Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
. 69. Bertolak ke Negeri Sakura


__ADS_3

📚. 69. Bertolak ke Negeri Sakura



"Insaallah, apa yang aku ambil kali ini sudah kupertimbangkan dengan kepala dingin."-Arsyad An-nass Senopati Az-zzioi


****


Bunyi bising baling-baling raksasa dengan kibasan anginnya itu, agaknya mampu membuat pendengaran cukup terganggu. Akan tetapi, semua itu sama sekali tidak mengurangi etensi ketegangan ditempat ini.


"Bang, abang yakin?" Wanita yang mengenakan penutup hijab itu menyentuh lengan sang putra. Manik teduhnya menatap sendu putra sulungnya lekat.


"Insaallah bunda, abang yakin."


"Abang gak pikir-pikir lagi?"


Lelaki rupawan itu menggeleng. "Abang sudah mempertimbangkan semuanya, bunda."


Aurra, wanita berhijab syar'i itu menunduk lemah. Entah apa lagi cara untuk membujuk putra sulungnya itu, guna mengurungkan niatnya. Ia tidak mau putranya itu pergi untuk merealisasikan niatnya, karena tujuan putranya itu tempat yang berbahaya.


"Jangan khawatir bunda, abang bisa handle semuanya." Ujar Arsyad.


"Tapi bang, papih Kara gimana? Beliau bukannya sudah melarang Kara untuk bepergian tanpa izin?"


"Masalah papih Kara, biar abang yang urus."


"Bang, coba pikir-pikir lagi."


Arsyad tersenyum tipis, sambil mengenggam telapak tangan sang bunda. "Bunda jangan khawatir ya, abang bisa handle semua ini."


Aurra tidak berkata lagi. Dia sudah menyerah akan tekad baja yang memang diturunkan oleh sang suami. Putranya ini memang jika sudah memutuskan suatu hal, tidak akan bisa diganggu gugat.


"Yanda..." panggil Kara.


"Hm."


"Kara gak mau pergi." Ujar gadis cantik yang baru saja tiba tersebut. "Kara gak mau ketemu kakek."


Gadis cantik itu menatap suaminya lekat. Sejak tadi dia juga mengutarakan penolakannya untuk bertolak ke negeri sakura. Bukan tanpa sebab Kara menolak, melainkan memang karena ada alasan besar yang membuatnya enggan pergi ke tempat tersebut.


Awalnya Arsyad juga tidak berniat bertolak ke negeri sakura. Hanya saja, tiba-tiba kakek Kara harus segera kembali ke negaranya. Pria tua itu bahkan menunda 10 oyabun untuk membawa cucunya ke negeri sakura. Oleh karena itu, Arsyad menyanggupi keinginan kakek Kara untuk bertemu dengan Kara. Walaupun berat, keputusan ini telah diambil olehnya dengan segala keputusan dengan resiko yang akan dia tanggung nantinya. Arsyad meng-iyakan keinginan kakek Kara dengan catatan, kesepakatan tetap berjalan sesuail mestinya.


"Bang, kamu yakin?" Kini giliran suara sang ayah yang berkumandang.


Pria yang sudah berpangkat tinggi di kemiliteran itu bahkan rela menunda waktu cutinya, karena ia harus mengantar sang putra dan menantunya yang akan bertolak ke negeri sakura pagi-pagi buta tersebut.


"Iya yah, abang yakin. Abang bisa handle semua ini."


Pria paruh baya itu menghembuskan nafasnya lirih. "Syad,"


Arsyad menatap sang ayah lekat, jika sudah dipanggil nama, berarti ayahnya itu akan berbicara lebih serius dari pada biasanya.


"Ini menyangkut kepercayaan yang dilimpahkan kepada kamu, ingat?"


Arsyad mengangguk. "Abang ambil keputusan ini, supaya Kara tidak terus menerus diburu oleh kakeknya sendiri."


Van'ar dan Aurra masih bungkam atas apa yang putranya itu coba sampaikan.


"Abang sudah siap lillahita'ala, jikapun nanti papih Kara akan murka. Abang lakukan ini semata-mata agar istri abang bisa hidup bebas kedepannya, tanpa ketakutan dari segi manapun. Abang mau, Kara terbebas dari ketakutan yang mengurungnya. Menghindar bukanlah cara untuk menyelesaikan masalah. Menghindar cuma membuat masalah itu terbengkalai untuk sementara waktu."


Arsyad menatap kedua orang tuanya mantap. Hal ini adalah keputusan terbesar yang ia ambil selama hampir 19 tahun ia hidup. Ia melakukan ini untuk membuat istrinya lepas dari jerat ketakutan dan ancaman dari sang kakek. Mungkin selama ini ayah Kara mejaga Kara dengan cara menyembunyikannya. Akan tetapi, semua itu akan sia-sia pada akhirnya. Menghindar tidak akan menyelesaikan masalah, hanya menunda penyelesaiannya. Oleh karena itu harus ada dobrakan untuk menyelesaikan semua kemelut ini.


