Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
.55-Kita Teman?


__ADS_3

📚.55-Kita Teman?



"Jika aku belum bisa meraihmu untuk sesuatu yang spesial, nanti. Suatu saat nanti aku akan datang dan kembali memintamu untuk hak spesial tersebut."-Naraess AlGean Hazka Dwiarga


****


"Ini bawa kemana bos?"


"Gudang."


"Gudangnya, dimana bos?"


"Em, lo tanya sama itu tuh mang Asèp. Dia pasti tahu." Tunjuk lelaki tampan berkoko putih tersebut.


"Owh, ok. Siap laksanakan boss." Ujar dua sahabatnya, sambil mengangkat dua kardus.


Geman and the geng, masih berada dirumah duka. Di kediaman Radityan, dimana mereka sejak siang berkecimpung membantu sana-sini. Setelah almarhum dimakamkan, para keluarga dan kerabat yang datang mulai berbondong-bondong turut berbela sungkawa. Malamnya, acara pengajian langsung di gelar. Walaupun bukan siapa-siapa di keluarga Radityan, Gean rasanya tak enak langsung pergi begitu saja. Alhasil, ia tertahan disini karena keinginannya sendiri.


"Den, boleh bantu bapak?" Tepukan di bahunya, membuat Gean menoleh.


"Bantu apa pak?"


"Bantu pasang ini den. Bisa?"


Gean mengangguk tanpa pikir panjang. Sambil mengikuti intruksi salah seorang pekerja di mansion Radityan, ia membantu menggelar terpal biru untuk membuat tenda semi permanen agar para pelayat tidak kepanasan atau kehujanan saat hendak berpulang. Saking banyaknya pelayat, ruang tengah dan bagian yang dijadikan tempat tunggu sampai penuh. Jadilah tenda-tenda didirikan, termasuk tenda semi permanen untuk para pelayat menunggu diluar ruangan. Karangan-karangan bunga juga berjejer dari pintu masuk mansion hingga depan rumah duka. Tak jarang, ada beberapa orang berseragam TNI yang juga datang melayat.


"Kiri den,"


"Di sini pak?"


"Iya. Iket yang kenceng den."


"Asiaapp pak." Ucap Gean, yang kini tengah berdiri di atas sebuah tangga lipat. Membantu mengikat tali di tiang untuk tenda semi permanen tambahan tersebut.


"Eh, kok tangganya goyang-goyang pak?" Tanya Gean waswas.


"Pak?" Gean melihat kebawah, namun tak ada orang yang dimaksud.


"Eh, anjir. Jangan digoyang-goyang cing." Suruhnya, ketika melihat seekor kucing memainkan tangannya pada salah satu pijakan tangga.


"Eh, cing. Gue nanti jatoh kalau, eh eh-"


Gubrak


"Anjir?!" Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Benar ucapannya, ia benar-benar jatuh menyentuh tanah dengan tidak etis.


"Ya Allah den?" Kaget si bapak. "Aden kenapa bisa jatuh begini?"


"Aloh, tangan gue." Lirih Gean, saat dirasa tangannya nyeri.


"Ya Allah, Aden jatuh karena saya tinggal ambil tali?" Tanya si bapak, merasa bersalah.


Gean menggeleng, "Enggak pak. Ini karena kucing nakal." Kekeh Gean. "Saya juga gak papa kok pak."


"Beneran den, ini tangannya?"


"Anjir!" Ujar Gean refleks, saat tangan kirinya disentuh.


"Sakit den?"


"Hehe, sedikit pak."


"Ya Aloh, bossque lo ngapain duduk di tanah gitu?" Tanya Sagara yang baru datang bersama Cakrawala.


"Gue jatuh goblok, bukan asal duduk." Ketus Gean.


"Jatoh?" Ulang keduanya.


"Udah, sini. Bantuin gue berdiri."


Sagara dan Cakrawala manut, membantu bos mereka berdiri. Memboyong Gean untuk duduk di salah satu kursi yang tersedia.


"Gak papa lo bos?"


"Gak papa, gak papa. Lo gak lihat, tangan gue misalah asuuu."


"Misalah? Oemmjii, lo misalah dimana bos?"

__ADS_1


"Tah." Tunjuk Gean pada tangan kirinya.


"Coba, gue sentuh." Ujar Cakrawala.


"Gobleg?! Nyeri atuh!" Kesal Gean.


"Sorry bos." Kekeh Cakrawala.


"Kayaknya itu keseleo den, ada urat yang bergeser. Bapak ambilin minyak buat ngurut dulu ya den." Pamit si bapak, buru-buru berlalu.


"Lo si, sok-sokan jadi super hiro boss. Jadinya, gini kan?" Sindir Sagara.


"Gue niatnya baik, mau nolongin ya. Mana tahu bakal celaka."


"Iya sih bos. Tapi lo kan anak sultan, makan aja tinggal pangil bi, bibiii. Mau benerin sesuatu juga tingal panggil mang, mamangg. Ini sok-sokan." Imbuh Cakrawala.


"Teross, jelek-jelekin gue. Gue gibeng baru tahu rasa lo!"


Sagara dan Cakrawala nyengit tipis, sambil angkat tangan. Tak mau mencari gara-gara lagi.


"Kenapa lo?" Tanya Arsen, yang muncul dari belakang ketiganya.


"Punya mata gak lo?" Sewot Gean.


"Punya, kenapa?"


"Punya mata digunain. Lo lihat kan, gue habis jatuh."


"Owh."


"O doang?"


