Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
. 78. Makna Kacang


__ADS_3

๐Ÿ“š. 78. Makna Kacang



"Ada hal yang paling lumrah namun terkenang hingga usia senja. Masa pelulusan di putih abu, akan selalu membuat seseorang ingin memutar balik waktu."-Arsenov Rayyan


****


HARAP TENANG SEDANG UJIAN.


Selembar kertas bertuliskan 5 kata dalam satu huruf, dicetak bold nampak terpangpang di kelas XII IPA 1. Sebuah tangan menggapai kerta HVS yang ditempel menggunakan kertas perekat tersebut. Bunyi sobekan menggema dengan nyaring, saat ia menarik kertas tersebut.


"Kita udah lulus, woy!" Sebuah suara menggelengar terdengar mendekat.


Seorang lelaki yang membiarkan seluruh kancing seragamnya terbuka, memperlihatkan dalaman berupa kaos hitam itu berseru senang. Beberapa sekawannya juga nampak riuh berjoged bersama.


Musim ujian telah usai. Surat keterangan lulus telah diberikan. Tinggal menunggu ijazah dan surat menyurat lainnya, angkatan ke-53 tersebut akan segera hengkang dari sekolah yang telah menjadi rumah kedua bagi mereka.


Tawa dan canda yang mereka biaskan di setiap lorong, ruangan, sekat pembatas, perpustakaan, kantin, taman, akan menjadi memori di kemudian hari. Kini, jalan yang sesungguhnya akan membentang di hadapan mereka. Jalan mana yang tentu akan mereka pilih dan jajali sendiri.


"Baik, rapat purna kali ini saya tutup. Tetap semangat, amanah, disiplin dan optimis. Organisasi sekarang adalah separuh dari diri kalian." Lelaki yang tengah duduk di depan para audien itu berbicara dengan lugas.


Di depan meja tempatnya duduk terdapat nama 'PURNA MPK' yang tersemat pada sebuah balok berbentuk persegi panjang. Dunia putih abunya telah usai, pun perjalanan organisasinya. Sebagai purna ketua dalam organisasi tersebut, ia tentu diberi waktu untuk memberi wejangan pada junior-juniornya sebelum hengkang.


Selesai dengan rapat purna tersebut, ia melepaskan jas kebanggaanya. Menyimpan benda tersebut ke dalam loker miliknya dengan apik. Ada beberapa pin tertinggal di dalam lokernya. Ia belum sempat membawa kotak kardus untuk membenahi benda-benda tersebut.


"Um, Arsyad."


Si empunya nama menoleh. "Ya, ada apa?"


"Um, aku cuma mau bilang terimakasih." Lirih gadis berhijab putih tersebut.


Arsyad mengangguk, sambil menutup lokernya. Sebelum tertutup rapat, manik milik lawan bicaranya sempat melihat sebuah fhoto yang tertempel di pintu loker bernomo 75 tersebut.


"K-amu mau lanjut kuliah dimana? Kamu jadi ambil tawaran kuliah di Oxford?"


"Tidak. Aku ada universitas lain yang dituju."


Gadis itu mengangguk faham. Ia memang sempat beberapa kali mengikuti olimpiade bersama Arsyad. Ia tentu tahu kurang lebihnya kapasitas Arsyad. Ia juga sempat ditawari beasiswa kuliah di Oxford yang sama dengan ditawarkan pada Arsyad.


"Um, boleh enggak aku jujur sama kamu, Arsyad?"


"Silahkan."


"A-ku sebenarnya..."


"Oii, bang. Dicariin taunya disini." Gerombolan rusuh datang. Ketiganya datang membawa sebuah buket bunga berukuran besar yang terbuat dari uang pecahan seratus ribu.



"Happy Graduation. Ini buket bunga bank dari kita, Tiplet sengklek." Si tengah mewakili.


"Yoii, kita punyanya bunga bank, bunga uang, kalau bunga asli pada layu nanti." Si sulung yang tengah merangkul si bungsu bersuara.


"Padahal belum pelulusan." Arsyad bersuara, saat menerima sodoran buket bunga uang tersebut.


"Gak papa, ini kita inisiatif aja. Nanti kita pesan lagi pas perpisahan resmi." Davian berujar sambil nyengir kuda.


"Ini, kalian lagi ngapain disini?" Aroon baru buka suara. Ia menunjuk Arsyad dan gadis di sampingnya bergantian.


