
...100. Hak Arsyad...
...“Barang siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak memberi karena Allah, maka sungguh sempurna imannya.”—H.R Abu Daud & At-Tirmidzi...
...**...
“Yanda enggak mau banana chocolate-nya?” tawar wanita cantik yang tengah asik menikmati kudapan legit tersebut.
“Kamu saja yang makan, aku cukup melihat.” Pria yang tengah duduk sembari mengamati itu buka suara. Melihat wanita cantik itu menikmati banana chocolate-nya dengan lahap, sudah cukup baginya.
“Ini enak loh, sweeth.”
“Benarkah?”
Wanita cantik itu mengangguk antusias. Dengan gerakan cepat dia melangkah menuju lawan bicaranya, tetapi gerakannya terhambat oleh gaun yang menjuntai hingga menyapu lantai. Melihat kekasih hatinya kesulitan, pria rupawan itu tidak tinggal diam. Dengan segera dia menghampiri, kemudian membawa tubuh ringan itu dalam gendongannya.
“Yanda ih, ngagetin.”
Seulas senyum diterbitkan pria rupawan tersebut. Diturunkan wanitanya di tempat tidur, sebelum dia sendiri ikut bergabung.
“Kenapa yanda enggak ikut bakar-bakaran? Tadi katanya mau makan salmon thai juga?” tanya wanita cantik tersebut.
Seharusnya pria rupawan itu masih bergabung bersama anggota keluarganya yang sedang melangsungkan acara bakar-bakar. Bukan di sini, menemani sang istri yang tadi izin berganti pakaian.
“Maunya di sini.”
“Tapi yanda belum makan, loh?” iris hazelnut itu menatap lawan bicaranya lekat. “Kebiasaan, suka telat makan. Nanti asam lambungnya naik, gimana? Kara ambilin makan, ya?” tawar wanita cantik tersebut.
“Dengan keadaan begitu? Berjalan saja kamu kesulitan.”
Kara mengerucutkan bibirnya sebal. Perasaan saat di altar tadi jalannya baik-baiknya saja. Tapi, kenapa sekarang dia kesulitan sekali karena gaun pengantin. Dia juga belum mau melepaskan gaun pegantin impiannya tersebut karena masih ingin mengenakannya.
“Lepas saja jika membuatmu tidak nyaman.”
Gelengan kepala Kara berikan sebagai jawaban. “Setelah empat tahun menikah, dan Kara akhirnya bisa pakai gaun pengantin di hadapan semua orang. Rasanya Kara enggak mau lepas saking bahagianya.”
Arsyad—pria rupawan tersebut melepaskan seberkas senyum sembari meyentuh bingkai wajah sang istri.
“Cantik.”
“Apanya yang cantik, yanda?”
“Kamu, istriku.”
Rona merah tampak muncul menghiasi wajah Kara. Hari ini adalah hari bahagia untuk mereka. Hari di mana mereka bisa melangsungkan resepsi pernikahan, setelah perjuangan empat tahun ini. Pernikahan yang awalnya karena sebuah kewajiban, disembunyikan dari halayak umum, kini dapat di pertunjukan pada dunia. Kendati tidak dapat dihadiri oleh banyak orang, Kara tetap bahagia karena ada orang-orang terdekatnya yang ikut memerihkan hari bahagia tersebut.
“Kamu senang?” tanya Arsyad, sembari menyelipkan anak rambut yang jatuh di sebagian wajah sang istri.
“Tentu.” Seberkas senyum manis Kara pertunjukan.
Semua ini telah dirancang matang-matang oleh semua orang, dalam rangka merayakan hari kelulusan Arsyad dan Kara. Selain itu, acara ini diperuntukan sebagai apresiasi terhadap keduanya yang telah berjuang keras selama ini. Arsyad maupun Kara memang tidak diberi tahu. Namun, pada setengah jalan rencana, Kara dipisahkan terlebih dahulu dengan Arsyad. Dia pergi menggunkan pesawat berbeda bersama sang Ayah. Ketika tiba di pulau, Kara langsung diboyong menuju penginapan utama, di mana wedding dress impian beserta kebutuhannya tersedia.
