Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
.65. Kedatangan


__ADS_3

📚.65. Kedatangan



"Ada saatnya lo yang harus ikhlas, ketika masa milih gue lebih awal untuk menemaninya."-Arsenove Rayyan


****



...(Calon Bojo😍)...


"Katanya sayang, maunya sama kamu sampai ajal menjemput, eh ujung-ujungnya malah ghosting." Ujar lelaki tampan berkaos polos berwarna hijau army tersebut.


"Ghosting..... oh.... ghosting.... tau tau dikau hilang bak ditelan bumi, meninggalkan sejuta kisah yang tak berujung." Imbuh suara lainnya.


"Ghosting..... oh ..... ghosting.... kau begitu membuat hati kecewa, ketar-ketir tak tertingting."


"Tak tertingring apaan? Gak nyambung banget." Koreksi si bungsu.


"Bangsul, salah ini buatnya." Ujar suara yang lainnya.


"Bambang, itu memang salah. Disuruh bikin pantun, malah bikin quetos ngawur tentang ghosting." Ujar si bungsu.


"Buntet, terus buatnye gimane?"


Davin, Davian dan Aroon kembali berceloteh sambil berkutat dengan buku buku yang terbuka dan beberapa lembar HVS yang berserakan dimana-mana. Ruang tamu keluarga Radityan tiba-tiba mereka ubah jadi ruang belajar dadakan. Di tambah 2 mahluk lainnya yang juga sedang mengerjakan soal-soal latihan, mereka berlima mengerjakan tugas di ruangan megah tersebut.


"Ini rumusnya gimana sih?" Bingung satu satunya kaum hawa disana buka suara.


"Mana? Coba aku lihat."


Gadis cantik berhijab cream itu menyodorkan buku paketnya. Diterima dengan sukarela oleh lawan bicaranya, lantas dilihat oleh lelaki tampan tersebut.


"Ini gampang kok. Tinggal dicari peluangnya, cara penyelesaianya ada di halaman sebelumnya."


"Gitu ya?"


"Iya Ra." Gadis cantik itu mengangguk faham.


"Arsyad kemana ya Ra? Kok belum turun dari tadi." Tanya lelaki tampan tersebut.


"Mungkin abang lagi nungguin mbak Kara." Ujar Arra, sambil mengisi soal-soal latihan di bukunya.


Malam ini, mereka sengaja belajar bersama di kediaman Radityan. Mengingat Try Out akan segera dilaksanakan bagi siswa/i kelas XII. Oleh karena itu, ada Arsen juga yang ikut nimbrung belajar bersama. Akan tetapi, satu tuan rumah yang tadi pamit ke atas, hingga kini belum berlalu.


"Itu bang Arsyad." Ujar Arra.


"Eh, iya." Arsen ikut menatap kearah yang sama. "Lama, ngapain aja?" Tanyanya.


"Hm." Si empunya hanya berdehem kecil sambil duduk di tempatnya. "Maaf, tadi pensil HB Kara hilang. Aku bantu cari." Jelasnya.


"Owh, kirain ngapain dulu." Ujar Arsen sambil menatap soal-soal di buku paketnya lagi.


"Mau ngapa-ngapain juga gak papa, kan udah HALAL." Celetuk Davian sambil terkekeh.


"Iya. Bentar lagi juga bang Arsyad lulus, gak papa kalau kapar hamidum." Imbuh Davin, ikut bercanda.


"Hamidum?" Bingung Arra.


"Hamil maksudnya." Koreksi Aroon.


"Gak mungkin lah. Arsyad gitu-gitu noob soal gituan." Sela Arsen.


*Noob : payah, atau istilah kalah atau ejekan untuk seseorang yang payah dalam permainan.


"Sok tahu. Bang Arsyad pinter Fisika, kimia sama Biologi. Masa gituan masih noob. Gak percaya gue?" Kekeh Davin.


"Iya. Laki-laki kan punya insting, iya kan?" Ujar Davian, pada Davin.


"Yoii." Balas Davin.


"Tunggu, ini bicarain apa sih? Arra gak ngerti." Arra buka suara. "Noob itu apa?"


Aroon menggelengkan kepalanya sejenak sebelum buka suara. "Ck, ngerusak otak polosnya tetèh lo pada."


"Memangnya apa sih yang kalian bahas?" Bingung Arra.


"Gak penting." Arsyad buka suara. "Mending kamu kerjakan soalnya lagi."


