
📚. 74. Sudah Terlanjur Rekat
"Dua anak Adam ketika telah disatukan oleh benang takdir, pasti akan sulit untuk dipisahkan."-Tyoga Yosep Djjuarta
****
Pria berpakaian formal yang wajah kharismatiknya nampak lekat itu, diam-diam meneliti gerak-gerik putri sematawayangnya. Sambil duduk, dirinya memincingkan mata, melihat sang putri yang nampak gelisah dalam duduknya.
"Aďa apa Kara? Kamu butuh sesuatu?"
"Kara pengen ketemu yanda." Jawab putrinya gamblang.
"No. Diam dan tidurlah. Penerbangan kita masih memakan waktu yang cukup panjang."
"Papih, please. Kara pengen-"
"Diam, dan istirahatlah. Suami bodohmu itu baik-baik saja." Ujarnya datar.
Putrinya menatap balik dengan tajam. Raut wajah yang hampir tidak pernah di perlihatkan kepadanya.
"Kenapa? Apa yang bocah itu perbuat sampai putri papih begini?" Tyoga bertanya lirih. Kini fokusnya terpusat pada sang putri.
"Jangan hina yanda. Kara gak suka, pih."
"Apa?"
"Papih jangan hina yanda. Itu sama saja papih hina Kara."
"Buat apa papih hina kamu? Kamu putri papih, harta papih." Ujar Tyoga, sambil merentangkan tangannya. Mengintruksikan agar sang putri segera masuk ke dalam pelukannya.
Gadis cantik itu tidak bergeming dari tempatnya.
"Kara tidak rindu papih?" Tyoga bertanya lirih. Ada nada sedih yang ia tekan di sana. Di tolak putri kesayangannya sendiri, tak pernah terpikirkan sekalipun olehnya. Harga dirinya tersakiti.
"Kara...." cicit gadis itu kecil.
"Papih rindu putri kecil papih." Tyoga kembali bersuara.
Kara tidak lagi menahan diri. Bohong jika ia tidak merindukan papihnya. Oleh karena itu, dia tanpa pikir dua kali langsung berlari menghambur kedalam pelukan sang papih.
"Kara juga rindu papih hiks...." tangis gadis cantik itu pecah dalam pelukan pria yang juga berlaku sebagai ayah dan ibu sekaligus baginya.
Pria tangguh yang rela berulang kali membahayakan nyawanya, demi menjaga keselamatannya.
"Apa yang telah bocah itu perbuat, sehingga putri papih jadi begini?"
Kara mendongrak. "Gak ada."
"Yakin? Kamu pikir papih tidak tahu?"
Kara hendak menggeleng, namun urung. Dia lupa, ayahnya paling bisa mengenali soal ekspresinya. Apalagi ketika tengah berbohong. Dia lupa jika papihnya ini segalanya tahu.
"Saham 10% atas namamu, pagi ini telah beralih nama. 10% saham lainnya, juga menyusul. Putri papih ini mulai cerdik ya?"
Deg
Kara terpatri di tempatnya. Ia terkejut, akan kemahiran dan kecepatan sang papih melacak segala pergerakannya.
"Itu inisiatif Kara. Yanda sama sekali gak tahu."
"Begitukah?"
Kara mengangguk cepat. "Iya. Yañda sudah bantu Kara menghadapi kakek. Sekarang, giliran Kara yang melindungi yanda."
Tyoga menatap putrinya lekat. Gadis lugu, pendiam, penakut dancerobohnya tidak ada lagi. Putrinya telah berubah, namun dalam artian yang baik. Dia bisa melihat rona berbeda setiap kali nama 'yanda' alias panggilan sayang untuk Arsyad terucap. Putrinya telah jatuh hati. Jatuh hati kepada lelaki yang telah menikahinya.
Jika sudah terlanjur rekat dan terikat oleh benang takdir, Tyoga bisa apa?
Dia memang cukup terkejut, karena semudah itu putrinya jatuh cinta. Akan tetapi, takdir tuhan siapa yang tahu? Kini, putrinya terbentuk karena ukiran campur tangan takdir. Putrinya perlahan-lahan tumbuh dewasa.
"Papih, Kara pengen lihat Yanda. Boleh ya?" Pinta sang putri, sambil memperlihatkan puppy eyes-nya.
"Duh, putriku yang lugu...."
"Boleh ya pih...."
__ADS_1
"Ck. Bocah itu, sihir apa yang dia gunakan kepadamu, nak?" Decak Tyoga pening. Dia tidak tahu lagi, harus bagaimana menahan sang putri agar tidak menemui sang suami.
****
"Yuhuu.... bang, kok bisa bonyok gini?"
