
.87. Salah Pijit, Arsyad Menjerit
"Ada beberapa hal yang terkadang membuat seseorang salah paham, hanya karena menjerit."-Triple D
****
Mendung awan menyambut kedatangan para cucu Radityan yang baru datang dari kota Kembang. Mereka berempat baru menjejakan kaki di mansion megah milik keluarga Radityan ketika kumandang Isya terdengar. Mereka memang berangkat agak sore dari kota kembang.
"Um... capek..." lirih lelaki berhoodie kuning kunyit tersebut, sambil menjatuhkan dirinya di atas sofa.
"Hm, berasa remuk nih badan. Mana besok sekolah lagi." Davin ikut bergabung bersama Davian.
"Besok ada jadwal kumpul ekstrakulikuler, jangan lupa." Imbuh si bungsu yang datang membawa 3 tas bersamanya. Dia memang diperbudak oleh kembarannya.
"Aku ke atas dulu ya, mau salat isya." Ujar seorang gadis cantik yang datang bersama Aroon.
"Wah... anak Mama udah pulang toh. You happy boys?" Sapa seorang wanita berhijab syar'i yang baru saja turun dari anak tangga.
"Iya, Mah, sangat senang." Jawab Davian mewakili.
"Kakek sama nenek juga titip salam buat Mama dan Papa." Tutur si bungsu.
"Iya. Katanya kapan main ke Lembang lagi." Tambah si sulung.
"Rindu katanya." Ujar ketiganya bersamaan.
Lunar tersenyum tipis. Wanita yang merupakan ibu dari ketiga lelaki rupawan itu selalu gemas sendiri menghadapi tingkah laku baby triplenya. Walaupun sudah beranjak dewasa, baginya, ketiga putranya itu tetaplah bayi-bayi manja yang kadang suka merengek, merajuk, marah, juga kadang menggemaskan di waktu bersamaan. Namun, ia juga tahu jika ketiganya memiliki tingkat kedewasaan yang berlaku pada masa yang tepat.
"Arra ke atas ya." Pamit Arra sambil membawa tas miliknya sendiri. Gadis itu berlalu menaiki udakan tangga menuju lantai atas.
"Aroon juga, mau ke atas dulu, Mah. Mau isya."
Lunar mengangguk sambil menyentuh surai sang putra lembut. Ia terkadang masih tidak menyangka, jika tiga janin yang dulu hidup berdesakan di dalam rahimnya, kini sudah tumbuh besar.
"Ma, lapar." Adu Davian. "Pengen nasgor."
"Nasgor ya?"
Davin mengangguk antusias. "Pake sosis, baso, sama telur mata sapi setengah matang." Imbuhnya.
"Perasaan tadi di jalan udah nyeblak, beli bakso aci cikur seporsi, cakwe, makan peyèum, masih kurang?" Sindir Davin.
Davian terkekeh jenakan. "Kapasitas perut gue masih kuat nampung kok."
"Dasar peruta karet!" sindir Davin.
"Abang mau juga? Biar sekalian Mama buatin."
"Boleh, Ma."
"Ck. Kalo iri bilang slurr." Kekeh Davian. Davin hanya mendegus mendengarnya.
"Jangan pakai sosis, bakso atau telur setengah mateng, Ma. Pakai sayuran aja yang banyak." Riquest Davin.
"Dasar kambing." Komentar Davian jenaka. "Sukanya dedaunan."
"Apa lo?"
"Kambing. Sukanya yang ijo-ijo."
"Vegetarian woi, bukan kambing!" Protes Davin tak terima.
Lunar tersenyum kecil melihat perseteruan keduanya. "Sudah. Naik dulu, gih. Ganti baju, terus turun buat makan."
"Ok Ma." Jawab keduanya patuh, sambil bergantian mengecup pipi wanita berhijab syar'i tersebut.
"Woi, bing, tungguin." Ejek Davian.
"Ck, si anying. Gue bukan kambing!" Kesal Davin.
Keduanya tetap berseteru hingga tiba di lantai dua. Namun, perseteruan mereka terhenti karena mendengar lengkingan samar.
"Ahk!"
"Hih, jeritan siapa tuh malem-malem?" Davian merapat ke arah Davin.