Arra yang masih penasaran, akhirnya memilih mengangguk saja. Toh, ia juga tidak tahu apa yang para saudaranya bicarakan.


Malam ini mereka belajar bersama selepas pulang dari caffe, satu jam lebih awal. Oleh karena itu, sisa luang pulang dari caffe digunakan untuk mempelajari latihan soal yang telah diberikan oleh pihak guru-guru.


"Syad, gue pamit dulu deh." Arsen buka suara sambil membenahi alat tulisnya.


"Bokap udah otw ke rumah. Soalnya gue ada janji mau bantu ngedit vektor."


Arsyad mendongrak. "Hm, mau pulang sekarang?"


"Iya. Udah malem juga nih." Arsen melirik jam tangannya yang sudah menunjukan pukul 20.00 malam. Dengan segera, ia membenahi alat tulisnya, dan mengenakan hoodie untuk melapisi pakaiannya.


"Eh, udah mau pulang Sen?" Tanya Aurra, wanita paruh baya itu baru saja keluar sambil membawa nampan berisi celiman.


"Iya, bunda. Sudah malam, ada janji juga sama ayah." Ujar Arsen, yang sudah terbiasa memanggil wanita tersebut dengan panggilan bunda.

__ADS_1


"Gak mau ngemil dulu Sen, ini bunda buat cemilan."


Lelaki tampan itu menggeleng dengan ragu. Sebenarnya ia sungkan menolak, tapi apalah daya. "Maaf bund, mungkin lain kali. Ayah lagi dikejar deadline. Sebulan ini, ayah jam kerjanya tinggi. Arsen harus bantu ngedit vektor sampai jadi animasi." Tolaknya halus, sambil memberi penjelasan.


Àurra mengangguk, lantas ia memanggil salah satu maid untuk membungkus cemilan yang di buatnya untuk Arsen bawa pulang. Lelaki tampan itu sudah menolak, tapi Aurra tetap memaksa. Rezeki anak soleh kali ya! Arsen pikir begitu saja. Toh, setiap makanan yang diolah oleh ibu tiga anak tersebut selalu top markotop rasanya.


"Aku pamit pulang ya." Ujar lelaki tampan tersebut, sambil menaiki motor berCc tinggi miliknya.


"Iya. Hati-hati di jalan."


"Hm."


"Titip salam buat ayah kamu. Makasih buat ilustasi yang kemarin, aku suka."


Lelaki tampan yang sudah mengenakan helm fullface itu tersenyum tipis. Kemarin ia memang meminta bantuan ayahnya untuk membuat ilutrasi dari wajah cantik Arra menjadi versi Animasi. Arsen pikir Arra tidak akan menyukainya, ternyata gadis itu suka. Secara keseluruhan memang Arsen yang membuat, tapi dasar awal di buat oleh ayahnya.


"Iya. Nanti aku titipin salam ke ayah." Ujarnya, sambil menghidupkan mesin motornya. "Makasih juga buat cemilannya. Buatan bunda selalu enak."


Arra mengangguk sambil tersenyum tipis. Ia memang kebetulan mengantar Arsen hingga depan rumah.


"Aku pulang ya,"


"Iya. Hati-hati di jalan." Ujar Arra sambil tersenyum kecil, menàtap kepergian lelaki tampan tersebut dengan motornya.


"Eh, itu mobil siapa?" Bingungnya, ketika tanpa sengaja ia melihat mobil fortuner hitam memasuki pelatan rumahnya, namun memutar balik walaupun belum sampai depan mansion keluarga Radityan.


"Aneh."


📚📚📚📚



...(Calon selingkuhan😍)...


"Boss, sini. Sebelah sini boss." Teriak dua orang lelaki yang memegang sebuah kertas karton bertuliskan 'Welcomback Bosque' itu, agaknya mampu menarik perhatian banyak orang.


Akan tetapi mereka tak peduli, selama itu tidak membuat mereka menjadi pusat perhatian. Yang terpenting, orang yang mereka jemput tahu lokasi mereka.


"Akhirnya.... lo balik juga boss." Kekeh salah satunya, ketika seseorang yang mereka maksud telah berdiri di hadapan mereka.


"Sehat lo boss selama disana?"


"Iye, itu tangan udah gak geser lagi?" Tanya keduanya.


"Sekate kate lo pada!" Ketus lelaki tampan yang baru datang tersebut. "Ngapain lo pada disini?"


