
📚.68. Negosìasi
"Ketika anda dihadapkan dengan suatu permasalahan, ambilah jalan tengah terlebih dahulu."-Davin Arsyed Di Prameswari
****
"SIAP GRAK. HORMAT GRAK." Intruksi suara bariton berat nan penuh wibawa tersebut tegas.
"TANPA PENGHOMATAN BALIK KANAN BUBAR BARISAN, JALAN."
Dengan sigap para pasukan berbaju loreng itu melaksanakan titah sang pemberi intruksi. Apel sore baru saja selesai di laksanakan. Selepasnya memubarkan diri, para prajurit berseragam loreng itu mulai bersiap-siap untuk pulang. Akhir pekan ini, mereka memiliki jadwal weekend bersama keluarga di rumah.
Bahagia, tentu. Itu juga yang dirasakan oleh seorang pria yang sudah dikaruniai 3 orang anak tersebut. Bayang-bayang wajah teduh sang istri yang akan menyambutnya dikala pulang, membuat semangatnya makin bergelora. Ia juga tidak sabar ingin bertemu dengan si bungsu yang sering setor hafalan UUD. Dan, ia juga tidak melupakan dua anak kembarnya yaitu Arsyad dan Kara. Ia rindu istri dan anak-anaknya. Ah, juga menantu kecilnya. Istri putra sulungnya.
Gadis kecil yang sedari kecil sudah terbelenggu oleh peliknya kehidupan. Ia sudah menganggap Kara seperti putrinya sendiri. Ia juga sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana putranya itu menjaga Kara. Arsyad menjaga Kara bukan sekedar tanggungjawab. Tanggungjawab itu ibarat beban, beban itu berat. Namun, Arsyad sama sekali tidak keberatan.
Van'ar bersyukur karena putranya bisa menerima benang takdir dengan lapang. Hingga manik lelaki itu memancarkan binar penuh kepemilikan akan istrinya, ia bisa tersenyum lega. Agaknya, jika cinta telah mekar diantara mereka, Van'ar tidak harus takut cinta itu mekar di tempat yang tidak seharusnya.
Derttt
Derttt
Manik pria itu beralih, menatap benda persegi yang teronggok begitu saja di samping kursi kemudi. Ia memilih menepikan kendaraanya sejenak. Lantas menerima panggilan dari nomor tidak dikenal tersebut.
"Hallo, Assalamualaikum." Ujarnya membuka pembicaraan.
"Waalaikumsalam."
"Dengan siapa saya berbicara?" Tanyanya.
"Tyoga."
Van'ar menjeda sejenak kalimatnya. Ada apa gerangan, sampai besannya yang belakangan kurang akrab dengannya ini repot-repot menelphone?
"Ada apa?"
"Anda dimana?" Balik tanya suara di sebrang sana.
"Di jalan."
"Menuju pulang atau pergi ke suatu tempat?"
Van'ar menyerngit bingung mendengar petanyaan tersebut. "Apa mau anda?" Tanyanya to the point.
"Cepatlah pulang sebelum terjadi pertumpahan darah di kediamanmu."
"Apa maksud anda?" Tanya Van'ar tetap tenang. Ia juga sebenarnya cukup terkejut mendengar kalimat yang diucapkan pria di sebrang sana.
"Saya sedang ada di Qatar, dalam perjalanan bisnis. Kakek Kara datang ke Indonesia. Dia membawa para kobun."
Van'ar masih mencerna maksud dari ucapan pria tersebut.
"Kakek kare seorang oyabun, semacam ketua sindikat."
Kobun adalah sebutan untuk anak buah/anggota dalam sebuah organiasi yakuza. Struktur kekuatan dalam sindikat kejahatan Yakuza berbentuk piramida. Namun, sesuai tradisi Jepang, ada kesetiaan yang wajib dipegang teguh oleh anggotanya. Seorang oyabun (ayah) harus melindungi kobun (anak), tapi kobun harus rela mati untuk oyabun.
"Sekarang anda harus cepat pulang. Orang-orangku akan segera tiba di kediaman Radityan. Jaga putriku sebelum aku bisa kembali." Titp Tyoga.
"Buat putramu menjaga putriku, jangan biarkan mereka membawa Kara." Ujar suara di sebrang sana lirih.
Van'ar tahu perasaan pria tersebut. Ia memang tidak terlalu mengenal siapa itu Tyoga si Crazy Rich Surabaya. Akan tetapi, logikanya berjalan soal fakta jika tidak ada satupun orang tua yang mau melihat buah hatinya terluka atau kenapa-kenapa.
"Baik."
Pria di sebrang sana tidak merespon.
"Saya akan pastikan jika Arsyad menjaga istrinya dengan semestinya, jangan khawatir."
"Baik." Tyoga kembali buka suara. "Aku pernah mengenal seorang Radityan, jauh sebelum mengenal dirimu atau putramu. Dari sanalah, aku tahu kata-kata seorang Radityan tidak pernah main main."
