Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
.58-Ada yang manis


__ADS_3

📚.58-Ada yang manis



"Iya, ada yang manis yang terselip di senyummu."-Arsenov Rayyan



****


Seorang lelaki tampan nampak tengah menatap lawan bicaranya lekat dalam diam. Dalam sebuah mobil SUV yang tengah melaju, lelaki tampan itu memperhatikan setiap gerak gerik sang istri yang katanya ingin ikut mengantar. Alasan mengapa ia hari ini harus rela tidak membawa motor kesayangannya ke sekolah.


"Yanda kenapa lihatin Kara terus?"


"Tidak ada."


"Dari tadi yanda lihatin Kara terus, ada yang aneh di wajah Kara?" Tanya si empunya nama, sambil mengusap wajah ayunya. Mencari alasan apa yang menjadi objek penglihatan sang suami sejak tadi.


"Kamu yakin mau mengantar sampai ke sekolah?" Alih-alih menjawab pertanyaan sang istri, dia malah mengalihkan topik lainnya.


"Iya. Habisnya, Kara juga sekalian pergi homeschooling di rumah Dylan."


"Dylan?" Arsyad menatap sang istri cepat. Indra pendengarannya agak sensitif jika mendengar nama lelaki disebut oleh sang istri.


"Iya, dirumah om Tyo."


"Hm."


Arsyad berdeham kecil sebagai jawaban. Pagi ini, kekasih halalnya ini memang memilih mengantar dirinya. Walaupun sudah diwanti-wanti, karena takut jika masalah beberapa minggu yang lalu terulang kembali.


"Yanda jangan cemas, Kara gak akan turun dari mobil kok." Ujar Kara, mengerti kecemasan sang suami.


"Hm."


Tiba di pelataran SMA Dandelion, lelaki tampan tersebut bergegas mengambil tas ranselnya. Membuka seatbelt, lantas beralih kepada sang istri.


"Yanda jangan lupa makan bekal makan siangnya. Pakai topinya, hari ini yanda jadi petugas upacara kan?"


"Hm."


"Semangat belajarnya, nanti Kara tunggu yanda pulang setelah kegiatan pemantapan yanda selesai."


Semua gerak gerik sang istri, Arsyad amati dengan seksama. Senyum manisnya terpatri dibibir, dengan sebelah tangan terangkat untuk meminta tangannya. Maka dengan cepat, Arsyad memberikan sebelah tangannya untuk disalami sang istri.


"Selamat belajar, yanda." Ucapnya dengan senyum manisnya.


"Hm. Kamu juga, jangan lupa belajar yang benar." Ujar Arsyad, sambil menyentuh pucuk kepala sang istri. Menjatuhkan satu kecupan disana, tanpa malu pada supir juga kembarannya yang baru saja keluar dari kursi depan. Toh, mereka sudah dilebeli halal kan?


"Belajar yang giat, istriku." Pesannya.


Kara mengangguk sambil tersenyum hangat. Selepas kegiatan manisnya dengan sang kekasih halal, Arsyad benar-bebar berpamit untuk pergi kesekolah. Membiarkan sang istri pergi diantar supir menuju rumah saudara ayahnya untuk menuntut ilmu. Kara memang menuntut ilmu secara homeschooling. Ia juga memiliki jadwal les yang lumayan padat disela-sela kegiatannya akhir-akhir ini. Namun, selama ini Kara tidak pernah mengeluh soal hari-harinya. Mengingat itu, senyum Arsyad terbit walaupun tipis.


Istrinya sudah benar-benar menjadi pribadi yang lebih mandiri.


"Hm, ada yang manis tapi bukan gula." Celetuk Davian yang baru saja menyusul langkah Arsyad.


"Apa ya?" Tanya Davin penasaran.


"Senyum manis cintaku, eeaak." Kekeh Davian sambil menaik turunkan alisnya.

__ADS_1


"Dasar." Ketus Aroon, sambil mengejar langkah Arsyad.


"Eh bang Sen, tungguin." Panggil Aroon.


"Hm. Arra mana?" Tanya Arsen. "Gak bareng?"


"Bareng kok. Tuh, di depanmu." Tunjuk Aroon.


"Oh, kirain gak masuk."


"Masuk kok. Tuh lihat, lagi happy gitu si tetèh."


"Iya. Gak biasanya Arra senyum-senyum begitu?" Komentar Arsen, sambil menatap kearah depan. Dimana objek dari pembicaraan mereka tengah berjalan sambil tersenyum lebar bersama salah satu teman sekelasnya.


"Hm, mungkin karena tadi bertemu teman baru kali."


"Teman baru?" Bingung Arsen.


"Iya."


"Siapa?"


"Si tengil." Celetuk Aroon, jenaka.


"Si tengil siapa?" Bingung Arsen. "Calon pilot itu?"


Aroon mengedipkan bahunya acuh, sebelum mendahului Arsen. Kelas mereka memang berbeda satu tingkat.


"Arra bertemu Gean? buat apa?" Lirih Arsen, sebelum melanjutkan langkahnya menuju kelas.


Ada setitiķ rasa penasaran yang mampir dirongga dadanya. Untuk apa rivalnya itu bertemu dengan Arra? Hanya sebatas kebetulan kah?


