
📚.60-Hari Kasih Sayang
"Hari kasih sayang, namun sayang. Ada dua perasaan yang harus jauh dari kata sayang-sayangan."-Davian Arion De Prameswari
****
"Valentine Days itu, sekarang?" Tanya si sulung dari triple D tersebut.
"Tanggal berapa emang sekarang?" Si bungsu buka suara.
"14 Feb."
"Iya, kalau menurut kepercayaan orang luar mah." Si bungsu angkat bicara lagi. "Mereka biasa merayakannya dengan berbagi coklat dan bunga untuk orang-orang terkasih."
"Coklat sama bunga?"
"He'em. Sebagai ungkapan sayang. Padahal ya, Palentine Days itu hari peringatan kematian." Tutur si bungsu yang tengah sibuk membuat dalgona coffe. Salah satu minuman hits sepanjang tahun 2020.
"Mantan belum genap 111, apa gue perlu nambah target bulanan?" Celetuk si tengah, yang tengah sibuk membalas Chat, DM, inbox, sms, dan bentuk pesan lainnya yang dikirim oleh para kekasihnya.
"Si Okalina minta coklat isinya almond. Si Ocha minta mawar merah 99 kuntum, kenapa gak seratus sekalian coba?" Gerutunya.
"Ini lagi, si Anne, Anni, sama Anna. Mintanya samaan semua, nonton film romantis bareng di bioskop. Kembar tiga ini, bukan main mintanya." Pusingnya.
"Kebanyakan cewek lo Dav." Sindir sang kakak. "Gue, satu aja gak habis-habis. Malah maunya untill jannah."
"Elah, elu sok setia. Setiap tikungan ada kali." Jawab Davian.
"Gue memang setia kali." Ujar Davin membenarkan.
"Gak bòsen memangnya? Kalo lo udah bosen, lo bisa selingkuh. Nih, gue ada 20 cewek yang masih nganggur. DM dari mereka belum gue respon. Mau enggak?"
"Taik. Punya adik kok gobloknya ulung. Bukannya doain hubungan abangnya biar longlast, ini malah ditawarin buat selingkuh." Ujar Davin tak suka akan ide sang kembaran.
"Gak mau ya udah. Kalau lo, mau gak dek?" Tanya Davian beralih target kepada Aroon.
"Gak."
"Homo lo?"
"Enggak."
"Gue lihat-lihat, lo selama ini cuma deket sama dua orang." Aroon memincing, mendengar ucapan sang kembaran.
"Siapa? Gue gak deket sama cewek manapun." Elak Aroon.
"Sok gak tahu lo. Pertama, kelas XII IPA I."
"XII IPA I?" Bingung Aroon. "Siapa?"
"Dia, Arsenov Rayyan, wakil ketua kelas XII IPA I."
"Hah?" Aroon menganga hebat. "Gilak, bercada banget!"
"Kedua, Arsyad An-nass Senopati Az-zzioi. Ketua kelas XII IPA I. Lo sejauh ini cuma deket sama mereka. Lo beneran homo, ron?!" Selidik Davian.
"Ngawur. Dari mana lo bisa beranggapan kalau gue homo?" Ketus Aroon.
__ADS_1
"Hasil riset."
"Hasil riset gundulmu." Davian menyela. "Aroon itu yang paling waras diantara kita. Dia bukan homo, cuma belum mau berkomitmen aja."
"Bahasamu, bambang. Lo pikir gue gak waras?"
"Emang."
"Taik. Punya abang gelo." Ketus Davian.
"Lo kali yang gelo, gue sih enggak." Balas Davin.
Lelah akan situasi absurd tersebut, Aroon memilih meninggalkan meja bar. Membawa dua gelas dalgona coffe buatannya, menuju para penunggu racikan coffe buatannya.
"Dua dalgona coffe, siap dinikmati." Ujarnya, ala-ala waiters pada umunya.
"Wah, ternyata kamu berbakat jadi waiters juga ya roon, selain jadi barista." Puji si pemesan coffe.
"Alhamdulillah om. Dikit-dikit, belajar bisa dalam segala bidang."
"Bagus-bagus. Kalau terus dikembangkan, om yakin kamu bisa jadi barista yang mumpuni. Wajah goodlooking, skill mantap, hebat lah, roon." Aroon mengangguk kecil, lantas ikut duduk di kursi dihadapan lawan bicaranya.
"Om, mau pulang sore ini?"
"Iya. Jadwal flight sore ini. Karena besok, om ada meeting buàt tender besar. Alea juga mulai aktif kuliah lagi lusa."
Aroon mengangguk faham akan jam terbang om-nya yang sangat sibuk ini. Hari ini, sebelum mengantarkan kepulangan om-nya, Aroon berkesempatan untuk memperkenalkin bisnis yang dirintis oleh Arsyad, Arsen, Ia dan kembaran-kembarannya.
"Om Anzar gak ada niatan buat stay di Indo lagi?" Tanya Aroon, hatì-hati. Takut terlalu mengusik privasi om-nya.
Pria tampan bertubuh tegap, berpakaian formal itu tersenyum tipis. "Ada. Tapi, nanti kalau Alea sudah memiliki pendamping. Kalau perusahaan sudah memliki penerus yang cocok."
"Kenapa?"
"Aroon kasihan aja, lihat mamah sama papa yang kadan ribut walaupun dalam keadaan cape, baru pulang dari kantor. Mama sama papa kayaknya udah mulai pusing sama masalah perusahaan."