"Jemput lo lah, masa jemput Agnes Monica!" Jawab Cakrawala.


"Iya betul tuh. Kita nyambut lo nih, terniat." Imbuh Sagara, sambil membentangkan kertas karton yang mereka bawa sedari tadi.


"Dodol banget!"


"Malu-maluin goblok. Kayak gue gak pernah balik ke Indo aja, sampe harus disambut gitu." Komentar lelaki tampan tersebut.


"Kan kita excited denger lo balik. Jadi gini deh." Cakrawala menjelaskan.


"Hm." Respon lelaki tampan berhoodie putih yang menyangklong sebuah ransel tersebut.


"Cabut. Gue capek."


"Ok, kita pulang!" Seru Sagara riang, sambil merangkul bahu sang sahabat.


Cakrawala dan Sagara memang sengaja menjemput sahabatnya itu, karena excited mendengar kabar kepulangannya setelah seminggu lebih tertahan di New york. Keduanya tahu jika berat bagi Gean ketika di hukum di sana. Mereka tahu betul, hukuman macam apa yang diterima oleh Gean di New york sana.


"Itu, apaan boss?" Tanya Cakrawala penasaran, saat melirik sahabatnya tengah membuka sebuah paper bag berlogo toko makanan terkenal di New york.


"Oleh-oleh."


"Weh, repot repot lo boss. Sampe bawa buah tangan segala." Senang Sagara. "Sini, kita gak nolak kok kalau soal makanan. Iya gak Cak?"


"Huum. Itu kayaknya oleh-oleh khas sultan. Lumayanlah, gak ikut ke NY. Tapi tetep dapet oleh-oleh."


"Ngawur lo pada." Sewot Gean. "Ini bukan buat lo pada."


"Hah?"


"Kalo bukan buat kita, buat siapa dong?" Tanya Sagara lesu.


"My Chèri." Ujar Gean gamblang, sambil tersenyum tipis.


"My Chèri? Siapa?"


"Gak usah banyak nanya lah. Habis jalan ini, belok ke kiri." Ujar Gean menuturkan.


"Belok kiri? Kita kan mau balik ke Bandung. Ini juga udah malem loh. Mau mampir ke mana lagi?" Tanya Cakrawala.


"Gak usah banyak bacot dah, capek gue." Kesal Gean.


"Iye, iye. Kita belok kiri." Ujar Cakrawala meng-iyakan.


"Ini kan jalan mau ke komplek perumahan keluarga Radityan?" Celetuk Sagara.


"Lo mau mampir kekediaman Radityan, boss?" Tanya Cakrawala.


"Hm."

__ADS_1


"Oleh-oleh itu buat cewek selebgram itu?" Tanya Sagara.


"Hm."


"Dia seistimewa itu boss?" Tanya Cakrawala.


"Hm."


"Lo mau-"


"Lo berdua gak capek ngintrogasi gue terus?" Gean berujar kesal. "Gue capek baru pulang, anterin gue ke rumah Chèri, habis itu kita balik ke Bandung. Engap gue lama-lama didalem mobil rongsokan ini."


Sagara menoleh refleks. "Sekate-kate lo boss, mobil gue ini masih baru. Bukan rongsokan?!"


"Ck, rongsokan gini juga dibanggain. Ac-nya hidup gak sih? Kenapa juga bawa rongsokan gini buat jemput gue? Bulan lalu Bugati red gue udah gue kasih ke lo 'kan?"


"Hehe... iya boss. Mobil dari lo gue pajang di museum pribadi, biar awet." Kekeh Sagara.


"Dasar." Gerutu Gean kecil. "Jangan lupa kekediaman Radityan."


"Asiaaap." Jawab Cakŕawala dan Sagara.


Mobil fortuner hitam itu melaju dengan kecepatan sedang menuju alamat tujuan. Walaupun dibilang rongsokan, si empunya tak pernah mengambil hati. Toh, sultan Gean mah bebas. Mobil sport tinggal dipilah, dipilih, kalau sudah bosan, mobilnya bisa di sumbangkan kepada kedua sahabatnya. Kan lumayaaan.


"Berhenti."


Ckiitttt


"Astaga naga! Lo apa apaan sih boss?!" Kaget Cakrawala.


"Nyeri nih jidat lebar gue, kejedot dashboard." Lapor Sagara.


"Kenape lo tiba-tiba minta berhenti? Pintu utamanya masih di depan sono?" Tunjuk Sagara.


