Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
113. Jarrah


__ADS_3

113. Jarrah


“Dulu si kembar lahir di sini, dan sekarang putranya akan segera memiliki bayi.”


Keevano tersenyum ramah sebagai respon. Kedatangan mereka ke Ankara disambut dengan sangat hangat oleh keluarga dari pihak ayah Arkia—istri Keevano. Mereka dijamu dengan minuman yang menyegarkan dan makanan lezat yang mengenyangkan. Diberi tempat beristirahat yang terbaik, juga diperlakukan dengan sangat hangat. Begitu pula mereka menyambut Arsyad dan Kara.


“Yara, aku tinggal keluar sebentar.”


Arsyad berujar kala benda pipih di dalam saku celana miliknya bergetar untuk kesekian kali. Meminta izin pada sang istri.


Saat ini mereka sedang berbincang-bincang dengan keluarga Malik—keluarga yang masih kerabat dekat kakek dan neneknya.


“Ada telpon dari Aroon, ya?” Perempuan cantik yang tengah hamil itu menoleh seraya berkata. Sejak tadi ia memang diajak bicara terus oleh putri semata wayang keluarga Malik.


“Hm.”


“Ya sudah. Yanda bicara di luar saja kalau memang sangat penting.”


Arsyad mengangguk. Ia kemudian menyentuh punggung tangan sang istri, lalu meminta izin untuk pergi pada yang lain. Sepertinya memang benar, Aroon yang menelpon berulang kali. Pasalnya tidak ada yang berani menelpon berulang kali, jika satu kali tidak diterima oleh Arsyad An-nass Senopati Az-zzioi. Kecuali Diano Aroon Dee Prameswari alias Aroon.


“As’salamualaikum, Abang.”


“Wa’alaikumsalam. Ada apa?” tanya Arsyad saat sambungan telepon diangkat oleh Aroon di seberang sana. Saat ini Arsyad sudah pergi ke luar, menepi dari obrolan yang melibatkan tiga anggota keluarga Radityan dan keluarga Malik.


“Maaf ganggu waktu Abang, aku cuma mau mengingatkan, karena pesanku tidak dibaca-baca sama Abang.”


“Ada apa memangnya?”


“Coba cek surel Abang, ada beberapa soft copy laporan yang harus Abang cek.”


“Hm. Baik, aku akan segera mengecek surel.”


“Kalau Abang sedang sibuk dengan pekerjaan lain, cek surel nya bisa nanti malam aja. Cuma jangan sampai lupa memberikan koreksi.”


“Hm.”


Arsyad merespon dengan singkat, kemudian sambungan telepon itu mati setelah mereka menyelesaikan pembicaraan. Karena merasa tidak enak jika berlama-lama di luar, Arsyad pun baru saja hendak kembali ke dalam saat segumpal bulu hewan berwarna oren dengan bola mata kehijauan mendekat di kakinya.



“Dari mana datangnya hewan kesayangan Baginda Rasulullah satu ini,” ucap Arsyad seraya mengangkat hewan tersebut. Ia dengan telaten juga mengusap bulu si kitten yang kotor karena terkena debu. “Apa kamu kehilangan arah untuk pulang ke rumah, wahai hewan kesayangan Baginda Rasulullah?”


Hewan yang kelak dapat membawa kita ke surga, padahal hewan itu sendiri tidak masuk ke surga itu tampak senang berada dalam perlindungan Arsyad.

__ADS_1


Hewan itu merupakan hewan yang sangat disukai oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan Rasulullah menyuruh untuk menyayangi hewan tersebut, karena jika seseorang menelantarkan hewan tersebut, maka akan mendapatkan siksa neraka.


“Kamu benar-benar tersesat, ya?” Arsyad kembali berbicara pada hewan berbulu oren itu, seolah-olah si kucing dapat merespon lewat suara atau gerakan.


Kucing jenis angora itu kemudian mengeong kecil, seolah-olah hendak mengatakan sesuatu pada Arsyad. Namun, Asyad tidak paham akan maksudnya. Arsyad malah gemas melihat tingkah hewan tersebut. Jika istrinya melihat, perempuan yang tengah berbadan dua itu pasti akan kegirangan. Atau Arsyad bawa saja hewan berbulu ini ke dalam rumah?


Namun, bagaimana jika di pemilik mencarinya? Nanti si kitten malah tidak ditemukan karena berada di dalam rumah.


Belum juga menemukan jawaban atas pilihan tersebut, tiba-tiba saja suara seseorang tampak masuk ke indra pendengaran Arsyad. Suara itu datang dari arah depan pagar rumah.


“Jarrah? Kamu di mana, Nak?”


