Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
93. Kabar Para Pecinta Rindu


__ADS_3

...92. Kabar Para Pecinta Rindu...


...HAPPY READING ALL READERS ❤️💛💚💙🧡💜...


...“Manusia tidak akan pernah tahu jika rindu yang bertamu kapan akan berlalu.”—Tiple D...


...****...


“Sodara-sodara, BANGUN?!” Teriak suara melengking yang menggema di ruangan yang kedap suara tersebut.


Suara itu tentu seperti bola yang dilemparkan ke tembok yang akan memantul kembali kepada si pemukul. Membuat gema suara yang sama, membuat dua penghuni ranjang yang masih tertidur terperanjat kaget.


“Apaan sih, nagntuk nih.” Protes si bungsu.


“Iya. Gak ada AHLAK LO?!” Kesal si sulung yang juga terbangun karena suara keras tersebut.


“Bangun wahai para ahli kubur. Lo pada gak mau sekolah?”


Kedua lelaki yang masih asik memeluk bantal itu beranjak cepat. Dengan mata yang masih mengantuk, mereka mencari di mana sang saudara berada.


“Bangsul! Lo aja belum mandi.” Kesal Davin saat melihat si tengah yang masih berkeliaran mengenakan boxer spidermen kebanggaanya, tanpa menggunakan atasan.


“Lah, gue cuma bangunin lo pada biar gak kesiangan. Niat gue baek, twins.”


“CARANYA YANG SALAH GOBLOK!!” Teriak Davin dan Aroon bersamaan.


Davian hanya mengedipkan bahunya acuh, sambil menarik handuk motif spidermen kesukaanya dari gantungan. “Bodo. Lagian lo pada hobby banget moslor. Lihat gue, pagi-pagi udah keliling kompleks buat olahraga. Lah, lo pada habis salat subuh malam moslor lagi.”


“Gue capek semalam habis ngerjain brosur, makalah, sama ngurus anggaran caffe, bengkel plus gym,” ujar Aroon membela diri.


“Gue juga capek.” Davin menunjuk dirinya sendiri.


“Capek habis ngapain?” Tanya Davian dan Aroon bersamaan.


“Mabar, guys. Gue ikut turnamen buat seleksi tingkat nasional. Telepon sama chat dari cewek gue aja, gak gue bales karena turnamen semalem.”


“Ck. Game dei, game dei,” ujar Davian, sambil berlalu menuju kamar mandi.


Di susul Aroon yang beranjak dari tempat tidurnya. Lelaki itu dengan telaten membersihkan tempat tidurnya, lantas mengechek jadwal pelajaran hari ini.


“Dek,”


“Apa?” Tanya Aroon sambil memincingkan matanya curiga. Kalau Davin memanggilnya dengan embel-embel ‘dek’ berarti ada maunya.


“Beresin sekalian ya, abang kebelet pup,” ujar Davian, sebelum melesat pergi menuju keluar kamar.


“Kurang asem!” ketus Aroon. Dengan sedikit tidak rela, lelaki itu membereskan tempat tidur sang kembaran.


Beginilah kehidupan ketiganya pasca ditinggal Arsyad dan Arra. Sejauh ini triple D hidup dengan semestinya, namun belum bisa memanage beberapa hal. Mereka juga masih kesulitan menengahi beberapa masalah jika kesalahpahaman ikut serta dalam permasalahan ketiganya.


“Anj*ng?!” Umpatan murka itu terdengar, diiringi dengan suara benda yang jatuh dengan keras.


Davian dan Aroon yang tengah berada di meja makan itu saling bertatapan untuk sejenak. Keduanya tengah menikmati sarapan pagi dengan waffled sandwich filled with creamy scrambled eggs buatan sang Mama.


“Kenapa tuh bocah?” Bingung Davian.


“Mana kutahu,” jawab Aroon sekenanya.


Tidak lama kemudian, datanglah si objek dari pembicaraan yang mereka maksud. Lelaki itu tampak gagah dalam balutan baju pramuka lengkap lengkap dengan baret coklat di kepalanya. Namun, wajahnya terlihat sangat kusut.


“Kenapa?” Aroon berinisiatip bertanya.


