
📚.64. Menginap
"Bahagiaku mungkin dapat bersumber dari berbagai hal. Namun suatu hal kecil yang dilakukan denganmu, selalu membawa pancarona hebat dalam alur harianku."-Naraess AlGean Hazka Dwiarga
****
Cerita seorang playboy kelas kakap, pasti akan berakhir dengan pengejaran. Biasanya seorang playboy hanya tinggal tebar pesona sana sini, juga tebar rayuan maut, para kaum hawa pasti akan langsung mengejarnya. Tapi tak jarang, playboy atau f*ckboy sekalipun, akan tunduk jika buruannya tak kunjung ia dapatkan. Tidak jarang pula, mereka menjelma menjadi sadboy ketika lelah dan jenuh menyambangi.
"Kenapa?" Tanya pria tampan yang baru saja turun dari treadmill tersebut.
"Patah hati?" Tebaknya.
Wajah si lawan bicara tertoleh kesamping. "Abang pernah ditolak?"
"Ditolak apa? Pekerjaan?" Tanya pria yang beberapa tahun lebih tua darinya.
"Cinta."
"Cinta?" Pria tampan itu menoleh. Menatap sang adik lekat. "Siapa lagi kali ini?" Tanyanya penasaran.
Setahunya, adiknya ini terkenal sekali dengan sifat f*ckboy-nya diantara keluarga besar mereka. Adiknya itu juga memiliki banyak mantan pacar, saking banyaknya jika dikumpulkan, bisa saja dia membuka kelas para mantan.
"Putri dari keluarga mana lagi? Permadi, Aland, Bramono, William, Wijaya, atau keluarga mana lagi?" Tanya pria tampan itu buka suara panjang lebar.
"Bukan."
"Lalu....?"
"Keluarga Radityan. Abang kenal?"
"Hm." Pria tampan itu nampak berpikir sejenak. Siapa yang tidak mengenal keluarga besar pemilik perusahaan raksasa tersebut.
"Kapan Gean boleh pulang ke Indo bang?" Tanya Gean mengalihkan perhatian.
"Nanti."
"Iya, nanti. Nantinya kapan?"
"Kalau ayah sudah memberi perintah." Ujar pria tampan tersebut, sambil meneguk air mineral yang sengaja dibawa olehnya.
"Bang Nathan memangnya gak mau pulang? Gean disini baru beberapa hari aja udah bosen. Apalagi abang yang bertahun-tahun tinggal disini. Gak kangen rumah?"
"Hm."
"Bunda mau abang pulang lebaran ini. Bisa?"
"Hm."
"Hm, Hm doang. Jawab yang bener dong bang." Kesal Gean.
Kakak lelakiñya itu memang menuruni sifat dingin dan irit bicara dari sang ayah. Terkadang, Gean frustasi sendiri saat mencoba mengobrol dengan sang kakak.
"Pulang bang. Bunda rindu abang, memangnya abang gak rindu?"
"Rindu."
"Lah, terus?"
"Ada yang harus aku jaga disini."
"Siapa?" Tanya Gean penasaran. Pasalnya, ia tidak pernah mendengar kakaknya menjalin hubungan dengan wanita manapun. Kakaknya juga hanya dekat dengan satu wanita, yaitu onti cantik mereka.
"Calon istri."
"Hah, siapa bang? Coba ulangi." Tanya Gean memastikan.
Nathan tak menggubris. Pria tampan itu lebih memilih membuka pintu transfaran yang menjadi penyekat ruang olahraga private tersebut. Membiarkan seorang wanita cantik yang mengenakan bra sport dan celana olahraga ketat berwarna abu-abu itu masuk keruangan tersebut.
Cup
"Bau asem." Komentar wanita cantik tersebut, sambil mengecup pelipis Nathan.
"Aduh, mataku ternodai." Jerit Gean, hiperbola.
"Kalau iri bilang aja. Nanti onti kasih kiss, free kok." Ujar wanita cantik tersebut, sambil mendekati Gean.
"Gak ah. Pipiku masih suci." Sombong Gean.
"Suci? F*ckboy yang mantannya segudang, masih suci?" Goda wanita cantik tersebut sambil mencubit pipi Gean.
"Onti ih, sakit." Kesal Gean.
"Gemess banget. Kamu makin gede, wajahnya makin kebarat-baratan. Aku curiga, kamu bukan anaknya si abang."
