Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
118. Obrolan Triple D


__ADS_3

118. Obrolan Triple D



APAPUN JABATANNYA, BERAPAPUN USIANYA, KALAU UDAH BERTIGA, TETEP COSPLAY JADI REOG PONOROGO 😌


**


“Hari ini lo pada mau ke mana?”


Dua pria muda yang sejak tadi mondar-mandir kesana-kemari itu tampak menoleh ke sumber suara.


“Kenapa? Lo mau dianter ke suatu tempat?” tanya salah satunya.


“Kagak juga. Gue masih hapal jalanan ibu kota kok, sekalipun jarang pulang. Zaman sekarang, kan, udah canggih. Ada google maps.”


“Kalau mau dianter atau ditemenin ke suatu tempat, ya, ayok,” tawar saudaranya yang paling kecil.


“Lo gak ngantor emang?”


“Cuti.”


“Gak usah deh. Lo pasti sibuk.”


“Kalau gitu sama gue aja,” tawar saudaranya yang paling tua. “Mau?”


“Lo memang bebas tugas, bang?”


Pria muda yang menggunakan kaos fit body berwarna hijau army itu mengangguk. “Dapat bonus cuti, makanya bisa stay di rumah.”


Pria muda yang sedari tadi hanya duduk sambil menghadap layar Computer di atas tempat tidur itu tampak berpikir keras. Selama tinggal di New York, ia memang tidak banyak menghabiskan waktu untuk kesenangannya sendiri. Ia hanya fokus mengejar pendidikan dan pelatihan. Jika memiliki waktu luang, alih-alih main ke luar, ia malah akan menghabiskan waktu di depan seperangkat personal Computer untuk mengutak-atik berbagai perangkat lunak—software.


“Rencananya gue memang mau ke luar sih. Kangen hangout. Mau cek bengkel juga, kangen si Juki.”


“Ya udah. Kalau gitu lo siap-siap aja. Nanti kita pergi bareng. Gue juga mau ke caffe,” sahut si bungsu.


“Gue juga mau kunjungan ke gym. Sekalian aja, gimana?”


“Bawa mobil?” tawar si bungsu. “Mobil siapa?”


“Ya mobil lo, lah,” sahut Davian yang sejak tadi santuy di atas tempat tidur. “Gue mana ada mobil di sini. Kalau di New York sih ada, tapi belum bisa gue bawa pulang. Pajaknya mahal cuy!”


“Ternyata lo di sana masih hobby ngoleksi super car juga, bro.” Davin—si sulung—berdecak seraya berkacak pinggang.


“Lah, siapa yang bilang gue hobby ngoleksi? Gue cuma beli kalau suka atau ada big sale.”


“Gak percaya gue.”


Davian tertawa renyah melihat ekspresi sang kakak yang tampak tidak mempercayai ucapannya. Toh, benar. Ia di sana tidak hobby mengoleksi super car. Ia cuma beli jika ada yang diinginkan, atau ada big sale—walaupun itu jarang terjadi. Ia lebih suka belanja perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak baru (software). Lagipula Davian lebih sering menghamburkan uang untuk menjalankan misi. Tidak separuhnya menggunakan uang dari keringat sendiri sih, karena masih ada kucuran dana dari pihak yang menggunakan jasanya.


“Gimana kalau pakai motor aja? Jakarta masih identik dengan kemacetan, ‘kan?” usul Davian kemudian.


Omong-omong soal motor, ia juga jadi rindu motor gede kesayangannya. Apa kabar motor itu? apa masih ada? Atau sudah di jual? Ia juga jadi rindu anak-anak geng motornya. Apa kabar mereka? Apa masih suka melakukan sunmory—Sunday morning ride—setiap akhir pekan? Siapa ketua mereka sekarang? Ada berapa banyak anggota sekarang? Ah, Davian benar-benar rindu masa-masa mudanya yang dulu.

__ADS_1


“Boleh, deh. Kalau pakai motor bisa lebih menyingkat waktu,” kata Davin meng-iyakan.


“By the way, kalian kapan married?”


Davin dan Aroon yang mendapatkan pertanyaan mendadak itu kontan terdiam. Mereka yang baru saja membuka almari untuk mengambil baju, lantas berbalik 90°.


