
📚.7-Firàsat
"Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa kecuali dengan izin Allah SWT." (Q.S At-tagabun/64:11)
****
Langit gelap nampak menyelimuti bumi pertiwi. Semilir angin nampak membawa kedinginan yang hakiki. Rintik hujan mulai menyambangi bumi lagi dan lagi. Kembali membawa kilat dan gemuŕuh guntur disana sini. Malam ini hujan seperti biasa,mengingat kini sudah memasuki fasè puncak musim hujan yaitu mendekati pergantian tahun.
Seorang gadis cantik bergamis cream longgar dengan hijab instan itu tak henti hentinya berjalan kesana kemari. Seperti tengah menanti datangnya sesuatu,hatinya terasa tidak menentu. Ketika tertidur tadi,dia bahkan bermimpi yang janggal menurutnya. Entah mengapa,seakan akan firasat itu datang berkali kali hari ini. Menganggu aktivitasnya kesana kemari,apalagi saat hatinya tidak lagi menetap disatu titik fokus.
"Arra kenapa?"
Gadis cantik itu menoleh,langsung menghadap sumber suara tersebut seksama.
"Abang bunda,"
"Abang ada dipuncak tèh."
"Perasaan Arra ngak enak bunda. Kayaknya abang kenapa-kenapa."
Aurra tersenyum tipis,kentara begitu tulus ketika bibirnya terlihat tanpa penghalang itu tersenyum.
"Ba'da Isya tadi abang sudah telphonekan? Abang ngak kenapa-kenapa."
"Tapi bunda,perasaan Arra tidak enak."
Aurra mengangguk,lalu mendekat kearah sang buah hati.
"Tetèh salat malam ya,berdo'a kepada Allah agar abang disana dijaga dari segala marah bahaya."
"Baik bunda."
"Insaallah,abang ngak papa selama masih berada dibawah lindungan Allah." Ujar Aurra menenangkan sang putri.
Asyad dan Arra memang anak kembar yang cukup spesial. Seperti pada umumnya namun jarang terjadi,mereka juga bisa merasakan apa yang kembaranya rasakan. Selain itu,tingkat kepekaan mereka juga amatlah tinggi terhadap kembaranya,walaupun terpisah jarak ribuah kilo meter. Selain itu,Arsyad maupun Arra juga terkadang memiliki bahasa kode yang dapat dimengerti oleh kembaranya.
Sebagian anak kembar memang memiliki 'bahasa kode' yang tidak dimengerti orang lain selain mereka sendiri atau idiolgossia. Kemampuan ini timbuh karena kedekatan emosional mereka sudah dimulai semenjak sembilan bulan berada dirahim yang sama,begitu lahir dan tumbuhpun mereka selalu bersama. Itupun juga dimiliki oleh Arsyad dan Arra. Karena tumbuh,berkembang hingga terlahir bersama membuat keduanya banyak memiliki kepekaan terhadap kembaranya.
Seperti saat ini,Arra begitu mencemaskan kembaranya. Karena dirinya tahu sesuatu yang buruk akan menimpa kembaranya. Namun kini,yang bisa Arra lakukan adalah berdo'a kepada Allah demi keselamatan dan perlindungan-Nya.
📚📚📚
"Jadi,loe bakal terus netep di Jogja nanti?"
"Heem,gue ambil beasiswa disana."
"Katanya mau diharvard?"
Pemuda berjaket denim dongker itu tersenyum tipis. "Gue punya seseorang buat dijaga."
"Acieee,Arsen mulain cinta cintaan." Goda Davin sambil terkekeh.
"Wajarlah,diakan normal." Imbuh Davian.
Keempatnya kembali tertawa riang. Hari mulai semakin malam. Rombongan Galang juga sudah berpamit undur diri sejak tiga puluh menit yang lalu. Meninggalkan area villa yang masih nampak cukup ramai. Para anak lelaki masih asik bernyanyi sambil bercengkrama didekat api unggun.
__ADS_1
"Siapa sih yang mau loe jaga sen?" Tanya Davian penasaran.
"Sebagai informasi,gue ini lebih tua dua tahun dari loe bertiga."
"Hehe,santuy ajalah bang. Sodara gue emang gila semua." Kekeh Aroon sambil tersenyum tipis.
