Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
.26-Bukan Suami Junior Biasa?!


__ADS_3

📚.26-Bukan Suami Junior Biasa?!



'Aku pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup.Dan yang paling pahit adalah berharap kepada manusia.'-Ali Bin Abi Thalib


***



Ketika langit beranjak sore, lelaki tampan bermarga Az-zzioi itu menatap langit sore dengan perasaan tak menentu. Langit jingga nampak cantik diufuk barat, tak ada satupun mahluk yang tak kuasa terpukau akan lukisan indah ciptaan-Nya. Namun, keindahan itu, agaknya tak membuat suasana hatinya membaik.


Sambil menatap raport diatas meja belajarnya, lelaki tampan itu kembali menatap sekeliling kamarnya datar. Hingga maniknya tertuju pada sebuah figura fhoto yang cukup besar terpangpang jelas didinding salah satu kamarnya. Fhoto tersebut diambil sesaat setelah ia menyelesaikan ijab qabul. Fhoto tersebut adalah satu satunya bukti otentik yang mengambarkan jika pernikahan itu ada.


Walaupun ia dan Kara sudah menikah, pun sudah tinggal seatap. Namun, surat menyurat masih ada dipihak Tyoga yang mengurus segalanya. Pernikahan mereka memang sudah sah secara agama dan hukum, hanya saja semua itu sengaja ditutupi untuk beberapa kepentingan.


"Nak, kamu kenapa?"


Arsyad menoleh, menatap keambang pintu. Disana sang ibu tengah berdiri sambil membawa nampak ditanganya.


"Bunda, kenapa repot repot begini?"


Arsyad dengan segera mengambil alih nampan berisi makan malam tersebut. Lantas, lelaki tampan itu menuntun sang ibu untuk duduk di kursi.


"Bunda bukanya sedang sakit?"


"Alhamdulillah, ibu sudah lebih baik nak." Ujar wanita berhijab syar'i tersebut.


"Kenapa harus repot repot, abang bisa ambil sendiri jika lapar bunda."


Aurra tersenyum tipis dibalik penutup hijabnya. "Nunggu abang lapar itu, terkadang gak ada habisnya."


Arsyad menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Jika hatinya tengah tak menentu begini, jangankan mau makan, memikirkanya saja tidak.


"Abang tadi dapet juara 1 lagi?" Arsyad mengangguk.


"Juara umum juga?" Lagi, Arsyad mengangguk.


"Alhamdulillah. Ternyata, ternyata kerja keras abang seteñgah tahun ini membuahkan hasil yang memuaskan."


"Iya, alhamdulillah bunda."


"Berarti, awal tahun nanti abang harus lebih fokus ke Ujian dan seperangkat praktik lainya ya?" Arsyad mengangguk.


Siang tadi, pembagian raport memang telah dilakukan. Tepat di hari jum'at, diakhir pekan classmeeting. Jadi mulai besok, libur panjang semester ganjil akan dimulai. Banyak dari teman teman Arsyad juga yang mengajaknya untuk liburan bersama. Bahkan, tiga D bersaudara sudah membooking tiket pesawat untuk liburan ke luar negri, hitung hitung untuk merayakan libur semester ganjil dan tahun baru.


"Iya."


"Selepas lulus nanti, abang rencananya mau kuliah dimana?" Tanya Aurra, sambil membelai surai legam sang putra.


Arsyad menimbang-nimbang sejenak sebelum menjawab.


"Hm, sebenarnya om Galaksi sudah meminta Arsyad untuk bergabung, belum lama ini bunda."


"Bergabung?"


Arsyad mengangguk. Aurra langsung menatap sang putra lekat. Jangan sangka dia tidak tahu, siapa Galaksi dan Gemintang itu. Dua pria tersebut bergelut dibidang apa, mereka berprofesi sebagai apa. Aurra tahu dengan pasti, dan semua itu tak ada bedanya dengan seorang abdi negara seperti sang suami. Van'ar.


"Tapi, abang masih pikir pikir lagi bunda. Abang memang mau menjadi seorang abdi negara bunda, apapun itu jalurnya yang penting halal. Disana, abang juga insaallah mau belajar managemen bisnis bersama on Gemi dan om Anzar sesuai permintaan Opa. "


"Apapun itu, bunda akan selalu mendoakan yang terbaik untuk abang." Ujar Aurra.


Walaupun ya, didalam hati ia merasa sedikit khawatir. Mengingat profesi sang suami yang menjadi seorang abdi negara saja, selalu bikin perasaan tak karuan. Apalagi saat sang putra mengutarakan keinginanya yang satu ini.


"Sekarang, bunda mau tanya. Apa yang membuat abang gundah seperti ini?" Tanya Aurra to the point.


"Abang, tidak-"


"Eh, abang gak boleh bohong sama bunda." Sela Aurra sambil menyentuh pucuk kepala putranya.


