
📚.66. Kunjungan
"Persahabat bukan diukur dari harta, atau seberapa royal lo ngasih kita jajan. Tapi, persahabatan diukur dari tingkat solidaritas dan kepedulian yang lo beri."- Cakrawala Cadas Dee Barack
****
Mobil fortuner hitam yang baru saja memasuki pelataran rumah megah 3 lantai itu, berhenti tepat di depan pintu utama. Hari sudah sangat larut ketika ketiganya tiba di rumah tersebut. Ketika melihat mobil siapa yang datang, dengan sigap dua penjaga yang berada di depan pintu langsung membukakan pintu mobil. Memberikan jalan kepada tuan muda mereka untuk keluar.
"Selamat datang den Gean." Sapa salah satunya.
Si empunya nama tersenyum tipis, lantas merogoh saku celananya. "Buat beli susu buat Sisil, pak." Ujarnya, menyerahkan 4 lembar uang pecahan seratus ribu pada masing masing.
"Terimakasih banyak den."
"Hm. Kita masuk dulu pak." Ujar Gean, yang diangguki langsung oleh dua pria tersebut.
Si tuan muda langsung berjalan memasuki rumah tersebut, diikuti dua abdi setianya.
"Gak mau lewat lift aja boss?"
"Iya. Biar cepet sampe boss." Usul kedua abdi setianya.
"Gak usah. Kayak gue udah jompo aja. Gue masih bisa pake tangga." Sewot si empunya nama.
"Njeh paduka."
Si tuan muda tak merespon, ia lebih memilih lanjut berjalan. Memasuki ruang tamu utama kediaman tersebut yang terasa sepi.
"Pada kemana nih boss? Mamah sultan gak ada di istana?" Tanya Sagara.
"Nyokap jam segini udah dikurung." Ujar Gean sambil menaiki anak tangga.
"Dikurung?" Bingung keduanya, saling bertatapan.
"Maksudnya?"
"Bokap ada di rumah, otomatis jam segini nyokap udah di kurung di kamar."
Sagara dan Cakrawala mengangguk faham. Urusan orang dewasa kalau sudah berjumpa setelah sekian lama berpisah, mereka juga faham apa maksud 'dikurung' menurut si tuan muda.
Tiba di lantai tiga, ketiganya langsung memasuki ruangan yang di depan pintunya dibentuk seperti replika pintu pesawat. Ciri khas sekali dengan kamar para pecinta benda besar bersayap tersebut.
"Udah lama gue gak berkunjung kemari, capek juga ya manjat anak tangganya." Celetuk Sagara.
"Anak tangga itu dinaiki, bukan di panjat." Koreksi Cakrawala.
"Di panjat sama dinaiki bedanya apa ya bund?" Sengit Sagara.
"Beda konotasinya ya yah."
"Gitu ya bund, padahal sama aja tuh." Timpal Sagara tak mau kalah.
Si empunya kamar memutar bola matanya jengah. "Gak usah ribut dah, pusing gue." Lerainya.
"Ok boss." Jawab keduanya patuh.
Si empunya kamar berjalan lebih dalam memasuki ruangan luas bercat diminasi putih dan biru dongker tersebut. Reflika pesawat terbang langsung menjadi interior utama yang menyambut manik mereka. Sejauh mata memandang, ada pernak pernik pesawat disana-sini. Di langit langit, di dingding, pintu, lantai, hingga tempat belajar.
"Ambil noh sepatu yang lo berdua mau. Gue mau mandi dulu." Ujar si empunya kamar, enteng. "Jangan diberantakin, yang bener ngambilnya."
"Asiappp bosque!" Jawab keduanya, semangat 45.
"Yaudah, sono."
Kedua lelaki tampan itu mengangguk antusias. Detik berikutnya, mereka berlari ke arah pintu yang berbentuk seperti pintu didalam pesawat. Memasukinya dengan gembira. Sebelum menyapu pemandangan mereka dengan berbagai jenis sepatu yang terpajang di etalase kaca. Dari berbagai merk ternama dari dalam dan luar negeri seperti Puma, Vans, Adidas, Nike, Air Jordan, Converse, Yeezy, Asics, dan sebagainya, mendiami etalase-etalase tersebut.
"Ya amplop. Gue gak nyangka bisa bawa sepatu 15 jeti juga." Ujar Sagara, sambil menempelkan wajahnya di salah satu etalase kaca tersebut.