"Dasar sodara luknut loe. Kayaknye,loe itu kebanyakan minum air ketuban pas lahirnya terakhir,makanya sifatnya paling luknut."
"Sans ae,ya enggaklah."
"Gue curiga loe bukan kembaran kita." Ujar Davian yang langsung diangguki oleh Davian.
"Elah,lahir barengan dari sel telur yang sama masih diragukan? Perlu tes DNA ulang gitu?" Ujar Aroon jengah.
"Yakali-" Jeda Davian sejenak,sebelum terpotong oleh suara Arsen.
"Eh Syad,mau kemana loe?"
Pemuda tampan yang mengenakan jaket berwarna biru dongker itu tidak menoleh sama sekali. Dia lebih memilih melanjutkan langkahnya tanpa kata.
"Palingan juga balik kekamar." Davian mengangguki ucapan Davin kembaranya.
"Iya,mungkin bang Arsyad udah capek." Imbuh Aroon yang juga diangguki oleh kedua kembaranya.
"Ngak biasanya Arsyad pergi ngak bilang." Bingung Arsen.
Bagaimanapun juga Arsen mengenal Arsyad bukan setahun dua tahu. Mereka sudah berteman cukup lama,sejak duduk dibangku sekolah dasar. Oleh karena itu,sedikit banyaknya dia tahu sifat Arsyad.
"Aneh?" Bingungnya.
Arsyad sadar ada yang salah dengan tubuhnya sejak 30 menit yang lalu. Walaupun awalnya hanya reaksi panas dan gerah pada umumnya,semakin lama reaksinya semakin menjadi. Rasa aneh menjalar diseleluruh tubuhnya,terutama ditubuh bagian bawahnya. Tubuhnya tidak bisa dikompromi,bisa bisa ia menjadi moster yang menerkan lawan jenisnya disini.
Disetengah kesadaranya yang mulai menipis,Arsyad berjalan membelok kebelakang Villa. Tidak baik bertemu orang lain dalam keadaan seperti ini. Dia tahu ini efek dari reaksi apa. Arsyad tahu betul,reaksi janggal ini pasti ulah seseorang yang ingin menjatuhkan harga dirinya. Namun,bukan itu yang harus dia pikirkan saat ini. Melainkan penderitaan yang semakin menyiksanya setiap menitnya.
Setidaknya Arsyad butuh pelepasan agar dirinya lebih baik. Efek dari semua ini akan hilang jika ia mendapatkan pelepasanya. Namun dengan demikian pula,Arsyad harus menjauh agar tidak menimbulkan masalah lain. Diantara kebingungan dan hasrat yang mulai membara,Arsyad menemukan arah yang cukup sepi. Jauh dari keramaian lalu lalang rombonganya,juga tak berpenghuni.
Setiap pijakan tangga akhirnya ia titi,dengan kesadaran yang mulai menipis lagi. Tak sadar akan apa yang nantinya terjadi,setidaknya dia harus menjauh dari keramaian terlebih dahulu agar tidak berulah. Tubuhnya semakin sulit berkompromi,apalagi tingkat hasrat yang kian meninggi. Arsyad butuh sesuatu untuk pelampiasan,namun bukan untuk dirusak. Dia tidak tahan,sungguh demi apapun juga.
Rasanya,malam ini malam terburuk yang pernah dialaminya. Ketika kesadaranya tinggal seperkian persen,Arsyad menemukan satu satunya tempat diatas sana. Tempat sepi yang cukup baginya untuk melampiaskan segalanya sendiri. Dengan tangan yang mulai tidak stabil bergerak,Arsyad membuka knop pintu tersebut. Menutupnya dengan cepat,lalu bergegas mencari kamar mandi. Dia harus menyelesaikanya sendiri dengan air dingin,tidak ada seseorang yang bisa membantunya mengurangi penderitaan ini. Kecuali dirinya sendiri.
📚📚📚
"Mas kenapa?" Tanya wanita paruh baya yang baru saja memasuki ruangan tersebut.
"Ada sesuatu yang terjadi dek?" Lirih pria paruh baya yang masih nampak gagah tersebut.
Tubuh tinggi tegapnya masih terbalut seragam TNI angkatan darat RI. Dengan baret kebanggaan yang juga menunjang penampilanya.
"Mungkin mas terlalu letih,jadi banyak fikiran." Lirih sang istri sambil membantu suaminya menyimpan peralatan yang biasa dibawa suaminya.
