Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
.83. Crazy With You


__ADS_3

.83. Crazy With You



"Ada beberapa hal di dunia yang terkadang membuat lepas kendali, walaupun pertahanan diri telah semaksimal mungkin terjaga."-Arsyad An-nass Senopati Az-zzioi


****


Sepasang sandal rumah berwarna putih, nampak digunakan untuk berjalan kesana-kemari. Kedua pemakai alas kaki tersebut nampak tengah berkeliling, sambil sesekali bercerita. Hari sudah nampak menggelap di luar sana, namun tidak di dalam sini. Lampu-lampu bercahaya dengan terang, membiaskan cahaya yang juga nampak dari bebatuan alami yang mendominasi beberapa interior.


"Kita salat dulu," si lelaki bersuara, sambil menyentuh pucuk kepala istrinya.


Gadis itu mengangguk, lantas tersenyum tipis. "Yuk, salatnya di atas. Di kamar Kara."


Adzan sudah berkumandang. Tidak terasa sudah berjam-jam lamanya berkeliling. Selepas melaksanakan salat berjamaah, Kara membawa sang suami turun ke lantai dasar untuk makan malam. Di sana sudah ada si empunya rumah yang duduk di jantung tempat makan.


Meja makan berdiameter dua kali lipat dari meja makan milik keluarga Radityan itu, didominasi oleh warna alami dari kayu sandalwood. Salah satu jenis kayu mahal yang memiliki gurat khas yang cantik pada bagian dalam batang pohonnya. Meja makan itu dibuat sedemikian rupa, agar nampak elegan dan megah. Alat makan dari porselene dan keramik juga menghiasi meja makan tersebut.


Berbagai hidangan disajikan dalam wadah-wadah kecil, ditata dengan apik, perpaduan antara kebiasaan adat-istiadat orang Korea dan Jepang saat makan. Mungkin hal itu dibawa oleh almarhumah Ibu Kara.


"Duduklah, kita makan malam bersama."


Arsyad dan Kara mengangguk. Sepasang muda-mudi itu mendudukan dirinya di samping kanan tempat duduk Tyoga. Berbagai lauk-pauk telah tertata rapih di hadapan mereka.


Arsyad sudah mendapat sedikit bocoran tentang kebiasan makan di rumah Crazy Rich satu ini. Jadwal makan akan terus berganti setiap harinya. Misalkan menu makan siang hari ini, masakan khas dari salah satu daerah di tanah air, bisa saja menu makan siang besok berganti menjadi cheenes food. Begitupun dengan jadwal sarapan dan makan malam.


Sedikit banyaknya, Arsyad mulai bisa membiasan dirinya dengan kebiasa yang ada. Lagi pula ia suami Kara, adat-istiadat yang melekat pada keluarga istrinya, harus ia hormati juga.


"Malam ini kita tidur di sini. Mau kara ajak room tour enggak, yanda?" Tanya gadis berpiama baby doll tersebut, saat memasuki ruangan pribadi miliknya.


Ruangan luas tersebut didominasi oleh warna pastel terutama peach. Aura feminim begitu menguar kentara, dengan dominasi harum buah-buahan segar. Harum khas Atmariani Karamina Adriani, sang pemilik ruangan. Aroma tersebut memang dibuat khusus untuk putri sang crazy rich. Dipesan langsung dari rumah produksi parfum terkenal di negeri paman Sam.


"Sini, duduk di sini, yanda." Gadis cantik itu menepuk-nepuk tempat tidur di sebelahnya.


"Kara mau cerita. Yanda gak mau room tour kan?"


"Tidak perlu."


"Kalau gitu kita sharing aja." Ujar gadis cantik tersebut antusias.


Kamar pribadinya yang luas, didesain apik jendela-jendela besar yang menghadap ke langit langsung. Mempertontonkan pemandangan langit malam yang indah, dihiasi oleh berbagai bintang.


"Lihat, cantik ya. Kara suka lihat bintang. Kadang Kara juga iri sama bintang-bintang itu."


"Iri?"


Kara mengangguk, "iya. Karena bintang-bintang itu selalu ada temannya, sedangkan Kara sering sendirian." Lirihnya.


"Tapi sekarang, Kara gak sendirian lagi walaupun Papih pergi ke luar negeri." Gadis pemilik manik hazelnut cantik itu tersenyum lebar, sambil menatap lelaki di sampingnya.


"Sekarang, ada Yanda. Kara gak akan kesepian lagi."


Arsyad tidak bergeming. Ia hanya menatap lekat wajah cantik pemilik manik hazelnut di hadapannya itu lekat.


"Kok yanda diem terus, kenapa? Kara salah bicara ya? Atau, Yanda mau pergi sekarang?" Tanya gadis cantik itu beruntun.

__ADS_1


"Kara tahu, Kara belum bisa jaga aurat kayak dia. Kara manja, cengeng, gak bisa apa-apa, enggak kayak dia. Kara-"


"Dia siapa?" Arsyad bersuara.


"Dia, yang waktu itu jadi pasangannya yanda di Prom Night. Kara lihat, Kara gak ada apa-apanya sama dia-"


Cup!


"Yanda, Kara sedang bicara-"


Cup!


"Yanda, ihh. Kara-"


Cup!


"Yanda-"


Cup!


Lelaki rupawan itu menjauhkan wajahnya sejenak, selepas menjatuhkan kecupan di kening, kedua kelopak mata, dan pucuk hidung sang istri. Kedua tangannya menyentuh rahang sang istri lembut.


"Bicara apa sih?"