"Bunda tahu, ada yang mengànggu hati abang." Lanjutnya.


"Apa itu karena abang jauh dari Kara?"


Arsyad mendongrak, ia sudah bersiap untuk menjawab. Sebelum sebuah suara menyelanya.


"Iya. Gegana itu, bunda."


"Eh,"

__ADS_1


"Gundah, galau, merana." Kikik suara khas milik Arra tersebut.


"Arra?" Lerai sang kembaran tidak suka.


Gadis cantik itu berlalu, lalu mendekat kearah sang kembaran dan ibunya berada. Senyuman manisnya nampak terpatri dibibirnya.


"Tapi tenang, Arra sudah punya solusinya."


Baik Aurra maupun Arsyad menyerngi bingung.


"Maksud tetèh?"


"Selamat berjuang abang. Mbak Kara istri abang, jadi abang patut memperjuangkanya." Ujar Arra sambil menyodorkan sesuatu.


"Arra ini?"


Arra tersenyum tipis, "Dadav udah cari tahu dimana mbak Kara dirawat. Pesawat abang besok berangkat agak siangan." Lanjut si cantik Arra.


"Ada Aroon sama kak Arsen yang nemenin abang. Besok, abang harus memperjuangin sesuatu. Jadi butuh supporter." Imbuh Arra sambil tersenyum manis.


Sebagai sepasang anak kembar yang diberkahi intuisi yang kuat. Arra tahu, jika apa yang menganggu kakaknya itu adalah tentang sang istri. Bagaimanapun juga Arsyad memiliki hak untuk memperjuangkan statusnya sebagai seorang suami. Jadi, Arra akan mendukung apapun keputusan sang kembaran. Yang terpenting adalah, Arsyad bisa bahagia nantinya.


"Terimakasih, Yara-nya abang." Ucap Arsyad tulus.


Ia merasa amat senang, karena dengan ini ia memiliki dukungan untuk memperjuangkan apa yang memang seharusnya menjàdi hak-nya.


📚📚📚


"Arsyad mau kemana?"


Lelaki tampan yang baru saja hendak beranjak dari bad rumah sakit itu menoleh.


"Kamar mandi. Kenapa, mau ikut?" Tanyanya balik.


"E-eh, enggak." Cicit gadis itu kecil.


"Aku mau ambil air wudhu dulu. Ini sudah masuk waktu salat isya." Ujar Arsyad menuturkan.


"Hm, ìya."


Lelaki tampan itu menyunggingkan senyumnya tipis. Lantas, ia beranjak untuk mengecup kening sang istri sekilas.


Cup


Gadis cantik itu tersenyum canggung. Pipinya dipenuhi oleh rona merah, sesaat setelah Arsyad berkata demikian.


"Ekhem."


Hingga sebuah dehaman keras membuat keduanya terhenyak.


"P-apih?" Cicit Kara kecil, saat melihat siapa sosok yang tengah duduk sambil bersidakep dada tersebut.


"Selesaikan salatmu. Saya ingin bicara empat mata denganmu, setelahnya." Ujar pria tersebut tersebut datar.


"Iya pak."


Arsyad mengangguk, lalu beranjak menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Ia tahu dengan pasti, lambat launya pasti ia akan menghadapi mertuanya tersebut. Huft, jika sudah begini Arsyad hanya bisa berdo'a kepada Allah agar dipermudahkan segalanya.


"Bapak ingin bicara dengan saya?"


Tyoga mengalihkan pandanganya, "Duduk."


Arsyad mengangguk, lalu ia langsung menggeserkan kursi dihadapan Tyoga.


"Ada apa pak?"


"Kenapa kamu datang kesini?" Tanya Tyoga to the point.


Arsyad mendongrak, lalu menatap sang lawan bicara sopan.


"Saya kesini ingin menemui Kara. Sudah sepatutnya, sebagai seorang suami saya mendapingi Kara."


Diam diam Tyoga meng-iyakan ucapan menantunya tersebut.


"Dari mana kamu tadi Kara dirawat disini?"


Arayad tetap tenang menyikapi pertanyaan demi pertanyaan to the point tersebut.


"Maaf, tapi sebelumnya saya meminta seorang kenalan untuk mencari tahu keberadaan Kara."

__ADS_1


Tyoga menyeringai tipis. "Saya sudah menebak itu. Mudah bagimu untuk membayar orang untuk mencari informasi bukan? Kamu cucu Radityan yang disegani, pasti mudah bukan?"


Arsyad menggeleng tegas. "Saya mencari tahu informasi ini, tanpa embel embel nama Radityan." Bantah Arsyad.


"Lantas?"


"Ada saudara saya diberkahi kelebihan untuk menggali informasi lewat dunia maya ataupun sistem dunia jaringan."