“Biasalah, cewek gue resek. Lagi PMS kali.” Ketusnya, sebelum beranjak guna mengambil tas ranselnya.


“Mah, Davin berangkat,” ujarnya agak kencang, sambil menggigit satu sandwich yang disispkan untuknya.


“Hati-hati di jalan, sayang,” jawab sang Ibu dari dapur.


“Iya, Mah. Kita berangkat. Assalamualaikum,” lanjut Aroon. Ketiganya berangkat bersama menggunakan sepeda motor kesayangan mereka. Setelah berpamitan kepada sang Ibu.


“Hih, boss blue kasihan. Yang punya gak ada.” Davian menatap motor gede berwarna biru yang terparkir apik di garasi itu kasihan. Kuda besi itu sudah terparkir di sana semenjak si empunya berkuliah di luar negeri. Otomatis, kuda besi itu tidak akan ada yang menggunakannya lagi.


“Beberapa bulan lagi, motor gue juga bakalan rinduin gue,” timpal Davin sebelum melajukan kuda besinya.

__ADS_1


Triple D memang sudah duduk di kelas XII. Beberapa bulan ke depan setelah mereka menghabiskan dua semester di tingkat ini, mereka akan lulus dan mulai berpencar mencari jalan hidupnya masing-maing. Davin dengan Akademi militernya. Davian dengan dunia hacker dan retas-meretasnya. Sedangkan si bungsu—Aroon—akan sibuk dengan dunia bisnis yang nantinya akan dia pegang sendiri.


“Capek,” keluh Davin.


Lelaki yang masih mengenakan seragam pramuka itu baru saja pulang dari pertemuan para pengurus Dewan Ranting. Raut wajahnya tampak letih saat meminta segelas es coffe.


“Di sini juga capek, bang,” ujar Aroon, sambil menyodorkan pesanan sang kakak.


Apron khas waiters sudah melekat apik di tubuhnya. Davin menatap ke sekeliling caffe. Tempat tersebut memang dipenuhi oleh pengunjung yang sebagian besarnya adalah kaum Hawa.


“Roon, caramel macchiato satu,” ujar suara familiar yang datang dari arah pintu masuk.


Lelaki itu takpak mandi peluh. Bajunya yang semula berwarna putih sudah basah dan kotor karena peluh dan oli. Beberapa pengunjung terlihat menahan jeritan kagum saat dia datang dengan santai memasuki caffe.


“Lo di sini juga?” tanyanya pada sang kembaran yang paling tua. Davin.


“Hm. Lo juga, ngapain di sini? Bukannya di bengkel.”


“Di bengkel panasnya kayak di neraka. Gue hampir dehidrasi. Mana banyak super car yang harus diservice lagi.”


“Sama. Di sini juga lagi banyak pengunjung,” imbuh Aroon.


“Di gym juga lagi lumayan padet,” ujar Davin ikut menambahi. Dia sudah mendapatkan laporan tentang pengunjung gym hari ini.


“Sama pengunjung?”


“Sayangnya bukan.”


“Lah, terus?” Bingung Davian dan Aroon, saling bertatapan untuk sejenak.


“Banyak w*ria mau daftar jadi member gym. Gelay gue. Mereka gangguin gue.”


Davian dan Arioon kompak tertawa terbahak-bahak. Tawa mereka bahkan sampai membuat sebagian besar pengunjung di sana terpana. Bagaimana tidak terpesona, mereka yang tampak rupawan dalam balutan seragam kerjanya masing-masing itu, terlihat seperti calon orang sukses idaman para wanita kelak. Masih muda, tampan, dan memiliki pekerjaan yang cukup mapan. Kurang apa lagi coba?


“Seru banget kayaknya.”


Mereka bertiga menoleh bersamaan saat mendengar suara tersebut. Suara itu familiar, namun sudah lama tidak mereka dengar.


Seru mereka heboh. Si empunya nama yang berdiri di depan pintu masuk itu tersenyum kecil. Kedua tangannya bersidakep di depan dada.


“Udah lama, ya?” Ujarnya, sambil berjalan ke arah ketiganya. Disambut pelukan hangat dari triple D secara bergantian.


“Miss me hm?” godanya jenaka.


