, keadaan terpaksa membuat mereka menutupi sebuah kebenaran.


"Selamat pagi." Sapa suara ramah, membuyarkan ketegangan diantara mereka.


"Bang Arsen?" Antusias Aroon, menyambut kedatangan lelaki tampan yang datang membawa rasel hitam dan sebuah pancingan tersebut.


"A-da apa ini?" Kikuk Arsen. "K-ita jadi mancing kan? Syad?" Tanya Arsen mempertanyakan, kebenaran dari ajakan tempo hari.


"Lo mau mancing di mana?"


"Ada acara mancing-mancing, kok gue gak tahu?" Tanya Davian dan Davian beruntun.


"Kan kemarin katanya mau mancing di-"


"Kamu sudah datang?"


Deg

__ADS_1


Suara bariton berat yang mengalun dari arah udakan tangga itu, tentu membuat semua orang beralih fokus. Tak terkecuali Arsen, yang sudah susah payah menelan salivanya.


"I-iya om."


"Bagus." Jawab pria rupawan yang hari ini mengenakan pakaian casual tersebut.


"Ayah mau kemana?" Arra buka suara.


Ia masih penasaran, kenapa tiba-tiba sahabat abangnya itu datang kesini. Kini, satu kebingungan lagi menambah di kepalanya.


"Perģi memancing."


"Pergi memancing? Sama kak Arsen?"


"Hm. Sama abangmu juga."


"Di mana?" Tanya Arra penasaran.


"Di rumah Didi, mau ikut?" Gadis cantik berkhimar longgar itu mengangguk antusias.


Sudah menjadi kebiasaan, jika si kembar memanggil Dimas kakeknya, dengan panggilan Didi. Sama halnya dengan Aurra biasa memanggil ayahnya Dimas, dengan panggilan Didi.


"Arra boleh ikut?" Tanyanya, memastikan.


"Boleh." Jawab Van'ar singkat.


"Alhamdulillah. Kalau gitu, Arra siap-siap dulu ya ayah. Arra juga punya seseuatu buat Didi."


Van'ar menangguk singkat, membiarkan putrinya tersebut berlalu dengan wajah berseri-seri.


"Mas jadi kerumah Didi?"


"Hm. Mau ikut?"


Aurra menggeleng kecil, "Siang nanti, aku ada jadwal konsultasi mas. Titip salam saja buat Didi sama bunda."


"Hm."


"Tidak sampai menginap kan?" Tanya Aurra, memastikan.


"Tidak." Jawab Van'ar, sambil menghampiri sang istri.


"Kalau begitu biar aku siapkan makanan ringan sama kudapan, buat ngemil pas mancing." Van'ar mengangguk kecil.


"Iya." Jawab Arsyad.


"Kara boleh ikut?" Kara berinisiatif, bertanya.


"Em," Arsyad bergumam sejenak.


"Boleh." Jawab Van'ar. "Bawa istrimu bang, kamu tidak mau mengenalkannya ke Didi?"


Arsyad mengangguk kecil. "Baik."


"Kalau kalian, mau ikut mancing juga?" Tanya Aurra kepada si triple.


"MAU DONG?!" Seru ketiganya kompak, membuat yang lain tersenyum geli.


"Akhir pekan begini, memang paling enak quality time." Kekeh Davian, sambil beranjak untuk bersiap-siap.


"Mancing bareng kan mantap tuh." Imbuh Davin.


"Eh, eh, kalian mau kemana?" Tanya Lunar, yang datang membawa tiga hoodie berwarna merah, kuning, dan hijau elektrik. Warna baju yang amat mencolok, membuat siapapun yang menekannya pasti jadi pusat perhatian.


"Kalian gak lupa kan, kalau hari ini ada pemotretan?" Ingatkan Lunar, menatap tiga putranya horor. Mereka bertiga yang ditatap, hanya cengengesan sambil mengambil ancang-ancang untuk berlalu.


"MAAF, MAH. KITA MAU MANCING?!" Jawab ketiganya serempak, sebelum melarikan diri menuju anak tangga.


"Eh, kok gitu?!"


📚📚📚


Dua mobil SUV yang masing-masing membawa 4 0rang itu, kini mulai memasuki pelatan rumah megah yang nampak di kelilingi pepohonàn besar. Suasana asri nampak mengelilingi setiap penjuru tempat, membuat rumah megah yang didominasi warna putih itu, bak istana di tengah hutan. Ketika memasuki area depan rumah megah tersebut, dua pilar besar menyambut mereka.


"Ayo, masuk." Ajak Van'ar, setelah mereka semua turun dari mobill.


Dengan antusias, Arra memencet bell. Ingin cepat-cepat bertemu Didi dan Nani kesayangannya. Ya, Sayla--ibu sambung Aurra mereka sebut dengan panggilan Nani. Dua kali menekan bell, decitan pintu besar yang terbuat dari kayu pilihan itu, membuat Arra tersenyum kian lebar.