"Mojoklah, pake ditanya lagi." Kekeh Davian. "Eh, tapi bukannya bang Arsyad udah..." Davian menutup bibirnya sendiri. Hampir saja ia keceplosan.


"Kak Humaira, sedang apa disini?" Tanya Aroon.

__ADS_1


"A-nu, aku..."


"Aduh jangan anu, ambigu banget kalimat lo." Davin menyela. "Santai aja jelasinnya. Kita gak gigit kok."


"Iya. Santuyy aja kuy." Kekeh Davian.


Rona merah menghiasi wajah gadis tersebut. Sifatnya yang pemalu acak kali membuatnya menjadi gugup. "I-ini." Ia menyodorkan sebuah toples bening berbentuk bulat.


Di dalamnya ada berbagaimacam kacang. Ada sebuah pita berwarna pink juga yang melingkari batas tutupnya.


"Untukku?" Tanya Arsyad. Humaira mengangguk.


"Kacang?"


"Pilosofi kacang apaan emang?" Si kembar betanya bingung.


"Kamu ingat enggak, pas pertama kali kita ikut lomba debat bahasa Indonesia tingat privinsi?" Arsyad mengangguk kecil.


"Waktu itu, aku gugup karena aku gak pernah nyangka bakal lolos sampai tahap itu. Kamu nawarin aku kacang, kacang pistasio. Kamu bilang, kalau gugup coba latih kesabaran kamu dengan cara ngupas kacang. Gugup buat aku gak tenang, ngupas kacang bisa mengalihkan perhatian aku waktu itu. Aku jadi lebih tenang hanya karena kacang."


Si triple mendengarkan dengan seksama. Mereka coba meringkas makna kacang dalam cerita gadis tersebut.


Arsyad mengangguk. Ia ingat, kala olimpiade debat itu mereka masih duduk di bangku kelas X. Karena waktu itu Arra--sang kembaran mendapat endors kacang-kacangan dari timur tengah, gadis itu membaginya pada Arsyad. Saat perjalanan menuju tempat olimpiade, Arsyad memang ngemil kacang-kacang tersebut. Melihat teman seperjuangannya dilanda gugup tak terbendung, ia berinisiatif untuk membantu mengalihankan kegugupannya.


Alih-alih melakukan banyak hal, yang terlintas di kepalanya saat itu adalah kacang. Salah satunya adalah kacang pistasio yang ada di dalam ranselnya.


"Iya. Karena kacang itu gugupku teralihkan. Olimpiade itu juga alhamdulillah sukses. Seperti kacang itu sendiri, makna kacang menurutku, kita harus bekerja keras ketika mendapatkan hasil yang memuaskan. Seperti kacang, kita harus membuka terlebih dahulu kulitnya, walaupun merepotkan, setelahnya baru kita bisa menikmati hasilnya."


"Wahh... daebak. Beri tepuk tangan yang gemuruh." Si triple bertepuk tangan riang. "Makna kacang gak main-main ternyata."


Arsyad tersenyum tipis sambil menerima benda tersebut. "Aku terima. Terimakasih."


"Um, sama-sama." Ujar Humaira malu. "Dan ini," gadis itu menyodorkan sebuah amplop kertas berwarna merah jambu.


"Besok, aku sama rekan-rekan kita yang diterima di Oxford akan berangkat ke sana. Mungkin, pas kelulusan resmi nanti kita tidak disini lagi."


Humaira, gadis yatim piatu yang baik hati itu memang pandai. Pantas jika dirinya mendapatkan beasiswa yang sepadan dengan kemampuannya.


"Kalau begitu, sampai jumpa lagi lain waktu, Arsyad. Itupun jika Allah menghendaki. Senang bisa memiliki patner seperjuangan seperti kamu."


"Hm."


"Kalau begitu aku pamit dulu ya, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Sepeninggalan Humaira, Davian bersuara cepat. "Keknya dia naksir bang Arsyad."


"Iya. Roman-romannya gitu." Timpal Davin.


"Orang pinter mah beda ngungkapin perasaanya, menggunakan kalimat bermana dalammm nyampe ke hati. Bawa-bawa pilosofi kacang lagi." Kekeh Davian.


"Dasar lo pada, orang mau pamit juga di nethingin." Aroon bersuara, sambil melirik Arsyad.


