
...101. Berbagi Kenikmatan...
...🔥🔥YOK PANASKAN MALMING🔥🔥...
...🙀🙀...
...“Dengan nama Allah, ya Allah; jauhkanlah kami dari gangguan syaitan dan jauhkanlah syaitan dari rezeki (bayi) yang engkau anugrahkan pada kami.” (Hadist Riwayat Bukhari)...
...**...
Sinar rembulan yang tampak terang, menembus masuk melewati transparent glass yang menjadi dinding penyekat. Aroma harum dari lilin yang terbakar, mengisi setiap penjuru ruangan. Ruangan yang memang didekorasi layaknya kamar pengantin itu tampak dihiasi cahaya remang. Segarnya aroma bunga segar yang tersimpan cantik di beberapa sudut, menjadi pengharum ruangan tambahan.
“Cantik sekali.”
Pujian itu entah tersemat pada sang rembulan, atau pada saingannya. Wanita cantik yang malam tampak berkali-kali lipat lebih menawan dalam balutan dress malam berkain lembut yang jatuh di atas lutut.
“Kenapa menunduk? Takut?” tanya pria rupawan yang baru saja mengganti pakaian bekas ibadahnya. Menyisakan celana pendek selutut, tanpa atasan.
“E—ngak?” jawab si lawan bicara. Kepalanya tertunduk. Menyembunyikan wajah ayu yang malam ini menyaingi pesona rembulan.
“Gugup?” tanya pria rupawan tersebut sambil tersenyum tipis. Dengan gerakan pelan namun pasti, dia meraih tubuh sang istri. Membuat pekikan nyaring tercipta, karena keterkejutan wanita cantik tersebut.
“Yanda ih,” protes sang istri saat tubuhnya sudah dibaringkan di atas tempat tidur.
“Masih ada waktu untuk menolak, Kara. Coba pikirkan baik-baik,” ucap si pemilik panggilan. Matanya menatap sang lawan bicara lamat-lamat. Sungguh indah pesona mahluk tuhan satu ini. Dia bahkan takut gila jika tidak beristigfar berulang kali.
Wanita cantik itu menggelengkan kepala tegas.
“Jadi?” tanya Arsyad memastikan.
“Yanda ih,” ketus Kara seraya mencubit legan bisep sang suami.
Arsyad tertawa. Tawa yang membuat candu itu mampu membuat siapapun terkesima. Termasuk Kara, putri sang Crazy Rich. Dia dibuat jatuh hati setiap kali.
Cup
Arsyad menjatuhkan kecupan di kening sang istri. Lama, syarat akan keintiman. Ada do’a yang pria itu panjatkan di sana. Berharap jika apa yang akan mereka lakukan terhindar dari gangguan syetan.
“Yanda baca doa?”
Arsyad menurunkan pandangan. Menyelami sepasang iris hazelnut milik sang istri. “Do’a untuk djauhkan dari syetan, dan agar rezeki yang diberikan kepada kita dijauhkan dari syetan.”
“Kara juga sudah baca do’a.”
Mendengar kejujuran sang istri, Arsyad tidak kuasa menahan senyum. Dalam kaidah agama islam, semua hukum, norma, atau peraturan telah diatur dalam al-Qur’an juga hadist. Tidak terkecuali jika sepasang suami istri hendak melakukan penyatuan. Hendaklah diawali dengan do’a agar terhindar dari gangguan syetan, dan mendatangkan keberkahan, seperti pahala maupun rezeki berupa keturunan.
Dalam sebuah hadist Asma’binti Yasid radhiyallahu’anhu (salah satu perempuan teladan utusan Rasulullah SAW dari kaum perempuan), berhias dan memberikan penampilan terbaik juga merupakan sunnah yang dapat dilakukan saat hendak melakukan hubungan suami-istri. Memakai wewangian, bersiwak, menghiasai kamar, atau sebagainya. Hal itu coba Kara aplikasikan malam ini.
__ADS_1
Dia merias diri. Menggunakan pakaian yang layak, juga mengenakan wewangian. Hal itu agar bisa membuat sang suami senang. Karena ini adalah waktu yang ditunggu-tunggu setelah sekian purnama.
“Cantik sekali,” puji Arsyad, jemari kekarnya bergerak menyentuh tulang selangka sang istri yang tidak tertutup apapun, kecuali seutas tali berukuran tiga centi.
“Betapa kerasnya kamu menjaga semua ini untukku?” Arsyad berbicara tepat di hadapan bibir ranum sang istri.
