
📚.14-Pulang
Typo Masih bertebaran!!
وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Wahai manusia, Kami akan menguji kalian dengan kesempitan dan kenikmatan, untuk menguji iman kalian. Dan hanya kepada Kamilah kalian akan kembali” (QS. Al-Anbiya: 35).
****
Suasana sore hari dirumah megah dua lantai tersebut terasa berbeda. Senja dilangitu barat nampak indah,ketika hendak menutup hari. Ketika kegelapan mulai menggantikan sinar sang surya,para wanita mulai sibuk berkutat didapur. Mereka akan menyambut para suami juga putra mereka yang baru pulang.
Seorang wanita berhijab syar'i dengan penutup wajah yang tengah mencuci buah,nampak terganggu oleh pikiranya sendiri. Sehingga air yang ditampungnya dalam wadah meluber kemana-mana.
"Astagfirullah mbak,itu airnya kemana mana." Imtruksi suara sang adik ipar dari sampingnya,mengejutkan.
"Astagfirullah,maaf. Mbak teledor." Ujar siempunya sambil mematikan kran air yang masih mengalir tersebut.
"Mbak lagi mikirin apa? Kok kelihatanya dari tadi ngelamun terus?"
"Tidak apa apa Lun. Mbak cuma khawatir."
"Pasti karena Arsyad ya?" Tebak wanita berhijab pastel tersebut.
Aurra mengangguk samar. Pagi tadi dia terlihat senang saat mendengar jika rombongan SMA Dandelion yang camping dipuncak telah tiba. Tapi ketika menunggu putranya itu pulang,yang datang hanya Davian. Tidak ada yang lain,begitupun juga dengan Arsyad-putranya.
"Kan tadi Davin udah bilang,Arsyad pulangnya belakangan. Sama Davin dan Aroon juga mbak."
"Iya. Tapi,"
"Udah. Mbak pasti capek,udah dari rumah sakit terus bantuin siapin makan malam. Mendingan mbak duduk aja gih." Ujar Lunar menawari.
"Biar aku yang nerusin sama bibik."
"Gak usah,aku tidak apa apa kok." Tolak Aurra halus.
Dia memang letih,selepas menjalankan kewajibanya sebagai seorang dokter. Akan tetapi,semua itu tak lebih berarti ketimbang putranya. Entah mengapa,rasa cemas itu masih menetap dan melekat. Padahal suaminya tadi ba'da maghrib telah menelphone. Jika putranya itu tengah berada diperjalanan,karena ada sedikit hambatan.
Tetapi tetap saja,sebagai seorang ibu hatinya tak lagi bisa tenang sebelum melihat putranya baik baik saja.
"Bunda?"
"Iya nak,ada apa?"
"Minggu depan adek berangkat ke Malaysia. Ada olimpiade."
"Olimpiade tingkat internasional ya?" Tanya Lunar penasaran.
Remaja tampan berkaos dongker itu mengangguk. "Iya Ateu. Arion yang kepilih mewakili sekolah."
"Alhamdulillah. Pinter banget sih kamu,berarti kepintaranya bang Van'ar nurun kekamu." Ujar Lunar sambil tersenyum jenaka.
Aurra tersenyum tipis,lalu menyentuh pucuk kepala sang putra. "Nanti adek bilang keayah sendiri ya. Biar Ayah yang tandatangi suratnya."
"Iya bunda." Jawab si bungsu senang.
"Memangnya tanda tangan buat apa bun?" Tanya Arra yang baru saja muncul dari balik pintu.
"Subhanallah,gamisnya cocok banget sama tetèh Arra." Puji Lunar saat gadis berhijab itu mengenakan gamis berwarna pastel buatanya.
"Alhamdulillah makasih Ateu. Bahannya nyaman,simple juga. Enak dipake buat sehari hari."
"Iya dong. Kualitas kan selalu nomer satu." Ungkap Lunar bangga. "Kalau aja anakku ada yang cewek,pasti udah aku kasih gamis yang cantik cantik."
"Eh eh,kok gitu?" Intrupsi pemuda yang baru muncul tersebut.
"Masa aku mau dipakein gamis sih mah,kan gak lucu."
"Siapa juga yang sebut nama kamu sayang." Ketus Lunar,menjawabi sang putra.
__ADS_1
"Kirain bunda nyesèl ngelahirin 3 arjuna." Kekeh Davian.
"Astagfirullah,enggak atuh. Buat mamah kalian itu anugrah."
"Alhamdulillah." Ujar Arion dan Arra bersamaan.
"Kenapa?" Bingung Davian.
"Karena biasanya bang Davi cuma dianggap musibah,kali ini baru anugrah." Jawab Arion yang langsung membuat mereka tersenyum,kecuali Davian.
"Dasar bocah." Ketus Davian.
Obrolan ibu dan anak didapur tersebut terhenti ketika terdengar deru motor dan mobil yang mendekat. Asal suaranya mengarah dari depan rumah.
"Abang pulang bunda," Antusias Arra.
"Alhamdulillah,mereka sudah sampai." Syukur Aurra.
"Yasudah,aku mau kedepan dulu ya Lunar."
"Iya mbak."
"Ikut bunda." Panggil Arra antusias.
Davian hanya menggelengkan kepalanya,sambil bibirnya sibuk menguyah apel. Beralih menatap sang sepupu yang masih sibuk dengan buku paket ditanganya.