Pada saat melihat wedding dress impiannya melekat pada sebuah manekin, Kara sempat terkejut bukan main. Dia bahkan sempat menitihkan air mata saat sang Ayah mengintruksikan untuk mencoba gaun pengantin hasil rancangan kolaborasi 2 perancang busana kondang tersebut. Bukan saja wedding dress, ada juga heels yang terbuat dari kaca dengan taburan berlian swarovski, beberapa set perhiasan dari tiffany & co, wedding veil, buket bunga, make up artist professional, dan masih banyak lagi.
Keinginanya untuk melangkah menuju pelaminan menggunakan gaun pengantin terwujud.begitupun dengan statusnya yang kini diketahui banyak orang sebagai istri Arsyad An-nass Senopati Az-zzioi.
__ADS_1
“Kamu tidak mau mandi?”
Pertanyaan itu berhasil membuat lamunan Kara buyar. Ditatapnya sang suami dengan perasaan dongkol. “Kara masih mau pakai gaun pengantinnya, ih.”
“Sampai kapan? Sampai kamu tertidur?”
“Iya, sampai Kara tidur.”
Arsyad tersenyum. Pria rupawan itu banyak sekali menghabiskan stok senyum yang biasanya limited. “Ganti gaunnya, dan pakailah pakaian yang nyaman.”
“Tapi, nanti gaunnya disimpan di lemari kaca, boleh?”
“Hm.”
“Di simpan di kamar kita. Dipajang, boleh?”
Arsyad tersenyum lagi, sembari mengangguk. “Apapun untuk kamu.”
Senyum lepas tampak tercipta di sudut-sudut bibir Kara. Dengan gerakan cepat wanita cantik itu kemudian melingkarkan tangan di sekeliling leher sang suami.
“Thank you very much (terimakasih banyak).”
Arsyad tidak menjawab dengan kata. Melainkan dengan gerakan cepat menarik tengkuk belakang sang istri. Membubuhkan ciuman manis guna merespon ucapan sang istri. Menyesapi setiap rasa manik yang mereka bagi.
“Banana Chocolate?” tanyanya, saat melepaskan tautan di antara mereka. Dilihatnya wajah cantik sang istri yang sudah dipenuhi oleh rona merah. Lewat ciuman tersebut Arsyad bisa merasakan manisanya banana chocolate yang tertinggal.
“Yanda ih,”
“Kenapa, mau lagi?” tanya Arsyad jenaka.
“Kara?”
“Hm. Kenapa?”
Arsyad membawa wajah sang istri agar menghadap ke arahnya. Mengunci tatapan iris hazelnut tersebut. “Aku akan mengambil alih semuanya mulai saat ini. Jadi, percayalah kepadaku.”
“Soal?”
“Tanggung jawab yang membebani kamu,” jawab Arsyad. Sebelah tangannya menarik pinggang ramping sang istri kian mendekat. “Aku berencana untuk menggabungkan dua perusahaan inti.”
“Maksud yanda?”
“Beri aku kesempatan untuk membuat perusahaan kakek dan nenekmu melakukan merger.”
“Itu mustahil, yanda.”
“Tidak ada yang mustahil jika kita belum mencobanya,” balas Arsyad mantap.
“Kara bakal dukung setiap langkah yanda. Entah itu soal merger atau apapun, asalkan yanda tidak mengobarkan diri sendiri. baik kakek atupun nenek Kara bukanlah orang yang mudah ditangani.”
Wanita cantik itu melarikan jemarinya pada rahang tegas milik sang suami. Dia memberikan Arsyad kebebasan dalam menjalankan bisnis atas nama mereka. Namun, dia tidak mau jika Arsyad mengorbankan dirinya sendiri kedalam bahaya. Kara akan lebih memilih hidup sebagai orang biasa, ketimbang harus hidup bergelimangan harta, tetapi hidupnya tidak bahagia. Dia tidak mau berakhir seperti sang Ayah yang harus kehilangan cinta karena masalah kekuasaan.
“Kara cuma mau mengantikan posisi Papih di kantor. Sisanya, terserah yanda.”
Arsyad tersenyum kecil. Jemarinya bergerak pasif menyentuh bibir sang istri. “Untuk sementara ini, lakukan apa yang kamu inginkan. Biar aku handle yang lain,” ucapnya, sebelum meraup benda tanpa tulang itu lagi. menjatuhkan ciuman-ciuman kecil yang menimbulkan gelora di rongga dada.
“Yanda,” Kara bersuara parau, masih mengikuti ritme permainan Arsyad di bibirnya.
