Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
.67. Tamu Tak Diundang


__ADS_3

📚.67. Tamu Tak Diundang



"Manusia memiliki aura yang berbeda. Entah karena memang aura real yang muncul sejak lahir, atau aura mencekam bawaan karena sebuah profesi yang dilakoninya."-Davian Arion De Prameswari


****


"Ayo, silahkan dinikmati tèhnya tuan." Ujar seorang wanita berhijab syar'i tersebut ramah. Tangannya dengan telaten menghidañgkan teh hangat juga kudapan manis untuk menjamu para tamunya.


"Abang, ada tamu kok didiemin mulu?" Tanyanya, beralih kepada putra sulungnya.


"Mereka pembunuh bayar-mmhhhfff."


"Apa Dav?"


"B-ukan apa-apa bunda." Ujar Davin, sambil menggerakkan tangannya. Aroon yang duduk di samping Davian juga tersenyum jumawa, sambil membekap bibir kembarannya.


"Itu, Davian mau bicara apa barusan?"


"Bukan apa-apa bunda!" Ujar Davin dan Aroon bersamaan.


'Mampus, bohong deh!' Batin Davin dan Aroon.


"Bang, ini tamunya mau nginap?" Tanya Aurra.


Lelaki tampan yang di tanya itu mendongrak, menatap dua tamu tak diundang yang tengah menatapnya datar. Mereka juga tidak pernah menyangka, akan kehadiran tamu tak diundang yang berbahaya seperti mereka itu.


"Enggak bund." Jawab Arsyad, buka suara.


"Mereka pergi sebentar lagi."


"Oh, begitu."


Si triple mengangguk bersamaan. "Kalau gitu, bunda ke dapur dulu ya."


"Iya bund." Jawab si triple, sambil tersenyum paksa.


Sepeninggalan wanita tersebut, keempat lelaki muda itu kembali menatap dua pria di hadapan mereka. Kedua pria tersebut tidak banyak bicara. Keduanya hanya memasang wajah datar, dan sesekali bertanya soal nona muda yang mereka cari.


Semenjak Arsyad mengenali identitas kedua yakuza tersebut, tingkat kewaspadaanya meningkat. Ia bisa mengenali identitas keduanya lewat ciri-ciri di salah satu jemari keduañya. Nama Yakuza berasal dari permainan tradisional Oicho-Kabu, semacam permainan kartu blackjack. Ya-ku-za (8-9-3) disebut memiliki arti kehilangan tangan. Oleh karenanya, anggota Yakuza yang bersalah diberi hukuman memotong jarinya sendiri yang disebut yubizume.


Yakuza dari bahasa Jepang adalah nama dari sindikat terorganisir di Jepang. Organisasi ini sering juga disebut mafia Jepang, karena ada kesamaan dengan bentuk organisasi yang asalnya dari Italia tersebut.


Yakuza juga dikenal sebagai sindikat kriminal terbesar di dunia. Menurut data pada 2010. Para anggota yakuza ini, memiliki aura mematikan tersendiri. Mereka juga dikenal tak segan-segan bagi kepada orang-orang yang mereka incar.


"Ojōsama wa dokodesu ka (Dimana nona muda)?" Tanya salah satu di antara mereka.


"Mereka ngomong apa bang?" Tanya Aroon.


Arsyad menggeleng kecil. Ia juga kurang menguasai bahasa negeri sakura tersebut.


"Eh bangsung, bau taik tangan lo!" Semprot Davian, setelah bekapan di bibirnya terlepas.


"Masa sih?"


"Bau banget, kayak toilet umum bangsul!" Kesal Davian.


"Ngada-ngada." Jawab Aroon, sebelum beralih menatap anak tangga.


"Arion, kesini dulu sebentar." Panggilnya.


Remaja tanggung yang baru saja hendak turun itu mengangguk. Sambil memasukan sebelah tangannya kedalam saku celana, remaja tampan itu berjalan dengan cool-nya. Sifatnya sebelas-dua belas dengan kakak dan ayahnya.


"Ngobrol sama mereka, kita gak ngerti."


Arion menoleh, menatap dua pria beraura membunuh tersebut.


"Kon'nichiwa (Hallo)," Sapanya.

__ADS_1


"Kotoba o komakaku shinaide, watashitachi no wakai josei ga doko ni iru ka oshietekudasai (Jangan basa-basi, katakan di mana nona muda kami)?!" Ujar pria bermanik sipit tersebut.


"Where is she (dimana dia)?" Tanya yang satunya lagi, dengan bahasa Inggris.