"Kan tadi Kara udah bicara panjang lebar, kenapa yanda ganggu terus. Kebiasaan ih." Ketus gadis tersebut, sambil mengerucutkan bibiŕnya kesal.


"Jangan begitu."


"Apa?"


Kara menatap suaminya tak mengerti. "Ish, apa sih maksudnya? Kara gak gerti ih."


Arsyad tersenyum ķecil, sambil mengecup pucuk kepala sang istri lama. Bersamaan dengan itu, ia melapadzkan sebuah do'a didalam hati. Berharap agar ia diberi kesabaran lebih dalam menjaga nafsu lelakinya sendiri.


"Yanda,"


"Hm?"


"Mau kiss lagi."


Lelaki rupawan itu menatap istrinya lama. "Coba bicara lagi?"


"Mau kiss, masa yanda gak ngerti sih? Di sini." Ujar gadis cantik tersebut, sambil menyentuh pucuk hidungnya. "Papih juga suka kiss Kara disini pas masih kecil. Gemas katanya. Dylan sama hyung Aiden juga-"


Kara tidak bisa melanjutkan ucapannýa lagi, saat Arsyad membungkam bibirnya cepat dan penuh kehati-hatian. Lelaki itu menekan tenggkuk belakangnya, guna mempertahankan dan memperdalam posisi mereka.


"Catching a glimse of you make me feel dizzy (menangkap sekilas kamu bikin pusing)." Lirih Arsyad, setelah melepaskan tawanannya. Jemarinya dengan telaten menyentuh bibir tawanannya tersebut.


"Kamu milikku, kepunyaanku. Jangan biarkan lelaki manapun melakukan hal ini kepadamu, kecuali Ayahmu." Pungkas Arsyad final.


Emosinya sering kali terpancing saat mendengar nama lelaki lain yang sering beriteraksi cukup intim dengan istrinya. Ia tidak rela. Sebagian hatinya menolak keras kenyataan tersebut.


"Mulai detik ini dan kedepannya, mari saling menjaga hati. Milikmu maupun milikku, keduanya saling berkepemilikan." Ujar Arsyad sambil menatap manik hazelnut sang istri lekat.


📚📚📚

__ADS_1


"HOREE, KAK GEAN DATANG!"


Lelaki rupawan yang baru saja membuka helm full face miliknya itu tersenyum lebar. "Hello, guys. Apa kabar?"


"Kabar kita baik, kak." Jawab anak-anak jalanan itu kompak.


Lelaki rupawan itu tersenyum tipis sambil mengangguk. "Udah dibagiin semua belum, Gar, Cak?"


"Udah, rebes, boss. Tinggal anak-anak ini aja yang belum."


Lelaki rupawan yang tengah bersandar di motornya itu mengangguk faham. Harusnya ia sudah ada di dalam kabin pesawat saat ini, tetapi sifat pembangkangnya tengah mode on. Ia sengaja melewatkan penerbangannya ke Jerman, tempat dimana ia akan menimba ilmu perguruan tinggi.


"Ok, habis ini lo berdua temenin gue ke mall."


"Mau ngapain boss, shoping?" Sagara bertanya heran.


"Bukan."


"Lah, terus mau ngapain boss?" Bingung Cakrawala.


"Nyari kebutuhan sandang buat anak-anak berkebutuhan khusus. Lo pada masih ingat Rumah Harapan 'kan?" Sagara dan Cakrawala mengangguk.


"Gue mau kirim bantuan pangan sama sandang kesana. Lumayanlah, itung-itung buat ngabisin duit bulanan."


"Lah, lu boss. Segitunya mau ngabisin uang bulanan. Ditabung aja boss, kan bisa?" Cetus Sagara.


"Tabungan SI, S2, S3, nikah, rumah tangga, sama masa depan kehidupan gue sama keluarga kecil gue kelak, insaallah udah aman. Hunian udah siap, tinggal pilih daerah mana, gak usah khawatir."


"Etdah busyet, bener banget ucapan lo boss. Tinggal calon bini aja yang gak ada."


Gean tersenyum miris mendengarnya. "Nanti juga datang sendiri."


"Kalau mau yang sehati, ya, dicarilah boss." Usul Cakrawala.


"Ya, kali aja nanti nemu di Jermah. Masa tinggal disana bertahun-tahun gak nemu yang bening satupun?" Gurau Gean, yang langsung dijawabi tawa renyah kedua sahabatnya. Namun, tawa itu tak berlangsung lama karena terdengar suara familiar menyela.


"Kamu mau pergi?"


Deg!


Tubuh Gean membeku seketika. Suara itu terdengar, suara yang sempat ia hindari. Suara milik seorang gadis yang telah membuatnya membangkang hari ini. Padahal ia telah menata hatinya agar lebih kuat, namun kali ini pertahanannya kembali runtuh.


"Pergi tanpa pamit terlebih dahulu, kupikir kita teman?"


Nah, sekarang Gean bisa merasakan jantungnya diremat tangan tak kasap mata. Harus bagaimana sekarang?


****


TBC


HAREUDANG... HAREUDANG... sama scen 1 atau scen 2 nih? mo lanjut lagi? kalau mau komentar LANJUT yang BANYAKK. Berserta alasan kenapa mau lanjut ya😀


Jangan lupa LIKE, VOTE, KOMENTAR, SHARE & FOLLOW AUTHOR. Follow IG Karisma022 juga boleh. Maaf baru bisa up sekarang. Ada hal-hal yang membuatku tidak bisa up kemarin", semoga readers mengerti. ILYSM FOR ALL READERS yang masih setia menunggu UP😍😍


TBC

__ADS_1


__ADS_2