"Pergilah,"


Baik Arsyad, maupun yang lainnya ikut menoleh kearah si empunya suara. "Ayah tahu, kamu sudah cukup dewasa untuk mengatasi semua ini."


Van'ar menatap sang putra lekat. Sebelah tangannya kini melingkupi pinggang sang istri.


"Mas?" Lirih sang istri.


"Jangan khawatir dek."

__ADS_1


"Tapi mas, putra kita-" jeda sang istri sambil menunduk.


"Percayalah, putra kita sudah dewasa. Dia bisa mengatasi semuanya sendiri." Ujarnya memberi sang istri pengertian.


"Dia putra kita, apa kamu meragu sekarang?" Wanita tersebut mendongrak, menatap manik sang suami lekat.


"Tidak. Aku tidak pernah meragukan keputusan putra kita."


Van'ar tersenyum tipis seraya menatap sang istri. "Pergilah." Ujarnya.


"Ayah dan bunda mengizinkan abang pergi." Sang istri ikut menambahi.


Arsyad menatap kedua orang tuanya bergantian. Sebelum seulas senyuman terbit menghiasi bibir kissablenya. "Terimakasih, Ayah, bunda."


Tidak ada yang paling utama selain restu orang tua bagi seorang anak. Mau sejauh apapun melangkah, hendaklah membawa serta restu dan ridho dari orang tua. Maka niscaya, apa yang kita kerjakan kelak akan tuhan beri restu dan ridhonya pula. Hal itu juga yang dijunjung tinggi oleh Arsyad.


"Ayo kita pergi." Enzo mengintruksi.


Pria bèrjas hitam itu berjalan mendekati Kara. "Mari nona, lewat sini."


"Yanda..." cicit Kara, sambil menatap sang suami minta pertolongan.


"Kita akan pergi."


"Tapi yanda, papih sedang dalam perjalanan pulang. Bagaimana kalau papih-"


"Sssttt, jangan khawatir. Aku akan bicara kepada papih nanti."


"Bagaimana jika papih marah? Papih itu tidak mau dibantah orangnya."


"Dengar, itu akan aku urus nanti. Percayalah kepadaku?" Arsyad meraih jemari sang istri untuk digenggam olehnya.


Gadis cantik yang tengah dilanda kebimbangan itu menatap sang suami lekat. Sebenarnya ia memiliki alasan yang begitu kuàt mendominasi, untuk tidak bertolak ke negeri sakura. Akan tetapi, melihat tekad sang suami, ia menjadi berpikir ulang. Arsyad adalah pria yang ucapannya bisa dipegang. Terlebih lagi, lelaki yang berstatus sebagai suaminya itu selalu mengutamakan keselamatannya selama ini.


"Baiklah." Lirihnya, pada akhirnya.


"Kita pergi?" Gadis cantik itu mengangguk.


Akhirnya, setelah perdebatan alot tersebut keduanya memutuskan untuk bèrtolak ke negeri sakura. Setelah berpamitan, Arsyad dan Kara pergi menuju negeri sakura menggunakan pesawat yang telah dipersiapkan oleh pihak kakek Kara.


"Jangan takut." Lirihnya, saat ia dan sang istri sudah berada di dalam kabin pesawat.


"Kara gak takut, ada yanda di dekat Kara." Arsyad mengangguk sambil tersenyum tipis.


"Aku tidak akan membiarkan mereka menyakiti kamu. Aku berjanji." Ujar Arsyad berjanji, sambil mengecup pucuk kepala sang istri.


Kara memejamkan matanya guna menyesapi segala rasa yang melingkupi rongga dadanya. Sebenarnya dia belum siap secara mental. Akan tetapi, adanya Arsyad disisinya membuat sebagian hatinya merasa aman dan yakin jika keputusan yang diambil olehnya ini sudah benar.


"Yanda sudah janji, harus ditepati ya?" Lirihnya, sambil mengurai jarak diantara mereka.


Kedua tangannya terangkat, menyentuh rahang tegas milik suaminya. Manik hazelnutnya mengunci pandangan manik lawan bicaranya.


"Kara percaya sama yanda. Kara bergantung sama yanda. Kara akan selalu percaya sama yanda." Ujarnya.


"Jañgan sia-siakan kepercayaan Kara, karena Kara benci orang yang ingkar janji." Ujarnya merajuk.


Arsyad tersenyum tipis tanpa banyak kata.


"Yanda mengerti?"


"Hm."


"Jadi jangan coba-coba untuk ingkar janji. Janji?"


"Hm."


"Awas aja kalau yanda ingkar janji. Kara janji, detik itu juga Yanda gak akan pernah lihat Kara lagi."