“Kenapa lo tiba-tiba bahas soal pernikahan?”


“Mau nanya aja. Supaya bisa pasang pengingat di kalender HP.”


“Lo gak berniat pergi lagi, kan, Dav?” tanya Aroon tiba-tiba.


Davian mengedipkan bahunya acuh seraya mematikan laptop. Ia kemudian beranjak dari tempat tidur seraya bersiul.


Aroon berjalan mendekat seraya menatap sang kembaran lekat. “Dav, sadar gak sih kalau lo aneh dari kemarin?”


“Gue aneh? Kapan?”


“Ucapan lo dari kemarin tuh aneh!” tambah Davin, ikut menambahi.


Davian tersenyum tipis, lantas menghela napas pelan. “Gue emang bakal pergi lagi.”


“Jangan bercanda lo!” sentak Aroon dan Davian bersamaan.


“Dengerin dulu, bro. Ge mau pergi karena gue udah janji. Habis misi ini selesai, gue bakal balik dan stay di sini.”


“Berapa lama lo bakal pergi?” tanya Davin.


“Entah,” jawab Davian ambigu. “Paling sebentar .... tiga tahun,” imbuhnya.


“Misi ini butuh waktu dan perjuangan. Gue bakal gabung sama beberapa anggota pasukan elit dunia, salah satunya Navy Seal. Pasukan elit milik tentara Angkatan Laut Amerika Serikat.”


“Tapi lo pergi sama om Galaksi dan om Gemintang, ‘kan?”


Davian menggeleng. “Gue sendiri. Hm, bisa jadi sama Astronot sih. For your information aja, sekarang Astronot udah join sama FBI.”


“….”


“Gue kemarin udah ngobrol sama mama dan papa. Gue pulang karena memang udah janji sama lo, Roon. Selain itu, gue juga mau hadir di acara tasyakuran keponakan pertama kita. Gue sadar kalau selama ini gue terlalu melewatkan banyak hal. Tapi gue gak nyesel, karena gue tetap bisa menjaga keluarga kita walaupun dari jarak jauh. Sebentar lagi teh Alea juga bakal nyusul ke pelaminan. Fyi aja nih, calonnya pilot. And then, gue yakin gak lama lagi kita bakal ke datangan keponakan kedua. Habis teh Alea, ada teh Ara. Lucunya lagi, calon suami teh Arra itu adik-kakak sama calon teh Alea. Mereka sama-sama pilot. Gue udah cek background mereka kok. Mereka pria yang baik dan gak kelihatan berpotensi untuk menyakiti dua srikandi kesayangan kita.


Habis teh Arra, katanya lo mau nyusul juga, bang? Lo sama Davina udah pacaran lama sih, pasti udah pengen meresmikan hubungan. Nanti kalau gue pergi, gift pernikahan dari gue nyusul ya,” kata Davian dengan senyum lebar yang terpatri di bibir, sampai-sampai memperlihatkan gigi-gigi putihnya.


“Habis Davin, lo pasti bakal gaspol, ‘kan? Cewek lo master chief di caffe? Dia pernah ikut ajang masak ternama pas tinggal di luar negeri, kan? Cocok sih sama lo. Dia kelihatannya dewasa dan aura keibuannya udah terpancar kuat. Tinggal—“


“Terus urusin kebahagiaan orang lain. Lo kapan mengurusi diri sendiri?” potong Aroon. “Lo kapan bahagianya, Dav?”


“Gue udah bahagia, kok.”


“Bad liar,” dengus Aroon. “Dari dulu lo itu selalu mengutamakan kebahagiaan orang lain. Terus lo, kapan? Lo gak mau gitu nyari partner buat menyempurnakan agam lo? Partner yang solid untuk diajak membangun rumah tangga?”


“Mau, kok,” jawab Davian pendek. “Dari dulu gue semper nyari-nyari cewek yang sekiranya bakal jadi partner yang solid buat diajak serius. Tapi gue belum nemu, sekalipun gue udah hampir menjelajahi setengah bagian di bumi ini. Lucunya lagi, gue baru belakangan ini sadar kalau partner yang gue maksud ada di deket gue. Dia ada di setiap detik yang gue lewatkan di negeri orang.”