Seolah-olah tahu jika nama yang panggil-panggil itu namanya, kucing dalam gendongan Arsyad tampak mengerang, lalu mengeong dengan suara cukup keras. Arsyad sampai menarik salah satu sudut bibirnya. Ia terhibur.


“Jadi nama kamu Jarrah?”


Meow


Meow



“Jarrah artinya kapal. Nama yang cocok untuk kucing menggemaskan seperti kamu.”


Meow


Meow


“Kalau itu benar pemilik kamu, maka sambutlah.” Arsyad menurunkan si imut Jarrah kembali ke tanah. Namun, bukannya pergi, kucing itu malah betah bergelayut di kaki Arsyad. “Ada apa Jarrah? Bukannya kamu harus segera pulang? Ibumu mencari.”


Meow


Meow


“Jarrah?”


Arsyad yang baru saja hendak berkata, langsung mendongkrak. Menatap ke satu arah, yaitu pada pagar yang terbuat dari tumpukan batu yang telah ditata dengan sedemikian rupa, kemudian dihiasi tanaman rambat berupa bunga merambat. Di sana seorang perempuan dengan sepasang bola mata berwarna biru tengah berdiri—tengah menatap ke arahnya pula. Tanpa direncanakan sebelumnya, kontak mata tercipta di antara mereka. Antara bola mata hitam kelam dan biru yang sejernih samudra. Kontak mata itu terjadi sekejap mata, sebelum mereka berdua sama-sama membuang pandangan ke sembarang arah seraya beristigfar.


“Jarrah,” panggil perempuan berpakaian syar’I serta sangat tertutup itu. Dikarenakan ia hanya memperlihatkan bagian kecil dari wajahnya. “Ayo pulang, Jarrah.”


Arsyad menunduk, menatap hewan berbulu yang masih berada di kakinya. “Pulanglah Jarrah.”


Meow

__ADS_1


Meow


“Pemilikmu menunggu,” tambah Arsyad.


“Jarrah, ayo, Nak.” Perempuan itu kembali bersuara dengan suara kecil, namun dengan artikulasi yang jelas di pendengaran.


Karena Jarrah tak kunjung merespon, Arsyad kemudian memutuskan untuk meraih hewan berbulu itu. Ia kemudian membawa Jarrah kepada pemiliknya.


Tanpa adanya kontak mata yang kembali terjadi di antara mereka, Arsyad menurunkan Jarrah di luar pagar. Dekat si pemilik, sehingga pemilik Jarrah dapat langsung mengambilnya.


“Terima kasih,” ucap pemilik Jarrah, tulus. “Maaf jika Jarrah merepotkan kamu.


“Sama-sama. Jarrah tidak merepotkan siapa-siapa,” balas Arsyad.


Ada suasana yang berbeda ketika bicara dengan pemilik Jarrah. Arsyad merasa pemilik Jarrah mengingatkan ia pada sang Bunda. Bedanya pemilik Jarrah memiliki bola mata biru sejernih samudra, sedangkan sang bunda memiliki bola mata jernih dan bening. Jika ditanya cantik atau tidak? Arsyad akan menjawab jika setiap perempuan di muka bumi itu cantik. Cantik juga sering dikatakan relatif, tergantung pada sudut pandang orang yang menilai.


“Kalau begitu aku pamit pergi bersama Jarrah.”


“Hm.”


“Sekali lagi terima kasih.”


Arsyad mengangguk dengan tatapan masih menatap ke sembarang arah. Gadhul bashar. Sebagai respon Arsyad kemudian memberikan dehaman singkat. Ketika mendengar langkah kaki yang menjauh, barulah Arsyad mau mengalihkan pandangan.


“Masya Allah, perempuan itu mengingatkan pada bunda,” gumam Arsyad kala melihat punggung perempuan pemilik bola mata biru itu semakin mengecil dan menjauh.


Arsyad pun berbalik, kemudian kembali melangkah untuk masuk ke dalam rumah. Sampai ia melihat sebuah benda berkilauan, lalu memungutnya.


“Jarrah.”


Sebut Arsyad kala membaca nama yang tertera di benda berkilauan yang sepertinya bagian dari tanda pengenal yang dipasangkan pada Jarrah. Ketika membalik benda berkilauan itu, Arsyad menemukan seuntai kalimat yang ditulis dalam bahasa Arab. Jika diartikan, kurang lebih artinya seperti ini, “Jarrah—nama yang dipercaya akan dapat membawa si pemilik berlayar ke dunia yang lebih menyenangkan.”


“Arti nama yang bagus,” salut Arsyad. “Semoga saja Jarrah memang membawa pemiliknya berlayar ke dunia yang lebih menyenangkan.”


🍑🍑


TBC


FINALLY UPDATE ☺️


IS KLUE TIME.


Tanggerang 30-09-22

__ADS_1


__ADS_2