__ADS_1
Van'ar meng-iyakan dalam benaknya. "Kata-kata Radityan bisa di pegang, anda tenang saja."
Selepas sambungan telpone mereka terputus, Van'ar kembali melajukan kendaraanya. Ia harus segera pulang ke kediaman Radityan. Ketika tiba di kediaman tersebut, ia disambut dengan bunyi yang cukup menggema kala baru saja memasuki bangunan tersebut.
DORRR
DORRR
"Astagfirullah." Ia beristigfar kecil.
Sambil bergegas memasuki lebih dalam area kediamannya, ia sesekali menyentuh senjata api yang juga tersemat apik pada pengait di bagian pinggangnya. Jika benda itu diperlukan demi menjaga keselamatan keluarganya, ia akan gunakan tanpa segan. Akan tetapi, jika masih ada jalan tengah ia pasti akan memilih opsi tersebut.
"Jangan menghalangi jalan kami, atau peluru ini akan bersarang di kerongkongan kalian."
Samar, ia disambut oleh suara kalimat tersebut. Ketika maniknya menjelajahi ruangan tersebut, ia menemukan para penerus Radityan tengah bersitegang dengan dua orang pria asing. Istri, putri, adik, adik ipar, serta beberapa maid nanpak terpongoh-pongoh hadir dari berbagai penjuru. Mereka juga nampak terkejut, kala melihat situasi mencekam tersebut.
"Kami akan membawa nona muda." Kekeuh para pria asing tersebut.
"Tidak ada seorangpun yang boleh membawa istriku, tanpa seizinku." Putranya angkat bicara tanpa gentar.
"Jangan menghalangi jalan kami, anak muda." Ujar salah satu diantara mereka, memperingati.
"Atau peluru ini akan bersarang di jantungmu." Ujarnya sambil mengarahkan senjata apinya tepat kearah Arsyad.
"Astagfirullah, abang." Itu pekikan istrinya.
Putrinya juga sudah mulai terisak kecil, melihat situasi mencekam tersebut. Sedangkan istrinya, ikut risau kala melihat situasi tersebut.
"Turunkan senjata kalian, ini perintah!" Van'ar buka suara.
Tidak mungkin ia diam saja saat putranya ditodong demikian. Ia juga tidak mau para anggota keluarganya terus menerus ketakutan.
"Turunkan senjata kalian, ini perintah. Kalian sudah terkepung." Van'ar kembali bersuara.
Para yakuza itu berpandangan untuk sejenak. Sebelum datang ke Indonesia, mereka telah dibekali informasi yang lengkap. Terutama sang kepala keluarga yang patut mereka takuti. Keevan'ar Radityan Az-zzioi, anggota militer elite yang memiliki segudang prestasi. Atribut lengkap yang bertengger di bahu, dan bagian depan seragamnya, agaknya mewakili julukan tersebut.
"Davian, aktifkan sistem keamana maksimal." Ujar Van'ar.
Si empunya nama terkesiap. Dengan sigap, ia meraih laptopnya yang berada di atas meja. Lantas dengan cekatan, ia membuka piranti rumit yang telah dia pelajari dari om om hebatnya. Galaksi dan Gemintang.
"Bocah itu si hacker." Bisik pria yang tengah mengacungkan senjata apinya tersebut, pada Enzo rekannya.
"Akashi, turunkan senjatamu." Enzo menitah.
"Untuk apa?"
"Turunkan saja." Ujar Anzo.
Akashi--rekan Enzo akhirnya menurut. Pria itu menurunkan senjatanya, lantas menatap sekelilingnya.
"Rumah ini dilengkapi dengan sistem keamanan yang canggih. Apa kita melewatkan satu informasi?" Tanya Akashi, saat sadar pintu, jendela, dan akses lain di rumah ini terkunci secara otomatis.
Mereka baru sadar, ada informasi yang mereka lewatkan disini.
"Siaga. Kita tidak tahu apa saja yang bisa terjadi. Fokus pada Biglear." Ujar Enzo.
"Sudah om." Davian buka suara.
"Bawa bunda dan saudarimu ke tempat yang lebih aman, Dav."
Davian mengangguk, lantas ia menggiring para kaum hawa untuk mengikutinya. Walaupun sempat menolak, Aurra, Lunar, Arra dan para kaum hawa lainnya akhirnya mengangguk pasrah.
Van'ar tidak mungkin membuat mereka berdiam diri lebih lama di tempat ini. Keadaan bisa saja menjadi lebih mencekam dari saat ini.
"Bisa kita bicara?" Van'ar buka suara. "Tanpa ada baku tembak tentunya. Kalian tahu sendiri, kalian sudah terkepung."
"...."