"Iyo. Kok wajahnya babak belur begini? Kukira, yakuza mainnya pake samurai, gitu."
"Lah, yakuza memang bawaanya samurai, atau katana."
"Iya. Tapi ini, kok komuknya si abang malah bonyok gini? Bukan luka sayat-sayat!"
Debat ketiga pemuda berpakaian serba hitam itu, tidak luput dari manik Arsyad. Dia belum mendapatkan jawaban dari pertanyaanya. Akan tetapi, ketiga saudaranya itu malah asik berdebat. Padahal dia hanya bertanya, kenapa mereka bisa berada di dalam pesawat ini?
"Kalian kenapa bisa ada disini sih?"
"Kita dikirim pake ninj* express bang, jadi cepet nyampe sini." Celetuk si tengah.
"San ae lo bangsul. Dah tau kita kesini naik peswat. Dari mana ceritanya dikirim lewat ninj* express?!" Giliran si sulung buka suara.
"Ck. Gak usah bacot deh, berisik!" Si bungsu melerai.
"Stop it, boy!" Intruksi sebuah suara.
Keempatnya langsung beralih, menatap pria berpakaian formal khas supir yang sedari tadi duduk di samping Arsyad.
"C'mon boy, om punya 2 anak kembar plus satu tim basket di rumah. Mereka bawelnya tidak seperti kalian bertiga." Komentar pria tersebut.
Saking sibuknya ngobrol, mereka sampai lupa dengan kehadiran sang om alias calon guru besar mereka.
"Maaf, sensei." Ketiganya langsung menunduk, sambil menautkan kedua tangan membentuk kepadan di depan dada. Tanda jika mereka meminta maaf secara sungguh-sungguh.
"Maaf diterima. Dudùklah."
"Baik, sensei." Ujar ketiganya sepempak.
"Kok bisa mereka nurut gini? Mereka ini punya gangguan kepribadian ya?" Tanyanya, pada Arsyad. Sedikit berbisik.
"Tidak, om. Itu memang kebiasaan mereka."
"Owh, begitu." Pria rupawan itu faham sekarang. Di tatapnya tiga tunas muda yang tengah duduk tanpa kata di hadapannya.
Satu diantara mereka akan ia rekrut menjadi anggota agen elit. Tapi ketiganya, tetap ia rekrut sebagai anak murid. Dua diantara ketiganya, berguru dengan pelatihan khusus. Seperti pelatihan ketahanan khusus untuk menjadi abdi negara, hingga satunya lagi ingin belajar soal bisnis. Mereka bertiga calon tunas muda yang akan membanggakan keluarga, nusa dan bangsanya kelak.
"Kuncinya karena Davian. Dia yang bertugas melacak keberadaanmu dan Kara."
"Lalu, Davin dan Aroon?" Arsyad bertanya lagi.
"Mereka ikut pelatihan awal. Sebagai S&K menjadi anak murid om."
"S&K?"
"Syarat dan ketentuan berlaku." Ujar Gemintang.
Pria rupawan itu tersenyum tipis, kala melihat sang keponakan kebingungan.
"Om Galaksi juga ada disini?"
"Iya. Dia masih kerja, di ruangan sebelah."
Arsyad mengangguk faham. Sekarang semuanya mulai jelas di benaknya. Bagaimana bisa om-nya datang bersama mertuanya, plus dengan kehadiran para saudaranya.
"Kalian sudah bisa bicara." Ujar Gemintang.
"Huah." Ketiga pemuda itu menghembuskan nafas lega bersamaan.
"Gak biasa diem. Pas diem lima menit aja, berasa setahun." Celetuk Davian.
"Hu'uh. Kita kan banyak bacot." Dukung Davi.
"Eh, bang, mbak Kara mana?" Tanya Aroon, memecahkan keheningan.
"Kamu ini, mengingatkan hal-hal yang sensitif saja." Gemintang terkekeh kecil sambil beranjak.
"Om ke depan dulu. Mau bantu om Galaksi. Kalian disini aja dulu."
"Iya, siap om." Jawab si triple kompak.
"Jangan ribut. Kasihan Arsyad, habis di bogem mantan petinju MMA. Nanti tambah pusing."
__ADS_1
"Siap, om." Jawab si triple kompak.
Gemintang terkekeh kecil mendengarnya.
Melihat tingkah laku si triple, dia jadi rindu putra putrinya di rumah. Dia juga memiliki putra humoris di rumah. Putri yang cantik nan menggemaskan, dan tim GA beserta Astronot yang membuatnya kian rindu rumah.
"Eh, bang," panggil Aroon, kala Gemintang telah pergi.