Tyoga tersenyum tipis. "Iya, aku tahu itu. Cucu cucu Radityan memang diberkahi otak otak yang mempuni. Aku dengar, putri om-mu Anzar, sudah menjadi anggota direksi diusianya yang masih sangat belia?"


Arsyad memang pernah mendengar kabar tentang sepupunya tersebut. Alea-putri Anzar memang diberkahi otak lebih didunia bisnis. Dia bahkan sudah beberapa kali berkecimpung diduñia bisnis sejak usia muda.


"Belum lagi kembaranmu itu, profesinya sebagai seorang beautyblogger dan model muslimah bukan?"


Arsyad tahu, Tyoga tengah meneliti asal usul keluarganya kini. Saudara dan saudarinya tengah ia gali satu persatu informasinya. Entah apa yang dicarinya, namun yang pasti ada niat terselubung dibaliknya.


"Kamu, dan ketiga saudara kembarmu itu juga memiliki usaha yang dibangun bersama bukan?"


"Iya."


"Tujuanya?"


"Bagi kami, nama orang tua saja tidak cukup membuktikan kualitas kami jika tanpa dibarengi dengan kemampuan sendiri. Jadi, kami mendirikanya semata-mata untuk mengasah kemampuan berbisnis, otomotif, juga mengelola keduanya. Hasilnya, bisa untuk tambahan uang saku tanpa harus meminta uang dari orang tua."


Tyoga menatap sang menantu datar. Sedangkan yang ditatap hanya menjelaskan dengan tenang apa saja yang ditanyakan kepadanya.


"Kamu suami putriku bukan?" Arsyad mengangguk mantap.


"Apa nafkah lahir dan batinya sudah kamu penuhi selama ini?"


Deg


Arsyad terdiam sejenak. Untuk nafkah sendiri, Arsýad memang belum memberikanya secara utuh. Mengingat jika pernikahan mereka juga usianya bisa dihitung jari. Sedangkan untuk beradabtasi saja, Kara masih butuh waktu.


"Untuk nafkah lahiriah, insaallah saya sudah siapkan untuk Kara pak." Ujar Arsyad, sambil mengambil sesuatu dari dompet miliknya.


"Walaupun isìnya tidak seberapa, saldo didalamnya murni hasil dari omset caffe dan usaha lain yang saya rintis, pak." Ujar Arsyad sambil menyodorkan sebuah kartu ATM kehadapan Tyogà.


Kartu tersebut memang bukan black card ataupun platinum card. Hanya saja, penuturan pria muda dihadapanya mampu membuat hatinya sedikit banyaknya puas.


"Untuk nafķah batiniah, insaallah saya belum akan meminta ataupun memberikanya. Saya mau, Kara menggapai cita citanya terlebih dahulu, terlepas dari adanya ikatan diantara kami. Jika nanti, pada masanya Kara sudah siap maka saya akan memenuhi nafkah yang satu ini." Tutur Arsyad mantap.


Tyoga tersenyum tipis, puas akan jawab menantu juniornya tersebut. Usia memanglah bisa dibilang muda, tapi untuk pemikiranya benar benar matang. Tyoga akui itu, menantunya itu bukan suami junior biasa.


"Hm, yakinkan Kara. Saya akan membawanya ke Korea setelah keluar dari rumah sakit ini."


Arsyad terkejut bukan main. "Korea?"


"Ya. Nenek Kara merindukanya."


Arsyad mengangguk lesu. Apa setelah ini, dirinya akan berpisah dengan sang istri lagi.


"Persiapkan dirimu juga," Arsyad menatap lawan bicaranya bingung.


"Kalian akan diperkenalkan sebagai suami istri dihadapan keluarga besar nenek Kara."


Deg


Arsyad mungkin bisa saja salah mendengar. Namun faktanya, pria dihadapanya baru saja mengucapkan kalimat yang begitu nyata. Mertuanya itu, berarti akan memberinya izin untuk mendampingi putrinya yang akan pergi ke Korea bukan?


Bismillah, satu lagi rintangan bagi Arsyad mulai datang didepan mata. Rintangan yang siap mengujinya, juga membuatnya untuk siap tuk membuktikan diri sebagai suami yang layak bagi seorang putri seperti Kara.


****


TBC


Holla readers, bang Arsyad update lagi yo👍


Gimana nih, buat part ini?? makin jatuh cinta gak sama babang Arsyad 😃😃 Ya Alloh, kalau aku sih YES banget ❤


Habis ini mereka ke Korea, kira kira bang Arsyad diterima gak ya??


Penasaran gak sama Hyung-nya Kara??


Oppa Oppa Korea loh ituu😉


Wokeee, selamat berpenasaran sedunia. Jangan lupa, like komentar dan vote biar semangat nulisnya 😉😉


Salam dari soon duo bucinn😍😍

__ADS_1



Sukabumi 13 Nove 2020


__ADS_2