"Hust, bicaranya onti ngawur banget." Semprot Gean tak suka. "Wajahku paling ganteng ya. Kebarat-baratan, karena pas hamil aku bunda ngidam pengen nabok hidung mancungnya Tom Holland."
"Ada ada saja kamu." Kekeh wanita tersebut, sambil menaiki treadmill.
"Mau kemana?" Tanya, saat melirik Nathan yang hendak pergi.
"Apart."
"Apart? Kalau gitu, nanti malam aku nginap ya."
"Hm."
"Ok. Nanti kamu jangan masak, biar aku yang masak."
"Hm."
Wanita cantik itu mengangguk, seraya melakukan kiss plying diudara. Gean yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala sendiri. Sudah menjadi hal lumrah, interaksi keduanya yang diluar nalar itu menjadi tontonannya. Jika orang lain yang melihatnya, sudah pasti mereka akan mengira keduanya adalah sepasang kekasih.
"Onti sama abang kayak orang pacaran aja." Ujarnya gamblang.
__ADS_1
"Memang."
"Hah?!" Gean mendelik kaget. "Masa, abang sama onti punya affair?"
"Ngaco kamu. Onti udah punya calon ya, jangan lupa." Ralat wanita cantik tersebut.
"Oh, kirain." Ujar Gean lega. Mau jadi apa nasih keluarganya, jika kakaknya itu memiliki scandal dengan ontinya sendiri.
"Tapi, kalau abang kamu mau, onti juga mau deh. Abang kamu 'kan ganteng, sentuhable, papaable, imamable, pokoknya mendekati sempurna." Imbuhnya.
"Ya Allah, onti. Inget calon suami."
El tertawa puas melihat ekspresi keponakannya. Sudah menjadi kebiasaan yang menyenangkan untuknya menganggu sang keponakan. Selama Gean dihukum disini, El tentu sering kali menggoda keponakan bontotnya itu karena sering kali uring-uringan.
📚📚📚
Suasana caffe yang berada ditempat yang stategis dan memiliki sarana frasarana yang memadai itu, semakin malam malah semakin padat pengunjung. Bukan hanya didominasi oleh para kaum hawa, banyak juga dari mereka yang datang membawa para pasangan mereka.
Alunan musik masakini yang cocok dengan selera setiap usia, membuat mereka betah berlama-lama ditempat tersebut. Padahal, sekitar satu jam lagi caffe akan tutup.
"Duduk disini, jangan kemana-mana."
"Iya."
"Kalau kamu mau sesuatu, panggil saja Aroon."
"Iya, yanda."
Lelaki tampan itu tersenyum tipis, lantas menyentuh pucuk kepala sang istri sejenak.
"Aku kerja dulu." Sang istri mengangguk sambil tersenyum manis.
"Duh, senyum pemicu diabet." Komentar sebuah suara, ketika Arsyad telah berlalu.
"Hust, gak usah gangguin kapar." Lerai suara lainnya.
"Kapar? Apaan tuh?"
"Kakak ipar, begok." Celetuk yang lainya.
"Anjay gurinjay, tega banget lo ngatain gue begok. Gue ini cicitnya Albert Eistain, jangan sok."
"Mimpi lo ketinggian Dav! Kita cicitnya almarhum oma dan opa Radityan. Lupa?"
"Iya sih, tapi--"
"Wis, gak usah ribut. Lo pada bikin sumpek tau gak." Ketus si bungsu, sambil menghampiri gadis cantik yang tengah duduk sambil mengamati sekelilingnya tersebut.
"Hei, mau minum sesuatu?" Tanyanya, menawarkan.
Kara menoleh, lantas tersenyum tipis. "Kamu lucu kalau pakai apron."
Aroon tersenyum tipis. "Terimakasih atas pujiannya, kapar."
"Kapar?"
Kara mengangguk sambil tersenyum. Hubungannya dengan para saudara Arsyad memang sudah tidak terlalu kaku seperti diawal-awal. Ia juga sudah bisa mengatasi fhobianya, jika harus berada dalam lingkungan yang sama dengan kurun waktu yang lama, dengan para kaum hawa yang berpakaian tertutup.
"Jadi, kamu mau menginap?" Tanya Aroon, sambil menyodorkan segelas ocha pesanan Kara.
"Menginap?"