"Abang gak papa kan? Tinggal di sarang mafia Jepang buat abang gak papa kan?"
"Begok digedein. Tinggal di sarang mafia Jepang, pasti sebelas-dua belas kayak di neraka." Celetuk Davian.
"Memang lo pernah ke neraka, sampe bisa bilang gitu?"
"Enggak. Amit, amit jabang bayi. Gue gini-gini alim ya." Bela Davian. "Neraka gak nerima orang alim plus ganteng kayak gue."
"Alim endasmu. Bocah alim mana yang tiap malem minggu sun anak orang sambil gelap-gelapan." Sindir Davin.
"Hust. Aib, slurrr. Jangan di buka sembarangan." Ralat Davian, ketus. "Memangnya lo juga gak pernah? Gue pernah mergokin lo cip*k-"
"Psssttt. Itu khilaf woi!" Davin meralat.
"Khilaf kok nikmat, bikin nagih lagi." Cibir Davian.
"Situ juga iye, sok polos lo."
"Lo juga, sok polos. Padahal sama-sama belegug."
"Dasar, duo semprul." Celetuk Aroon. "Sama-sama suka ngelakuin juga."
"Heh, kalimat lo ambigu ya!" Ketus Davian tidak terima.
"Iya. Ambigu itu menjerumuskan pada ketidakbenaran. Kita itu cuma sebatas sun pipi dan kening aja. Gak lebih!" Davin ikut menyanggah.
"Serah lo pada deh. Gue masih polos. Gak pernah sun-sun anak orang." Balas Aroon sambil angkat bahu acuh.
Arsyad menatap ketiganya tak habis pikir. Bisa-bisanya mereka berbicara seperti itu di saat begini. Padahal, Arsyad tengah memikirkan keberadaan sang istri. Apa mereka akan kembali LDR-an? Pertanyaan itu terus menerus berkecambuk di kepalanya.
Sakit yang ditinggalkan Tyoga di tubuhnya, tidak sebanding dengan sakit yang dia rasakan ketika terpisah dengan sang istri. Jangan lagi, Arsyad sudah muak berhubungan jarak jauh. Keberadaan gadis itu sudah menjadi magnet tersendiri bagi hidupnya. Dia sudah terbiasa hidup dengannya. Terbiasanya bangun dengan melihat wajah cantiknya, juga beraktivitas tak jauh darinya.
"Yanda..."
Dia terbiasa mendengar suara lembutnya memanggil tanpa lelah.
"Yanda..."
Dia juga biasa memandangi manik hazelnutnya yang cantik.
"Yanda...."
Terbiasa melakukan segala sesuatu di sekelilingnya, membuat Arsyad ditimpa hampa berkali-kali lipat jika jauh darinya.
"Bang,"
Arsyad menoleh, menatap ke samping. Tempat dimana Aroon duduk, sambil tengah menyentuh bahunya. Pemuda itu nampak tersenyum tipis kearahnya.
"Kenapa?"
"Tuh, ada yang nyari." Tunjuk Aroon.
Arsyad menoleh, mengikuti arahan Aroon. Benar saja, gadis itu ada di ambang pintu. Berdiri dengan membawa kotam P3K di tangannya. Seulas senyum yang biasa Arsyad lihat, kini pun nampak terpatri. Wajah cantiknya membuat Arsyad langsung tersadar.
Arsyad beranjak. Dia harus memastikan jika kali ini tidak ada jarak membentang di antara mereka. Maka, ketika tubuh mungil itu masuk kedalam pelukan eratnya. Arsyàd tahu betul jawabannya. Istrinya nyata. Gadis cantik bermanik hazelnut itu ada dalam pelukannya, dalam jarak yang tak tersisa. Dia bisa menghirup aroma khas sang istri yang menyenangkan rakus. Seakan-akan takut kehabisan.
Ya, mungkin karena mereka sudah terikat. Semuanya melekat tanpa ada yang sadar. Takdir tuhan terlalu rumit untuk di tebak. Maka, jangan salahkan hati jika sudah terlanjur rekat. Toh, semua ini atas campur tangan yang maha kuasa.
"Yang udah nikah mah beda. Dunia berasa milik bersama. Yang lain-" Ucapan Davian terjeda.
"Di mutasi ke planet mars." Jawab Davin dan Aroom serempak.
"Asuuuu. Punya sodara geblèg semua!" Decak Davian tak habis pikir.
****
TBC
Yuhuuu.... yanda Update🔥
Rindu gak nih? kalau rindu.... absen di kolom komentar ya 😀
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, komentarrrrrr, share dan follow Author juga. Tencu buat All readers yang masih setia menunggu ❤
Sukabumi 23 Apr 2021