Dia tahu betul perjuangan sang istri selama mereka menikah. Dari gadis yang biasanya mengenakan pakaian apapun yang telah disediakan desainer pribadinya, tanpa memikirkan jika pakaian itu terbuka atau tidak. Saat dinikahi Arsyad, sedikit banyaknya gaya berbusananya berubah. Kara hanya menggunakan pakaian yang terbuka jika berada di rumah. Untuk pemotretan, kuliah, atau kerja, Kara akan memilih outfit yang lebih tertutup.
“Jangan takut, Kara.”
Wanita cantik yang berada di bawah kungkungannya itu tampak gugup. Arsyad menyadari hal itu. Disentuhnya sepanjang garis wajah sang istri. Cantik sekali.
“Yanda,”
“Rileks, Kara,” ujar Arsyad seraya menjatuhkan satu ciuman di bibir ranum yang sedari tadi sudah mencuri perhatian. Dia menyesapnya pelan juga lembut, tanpa terburu-buru. Namun, sejatinya dapat mencipakan letupan memburu.
“Yanda,”
Arsyad memiringkan wajahnya, mempermudah mengakses benda tidak bertulang tersebut. Manis sekali, seolah-olah Arsyad baru menikmati madu yang baru dipetik dari sarangnya. Kara sendiri sudah pasrah juga menyerah. Setiap sentuhan yang diberikan Arsyad terlalu membuat otaknya buntu. Membuat deru nafasnya berderu, memburu, saling bersatu.
Arsyad beralih, menjatuhkan kecupan-kecupan ringan di sepanjang bagian wajah sang istri. Mulai dari kening, kelopak mata, hidung, pipi, hingga kembali pada bibir. Kedua tangannya tidak tinggal diam. Mereka melakukan pekerjaanya masing-masing. Bersinergi memberi sentuhan yang membawa kenikmatan bagi pasangan sumai-istri tersebut.
“Kara,” suara baritone itu kian berat juga parau saat memanggil.
Si empunya nama mengerjapkan matanya sayu. Kedua tagannya sudah tidak lagi seiras dengan pemikiran. Jari-jari lentik itu entah sejak kapan menari-nari di sepanjang lekuk tubuh berotot Arsyad. Menciptakan lukisan abstrak di beberapa titik. Menyulut akhwat seorang Arsyad An-nass Senopati Az-zzioi tanpa dia sadari.
“I—ya, yanda….” jawabnya dengan suara kecil.
“Kamu mungkin akan merasa kesakitan,” bisiknya, seraya menyentuh wajah sang istri. Menatap paras cantik yang sebentar lagi akan dia miliki seutuhnya. “Lakukan apapun kepadaku sebagai pengalihan. Pukul, gigit, cubit, atau apapun itu.”
Iris hazelnut yang tampak sayu itu bergulir, menatap sang suami. Seberkas senyum terbit di bibir ranum miliknya yang sudah semerah delima. Sampai detik krusial seperti ini, pria yang berhasil merajai hati itu masih dapat mengontrol diri. Bertanya seperti ini, dia perhatian sekali.
“Lakukan yanda, Kara tidak apa-apa.”
“Maaf.” Arsyad berucap seraya menganggukkan kepala. Dia tidak bisa mundur, tanpa menyelesaikan penyatuan ini. Jadi, malam ini biarlah akhwat-nya sebagai seorang pria bekerja dengan semestinya. “Ini akan sakit. Tahan sebentar,” imbuhnya lagi.
Manik jelaga itu tidak beralih dari iris hazelnut sang istri. Kendati kesulitan tengah dihadapi, pria rupawan itu tetap peduli. Karena dia tidak mau egois. Penyatuan ini mereka lakukan untuk mencari kenikmatan bersama dalam bentuk Ibadan sepasang suami-istri. Setiap langkah yang dia ambil hendaknya diperhitungkan dengan baik, agar tidak menyakiti sang istri.
“Maaf, dan terimakasih.”
Dihujani wajah sang istri dengan kecupan seringan bulu. Sudut-sudut manik wanita cantik itu tampak dihiai lelehan kristal bening. Ada rasa sakit yang menyambangi, membuatnya hampir berteriak tanpa sadar. Namun, urung karena melihat perjuangan sang suami. Dia juga tidak boleh egois. Jika dia tidak bisa menahan rasa sakit itu, suaminya pasti akan memilih berhenti. Mereka sudah sejauh ini. Jadi, biarlah semuanya selesai hingga akhir.
“Sebentar lagi,” Arsyad menyentuh bibir ranum sang istri yang terkunci rapat. Wanita cantik itu menutup rapat bibirnya agar tidak meloloskan rintihan.