"Mana gue tahu. Itu suaranya kayak dari arah sono." Davin menunjuk kamar di depan mereka.
"Emang bang Arsyad sama kapar udah pulang dari Surabaya?"
__ADS_1
Davin mengangakat bahunya acuh. "Te nyaho aing." Jawab Davin dalam bahasa sunda.
"Kasar." Komentar Davian, sambil menyentil kening Davian.
"Njirr, nyeri. Main jitak aja lo, goblok."
Davian terkekeh tanpa merasa bersalah. Toh, hal itu biasa ia lakukan.
"Ahk."
"Lah, suara teriakan lagi tuh." Davian menatap ke satu arah. "Suaranya auto bikin pikiran berfantasi."
"Pintunya agak ke buka, pantesan sampe kedengaran. Ruangan disini kan banyaknya kedap suara." Ujar Davin.
"Iya." Davin menyetujui ucapan sang kembaran.
"Don't touch it, Kara!" Seru suara dari dalam sana. Walaupun samar, pendengaran si kembar memang tajam. Mereka dianugrahi kelebihan dalam bidang pendengaran.
"Itu si abang lagi ngapain?"
"Jangan-jangan mereka lagi...." jeda Davian.
"Lagi ngapain?" tuntut Davin.
"Lagi..... kuda-kudaan."
"Mau gue gampar lo? Kalau bicara yang jelas." Ujar Davin kesal. Ia tidak faham ke arah mana sang kembaran berujar.
Davian menghela nafasnya jengah. "Lagi gini nih," lelaki itu menautkan kedua tangannya, lantas menggerakan jari telunjuknya, saling bertumbukan.
"Dih, apaan coba?"
"Ck. Lemot banget. Pelajaran biologi lo bolos terus ya?"
"Enggak tuh."
"Terus, masa gak tahu proses terciptanya anak manusia gimana?"
"Owh, kalau itu gue faham." Davin terkekeh kecil sambil mengangguk. "Ah, masa mereka lagi gituan?"
"Ya, kali aja. Di luar cuacanya lagi mendung, mendukung banget buat begituan."
"Ahk. Kara!"
"Tuh kan!" Ujar Davian sambil tersenyum miring kala mendengar suara samar tersebut. "Kayaknya, sebentar lagi kita bakal jadi Om-"
"Sedang apa kalian di sini?"
Deg!
Kedua lelaki rupawan itu langsung menegakkan badan. Mereka lantas menoleh 90° ke arah samping. Mereka tahu suara milik siapa itu. Suara bariton tegas yang pernah mereka lihat menjadi komando sebuah pasukan khusus.
"Eh, Ayah." Keduanya lantas tersenyum canggung, sambil mengecup punggung tangan pria berbaret merah tersebut.
"Sedang apa di sini? Kamar kalian di sana bukan?"
Keduanya menggaruk tengkuk mereka yang tidak gatal secara spontan. "Itu, kita lagi...."
"Pemanasan, Yah." Jawab Davian cepat, sambil menggerakan tangannya ke sembarangan arah.
Van'ar menatap lelaki muda itu bingung. Ia baru saja pulang bertugas. Saat hendak menuju kamarnya, tanpa sengaja ia melihat si tengah dan si sulung yang tengah berdiri di depan kamar sang putra.
"Baďan Dadav pegel, Yah. Makanya harus banyak gerak."
"Duh, o'on." Batin Davin.
Pria berbaret itu menatap keduanya lekat. Yang ditatap tentu berkeringat dingin di tempat. Mereka tidak lupa akan predikat jago menebak raut wajah lawan yang pria ini miliki. Mereka tentu berdegub takut ketahuan jika tengah berbohong.
"Ahk!"
Van'ar menoleh refleks, memutus kontak matanya terhadap Davin dan Davian.
"Ya Allah, selamat." Batin si kembang, sambil menghela nafas lega.
"Arsyad kenapa berteriak begitu?"
Keduanya kompak menggeleng. "Gak tahu, Yah. Kita juga penasaran eh, maksudnya khawatir." Ujar Davian sambil tersenyum kikuk.
"Mas, sudah pulang?"
Aura penyelamat datang. Davin dan Davian bisa tersenyum lega sekarang. Mereka menyambut senang malaikat yang tengah berjalan ke arah mereka. Aurra.