Arion faham sekarang. Salah satu dari pria tersebut tidak mahir berbahasa Inggris. Oleh karena itu, ia dibutuhkan disini.


"Tanya, mau mereka apa?" Ujar Aroon.


"Apa mau kalian?" Tanya Aroon dalam bahasa Jepang yang lapal.


"Kita ingin bertemu nona muda."


"Siapa?"


"Sakura-chan."


"Sakura-chan? mbak Kara kah?"


Pria bermanik sipit itu saling berpandangan untuk sejenak. "Ya. Nona muda, putri Nona Theresia Wataya."


"Theresia Wataya siapa?" Tanya Aroon pada sang kakak.


"Ibunya Kara." Ujar Arsyad.


"Theresia Wataya??" Bingung si triple, tidak mengenal si pemilik nama tersebut.


"Owh, bumer alias ibu mertua." Ujar Davian baru tahu.


"Dimana dia? Kakeknya inģin bertemu." Pria itu kembali bertanya.


"Kakek mbak Kara pengen ketemu katanya." Ujar Arion menerjemahkan.


"Dia ada di Indonesia?" Tanya Arsyad.


Arion bertanya pada pria yang menjadi lawan bicaranya, sesuai apa yang kakaknya perintahkan.


"Ya. Dia ada disini." Jawab pria satunya lagi, dalam bahasa Inggris.


Ia memang harus bisa membuat Kara jauh dari jangkauan kakeknya. Orang tua berbahaya itu sekarang ada di Indonesia, bagaimana ini?


📚📚📚



Sedangkan di ruangan lain, seorang gadis cantik tengah mematut dirinya di depan kaca. Senyum manisnya merekah, menghiasi bibir tipisnya. Sesekali ia juga memainkan baju tidur indahnya yang bermodel baby doll. Sambil bercermin, ia juga sesekali mengingat-ingat apa saja yang baru ia capai.


Malam ini ia sangat senang, karena baru saja mendapatkan sebuah pencapaian tinggi dalam hidupnya. Ya, diam diam dìa telah mendonasikan ratusan juta uang pribadinya untuk membantu para anak anak jalanan dan korban bencana alam. Uang tersebut ia dapatkan dari uang hasil penjualan ķarya lukisannya yang minggu kemarin di lelang di sebuah rumah lelang di London, Inggris. Ia juga baru saja menyumbangkan ribuan dollar untuk membantu para anak penyandang disabilitas di salah satu rumah singgah.


"Hambur hamburin uang dari papih, sekali sekali gak papa kan?" Monolognya.


Selain uang pribadinya, ada sedikit uang saku pemberian ayahnya.


"Ngomong-ngomong soal papih, papih belum telpon dari kemarin."


Gadis cantik itu baru ingat, jika sang ayah hampir tidak menelphonenya seharian ini. Biasanya, sesibuk apapun ayahnya bekerja, pria itu akan selalu sempat menelphone atau sekedar mengirimi putrinya pesan.


"Apa papih sedang dalam perjalanan bisnis?" Pikirnya.


"Iya. Mungkin papih sedang dalam perjalanan bisnis. Handphonenya di silent, jadi gak tahu kalau aku telphone." Ujarnya positif thingking.


Gadis cantik itu beranjak, kemudian menyimpan handphone miliknya. Ia lantas beralih menatap laptop miliknya yang berwarna pink tersebut. Layar benda tersebut menampilkan grafik bursa saham yang sedari tadi ia teliti.


"Dylan buang-buang uang jutaan dollar buat belanja saham lagi?" Decaknya, sambil mengamati layar laptopnya.


Kara itu suka belanja sejak usia dini. Belanja yang dimaksud bukan belanja di mall, swalayan, atau sebagainya, karena sang papih pasti tidak akan mengijinkannya keluar rumah. Gadis cantik itu suka belanja saham, menggunakan nama samarannya. Terkadang, ia juga bekerja sama bersama Dyland atau Aiden hyung-nya soal saham mana saja yang menjadi targetnya.


Lahir sebagai putri pembisnis sukses dan seorang tokoh publik figur, membuat Kara dikarunia bakat alamiah. Ia pintar tanpa harus belajar muluk muluk. Ia pandai berakting tanpa harus bersekolah di sekolah aktor dan aktris. Ia diberkahi kepekaan dan inisiatif tinggi, agar bisa beradabtasi dengan kerasnya hidup dan lahir di kasta yang bergesekan diantara kubu A dan kubu lainnya.