"Didi?" Panggilnya Antusias.


Pria baya berkacamata yang muncul dari balik pintu itu tersenyum, saat melihat siapa gerangan yang datang bertandang.


"Assalamualaikum-nya, mana Arra?" Tegur pria baya tersebut.

__ADS_1


"Astagfirullah, Arra khilaf." Kikuk Arra, lupa mengucap salam. "Hm, Assalamualaikum. Didi?" Ulangnya.


Pria itu tersenyum tipis. "Waalaikumsalam, cucu." Jawabnya, sambil menyentuh pucuk khimar cucu gadisnya tersebut.


Sungguh, melihat Arra mengingatkannya kepada Aurra muda. Hampir separuh kecantikan putrinya--Aurra, diturunkan kepada cucunya--Arra.


"Ayah." Van'ar buka suara, lantas mengambil punggung tangan mertuanya untuk ia salami.


"Apa kabar Van?"


"Alhamdulillah, sehat yah. Ayah dan bunda sendiri, bagaimana kabarnya?"


"Alhamdulillah, seperti yang terlihat." Ujar Dimas--si empunya rumah.


"Kalau begitu, ayo masuk. Kita ngobrol didalam, mau memancing bukan?" Tanya Dimas kepada para muda-mudi yang dibawa menantunya tersebut.


"Iya." Jawab mereka serempak.


"Ya sudah, kalau begitu ayo masuk." Ajaknya, mengajak mereka semua memasuki hunian megah miliknya.


"Nani mana Di?" Tanya Arra.


"Di belakang. Tadi sedang buat cake sama istri om."


Arra mengangguk, mengerti. Kini mereka semua sudah berada diruang tamu. Mereka dijamu, agar bisa nyaman pasca memancing nanti.


"Bang, tidak mau sapa Didi?" Intruksi Dimas.


Melirik cucu sulungnya, dari pernikahan Aurra--putrinya dengan Van'ar.


"Assalamualaikum, Didi apa kabar?" Arsyad buka suara.


"Waalaikumsalah, cucu sulung. Kabar Didi alhamdulillah baik, bagaimana dengan kabarmu?" Tanya Dimas balik.


"Apa kamu sudah kewalahan menjadi seorang suami?"


Deg


Arayad mematung ditempat. Ia pikir, Didinya ini belum tahu menahu soal pernikannya dan Kara. Tapi ini?


"Tidak perlu khawatir. Didi sudah tahu semuanya."


Arsyad mengguk. Ada perasaan lega saat sang kakek tidak menentang keputusannya.


"Kabar Abang baik Di. Alhamdulillah, sejauh ini abang masih sanggup menanggung semuanya." Jawab Arsyad mantap.


"Siapa namanya?" Tanya Dimas.


"Namanya Atmariani Karamina Adriani, atau akrab di sapa Kara."


"Kara?" Panggil Dimas.


"I-ya." Cicit Kara kecil.


Dimas tersenyum tipis, lantas ia berdiri dari duduknya. Pria baya itu menepuk bahu Arsyad sekali, sambil beralih menatap cucu menantunya.


"Selamat datang cucu menantu, Didi harap semoga hubungan kalian langgeng hingga maut memisahkan." Imbuh Dimas.


Mereka kembali larut dalam obrolan ringan, sebelum mereka benar benar merealisasikan niatan mereka untuk memancing. Ketika hendak beranjak, menuju tempat pemancingan di belakang kediaman. Mereka dibuat terkejut oleh kehadiran seseorang.


"Chèri?!" Panggilnya antusias.


"Loh, lo ngapain ada disini?!" Kaget si triple dan Arsen bersamaan.


Mereka tentu terkejut akan kehadiran pemuda tampan satu itu. Apalagi ia dengan santainya melenggang masuk dan keluar dari area dapur kediaman Dimas.


"Kamu ngapain ada disini?" Tanya Arra tak habis pikir, kenapa juga ia harus di pertemukan dengan si cheesyboy satu ini. Sungguh, bertemu dia bukan termasuk kedalam list agenda hari ini.


"Mungkin kita jodoh, Chèri." Jawabnya, gamblang.


Membuat seorang pria buka suara, dengan nada suara yang patut diwaspadai. "Siapa dia?"


****


TBC


Hello, bang Syad update. Gimana nih buat part ini? Masih penasaran yo? Maaf belum bisa up teratur, karena aku sedang kurang fit, jadi maaf updatenya lama. Buat part ini, segini dulu. Maaf kalau pendek.


Tapi, jangan lupa like, vote, komentar, share, dan follow jika berkenan. Udah, segini dulu ya👐


Salam @nengkarisma


❤❤

__ADS_1


Sukabumi 20 Januari 2021


__ADS_2