“Ck. Kalau udah tau, gak usah ngomong,” ketus Davian, pura-pura jengah.


Arsen tersenyum kecil. Lelaki yang sudah resmi pindah tempat tinggal itu, kini membuat suasana caffe semakin riuh. Empat lelaki rupawan duduk dalam satu meja sambil melempar senyum dan tawa. Siapa yang tidak betah berlama-lama di sana coba? Disuguhi 4 orang leleki tampan nan rupawan yang tidak bosan dipandang mata.


“Gue juga miss sama kalian, Triple D. Apalagi sama Arsyad,” ujarnya jujur.


Lelaki yang kini melanjutkan study-nya di UNAIR tersebut tersenyum kecil sambil menatap ketiganya bergantian. Tidak terasa, hari-hari yang mereka lalui bersama itu kini tingal kenangan. Rindu membelenggu mereka yang biasanya menghabiskan waktu bersama-sama.


“Ntar kita video call Arsyad, mau gak?” usul Arsen.


“Ide bagus tuh,” jawab ketiganya setuju.


Arsen tersenyum tipis sambil melanjutkan percakapannya bersama Davin, Davian dan Aroon. Melepas rindu berbicara santai sambil ketawa-ketiwi mendengarkan lelucon yang acak kali dilontarkan oleh Davian ataupun Davin.


Hari itu, 4 Arjuna itu menjadi magnet tersendiri di sana. Tidak peduli jika keberadaan mereka menjadi pusat perhatian, karena yang mereka pikiekan saat itu adalah saling melipur rindu.


****


“Bossqu!” panggil suara menggelegar milik seorang lelaki, yang tampak tergesa-gesa memasuki sebuah unit apartemen.


“Lah, lo di sini?” kaget si empunya unit.


“Iya, boss. Kangen enggak? Sini, sini. Peluk dulu,” ujar lelaki bermantel tebal tersebut.


“Dih, najis.”


Lelaki bernama Sagara itu menatap lawan bicaranya tidak suka. Jauh-jauh dia datang dari negeri kincir angin menuju Aachen, bukan ini yang mau dia dapatkan. “Gue balik lagi ke Denmark nih,” ancamnya.


“Ya udah, sono.”

__ADS_1


“Lah, lo?!” kaget Sagara.


Lelaki yang baru saja keluar dari pintu di belakang tubuh si empunya unit itu tersenyum tengil. “Apa? Ini gue. Kayak lihat hantu aja lo.”


“Kok lo ada di sini? Lo bukannya di Zurich?”


“Liburan dong,” jawab Cakrawala—lelaki yang dimaksud oleh Sagara.


“Udah, udah. Masuk dulu, di luar dingin,” titah si empunya unit.


Ketiganya lantas berlalu. Menutup pintu agar aman dari suhu dingin di luar ruangan. Mereka bertiga memilih mengobrol di ruangan tengah, ditemanai oleh segelas hot mint chocolate. Gean, Sagara, dan Cakrawala memang baru bisa berkumpul lagi pasca terpisahkan oleh jarak yang cukup jauh.


Cakrawala yang kini mengambil studi di universitas Zurich, datang untuk mengunjungi sang sahabat di Aachen. Dia tentu tahu jika sang sahabat kesepian tinggal sendiri di Jerman. Sagara juga datang dari Denmark, karena dia memang tengah tinggal di kediaman kerabatnya untuk beberapa kepentingan. Dia datang karena ingin menjumpai calon pilot tersebut.


Mereka para penggemar rindu. Tinggal jauh dari orang-orang terkasih yang dibelenggu rindu. Namun, semua itu seumpama sebuah perjalanan. Perjalanan menuju hari-hari di mana mereka bisa duduk dengan puas, menikmati hasil dari kerja keras mereka hari ini.


“Eh, bentar. Cewek gue telepon,” ujar Gean menyela.


“Ngebucin ae, lo boss. Gak capek apa?” celetuk Sagara jenaka.


“Mendingan gue bucin. Lah, lo pada jomblo pisabilillah,” cibir Gean sebelum berlalu menuju pintu balkon. Meninggalkan kedua sahabatnya yang saling menipiskan bibir.