__ADS_1
“Jangan terlalu memberatkan dirimu, jika memang kamu sudah siap menjadi seorang Ibu.”
Arsyad melepaskan tawanannya. Dalam jarak sedekat itu, kening mereka bersatu. Tatapan mereka berpadu, dengan nafas saling bertemu.
“Maksud yanda, apa?” tanya Kara parau, masih mencoba menormalkan deru nafasnya.
“Kurasa empat tahun sudah cukup untuk menunggu dan mempersiapkan diri.” Arsyad menyentuh garis wajah sang istri pelan.
“Boleh aku mengambil hak itu? Hak untuk memiliki kamu seutuhnya?”
Untuk sejenak Kara tidak merespon. Dia masih mencoba menormalkan deru nafas yang tidak beraturan. Kini ditambah dengan ritme jantung yang berpacu tak menentu.
“Kenapa yanda harus minta izin kalau yanda sudah tahu jawabannya,” ucapnya dengan suara kecil.
Arsyad meloloskan senyum. “Karena itu sebuah keharusan. Kamu menjaganya dengan baik selama ini. Ibarat bunga yang terjaga dengan baik hingga mekar dan mengundang banyak serangga. Bukankah jika ingin memetiknya untuk diriku sendiri, aku harus meminta izin si pemilik?”
Kara dibuat gugup karenanya. Entah harus bagaimana menghadapi setiap perlakuan mahluk manis satu ini?
“Itu hak yanda. Yanda punya hak untuk mengambilnya sejak awal. Justru Kara yang seharusnya berterimakasih karena yanda mau menunggu selama ini. Dan, maaf karena tidak bisa memenuhi kewajiban sebagaimana seorang istri pada umumnya.”
Satu kecupan singkat Arsyad berikan saat sang Kara selesai berucap. “Jangan minta maaf,” sedetik berikutnya, Arsyad membawa tubuh sang istri yang berada dalam pelukannya ala bridal style. Kara yang mendapatkan perlakuan demikian dengan cepat mengeratkan pegangannya pada leher sang suami.
“Mandi dulu, ambil wudhu, kemudian kita salat sunnah.” Arsyad menurunkan sang istri ketika tiba di dalam kamar mandi.
“O—kay,” jawab Kara kikuk. “K—alau gitu Kara mandi duluan.”
“Tidak perlu bantuan?” Arsyad melirik bagian punggung sang istri. “Mungkin kamu akan kesulitan melepasnya? Di rumah ini hanya ada kita berdua.”
Kara menghembuskan nafanya kecil. Ritme jantungnya terasa abnormal. Kara khawatir dia terkena Artmia dadakan. Tapi, dia tidak boleh mundur untuk saat ini. Dia harus berbakti sebagai seorang istri. Ini waktunya dia menjalankan tugas untuk memenuhi kebutuhan sang suami.
“Kara?”
Si empunya nama terhenyak. “Y—a,”
“Ada apa?”
“E—nggak,” Kara tersenyum gugup. “Y—anda, di sini aja, ya, bantu Kara.”
Pria ruapawan itu mengembangkan senyum. “Dengan senang hati.”
...**...
...TBC...
...Huhuhu…. Anakku udah gede...
...Gimana nih? Double part? Uhuhu… akhirnya, yang puasa buka juga. Bukan main nunggunya. Kalau ada yang nanya, kok bisa Yanda gan nyentuh Kara selama itu? Jawabannya tahu sendiri lah gimana over protectif-nya Kara di jaga. Yanda belum mau ambil hak-nya, karena takut Kara belum siap. Yanda juga udah janji sama Papih waktu itu. Mereka juga di sini dituntut untuk menyiapkan diri sebelum meluncur ke medan perang. Nah, kan, sekarang medan perang sudah di ambang mata. Jadi, bolehlah Kara ambil hak-nya. Udah dapet lampu ijo juga dari papih....
...Percayalah, yanda udah punya rencana yang dipikirkan secara matang-matang untuk menyelesaikan perang nanti....
...Okay, jangan lupa komentar, vote, like, share dan follow Author. Follow juga IG KARISMA022...
...WP @nengkarisma atau tik tok shaka.dji...
...Buat menjalin relasi pertemanan sama Author satu ini 🤗...
...Sukabumi 10 September 2021...
__ADS_1