"Tanganmu kenapa ini dek?" Tanyanya risau,saat melihat telapak tangan istrinya terbalut kain kasa.
Aurra-wanita beranak tiga itu tersenyum tipis,sebelum menjawab pertanyaan sang suami.
"Cuma luka ringan mas. Tadi aku ngak sengaja jatuhin gelas,karena kurang teliti pecahan gelasnya nusuk kulit tanganku." Tuturnya.
"Astagfirullah,kenapa bisa gitu dek?" Risau Van'ar sambil mengusap punggung tangan istri tercintanya.
__ADS_1
"Hari ini Arsyad pergi camping kayak tahun tahun sebelumnya. Dia pamit sama aku mas,tapi sejak keberangkatanya ada saja firasat yang terus menganjal dihati."
Van'ar mengerti maksud dari ucapan sang istri. Ia juga sempat merasakan ilafat yang sama. Terlebih lagi dirinya tidak sengaja melihat fhoto putranya itu jatuh dari atas meja kerjanya.
"Arsyad kenapa ya màs?"
"Apa putra kita baik baik saja mas?" Tanya Aurra lagi.
Matanya mulai berkaca-kaca. Tadi,selepas menemani putrinya hingga tertidur. Dirinya sendiri malah tidak bisa tertidur saking khawatirnya. Walaupun ba'da isya si sulung sudah menelphone,tetap saja rasa cemas itu tetap ada.
"Arsyad sudah ditelphone?"
"Sudah,ba'da isya tadi. Dia tidak kenapa-kenapa. Tapi perasaanku,perasaan Arra-kembaranya mengatakan jika putra kita tidak dalam keadaan baik baik saja mas."
Van'ar beranjak,mendekat kearah sang istri lalu memeluknya erat. Membelai pucuk kepala wanita yang begitu ia cintai dengan sayang.
"Istigfar dek,kita kembalikan lagi semuanya kepada Allah. Mas juga sudah coba telphone Aroon barusan,mereka baik baik saja."
"Kenapa mas telphone Aroon bukan Arsyad?"
"Handphone Arsyad tidak aktif. Mungkin sibuk sama acara renunganya. Kamu tahu sendiri putra kita jarang mainan handphone."
"Tapi mas,perasaanku masih tidak enak."
"Ssstt,percaya pada yang maha kuasa. Dia maha mengetahui dan maha adil. Semuanya sudah tertulis dilauhmahpudznya,apapun yang terjadi sudah ketentuan-Nya."
"Iya mas." Jawab Aurra.
Van'ar tersenyum lirih,lalu detik berikutnya ia menjatuhkan satu kecupan ringan kening sang istri. "Ambil air wuďhu ya,kita salat tahajud berjamaah."
"Iya."
Sebanyak apapun firasat maupun ilafat yang datang menghampiri,jangan sampai kamu lupa akan adanya yang maha kuasa diatas sana. Semua yang terjadi atas segala kehendak-Nya,baik ataupun buruknya. Mau dihalangi sekeras apun,jika tuhan telah berkata A maka terjadilah. Semua yang terjadi didunia ini atas ketentuanya. Apa yang memang sudah digariskan disetiap alur hidup mahluknya. Manusia hanya bisa apa apa selain berikhtiar,berdo'a dan bertawakàl.
Karena dalam rukun islam sekalipun sudah dijelaskan untuk mengimani Qada dan Qadar. Ketentuan ketentuan Allah Swt. yang baik maupun buruknya,karena semua itu sudah ada didalam ketetapanya.
"Tidak ada sesuatu bencana apapun yang menimpa dibumi dan (tidak pula) pada diri kalian melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum kami menciptakanya,sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah Swt." (Q.S Al-hadid/57 : 22)
****
TBC
Met Malam readers Semua??
BCT update lagi yo🖐🖑
Nah,inilah awal konflik novel Bukan Cinta Terencana ini. Walaupun nantinya,bakal adalah lebih dari satu konflik. Tapi konflik inilah yang membuat titik balik hidup Arsyad berubah.
Ok,jangan lupa jejaknya ya🖐🖑
Typo masih bertebaran!!
Anak Sultan mau lewat😍😍
Sukabumi 09 Okt 2020
__ADS_1