__ADS_1
"Bunda," panggil keduanya riang, sambil bergantian menyalami wanita berniqab tersebut.
"Baru pulang ya?"
"Iya bund." Jawab Davin dan Davian bersamaan.
"Gimana liburannya? Senang?"
Davin dan Davian mengangguk mantap. "Sedang apa berkumpul di depan kamar Arsyad begini?"
Wanita itu bertanya, setelah ia menatap sang suami sejenak.
"Itu, sebenarnya kita...." jeda Davian. Ia sibuk menggaruk kepalanya untuk mengalihkan gugup.
"Kepalanya kenapa Dadav? Gatal?" Tanya Aurra.
"Iya. Belum keramas." Jawab Davian asal.
"Kalian ini sedang apa sebenarnya?" Tanya Van'ar to the point.
"K-ita,"
"Ahk!"
"Astagfirullah, itu suara Arsyad 'kan?" Kaget Aurra.
Davin dan Davian mengangguk bersamaan. "Itu.... alasan kenapa kita disini."
"Iya, kita dengan jeritan itu, takutnya abang kenapa-kenapa." Ujar si kembar bergantian.
Aurra mengangguk faham. Ia juga barusan mendengarnya dengan cukup jelas. Suara itu suara milik sang putra.
"Biar aku chek dulu, mas." Aurra beranjak, meraih knop pintu ruangan tersebut.
"Duh.... penasaran..."
"Kira-kira mereka lagi ngapain ya?" Batin Davin dan Davian di dalam hati.
"Abang kenapa?" Aurra bersuara, saat pintu itu berhasil ia buka.
Davin dan Davian yang kepo abis, mengikuti langkah Auŕra yang masuk ke dalam, dibuntuti oleh Van'ar. Ketika memasuki ruangan tersebut, mereka bisa melihat Arsyad yang tengah duduk di atas ranjang, sambil meluruskan kakinya. Di ujung kakinya, ada Kara yang duduk sambil memegang mangkok yang berukuran small. Tidak ada yang aneh dari mereka berdua.
"Itu, tadi yanda jatuh di kamar mandi." Tutur Kara.
"Astagfirullah." Kaget Aurra.
"Jatuh, kok bisa?" Tanya Davian.
"Namanya juga musibah, ya pasti bisa lah." Imbuh Davin realistis.
"Terus, abang kenapa menjerit begitu?" Tanya Aurra.
"Emh, itu-"
"Kara salah mijit." Ujar Arsyad berauara. "Dia punya niat baik untuk memijit kaki abang yang kayaknya keseleo." Gadis itu berniat membantu. Namun, bukannya membantu meringankan, ia malah membuat Arsyad menjerit kepayahan.
"Ya Allah." Aurra mendekat. "Sebentar, biar bunda panggil mbok Ijah buat pijitin. Beliau insaallah bisa bantu."
Arsyad mengangguk. Lelaki itu memang bersikap biasa saja, namun sang istri yang terlihat sangat risau. Lelaki itu terjatuh di kamar mandi, ketika hendak mengambil wudhu. Ia menjerit samar tadi, Karena sang istri ngotot ingin membantu. Padahal istrinya tidak pandai memijit. Yang ada, kaki Arsyad makin sakit.
"Salah pijit, Arsyad menjerit." Ujar Davian.
Davin dan Davian tersenyum kecil setelahnya. Salah pijit, Arsyad menjerit. Nyatanya, hal itu berhasil membuat kesalah pahaman terjadi. Di kembar yang kelewat radikal perpikir kesana-kemari.
****
TBC
YUHUU.... BANG SYAD UPDATE!
Gimana buat part ini? ini tuh sebenarnya part bonus gitu. Mungkin, di part berikutnya, Yanda-Kara bakal pindah ke NYC. Tapi sebelum itu, ia harus mempersiapkan semuanya yang belum usai. Soal Arra, Arsen, Gean, juga Triple D. Jadi.... santuy aja ya. Masih mau lanjut? cus... komentarr👐
Like, vote, share dan follow Author. Itu sangat berarti bagi Author💙
Jangan lupa mampir ke ANAKKU yang lain :
Sukabumi 08 Juni 2021
__ADS_1