Sebelum keluar, dia menyempatkan diri untuk mengambil mantel berbulu yang tergantung di dekat pintu. Suhu di Aachen sedang dingin-dinginnya saat ini.


“Hallo, Assalamulaikum,” ujar suara lembut di seberang sana.


“Waalaikum salam, Cheri,” jawab Gean sambil mengembangkan senyumnya.


Ah, dia rindu sekali dengan pemilik suara itu. Dia yakin, jika pujaan hatinya di sana juga merasakan hal yang sama.


Ah, para pecinta rindu ini. Kisah mereka tak akan usai dengan rindu yang membelenggu hingga jarak tak lagi jadi penganggu.


****


“Let’s go the canteen?” seorang lelaki bersurai silver dengan manik kebiruan itu bersuara ramah, mengajak patner lab-nya.


Di sampingnya, seorang gadis berhijab syar’I yang mengenakan jas lab yang sama dengannya tersenyum tipis sambil menggeleng.


Kedua tangnnya masih dengan cekatan membenahi alat tulis dan peralatan lab yang barusan dia gunakan.


“Aku bawa bekal, Ed.”


Lelaki yang dipanggil dengan sebutan itu mengangguk paham. “What do you want to buy (apa yang kamu beli)? Biar aku belikan sekalian.”


Gadis berhijab putih bersih yang syar’I itu menggeleng sopan. “Aku tidak mau apa-apa. Thank you untuk tawarannya.”


Lelaki bule yang akrab disapa Ed itu mengangguk paham, sebelum pamit pergi ke kantin. Edwar Licollin Swan namanya. Mahasiswa semester 2 yang belakang dekat dengan putri pasangan Keevan’ar dengan Aurra tersebut. Edwar acak kali membantu Arra dalam beberapa mata kuliah. Mereka juga sering kali dipertemukan dalam beberapa kesempatan, karena sama-sama mengambil jurusan kesehatan.


Namun, Arra tentu selalu menjaga batasannya. Dia tetap berusaha membatai pergaulannya, karena ada hati yang harus dirinya jaga di belahan bumi yang lain.


Selesai membenahi peralatan miliknya, Arrabers memilih mengambil smartphone miliknya. Dia melirik jam yang sudah menunjukan pukul 20.00 malam. Saat mengidupkan data internet, beberapa pesan masuk secara bersamaan, memenuhi notifikasinya. Namun, hanya segelintir nama yang membuatnya tertarik untuk membaca dan membalas pesan teresbut. Salah satunya adalah milik sang pujaan hati.


Arra tidak membalas pesan lelaki penjelajah langit tersebut, melainkan langsung meneleponnya.


“Hallo, Assalamulaikum,” ujarnya dengan suara lembut khas miliknya. Dengan hati berdebar, Arra menanti jawaban dari suara di seberang sana.


“Waalaikum salam, Cheri,” jawab suara di seberang sana.


Arra menerbitkan senyumnya. Mewakili hatinya yang berbunga-bunga karena pada akhirnya dia bisa mendengar suara itu lagi. Suatu hal yang jarang sekali bisa dia dapat karena kesibukan mereka masing-masing.


“Selamat hari jadi yang ke-satu bulan. Arra senang masih diberi kesempatan bisa mendengar suara kamu.” Arra tersenyum kecil setelah berkata demikian.


Hari ini mereka memang resmi menjalin hubungan selama satu bulan. Baik Arra maupun Gean memang tidak menegaskan jika mereka berpacaran, hanya saja secara gamblang Gean sudah meminta izin untuk mengikat cicit Radityan tersebut kepada kedua orang tuanya. Selama keduanya mengenyam pendidikan, biarlah hubungan itu seperti itu selalu. Nanti, jika tiba waktunya mereka bertemu dan bisa melepas rindu. Kedua orang tua mereka juga sudah siap jika harus membicarakan perihal ikatan yang lebih serius.


...****...


...TBC...


...Lanjut???...


...Jangan lupa KOMENTAR, LIKE, VOTE, FOLLOW, & SHARE cerita ini ya readersku sayang❤️💛💚💙🧡💜🤍🤎🖤...


...Sukabumi 04/08/21...

__ADS_1


__ADS_2