"Ya terus, gue harus ngapain?" Ujar Arsen cuek.


"Asli, ngajak gelud ya lo?"


"Gelud? Gak salah? Tangan lo aja gitu." Jawab Arsen.


"Asuu." Kesal Gean.


"Siniin tangan lo, gue mau lihat."


"Mau sembuh gak nih?" Tanya Arsen.


"Memangnya lo bisa apa? Tangan si boss itu aset berharga buat masa depan. Salah-salah ngobatin, kalau bengkok gimana lo?"


"Iya. Dia itu calon pilot, cedera dikit gak boleh asal-asalan ngobatin." Sergah Sagara dan Cakrawala bergantian.


Gean terkekeh kecil, melihat pembelaan dua sahabatnya dari zaman zigot.


"Hiperbola banget lo pada. Dia cuma mau lihat tangan gue kali." Ujar Gean, menengahi.


"Coba, lo bisa apa?" Gean menjulurkan tangannya.


"Anjir?!" Umpat Gean refleks, saat Arsen menarin tangannya kasar.


"Boss?!" Panggil Sagara dan Cakrawala bersamaan, khawatir.


"Niat nolong gak sih lo?!" Sewok Cakrawala.


"Lo gak papa bos?" Tanya Sagara.


"Nyeri anj*ng."


"Ya maaf, gak sengaja gue." Ujar Arsen, sambil menggaruk tengkuknya.


"Asuu. Bilang aja lo sengaja!" Ujar Sagara.


"Gue gak sengaja!"


"Lo sengaja?!"


"Eh, eh, apaan nih?" Lerai Aroon, yang muncul bersama Arra.


"Kenapa lo pada ribut gini?" Tanya Aroon.


"Tuh, tanya sahabat lo. Dia mau matahin tangan temen gue."


"Gue?!" Arsen bersuara tak terima.

__ADS_1


"Kalian apa-apaan sih?" Arra ikut menengahi. Berdiri diantara kedua kubu.


"Udah Gar, jangan ribut. Gue gak papa." Gean buka suara.


"Udah lah, kita balik aja bos. Sifat baek lo gak ada gunanya disini." Ujar Cakrawala.


"Iya. Balik sono, kalian kan tamu gak diundang." Ujar Davian yang baru saja muncul.


"Fix, kita balik bos." Sagara ikut menimpali, balik badan dan segera membantu Sagara memapah Gean.


"Gue gak papa, gak usah lebay." Ujar Gean.


"Kamu kenapa?" Tanya Arra, buka suara.


"Gue gak papa, cuma-"


"Gak papa? Kalau tangan lo patah gimana nasib cita-cita lo boss?"


"Cinta sih cinta, tapi jangan goblok juga bos!" Komentar Sagara dan Cakrawala, pedas.


Gean menatap dua sahabatnya tak suka. Sebelum beralih menatap Arra, sambil menyembunyikan tangannya.


"Gue cuma jatuh, gak papa kok." Ujarnya, sambil tersenyum tipis.


"Bullshit?!" Sagara dan Cakrawala nyeletuk.


Gean mendelik tajam. "Gue balik yak. Udah malem juga, Jakarta Bandung lumayan jauh." Pamit Gean.


"Kamu mau pulang?"


"Hm."


"Balik ya tinggal balik, apa susahnya." Ujar Davian berkomentar.


"Eh lo, jagangan bacot deh." Kesal Sagara.


"Bodo." Ujar Davian tak peduli.


"Lo-"


"Udah. Kita balik, keburu malem." Ujar Gean menengahi. "Titip salam buat Amih sama Apih, maaf gak bisa nunggu sampe pagi." Ujar Gean, sebelum berbalik.


"Tunggu!" Panggil Arra.


"Apa?" Gean bertanya tampa berbalik.


"Kita teman kan?" Tanya Arra, namun Gean tak menjawab.


"Kalau iya, boleh aku bantu kamu?"


"Bantu apa?" Tanya Gean.


"Tangan kamu luka kan?"


Gean hendak buka suara, sebelum kembali disela oleh suara lembut milik cicit Radityan tersebut.


"Boleh aku bantu, kita teman kan?"


Kita teman? Gean mengulang dalam hati. Ia tersenyum tipis, hanya karena status 'teman' hari ini ia hampir membuat tangannya patah. Aset berharga yang harus ia jaga demi cita-cita mulianya menjadi seorang Pilot. Dan kini, dia menawarkan bantuannya sebagai seorang teman. Jadi, Gean harus apa?


"Cuma sebentar, pertolongan pertama. Tangan kamu perlu penangan pertama." Ujar Arra.


Gean berbalik, sambil menatap Arra lekat. "Ok, sebentar aja. Gue mau lo nolong gue, teman." Ujarnya.


****


TBC


Hallo, BCT update lagi. Maaf lamaaa baru up🙏


Aku sakit, jadi banyak tugas yang terkenďala. Cuaca ekstrim juga belakangan, jadi ada pemadaman listrik. Nah loh, sekarang udah up. Maaf kalau cuma sedikit🙏


Part ini cuma mau bikin hareudang aja😅 Hayoo, komentarrr ya. Intinya, aku cuma mau kasih klu dikit. Persaingan disini gak mutlak, karena Arsen atau Gean punya point tersendiri buat bertahan.


Ok, jangan lupa like, vote, komentar, share dan folloe. Ig karism022 juga boleh👐


Jumpa lagi nanti yo👐


Sukabumi 30 Januari 2021

__ADS_1


__ADS_2