“Maksud lo?”

__ADS_1


“Lo udah ada cewek?” tanya Aroon dan Davin bergantian.


“Si Bambang, waktu itu gue cerita sama lo lewat Video call,” sengit Davian seraya menyikut perut Aroon.


“Kapan?” Aroon bertanya seraya meringis kecil. Sikutan kembarannya yang kini berperawakan mirip Iko Uwais itu nyeri juga.


“Waktu itu, Jamal! Lo bener-bener ya….” Gemas Davian. “Kebanyakan nge-bucin lo, jadi gak konek.”


Aroon mengedipkan mata beberapa kali, mencoba mengingat-ingat kembali. Tetapi hasilnya nihil.


“Intinya, gue udah nemu calon pendamping hidup yang paling potensial. Masalahnya, gue yang masih insecure.”


“Insecure?” kaget Aroon dan Davin bersamaan.


Davian menipiskan bibir seraya bersidakep dada. “Yah, mau gimana lagi, dia itu kayak bunda Aurra orangnya. Perhiasan surgawi dan duniawi. Masa gue gak insecure? Gue aja kelakukan masih kayak gini.”


“Kayak gimana sih maksudnya? Kerjaan lo halal, ‘kan? Bukan pekerjaan haram. Pekerjaan lo itu menjanjikan, bahkan lebih menjanjikan ketimbang pekerjaan gue sebagai CEO. Buktinya lo jadi donatur tetap di UNICEF untuk membantu anak-anak kurang mampu di Indonesia dan Afrika.”


Davian mengangguk-angguk paham. Iya, Davian tidak akan menyangkal itu. “Maksudnya gini, bro. Gue gak mau ngajak dia komitmen kalau kerjaan gue masih hetic. Gue gak mau buat dia berada dalam bahaya karena milih imam macam gue.”


“Itu sih ketakutan lo yang berlebihan,” kata Davin. “Cewek itu kalau udah yakin sama pasangannya, itu berarti dia udah siap menerima resiko menjalin hubungan sama pilihannya itu. Kayak gue sama Davina. Sebelum gabung ke AKMIL, gue udah tanya dia. Dia siap enggak punya cowok abdi Negara? Pas dia bilang siap nerima gue apa adanya, itu berarti dia udah siapa punya cowok seorang abdi Negara yang akan selalu mengutamakan Negara.”


Davian mengangguk-angguk paham. “Dia udah tau sih soal job desk gue. Cuma gue udah hutang janji sama orang tuanya. Gue janji bakal nyelesaian misi ini, terus cabut dari organisasi. Gue mau balik ke Indo supaya bisa hidup normal.”


“Wah, berarti lo udah deket banget sama orang tuanya, ya?”


“Iya lah. Orang kita tinggal seatap.”


“Hah?!”


Davian menggaruk rambut bagian belakangnya saat melihat ekspresi kaget dua saudaranya. “Hm, calon gue masih kerabat deket Radityan kok.”


“Maksud lo?”


“Senja Pradipta, dia calon gue.”


Aroon dan Davin kontan melongo mendengar pengakuan saudara mereka itu. Bagaimana bisa gadis kecil yang sudah dianggap seperti adik sendiri malah akan dinikahi?


Davian terkekeh kecil seraya menggaruk pelipis. “Kita hangout agak siangan aja, ya. Kayaknya lo pada butuh dengerin cerita gue lebih lengkap.”


“Of course. Lo harus jelasin ke kita!” tuntut Aroon yang juga diangguki oleh Davin.


“Perasaan mama sama papa gak kaget-kaget amat pas tahu gue deket sama Senja. Lah, lo berdua kenapa responnya gitu amat? Segitu gak cocoknya gue sama Senja?” sedih Davian seraya mendudukkan dirinya kembali di bibir tempat tidur.


**


TBC


HALO, SELAMAT MALAM!


APA KABAR? SEHATKAN? BESOK SIAPA YANG UDAH NIATAN BESOK MAU PUASA?


YANDA, KARA, SAMA TRIPLE D COMEBACK NIH. MENEMANI WAKTU LUANG READERS. KALAU SUKA JANGAN LUPA LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR & SHARE ❤️

__ADS_1


Sukabumi 30-06-22


__ADS_2