Lelaki rupawan itu menatap sang istri tajam.


"A-pa?" Lirih Kara kebingungan akan maksud dari tatapan sang suami.

__ADS_1


"Jangan pernah berniat pergi dariku, Kara. Karena kamu sudah ditakdirkan untuk selalu ada disisiku."


"Tapi-" gadis cantik itu tidak lagi bisa menyelesaikan ucapannya. Kala tubuhnya terhuyung begitu saja, masuk kedalam rengkuhan lelaki dihadapannya.


"Kamu tidak akan kemana-mana. Sekarang ataupun nanti, kita akan selalu bersama. Kecuali jika memang tuhan yang memisahkan kita."


Gadis cantik itu mengangguk samar dalam pelukan sang suami. Ia juga tidak berniat untuk pergi dari sisinya. Toh, siapa yang akan menyangka jika cinta datang tanpa rencana. Bukan cinta terencana yang digadang-gadang akan bahagia selamanya. Ini adalah cinta tanpa rencana yang real disatukan oleh benang takdir.


"Calon muridku, gantleman sekali." Puji seorang pria rupawan yang berdiri sambil menatap lurus kedepan.


"Gen Biglear benar-benar menuruñi semua kepribadiannya. Calon agen elite yang multitalenta." Ujarnya lagi sambil terkekeh.


Tanpa kedua sejoli yang tengah berpelukan itu sadari, ada sepasang manik yang sedari tadi mengintai dan mengawasi gerak-gerik keduanya. Pria yang mengenakan seragam pilot itu tersenyum tipis, seraya berbalik dan menghilang dibalik pintu.


"Bagaimana?"


"Aman. Pasutri muda itu sedang berpelukan ria."


Pria yang menjadi lawan bicaranya itu mendongrak. "Dia tahu kita disini?"


"Sepertinya belum. Toh, bang Van'ar meminta kita untuk mengawasi dari jauh."


"Hm."


"Tapi bang, menurutku dia mampu menangani semuanya sendiri. Dia jenius, tanpa baku hantam sekalipun dia bisa mengawasinya."


"Iya, tapi kita tetap harus waspada. Keluarga istrinya seorang ketua mafia."


"Ya, itu aku juga tahu." Pria berseragam pilot itu menďudukkan dirinya di atas kursi. "Orang jenius untuk situasi yang pelik, suatu kerumitan tersendiri bagi dirinya."


"Hm." Respon lawan bicaranya yang tengah sibuk berlancar didunia maya tersebut.


"Apa Arsyad benar mau bergabung bersama kita?"


"Belum bisa dipastikan. Mengingat statusnya yang masih harus mempertimbangkan soal kondisi istrinya."


"Iya juga. Dia nikah muda, pasti ribet urusannya. Tapi patut aku apresiasi, dia itu dewasa pada setiap keputusan yang memerlukan pemikiran dewasa."


"Karena itu aku memilihnya untuk menjadi aggota."


"Keputusan yang bijak bang. Gemi harap, Fajar juga tumbuh menjadi seperti Arsyad kelak." Ujarnya, sambil tersenyum tipis kala mengingat-ingat sosok kloningan dirinya tersebut.


"Ah, jadi rindu Fajar dan Senja." Lirihnya.


"Tidak rindu kepada ibunya kah?" Koreksi sang lawan bicara.


"Ah, kalau itu jangan ditanya lagi. Abang juga pasti rindu istri 'kan?"


"Hm."


"Rindu tim GA juga?"


"Tentu. Mereka anak-anakku."


Pria berseragam pilot itu tertawa kecil. Menggoda kakaknya memang membawa kebahagiaan tersendiri baginya. Mereka memang belum bertolak ke tempat tinggal mereka dua bulan ini, karena penuhnya jadwal kerja mereka.


"Ok, kalau begitu kita selesaikan perjalanan kali ini terlebih dahulu. Setelah itu, baru kita kembali bertolak ke Newy york." Si lawan bicara berdehem kecil guna merespon ucapan saudaranya.


Toh, mereka juga harus menyelesaikan perjalanan ini, dan harus memastikan suami istri muda yang kelak akan menjadi penguasa dua kerajaan bisnis itu, selamat hingga tempat tujuan. Mereka juga memiliki kewajiban untuk memastikan keduanya pulang dengan selamat tanpa kekurangan apapun.


****


TBC


Yuhu..... BCT Update🔥


Jumpa lagi dengan Yanda & Kara, eh.... ada VanRa sama GG bersaudara juga. Hayo.... gimana buat part ini? di panel terakhir ada clue soal GG ya. Clue itu buat part akhir-akhir GG.


Ok, jangan lupa komentarrrrnya ya. Like, vote, share dan follow Author. Kita jumpa lagi nanti👐


Maaf kalau aku updatenya lama🙏

__ADS_1


Sukabumi 01 April 2021


__ADS_2