"Iya. Malam ini, kayaknya abang bakal nginap di caffe. Ada agenda buat chek keuangan bulanan, biasanya juga gitu."
"Hm, Kara kurang tahu. Tadi belum tanya yanda juga." Ujar Kara.
Ia tidak bohong, ia memang belum mengetahui soal rencana sang suami yang akan menginap di caffe. Ia pikir, suaminya itu cuma mau lembur.
Ketika caffe sudah harus ditutup, para anggota band Davian juga sudah menutup penampilannya. Para pengunjung yang masih belum puas menongkrong disana, harus ikhlas utuk pulang karena caffe sudah harus tutup. Selepas para pengunjung pulang, para staf yang terdiri dari laki-laki, langsung membenahi caffe. Ada yang mengelap meja, menyapu, mencuci perabotan, mengkalkulasikan pendapatan hari ini, dan puncaknya mereka melakukan brieefing sebelum pulang.
"Hari ini siapa yang bagian nginap?" Tanya Arsyad, kepada para teman satu team kerjanya.
"Gue, Biru, Aroon, sama Blake."
"Hm. Ditambah gue, berarti ada lima orang."
"Iya. Lima orang itu, 2 orang harus urus masalah pantry. 3 orang sisanya urus keuangan. Eh, satu orang harus chek stok juga bang." Tutur Aroon.
"Hm. Kita bagi tugas. Sesuai jobdesk masing-masing, biar keuangan gue handle."
"Ok." Jawab mereka serempak, mengakhiri diskusi yang selalu dilakukan ketika awal atau akhir kerja.
Kara yang setia menunggu sang suami, sedari tadi hanya duduk sambil menikmati segelas ocha hangat dengan waffle yang dilumuri saus maple.
"Ayo."
"Kemana yanda?" Tanyanya, ketika lelaki tampan itu menghampirinya.
"Pulang."
"Pulang? Bukannya yanda mau menginap?"
"Hm."
"Kara juga mau ikut menginap." Ujar Kara to the point.
"Kamu harus pulang."
"Enggak, Kara mau nginap sama yanda." Ujar Kara kekeuh.
"Kara, disini tidak cocok untuk kamu."
"Tidak cocok apanya? Kara bisa tidur di sofa kok. Kara juga gak papa kalau harus tidur dilantai."
Arsyad menyerngitkan alisnya. Ia tengah berpikir keras agar bisa membuat istrinya itu mengerti.
"Boleh ya yanda?"
__ADS_1
"Kamu harus pulang." Ujar Arsyad mutlak.
"Yanda?" Lirih Kara. Gadis cantik bermanik hazelnut itu nampak menatap sang suami tak percaya.
Arsyad menghembuskan nafasnya gusar. "Hm, baiklah."
Kara mendongrak, menatap sang suami penuh binat. "Jadi, Kara boleh menginap?"
"Hm." Respon Arsyad kecil, sambil menuntun sang istri untuk mengekorinya.
"Terimakasih, yanda." Senang Kara, sambil memeluk lengan sang suami erat.
"Hm. Tapi, hanya untuk kali ini saja."
"Ok yanda." Ujar Kara mantap.
Arsyad tersenyum tipis. Ini akan menjadi pengalaman pertama baginya, menginap di tempat kerja bersama istrinya. Pengalaman pertama dan untuk terakhir kalinya, karena ia tidak akan membiarkan istrinya datang ke caffe dan menjadi tontonan para pengunjung dan stafnya lagi.
"Tidur," Titah Arsyad, sambil menyentuh pucuk kepala sang istri.
Ruang kerjanya memang dilengkapi dengan tempat tidur single yang hanya muat ditiduri oleh satu orang. Walaupun jarang digunakan, tempat peristirahatan itu selalu terjaga kebersihan dan kerapihannya.
Setelah memastikan istrinya beristirahat, Arsyad kembali berkutat dengan pekerjaanya. Ada tumpukan file keuangan dan anggaran lainnya yang perlu ia selesaikan malam ini.
"Yanda?" Panggil suara sang istri lirih.
"Kenapa belum tidur?" Tanya Arsyad, sembari mendekati sang istri.
"Kara tidak bisa tidur."
"Ada apa?" Tanya Arsyad, ketika ia sudah duduk dipinggiran tempat tidur.
"Kara tidak tahu kenapa."
"Tidur."
"Gak bisa."
"Tidur, Kara."