"Sepatu gold incaran gue yang cuma ada 15 biji di dunia. Gak nyangka, bakal jadi milik gue." Timpal Cakrawala, ikut ikutan menatap penuh binar sepasang sepatu berwarna putih dan emas di balik etalase kaca tersebut.
Dua puluh menit kemudian, si empunya baru saja menyelesaikan mandinya. Tubuh profosial untuk ukuran remajanya, telah dilapisi pakaian santai yang nyaman digunakan untuk tìdur. Rambut hitamnya nampak sedikit lembek karena terkena air. Bodymist campuran dari citrus dan wewangian lainnya, menyebar ketika ia keluar.
"Udah?" Tanyanya, saat melihat kedua sahabatnya yang duduk di ujung ranjang.
"Udah, nih." Ujar keduanya, sambil mengangkat kotak sepatu mereka masing masing.
"Hm."
"Hatur tengkýu nih boss."
__ADS_1
"Hh, udah ambil aja. Lagi pula gue gak make juga." Ujar Gean santai. "Gue malah udah ratain toko sepatu yang ada di Ci Cadas."
"Eh, kenapa boss? Bukannya itu toko sepatu kesayangan lo?" Tanya Cakrawala.
"Gak lagi. Gue mau bikin rumah singgah."
"Rumah singgah?" Giliran Sagara yang bersuara.
"Hm. Buat anak yatim piatu. Udah gue konfirmasiin juga sama manager toko sepatunya."
Sagara dan Cakrawala melohok kanget. "Lah terus, karyawan lo gimana? Sepatu sepatu yang belum kejual?"
"Karyawan gue pindahin ke toko gue yang lain. Sepatu sama barang barang yang belum kejual, sebagin di bawa ke toko yang lain. Sebagian lagi dibagiin cuma-cuma."
"Cuma-cuma?' Shok Sagara dan Cakrawala.
"Hm. Gue bagiin ke anak PKL di BTM. Kenapa?"
"Hah?!"
"Mereka kan disini gerantau, ibaratnya. Dari kampung datang ke sini buat nyari ilmu. Ya, gue kasih aja cuma-cuma. Tapi gue ngasih lewat pembingbing di tempat mereka PKL kok."
Rahang Saga dan Cakrawala hampir jatuh saking terkejutnya. Cuma-cuma? Bisa bayangkan kalau sepatu-sepatu itu di jual? Atau kalau tidak, disumbangkan kepada mereka berdua saja.
"Kok lo gak bilang sama kita boss?"
"Penting?"
"Ya pasti lah." Ujar keduanya kompak.
"Gue kan kemarin masih di NY. Jadi gue hubungin orang toko dari NY. Kalau mau, lo pada bisa kunjungin rumah singgah gue yang baru mau dibagun."
"Beneran boss?"
"Iya. Kalau bisa, lo berdua jadi kuli bangunan aja sekalian di sana." Celetuk Gean.
"Elah kampret, gak mau lah." Tolak Sagara mentah-mentah.
"Gue bayar pake mata uang Dollar, gak mau?"
"Ya..... mau lah."
"Ya udah, besok lo pada jadi tukang kuli di tempat gue." Ujar Gean sambil tertawa kecil.
📚📚📚
"Ada apa pak?" Tanya gadis cantik berhijab cream tersebut.
"Ini non, ada titipan."
"Titipan? Buat siapa pak?"
"Buat non Arra katanya."
"Buat Arra? Tapi, perasaan gak ada paket apapun hari ini." Monolog gadis cantik tersebut.
"Saya kurang tahu non. Tapi yang pasti ini titipan buat non Arra."
"Kalau boleh tahu, dari siapa ya pak?"
"Saya kurang tahu non. Dia kayaknya bukan temennya para pandawa."
"Eh?"
"Maksudnya bukan temen den Arsyad, Aroon, Davin, Davian atau Arion. Mereka baru saya lihat hari ini." Tutur pria paruh baya tersebut.
"Owh, kalau gitu terimakasih ya pak." Ujar Arra, pada akhirnya.
Ia pikir Arsen kembali karena barangnya ada yang tertinggal. Akan tetapi yang mengetuk pintu, ternyata adalah pak penjaga. Pria itu mengantarkan titipan seseorang untuknya.
"Siapa tèh?"
"Pak Ujang, nganterin titipan."
"Titipan?" Tanya Aroon lagi penasaran.
"Titipan apa?" Arsyad buka suara.
"Gak tahu. Ini, Arra juga baru mau buka." Ujar gadis itu, sambil mendudukan dirinya.