Mereka memang sudah tiba di Area mansion Radityan. Setelah melewati pos penjaga di gerbang depan, mobil mereka hanya perlu berjalan beberapa ratus meter lagi menuju pintu utama mansion megah tersebut. Namun belum saja tiba di depan pintu utama, Gean tiba-tiba minta mobil mereka berhenti.


"Kenapa boss? Lo berubah pikiran, telat. Kita tinggal jalan beberapa ratus meter lagi, sampe deh. Noh, pintunya juga udah kelihatan." Kesal Sagara.


Gean masih bungkam, tatapan tajamnya menatap lurus kedepan.


"Eh, lihat kedepan deh." Intruksi Cakrawala.


Dari dalam mobil, mereka bisa melihat interaksi kedua anak Adam di depan sana. Seorang gadis berkhimar cream yang tengah berdiri, mengantarkan seorang lelaki yang sepertinya hendak pulang. Setiap interaksi keduanya dapat terekam jelas oleh retina mata Gean. Senyum tulus gadis itu, nampak jelas tertuju untuk lelaki yang tengah menduduki motor CBR-nya.


Hingga lelaki berhelm fullface tersebut berlalu, Gean tetap bungkam. Tangannya terkenal erat, ketika melihat gadis yang dirindukannya itu tetap menunggu kepergian lelaki bermotor gede tadi, hingga siluetnya menghilang dibalik pagar mansion Radityan.


"Putar balik." Intruksi Dean datar.


"Putar balik? Lo yakin boss?"


"Kita udah jauh-jauh kesini loh boss. Sayang bensin." Ujar Cakrawala dan Sagara bergantian.


"Gue punya SPBU Mini pribadi di deket daerah ini. Lo bisa isi bensin sepuasnya disana." Jawab Gean datar.


Sagara dan Cakrawala mengangguk patuh. Kalau sudah begini, mereka bisa apa?


"Ya udah, kita putar balik."


Gean tak menjawab. Moodnya sudah anjlok seketika. Pikirannya yang tadi dipenuhi oleh rindu yang akan terbalaskan, sekarang malah dipenuhi kegundahan. Ia pun memilih mengurungkan niatnya untuk bertandang guna memberikan buah tangan yang telah ia beli jauh-jauh. Niatnya, ia akan memberikan oleh-oleh tersebut sebagai tanda terimakasih atas tawaran pertemanan tempo hari. Namun, sayang seribu sayang. Hatinya malah gak mood disaat-saat yang tidak tepat.


"Boss?"


"Apa?" Jawab si empunya nama datar.


"Lo jauh jauh bawa itu dari NY, gak mau dikasih ketujuannya? Beneran?" Tanya Cakrawala menyakan sekali lagi.


"....?"


"Iya. Lo bisa nitip ke pos penjaga kalau mau. Sayang boss, lo udah bela-belain datang kesini. Walaupun baru balik dari bandara." Imbuh Sagara.


"....?"


"Gak usah badmood gitu, gak cocok sama lo boss. Semongko dong, selama belum ada janur kuning melengkung, tikung menikung masih bisa berlangsung." Ujar Sagara Jumawa.


Gean beralih, menatap kedua sahabatnya untuk sejenak. Detik berikutnya, ia tersenyum tipis.


"Gue nitip ini dulu." Ujarnya sambil membuka pintu.


Sagara dan Cakrawala saling menatap sejenak, sebelum tersenyum tipis. Setidaknya, bujuk rayu mereka bisa sedikit mengurangi rasa kecewa bossnya tersebut.


"Oii?" Panggil Gean sebelum benar-benar keluar.


"Apa lagi boss?"


"Pulang dari sini, lo pada bebas mau pilih sepatu gue. Ambil satu satu, free." Ujar Gean yang langsung membuat Sagara dan Cakrawala melotot heboh.


"Asikkkk?! Sepatu 15 jeti inceran gue, I coming?!"


"Sepatu gold keluaran tahun lalu, gue jemput lo sekarang?!"


****


TBC


Yuhuu.... BCT Update👐

__ADS_1


Hayoo.... sudahkah terbayar rindu readers dengan upnya part ini? mau bilang apa ke Acean sayang? mau bilang apa ke AlGean joness? mau bilang apa ke Arra? cus.... komentarnya. Jangan lupa like, vote, komentar, share dan follow me. ILYSM for all readers yang selalu setia nunggu up❤


Sukabumi 15 Maret 2021


__ADS_2