"Gak bisa ihh." Ketus gadis cantik tersebut, sambil mengubah posisinya menjadi duduk. "Kara gak bisa tidur, yanda."
Lelaki tampan itu menoleh, lantas melirik jak diatas nakas. Pukul dua belas malam, dan istri cantiknya ini masih belum tidur.
Cup
"Tidur Kara, besok kamu harus homeschooling dan les dari pagi." Ujarnya, selepas menjatuhkan satu kecupan di kening sang istri.
"Gimana caranya?"
"Baca doa, lalu pejamkan matamu."
"Sudah, tapi tetap gak bisa tidur."
"Hm. Mau aku tidurkan?"
"Yanda ih, Kara bukan dedek bayi ya." Ketus Kara, sambil membuang muka.
Gadis itu tidak bohong soal tidak bisa tidur. Ia memang sulit untuk memejamkan mata. Ia juga tidak tahu kenapa ia sulit tertidur.
"Kara?"
"...."
"Coba menoleh kesini."
Gadis cantik bermanik hazel itu menoleh walaupun cukup kesal karena dipaksa untuk tidur, padahal ia kesulitan untuk memejamkan mata.
"Apa--"
Cup
Kalimat gadis cantik itu menggantung diudara, ketika bibir tipisnya tanpa sengaja menyentuh milik orang lain ketika menoleh kesamping.
"Yanda..." Lirihnya, sambil menjauhkan wajahnya.
Lelaki tampan itu tidak menjawab. Sebelah tangannya dengan sigap meraih belakang tengkuk sang istri. Membawa wajah cantik itu mendekat, sebelum membungkam bibir cantik itu dengan ciuman lembut lainnya. Si empunya tentu shok, tapi tidak lama. Gerakan tangan lainnya yang bergerak secara teratur diatas permukaan dress bagian perutnya, agaknya mampu membuatnya rilex.
Cara Arsyad memperlakukannya, nyatanya mampu membius segala kinerja sensor ditubuhnya. Hal ini mungkin lumrah bagi mereka yang sudah sering melakukannya. Tapi bagi mereka? Skinship seintim ini agaknya hal baru dalam hubungan keduanya.
Lama menawan bibir tipis kekasih halalnya yang membuat lupa waktu, Arsyad mengurai jarak. Melepaskan tawanannya yang tidak memberikan respon apapun sejak beberapa menit yang lalu.
"Tidur ternyata." Lirihnya, saat melihat sang istri sudah tertidur dengan damai.
Ternyata, cara 'menidurkan' ala kadarnya itu, berhasil membuat sang istri tertidur kurang dari 10 menit. Lihat saja, gadis cantik itu memejamkan matanya dengan damai, walaupun satu objek membuat Arsyad cukup terganggu. Ya, dia juga tidak sadar kapan telah membuat bibir tipis milik istrinya agak membengkak. Arsyad tidak sadar, jadi salahkan dia?
Cup
"Tidur yang nyenyak, istri." Ujarnya, sambil mengecup kening sang istri setelah merebahkannya dengan benar.
Setelah berhasil menidurkan sang istri dengan caranya sendiri, ia kembali menyelesaikan pekerjaanya yang sempat tertunda. Ia ingin cepat-cepat menyelesaikan pekerjaanya, agar bisa cepat menyusul sang istri ke alam mimpi. Dirinya terasa cukup tergoda untuk segera mengistirahatkan tubuh letihnya, disamping sang istri. Memeluknya erat, menghirup aroma khas istri kecilnya, sebelum menutup mata, untuk mengarungi alam mimpi sambil memeluk tubuh mungil istrinya.
Mungkin ia akan juga memikirkan soal menginap dilain kali. Menginap bersama sang istri ternyata bukanlah ide yang buruk.
****
TBC
Yuhuu.... Yanda Kara update😢😢
Huhu.... kangen update, readers juga kangen mereka enggak? gimana buat part BCT kali ini? kurang? atau.... masih rindu sama tokoh yang lain? Arra, Arcean, Algean, atau.... siapa?
Satu satu dulu ya. Lama gak update, berat juga buatku. Tapi gimana lagi, tangan mau nulis tapi otak gak singkron. Jadi, maaf kalau lama updatenya🙏
Jangan lupa like, vote, komentarrrrr dan follow me. Jumpa lagi di part berikutnya❤
__ADS_1
Sukabumi 10 Mart 2021