"Rajin banget kamu Rion. Kayak abangmu aja."
"Iya,kan Arion mau ikut olimpiade. Bukan kayak abang,bisanya tebar pesona aja."
"Eh,kecil kecil kok nyinyir."
"Itu fakta yang ada bukti realitanya. Bukan opini belaka bang."
"Masa?"
"Iya. Karena ada bukti otentiknya."
"Dih,bicara ama anak alien jeniusmah gue taluk." Gumam Davian sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Mumet itu pelesetan dari makna pusing,kalau pusing ya berarti harus minum obat bukan curhat."
"Elah bocah." Ketus Davian jengah.
Melawan bocah SMP berotak mahasiswa macam Arion itu tidak ada ujungnya. Yang ada-Davian malu sendiri nanti.
📚📚📚
"Assalamualaikum,abang pulang." Uluk salam dua bersaudara tersebut.
"Waalaikumsalam." Jawab Aurra dan Arra yang menyambut dari dalam.
"Bunda," Ujar keduanya,sambil bergantian bersalaman.
"Kalian pasti letih,mandi dulu atau mau makan malam dulu?" Tanya Aurra ramah pada kedua putra adik iparnya tersebut.
"Mandi dulu deh bunda. Ini gak enak,lengket badanya keringetan." Jawab Aroon mewakili.
"Yasudah. Tapi jangan lupa mandinya pakai air hangat."
"Iya bunda." Jawab keduanya.
"Oleh oleh?" Tanya Arra sambil menengadahkan tanganya.
"Memangnya kita habis dari mana tèh?" Kekeh Aroon jenakan.
"Pokoknya harus ada buah tanganya." Ketus Arra.
"Ada kok ini,buah pinus." Jawab Davin sambil merogoh saku celanya.
"Arra. Tangan yang diatas lebih baik ketimbang tangan yan dibawah,ingat itu?" Intrupsi sang bunda lembut.
__ADS_1
"Astagfirullah,iya. Maaf bunda." Jawab Arra khilaf.
"Hm,Arsyad mana roon?" Siempunya nama gelagapan sendiri saat ditanyà.
"Dibelakang ya?"
"I-iya bunda." Jawab Aroon kikuk.
"Arsyad gak papa kan?"
"Itu bunda,bang Arsyad-" Jeda Aroon sejenak. Bingung dengan apa yang harus diucapkan olehnya.
"Bunda,kita duluan. Udah kangen sama mamah nih." Sela Davin sambil tersenyum tipis.
"Bang Arsyad ada diluar kok." Imbuh Davin sambil merangkul bahu kembaranya. "Yuk temui ibunda ratu,beliau menunggu."
"Yasudah. Kita ya duluan bunda." Jawab Aroon lemah.
Aurra mengangguk,lalu membiarkan dua remaja tersebut berlalu. Arra langsung menatap sang bunda,ketika keduanya berlalu.
"Mereka kayak lagi nutupin sesuatu gak sih bun?" Curiga Arra.
"Astagfirullah,gak boleh gitu Ra."
"Ya-tapikan mereka kelihatanya kikuk bunda." Aurra tersenyum menatap sang putri.
Kelebihan putrinya yang didapatkan dari sang ayah salah satunya adalah ini. Bukan kecurigaan yang tinggi,melainkan pembaca ekspresi lawan bicaranya yang handal. Aurra dan Van'ar menyadari keistimewaan iñi sejak Arra masih duduk dibangku SD. Gadis itu selalu menceritakan ekspresi dari orang-orang disekelilingnya. Baik yang ditutup tutupi ataupun tidak.
"Mungkin cuma perasaan Arra aja."
"Tapi bunda-" Ucapan gadis itu terhenti seketika,saat mendengar suara decitan pintu dari belakangnya.
"Abang?" Panggil Arra antusias.
"Arra kangen." Ungkap gadis tersebut,sambil berlalu menghambur kepelukan kembaranya.
Aurra tersenyum lega ketika dapat melihat buah hatinya itu baik baik saja tanpa cela sedikitpun.
"Kok abang gak kasih kabar?" Tanya Arra penasaran. "Jaringan disana baguskan?" Merasa pertanyaan ďan ucapanya tidak dibalas.
Gadis cantik berhijab itu melonggarkan pelukanya. "Abang kenapa diem aj-itu siapa?" Tanya Arra tiba tiba.
"Siapa?" Ulang Aurra bingung.
"Iya bunda. Itu,abang pulang bawa perempuan."
"A-pa?"
Pemuda tampan itu mengela nafasnya sejenak. Akhiŕnya,apa yang ditakutkan olehnya terjadi juga.
"Bunda,ini-"
****
TBC
Met Malam reader^^
BCT update malam yo😪
Soalnya seharian ini aku sibuk sama daring dan wara wiri cari rupiah😉
Jadi aku baru bisa update malem,itupun dengan mata merem melek lawan kantuk😴
Ok readers,aku update agar readers gak kecewa. Jadi,jangan lupa komentarnya ya^^
Udah dulu ya,mon maaf cuma dikit🙈
Ok,met bobo semua^^
(Lihat yang kek gini chek disorotan IG @Karisma022 ya:')
__ADS_1
Sukabumi 20 Okt 2020