Ia tidak pernah bisa mengerti, kenapa juga sejak kecil ada dua kubu yang mencoba mengebleng dirinya dengan dua pemikiran, adat istiadat, kebiasan, dan sudut pandang yang berbeda. Ia kadang lelah. Di usianya yang masih dini, ia harus terus dikurung demi keamanannya. Di usianya yang masih dini, ia juga harus kerap kali berakting baik-baik saja saat ada gesekan internal atau eksternal yang menganggu mentalnya.

__ADS_1


Ia sadar, dua darah yang mengalir di tubuhnya membuatnya terlahir istimewa, namun begitu mengekang.


"Yanda kok belum naik ya?" Lirihnya. "Apa mungkin yanda masih belajar?"


Gadis cantik itu beranjak dari duduknya. Ia juga telah mematikan laptop miliknya. Karena sang suami tak kunjung kembali ke kamarnya, ia memilih melihat sang suami langsung ke bawah.


Dengan langkah riang, ia berjalan santai menuruni anak tangga. Suaminya sedari tadi memang belajar di ruang tengah bersama sahabat dan juga saudara saudarinya. Kara tidak ikut nimbrung, dengan dalih menyelesaikan sketsa gambarnya. Padahal selain itu, ia juga memiliki agenda belanja saham bersama Dylan lewat virtual. Dylanlah yang menghadari langsung pertemuan tersebut. Kara hanya menyaksikan dan menyimak, serta menyiapkan nominal untuk bertransaksi.


"Yanda..." panggilnya, ketika kakinya telah menginjak udakan tangga yang terakhir.


"Yanda, apa belajarnya masih-"


"Sakura-chan?!"


Deg


Gadis cantik berpiama baby doll tersebut terperanjat di tempatnya berdiri. Tubuhnya tiba-tiba saja lemas. Ia hampir saja terjatuh jika tidak menguatkan pegangannya. Ia kenal, teramat kenal malah dengan si pemilik suara tersebut walaupun hampir satu dekade tak berjumpa.


"E-nzo-kun...." cicitnya kecil, kala manik hazelnutnya mengenali si pemilik suara familiar tersebut.


Kara tidak tahu harus berbuat apa. Dia hanya ingin lari dari hadapan dua pria tersebut. Dia ingin sembunyi, berlari, atau apapun itu, agar kedua pria tersebut tidak bisa menemukannya dan tidak bisa membawanya ke Jepang. Ia tidak mau bertemu kedua pria tersebut, titik.


"P-apih...." lirihnya.


Saat ini, ia hanya ingin berlindung dalam pelukan erat sang ayah. Tempatnya berlindung selama satu dekade kebelakang. Akan tetapi, entah dimana papihnya kini berada.


Arsyad yang melihat gelagat sang istri, dengan cepat beranjak. Akan tetapi, langkahnya kalah telak oleh dua pria berkulit pucat tersebut.


"Nona harus ikut kami. Kakek nona ingin bertemu." Salah satu diantara mereka berhasil meraih tangan Kara.


"L-epas..."


"Nona, ikutlah dengan kami." Ajak yang satunya lagi.


"L-epas...."


"Sakura-chan, ikutlah dengan kami tanpa melawan." Ujar pria yang Kara panggil Enzo tersebut.


"L-epas..." rintih Kara lagi ketakutan.


"Yanda..." manik hazelnut gadis cantik itu berderai air mata. Kilasan memori di masalalu tiba-tiba menghantam kepalanya. Membawa keping-keping memori menakutkan baginya.


"Lepaskan dia?!" Arsyad merengsek maju. "Lepaskan dia."


"Jangan menghalangi kami." Enzo buka suara.


"Lepaskan istriku sekarang!" Ujar dengan bahasa inggris, penuh penekanan.


"Lepaskan dia." Si kembar tak tinggal diam. Mereka ikut maju, menghalangi akses kedua pria tersebut tak peduli jika mereka tengah berhadapan dengan mafia jepang sekalipun.


"Lepaskan dia atau-"


DORR


DORR


Dua timah panas dilesatkàn ke udara, membuat para muda mudi di ruangan tersebut terkesiap seketika. Mereka bergantian menatap pria yang tengah mengacungkan senjata apinya ke udara tersebut. Sebentar lagi, pasti para penghuni rumah ini akan berhamburan keluar.


"Jangan menghalangi jalan kami, atau peluru ini akan bersarang di kerongkongan kalian."


****


TBC


Sumber : Google


Yuhu.... bang Syad update🔥


Yok.... komentarnya. Kira kira yanda mau gimana kedepannya? apa dia rela LDR-an lagi?

__ADS_1


Yok... jangan lupa like, vote, komentar, share dan follow me. Jika sempat, mampir ke akun wttp ku @nengkarisma🔥


Sukabumi 20 Mart 2021


__ADS_2