"Ya Allah, topi Arra dimana ya? Perasaan tadi sudah ada di dalam tas."


Gadis cantik berhijab lebar itu mengubrak-abrik isi tasnya dengan gelisah. Setahunya, pagi tadi semua peralatan sekolahnya telah ia siapkan. Tapi, entah mengapa saat ini ia kesulitan menemukan topinya. Padahal, ketika hari senin seperti ini atribut semua siswa siswi Dandelion harus lengkap. Jika tidak, maka para petugas polisi osis akan merazia siswa atau siswi yang atributnya tidak lengkap.


"Kenapa?" Tanya seseorang yang membuat Arra mendongrak.


Setahunya, kelas sudah kosong sejak dua menit yang lalu. Sejak ada informasi dari pengeras suara. Lantas, kenapa dia masih ada disini?


"Kamu cari sesuatu?"


"Topi. Arra cari topi." Risau Arra, karena benda tersebut tak kunjung ia temukan.


Lelaki tampan dengan atribut lengkap itu menatap lawan bicaranya lekat. "Lupa bawa topi?"


Arra menggeleng. "Enggak, tadi Arra sudah bawa kok."


"Tapi sekarang topinya ģak ada." Cemas Arra.


Arra itu termasuk sebagai salah satu siswi yang taat akan peraturan. Pantang baginya untuk mengalanggar peraturan yang diterapkan. Oleh karena itu ia risau kala tidak bisa menemukan topi miliknya.


Jika ketahuan melanggar aturan kesiplinan yang tertera, maka akan ada hukuman yang diberikan oleh pihak polisi osis yang bekerjasama dengan MPK.


"Ini, pakai milikku."


"Tapi, kamu?"


"Tidak usah dipikirkan." Ujar Arsen, sambil menyodorkan topi miliknya.

__ADS_1


"Tapi, hari ini kamu jadi petugas upacara kan? Kalau kamu dihukum bagaimana?"


Arsen tersenyum tipis, mengerti alasan kekhawatiran kembaran sahabatnya ini.


"Tenang saja, aku masih ada topi cadangan."


"Benarkah? Atau, kamu pakai topi ini saja. Biar Arra beli dikoperasi sekolah."


"Tidak perlu." Tolak Arsen. "Pakai, aku bisa mengatasinya."


"Tapi," Arra ragu menerimanya.


"Pakai Arrabella, tak apa."


"Hm, terimakasih." Namun, pada akhirnya Arra mengalah. Menerima topi milik Arsen, sambil menguraikan senyum manisnya tipis.


"Sekali lagi, terimakasih ya. Arra benar-benar berhutang budi kepadamu."


"Hm. Sama-sama." Jawab Arsen.


"Kalau begitu, aku pergi dulu." Ujar Arra, sambil membenahi barang-barangnya kembali.


"Sampai bertemu lagi dibawah." Ujarnya, sebelum benar-benar pergi meninggalkan Arsen.


"Iya." Ujarnya, membiarkan Arra berlalu terlebih dahulu.


"Ada yang manis, tapi bukan gula." Ujar Arsen lirih, dengan manik yang masih tertuju pada kepergian gadis cantik dengan senyum manis tersebut.


Mengingat sosok berparas ayu tersebut, senyum Arsen terbit. Senyum tipis yang jarang sekali ia bagi. Hanya karena kembaran sahabatnya itu, pagi ini Arsen bisa menguarkan senyumannya. Walaupun pada awalnya ia penasaran soal kabar Arra yang sempat bertemu dengan Gean. Apa benar mereka bertemu? Sengingatnya, pagi tadi lelaki tengil itu berjalan luntang-lantung tak tentu arah. Dari sorot matanya, Arsen bisa menebak jika ia tengah tertimpa masalah yang serius. Tapi apa?


Entahlah, bukan ranah Arsen juga untuk ikut canpur. Yang terpenting, hari ini moodnya bagus karena senyum manis seseorang.


"Woy, ngapain lo disini? Upacara udah mau dimulai."


"Ck." Decak Arsen, terkejut. "Iya, gue otw."


"Lo hari ini jadi tura? Lupa lo sen?" Tanya salah seorang teman sekelasnya tersebut.


"Enggak."


"Lah terus, ngapain lo diem-diem bae disini? Bukannya mimpin gladi. Oon banget, lo malah mesèm-mesèm gak jelas." Cecar teman sekelas Arsen yang juga teman sejak sekolah dasar tersebut.


"Dapet jakpot lo? Mukanya mencurigakan gitu."


Arsen tersenyum tipis, menanggapi pertanyaan tersebut. "Ya, jakpot yang manis." Ujarnya, sebelum berlalu.


"Hih, orang lempeng kek Arsen mesem-mesèm sendiri. Mencurigakan banget." Komentar siswa tersebut, sebelum berlalu menyusul Arsen.


****


TBC


Hallo, BCT update👐


Hayoooo.... gimana buat part ini? jangan lupa komentarrrr. Like, vote, share dan follow juga. Maaf kalau dikittt partnya. Part selanjutnya, tentang siapa hayoo? Yanda? atau siapa?


Buat part ini segini dulu ya, maaf pendek🙏


Sukabumi 07 Febuari

__ADS_1


__ADS_2