"Kalian bisa di penjara karena keributan yang kalian buat. Dan, saya yakin jika oyabun kalian tidak akan senang mengetahui fakta ini." Van'ar bicara dengan tenang.
Situasi seburuk apapun, ketenangan tetap akan selalu ia tanamkan dalam sanubari.
__ADS_1
"Well, kabar burung itu benar adanya. Sebuah kehormatan bisa bertemu dengan prajurit seperti anda, Biglear." Enzo buka suara.
"Duduk, kita bicara baik-baik." Van'ar memberi kode.
Dua pria itu masih tidak berpindah posisi. Enzo juga masih memegang pergelangan tangan Kara dengan erat.
"Sakura-chan, ayo." Enzo buka suara, lantas melepaskan genggamannya. Membiarkan si nona muda berjalan lebih dulu. Suasana boleh tegang, namun tatakrama tetap mereka jaga.
Nona muda tetaplah nona muda. Mereka akan selalu menghormati calon penerus dari clan Wataya tersebut. Hingga akhir hayat sekalipun, para keturunan Wataya adalah majikan yang harus mereja hormati dan lindungi keselamatannya.
"Yanda...."
Gadis cantik itu berlari dengan cepat, menghambur ke pelukan sang suami. Memeluk tubuh tegap tersebut erat, takut-takut kehilangan kala melepaskannya.
"Ssstt, jangan menangis." Lirih Arsyad, sambil memeluk sang istri tak kalah erat.
"Kara takut yanda.... kara takut...." Cicit Kara ditengah-tengah isak tangisnya.
"Tenang, aku ada disini." Ujar Arsyad, sambil membawa sang istri menuju sofa.
Van'ar, si triple juga Enzo dan Akashi ikut mengambil posisinya masing-masing. Si kembar duduk bertiga, di dekat Arsyad dan Kara. Sedangkan Van'ar duduk seorang diri, berhadapan dengan Enzo dan Akashi.
"Kalian utusan kakek Kara?"
"Ya. Beliau ingin menemui cucunya." Enzo buka suara.
"Yanda, Kara gak mau pergi. Kara.... mau sama yanda disini." Cicit Kara kecil, sambil mengeratkan pelukannya.
"Hm. Tenang saja." Lirih Arsyad sambil mengusap punggung sang istri pelan.
Semua aktivitas tersebut tidak luput dari pengamatan Enzo dan Akashi. Keduanya cukup terkejut dengan sikap yang ditunjukan oleh nona muda mereka tersebut. Mereka tidak pernah bipikir jika hubungan keduanya sudah sedekat ini. Dari informasi yang mereka dapatkan, nona muda mereka menikah karena sebuah insiden. Bukan menikah karena cinta, atau sejenisnya. Akan tetapi interaksi keduanya ini?
"Kalian lihat sendiri, dia tidak mau pergi." Van'ar buka suara. "Bukannya memaksa berarti menyakitinya?"
Enzo menatap lawan bicaranya datar. "Kita hanya menjalankan perintah. Ini perintah tuan kami."
Akashi ikut berdiri, saat Enzo berdiri dari duduknya. "Sudah cukup basa-basinya. Kita akan membawa nona muda sekarang."
"Yanda...." lirih Kara ketakutan.
Arsyad mengusap punggung sang istri guna menenangkannya.
"Hari ini sudah sangat dinanti oleh kakek nona muda. Kita harus tetap membawa nona muda apapun keadaanya."
Arsyad mendongrak, kala mendengar ucapan Enzo. "Bisa kalian pertimbangkan masalah ini, dia ketakutan. Pikirkan keadaanya." Ia buka suara.
"Jika memang diperlukan, aku sendiri yang akan membawanya menemui kakeknya. Itupun jika memang kalian memahami maksud dari ucapanku."
"Apa ini sejenis negosiasi?"
"Mungkin." Jawab Arsyad datar.
"Bang, pikirkan kata-katamu." Van'ar memperingati.
"Abang tahu harus berbuat apa, ayah." Arsyad mencoba meyakinkan sang Ayah.
"Jadi, apa kalian bisa menjamin kesalamatan kami dalam negosiasi ini?"
****
TBC
BCT Update All readers👐
Gimana.... makin hot🔥🔥
Apakah keputusan Yanda salah atau benar? apa papih Kara bakal marah kalau tahu Yanda bawa Kara ke kakeknya? next part kita lihat ya. Tapi maaf kalau kalian lama menunggu. Aku bukan tidak mau up, tapi memang tidak sempat nulis. Karena aku Ujian Sekolah telat, aku harus ikut PTS. Tugasku sedang banyak juga + dengan adanya kegiatan organisasi Relawan TIK.
Maaf yang sebesar-besarnya🙏 semoga readers semua mengerti.
Jangan lupa follow aku, like, vote, komentar, dan share jika sempat😀
__ADS_1
Kita jumpa lagi nanti❤
Sukabumi 24 Maret 2021