Sedangkan yang dilirik, masih diam di tempatnya. Ia menatap lurus kedua benda yang kini ada di tangannya. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa sekarang.


๐Ÿ“š๐Ÿ“š๐Ÿ“š


"Yanda?"


"Hm."


"Ini, toples isinya kacang punya siapa? Ada suratnya juga."

__ADS_1


Lelaki yang baru saja hendak mengenakan kaos hitam itu menoleh refleks. Gawat. Itu surat dari Humaira!


"Itu, punya Arra kayaknya." Arsyad berdih.


"Masa? Kok ada di ransel yanda? Kara buka ya."


Lelaki yang masih bertelanjang dada itu menggaruk tengkuknya kikuk. Dia khawatir isi surat itu malah membuat istrinya salah paham. Arsyad lupa, sungguh. Ia lupa memindahkan toples berisi kacang dan surat tersebut. Padahal ia tahu rutinitas sang istri yang selalu merapihkan barang-barangnya.


"Kok suratnya begini? Ini.... kayak surat nyatain perasaan suka sama seseorang."


Deg!


Arsyad terpaku di tempatnya. Tuh kan, dia harus bagaimana sekarang?


"Dulu Dylan sama Hyung Aiden juga banyak dapat surat gini. Kara yang selalu baca surat-suratnya. Ini bukan punya Arra deh kayaknya?" Gadis berpiama dongker itu menoleh ke arah sang suami.


"Yanda bohong ya?" Selidik Kara.


Arsyad menggaruk tengkuknya kikuk. Ia lantas mendekati sang istri, meraih dagu gadisnya agar mendongrak ke arahnya.


Cup


Ia mengecup bibir sang istri singkat, sedikit ********** di akhir. "Maaf." Ucapnya tepat di hadapan bibir istrinya.


"Bohong 'kan?" Gadis itu mengulang, sambil mengerucutkan bibirnya kesal.


"Maaf. Tadi aku memang bohong. Sekarang, tanyakan apan yang mau kamu tanyakan soal dua benda itu. Akan aku jawab jujur."


Kara mengangguk, lantas mencubit pinggang polos sang suami keras. Membuat si empunya mengaduh kesakitan.


"Pakai baju dulu, yanda mau masuk angin? Betah banget gak pake baju." Ketusnya.


Lelaki rupawan itu tertawa kecil melihat wajah galak sang istri. Bukannya menurut untuk segera mengenakan baju, ia malah meraih tubuh sang istri untuk di peluknya erat.


"Yanda, pake baju dulu ih."


"Hm."


"Nanti masuk angin. Bunda juga yang repot."


Arsyad terkekeh kecil. "Jadi kamu gak mau urus aku pas sakit?"


"Bukan gitu. Kara kan gak bisa ngerok. Katanya, kalau masuk angin harus di kerok. Kara gak sanggup lihat badan yanda merah-merah karena di kerok. Pasti sakit."


Arsyad tertawa renyah. Tawa yang lagi-lagi muncul karena tingkah laku sang istri yang menggemaskan.


"Istriku... istriku.... istriku..."


Kara membalas pelukan sang suami. Hatinya selalu berdesir kala Arsyad memanggilnya dengan sebutan istriku.


"Menggemaskan sekali."


Arsyad menyimpah dagunya di pucuk kepala sang istri. Membuat istrinya itu kian merapat dengan tubuhnya. Ia sungguh telah jatuh cinta, segenap cinta yang datang tanpa rencana. Tuhan membuat cinta mereka alakadarnya, namun menguat dengan seiring berjalannya waktu.


Seperti Rasulullah menjaga istrinya, Aisyah RA. Ia akan senantiasa mencontoh tindak-tanduk segala amalan yang Ayah-Ibunya ajarkan. Ia akan menjadi suami, imam, kepala keluarga, pelindung juga guru bagi istri kecilnya. Ia akan menuntun jemari kecil miliknya untuk melalui setiap hari-hari yang mereka lewati di dunia ini.


****


TBC


Jangan lupa tinggalkan like, vote, komentarrrr, share dan follow Author. Makasih sudah setia menunggu Yanda update๐Ÿ˜๐Ÿ˜


Kita jumpa lagi di next part ya๐Ÿ˜™

__ADS_1


Sukabumi 10 Mei 2021


__ADS_2