Membuka paper bag berlogo tersebut perlahan, sebelum alisnya menyerngit hebat.
"Coklat?" Ujar Arra sambil menatap kotak mewah bermotif gold berisi coklat tersebut.
__ADS_1
"Woah, coklat mahal itu. Kapar juga pernah bawa coklat gitu." Celetuk Davian, ikut nimbrung.
"Emang bener bang?" Arsyad selalu yang ditanya mengangguk.
"Halal gak bang?" Tanya Arra penasaran.
"Halal."
Senyum gadis itu mengembang. Ia juga menemukan sepucuk surat di dalamnya. Sepucuk surat yang hanya terdiri dari 6 kata, dalam dua kalimat. Namun, sepucuk surat itu mampu membuatnya tersenyum.
...To : my friend...
...How are you?...
"Eh, ada udang dibalik batu nih?" Celetuk Davin yang melihat ekspresi Arra.
"Em, Arra naik dulu ya semuanya. Arra udah selesai belajarnya." Pamit gadis tersebut, sambil berlalu membawa serta paper bag titipan someone tersebut.
"Mencurigakan." Ungkap Davian.
"Udah gak usah seudzon. Mungkin oleh-oleh dari temeh tèh Arra." Ujar Aroon melerai.
"Yok belajar lagi."
"Wokeee."
Arsyad yang sedari tadi diam, buka berarti tak mengamati. Ia juga bisa melihat perubahan ekspresi sang kembaran yang signifikan. Ia juga sedikit menaruh penasaran soal si pengirim coklat tersebut.
"Eh, itu kurir lagi kali ya?" Celoteh Davin, kala bell depan rumah kembali terdengar.
"Iya kali." Ujar Davian menyetujui.
"Bik, tolong bukain pintu dong." Ujar Davian pada akhirnya.
Tidak lama kemudian, si bibik datang dengan diikuti oleh dua pria di belakangnya.
"Siapa bi?" Tanya Aroon buka suara.
"Ada tamu den."
"Tamu buat siapa bik?" Kini Giliran Davian yang bertanya.
"Buat den Arsyad."
Si empunya nama mendongrak, mengalihkan perhatiannya dari tumpukan soal-soal kimia di bukunya. Menatap ke wanita paruh baya yang berdiri di hadapannya.
"Siapa bik?"
"Bibi kurang kenal den. Bicaranya sama bahasa Inggris, gak faham bibi." Ujar wanita tersebut.
"Bibi bisa kebelakang." Ujar Arsyad.
Wanita paruh baya itu mengangguk, lantas undur diri. Memberikan space bagi Arsyad dan tiga saudaranya untuk melihat tamu yang dimaksud.
Deg
Keempatnya terdiam, kala manik mereka menangkap 2 sosok pria bermata sipit berpakaian hitam-hitam. Kulit mereka putih pucat, dengan manik dingin bak tak memiliki emosi dan hasrat kehidupan. Si triple bahkan sampai kesusahan meneguk salivanya sendiri, melihat dua sosok yang diliputi aura membunuh tersebut.
"Arsyad An-nass Senopati Az-zzioi, it's you?" Tanya salah satu di antara mereka.
"Ya. Siapa kalian?" Tanya Arsyad tenang dalam bahasa inggris, sambil berdiri dari duduknya.
Dua pria tersebut saling bertatapan sejenak, seringai tipis mereka terbit kala kembali menatap Arsyad. Arsyad mencoba menafsirkan arti tatapan tersebut, akan tetapi gagal. Manik jelaganya tak sengaja melihat tangan kedua pria tersebut. Ada yang janggal pada jari-jari pria tersebut.
Deg
Arsyad menemukan kejanggalan tersebut. Merasa diawasi, kedua pria itu memasukan tangannya kedalam saku celana. Ya, Arsyad telah mengenali identitas kedua pria yang memiliki aura membunuh tersebut. Mereka orang orang yang memiliki tanda di jemarinya adalah.....
"....yakuza."
****
TBC
BCT Update👐
Yuhuu.... kita main teka teki lagi yuk. Ini, suruhan siapa hayooo... kita bakal bertemu siapa hayo....
Yang tahu jawab ya. Aku tunggu di kolom komentar. Mohon Maaf kalau partnya pendek🙏
Nanti aku usahain double update ya.
Tapi jangan lupa like, vote, share, komentar dan follow me. Ok, jumpa lagi nanti All readers😀
__ADS_1
Sukabumi 18 Maret 2021