Anzar tertawa kecil. "Itu cuma perasaanmu ron. Tapi om apresiasi sikap kamu yang perasa itu." Ujar Anzar.
"Perusahaan Radityan yang di Indonesia itu, jatah Van'ar sama ibumu. Sudah sepatutnya, anak-anak mereka yang menggantikannya. Mungkin, salah satunya itu kamu."
"Aroon om?" Tunjuk Aroon pada dirinya sendiri. "Tapi kan, ada bang Arsyad yang lebih mumpuni, om. Aroon mah, cuma bisa segini."
Anzar tersenyum tipis mendengarnya. "Iya. Arsyad memang mumpuni, ada garis takdir yang membawanya menuju singasana itu. Tapi, apa salahnya jika kamu dan saudara-saudaramu saling membantu Arsyad kelak? Itu perusahaan Radityan, aset yang menghasilkan sumber keuangan terbesar bagi kita. Sudah sepatutnya kita menjaganya dengan baik."
"Iya om. Aroon paham."
"Bagus." Ujar Anzar, sambil menyeruput coffe yang katanya menjadi bestseller selama tahun 2020. "Pantas jadi bestseller coffe sepanjang 2020, karena memang enak. Dan,"
"Dan apa om?"
"Baristanya masih muda dan goodloking." Canda Anzar. Berikutnya, tawa mereka mengudara. Membuat Davin dan Davian geleng-geleng kepala, melihat kehebatan si bungsu mengakrabkan diri dengan om mereka yang terkenar over dalam segala hal.
📚📚📚
"Arra, kamu belum pulang?" Sapa seorang lelaki tampan tersebut, pada gadis yang baru saja keluar dari area sekolah.
"Belum. Tadi, aku bantu ketua ROHIS baru buat bikin program kerja." Tutur si empunya. "Kalau kamu sendiri?"
"Sama. Aku juga diminta buat ngarahin anak KIR buat bikin planning acara."
Arra mengangguk paham. Arsen--lelaki tampan itu memang mantan ketua ekstrakulikuler Karya Ilmiah Remaja. Sedangkan dia sendiri, mantan ketua ROHIS Putri. Organisasi Rohani Islami, disingkat menjadi ROHIS.
__ADS_1
"Kamu di jemput?"
"Iya. Tapi, belum datang." Arra melirik sejenak kearah jalanan yang ramai dilalui para pengendara. "Padahal aku mau ke bandara."
"Ke bandara?"
"Iya. Om sama tanteku mau pulang ke New york."
"Orang tua sepupu kamu yang cerdas itu?" Arra mengangguk, membenarkan.
"Ya sudah, ayo naik. Aku antarkan kamu ke bandara."
"Eh, gak usah. Nanti ngerepotin."
"Aku gak merasa kerepotan." Ujar Arsen jujur. "Ayo, naik. Dari pada kamu telat?"
Imbuh Arsen, sambil menyodorkan helm cadangan yang ia sengaja bawa, bekas dipakai ayahnya.
"Memangnya gak papa."
"Enggak. Ayo naik." Ujar Arsen, sambil menepuk jok penumpang belakang.
Arra hendak menolak, namun saat melirik arlojinya ia bimbang. Sudah pukul 13.35, sekitar dua puluh lima menit lagi peswat yang ditumpangi oleh om dan tantenya lepas landas.
"Ayo?"
"I-iya." Dan pada akhirnya, Arra meng-iyakan ajakan Arsen untu mengantarkannya.
Toh, niat Arsen baik ingin membantunya. Jadi, kenapa Arra harus menolak saat ia sangat membutuhkan pertolongan. Lima belas menit yang lalu, sang kembaran sudah memberinya informasi lewat telphone, jika mereka sudah berada di bandara. Dengan adanya bantuan dari Arsen, setidaknya ia bisa mencapai bandara tepat pada waktu.
"Terimakasih ya buat bantuannya." Ujar Arra tulus, sembari memberikan helm yang baru saja di kenakan olehnya.
"Hm."
"Kamu mau ikut nganter?" Tawar Arra.
"Memang boleh?" Tanya Arsen, sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Boleh kok. Ada bang Arsyad juga di dalam."
"Hm, boleh deh."
"Ya sudah, ayo."
Arsen mengangguk, lantas ikut menyusul langkah Arra memasuki bandara. Tanpa Arra sadari, sudut bibir pria tampan itu terangkat walaupun tipis. Barangkali ia merasa mendapat jakpot, karena berhasil membonceng sang pujaan hati. Dia senang, setidaknya peristiwa sekali seumur hidupnya itu perlu diapresiasi. Namun, senyum tipisnya langsung kempis saat pujaan hatinya memanggil nama orang lain. Nama rival sejatinya.
"Gean?!"
****
TBC
Holla, met malam readers?
BCT Update. Hayoo... cung yang nunggu penghuni BCT update? part ini mau bicara apa sama Arra? Arsen? Aroon? Davin & Davian? atau om Anzar?? Sampaikan pesanmu di kolom komentar yo👐
Jangan lupa like, vote, komentar, share dan follow. Maaf kalau jadwal up sekarang jadi ngarett (3 hari sekali) Aku banyak kegiatan, weekend saja gak libur. Semoga reeaders semua mengerti ya🙏
ILYSM Al Readers yang selalu ngerti aku & support aku 😍😍
Sukabumi 14 Feb 2021
__ADS_1