“Sebentar lagi rasa sakitnya akan menghilang,” ujarnya seraya mengambil alih kuncian bibir ranum tersebut. Memberikan *******-******* kecil guna mengalihkan rasa sakit yang sempat datang saat dia berhasil mengambil kesuciaan sang istri.
Mahkota yang begitu dijaga oleh Atmariani Karamina Adriani selama hidupnya. Sesuatu yang memang hanya dia persembahkan untuk suaminya. Rasa sakit itu seiring berjalannya waktu mulai terurai. Berganti dengan rasa nikmat yang memang diperuntukan bagi mereka pasangan yang sudah menikah. Dosa hukumnya jika dilakukan oleh pasangan yang belum terikat pernikahan.
Cahaya rembulan yang terang, menjadi background ruangan yang didominasi rintihan-rintihan kenikmatan. Seiring dengan berputarnya jarum jam, sang rembulan yang ikut menjadi saksi bisu semakin terang-benderang. Mengisingi kegiatan sepasang insan yang tengah berbagi kenikmatan.
__ADS_1
Hingga tiba pada puncak kenikmatan yang hendak didapatkan, Arsyad melapalkan sebuah do’a.
“Allahummaj’alnuthfatna dzurriyyatan thayyibah (Ya Allah jadikanlah nutfah (sp*rma) kami ini menjadi keturunan yang baik (saleh).”
Membiarkan aliran kenikmatan yang dibagi dengan sang istri diiringi sebuah doa. Berharap jika setelah penyatuan ini, Tuhan berbaik hati menitipan rezeki berupa keturunan yang saleh-salehah di antara mereka. Dilihatnya wajah ayu sang istri yang tetap cantik dalam nafas tersenggal-senggal. Peluh membanjiri bagian pelipis hingga beberapa titik lain.
“Terimakasih.”
Arsyad kembali menjatuhkan kecupan sayang di kening. Kali ini cukup lama, seolah-olah dia ingin menyalurkan rasa kebahagiaan yang membuncah di dada lewat tindakan tersebut.
“Y—anda sudah dua kali berterimakasih,” ujar wanita cantik itu dengan suara parau.
“Terimakasih untuk semua yang telah kamu berikan.”
“Tiga kali.” Kara tersenyum. Ditatapanya sang suami lekat. Kedua tangannya terangkat. Menyentuh sepanjang garis rahang tegas Arsyad. “Itu hak yanda. Kara cuma menjaganya.”
“Kamu menjaganya dengan baik,”
Kara tersenyum lebar. Arsyad yang demikian memuja dirinya, membuat hatinya menghangat. Pria itu selalu bisa membuat hati Kara porak-poranda. Dalam setiap cinta dan kasih sayang yang Arsyad berikan, membuat Kara menjadi wanita yang paling beruntung.
“Kara milik yanda, semenjak hari di mana yanda menjabat tangan Papih di depan saksi dan penghulu.”
“Kamu milikku.”
Kara mengangguk. Senyum masih terpatri di bibir. Kendati gelombang kenikmatan hebat yang baru saja mereka dapatkan membuat tubuh lemas, semua itu setara dengan kebahagiaan yang tampak dalam setiap gurat wajahnya.
“Semoga mereka cepat tumbuh.” Disentuhnya perut sang istri pelan. “Aku tidak sabar menunggu mereka hadir di sini.”
Kara tersenyum lebar. “Butuh usaha keras untuk membuat mereka hadir, yanda.”
“Hm. Jadi, malam ini mohon kerjasamanya, nyonya Arsyad.” Arsyad bersuara, kemudian ditawannya lagi bibir ranum sang istri.
Untuk malam ini, biarlah Arsyad bekerja keras. Layaknya orang yang telah berpuasa seharian, tahu sendiri jika berbuka bagaimana? Toh, hidangan utama telah tersedia. Semua memang diperuntukan untuk dia.
...**...
...TBC...
...HUAHHH, INI SIAPA SIH OTHOR-NYA? KOK BISA-BISANYA NULIS GINIAN? ADA READERS DI BAWAH UMUR GAK NIH? KALAU ADA, DOSA DONG!...
...HUHU… INI SEMUA KARENA KOMENTAR READERS YANG MAU IKUTAN LIHAT BANG SYAD BUKA PUASA. JADI GINI KAN? PANAS DINGIN NULISNYA🥵🥶...
...JADI GIMANA NIH, LANJUT KE NEXT PART?...
...SIAP EPILOG?...
...COBA SPAM KOMENTAR DULU BUAT BANG SYAD-KARA...
...JANGAN LUPA LIKE, SHARE & VOTE🔥...
__ADS_1
...Sukabumi 18 September 2021...