
...97. Kita Baik-Baik Saja...
...“Kita sudah bahagia. Kita baik-baik saja. Kita bersama dan tidak akan ada yang bisa menganggu.”—Atmariani Karamina Adriani...
...****...
Bunyi spatula yang bertemu dengan permukaan pergorengan, tampak terdengar cukup nyaring mengisi area dapur. Kendati suhu di luar ruangan bisa mencapai mines beberapa derajat, dia tetap semangat membuat sarapan di pagi-pagi buta sekalipun. Padahal ada Bi Ismi yang sudah melerainya. Wanita paruh baya yang bekerja sebagai asisten rumah tangga itu sudah menawarkan diri untuk menggantikan sang tuan muda. Namun, dia urung menerima tawaran tersebut.
Sebetulnya dia cuma memasak menu sarapan sederhana pagi ini. Spaghetti dengan saus pesto. Itu loh, saus yang terkenal se-antero dunia dari Liberia. Saus yang dibuat dari campuran bawang putih, daun basil, minyak jaitun, oregano, dan berbagai bumbu dan rempah lainnya itu memang lazim sekali disajikan sebagai bumbu pasta.
Tinggal lama di benua Eropa, tentu membuat lidahnya cukup terbiasa dengan berbagai menu olahan western yang biasa ditemuinya. Selain membuat pasta, dia juga menyiapkan salad. Menu wajib bagi sarapan sang istri, beserta segelas susu almond tentunya. Sebentar lagi wanita cantik itu pasti terbangun.
Senyum lebar tak kuasa tidak terbit di bibirnya, saat ingatannya kembali berputar pada kejadian semalam. Malam yang indah di penghujung bulan Desember. Semalam mereka puas bermain di kamar mandi. Sampai sang istri kewalahan dan tertidur karena kecapean.
Jangan berpikir yang aneh-aneh dulu, bukan karena itu maksudnya. Ya, mereka bermain-main dalam artian yang sesungguhnya. Setelah ciuman manis itu, mereka menghabiskan waktu untuk berendam dan bermain buih-buih sabun. Tidak ada kejadian yang terjadi lebih intim lagi. Karena dia juga sadar masih harus bersabar dan menahan diri. Semua itu akan ada waktunya.
“Yanda!”
Istrinya sudah bangun. Terbukti dari suara derap langkah tampak terdengar terburu-buru menuruni anak tangga.
“Good morning. Kamu sudah bangun?” sapanya, menyambut sang istri.
“Ini apa yanda?” bukannya membalas sapaan sang suami, wanita cantik itu malah menunjuk bagian lehernya yang dihiasi ruam merah keunguan.
“Love bite,” jawab sang suami gamblang.
“Sama ini, ini, ini, terus ini.” Wanita cantik itu menunjuk bagian-bagian tubuhnya yang memiliki tanda yang sama. Bibirnya tampak mengerucut sebal. Tanda itu bukan hanya satu, tapi banyak.
“Itu tanda,” jawab sang suami sambil menghidangkan masakan buatannya. “Ayo duduk, kita sarapan.”
Wanita cantik yang turun dengan balutan kaos double large di tubuhnya itu, tampak menghentak-hentakan kakinya kesal sambil berjalan menuju meja makan. “Memangnya kapan Yanda buatnya? Kok Kara gak tahu.”
Sambil menatap sang suami kesal, wanita cantik itu menggeser satu piring berisi spageti pesto buatan suaminya.
“Semalam,” jawab Arsyad enteng. Dia memang sempat meninggalkan tanda di beberapa bagian tubuh sang istri. Dia pikir istrinya ingat saat dia membubuhkan tanda tersebut. Tahunya tidak.
“Jangan di ulangi lagi. Ini susah loh ngilanginnya,” ketus Kara. Apalagi tanda itu sebagian tertinggal di bagian leher. Bisa kesulitan dia menghilangkan love bita made in suaminya itu.
__ADS_1
Arsyad tersenyum tipis sambil menatap sang sitri. “Tidak janji.”
Mana bisa dia berjani soal sesuatu yang mulai menjadi kesukaanya. Toh, Arsyad acak kali gemas jika melihat sang istri tampil hanya dengan mengenakan kaos miliknya yang tampak kedodoran di tubuh istrinya. Seperti saat ini saja contohnya.
Karena ngantuk, wanita cantik itu sampai tidak sadar tertidur hanya mengenakan atasan berupa kaos milik Arsyad. Dia menarik asal atasan tersebut dari dalam almari karena sudah terlanjur ngantuk.
“Sudah, makan sarapanmu. Setelah itu kita pergi ke kampus.”
Kara mengangguk dengan malas. Arsyad yang melihat itu tersenyum tipis di buatnya. Tingkah laku istri kecilnya ini, selalu saja membangkitkan mood booster bagi pagi harinya.
**
Manusia adalah tempat yang tidak pernah luput dari lupa dan dosa. Demikian pula dengan Arsyad dan Kara. Sejauh apa ilmu yang Arsyad miliki, kuasai, juga kaji. Dia tetaplah manusia yang terkadang tidak luput dari dosa. Ketika salah satunya dia lakukan, istigfar dan surat Taubat menjadi jalan pengembalian. Seperti pagi tadi misalnya, pria rupawan itu tidak lupa menyempatkan diri untuk membaca surat Taubat. Mengingat dosa yang telah dilakukannya karena membiarkan wanita yang bukan mahromnya bersentuhan dengan kulitnya.
Arsyad tidak melakukannya dengan sengaja. Hanya saja pikiran yang tengah kalut membuatnya luput akan dosa tersebut. Maka, istigfar dan surat Taubat menjadi jalannya kembali. Arsyad tidak pernah berencana menduakan sang istri, apalagi bermain api. Baginya satu wanita sudah cukup baginya, apalagi Kara yang menemaninya selama ini.
“Kamu kedinginan?” tanyanya kepada sang istri.
Wanita cantik yang mengenakan mantel berwarna moca itu mengangguk kecil.
“Kemari.” Arsyad menarik tangan sang istri agar dapat dia bawa ke dalam saku mantelnya. Menganggam jemari yang dingin tersebut guna memberikan kehangatan.
Jalanan sudah dimeriahkan oleh pernak-pernik yang biasa dipasang untuk merayakan natal dan tahun baru. Nuansa merah, putih dan hijau menjadi warna yang mendominasi. Akan ada banyak hiburan hingga pentas seni nanti. Semua itu dilakukan sebagai bentuk perayaan di musim dingin dan menyambut hari raya orang nasarani. Kendati suhu sangat dingin, semua itu tidak lantas mengurangi semangat orang-orang untuk merayakan hari raya.
“Apa Papih sudah kembali?” Tanya Arsyad saat mereka sudah tiba di kelas.
“Iya. Papih langsung pulang lagi. Him very busy.” Kara melirik sekelilingnya sembari menjawab.
Kelas sudah terisi oleh beberapa orang, lebih tepatnya pasangan. Mereka duduk berdua, ada yang mengobrol, berpelukan, bahkan ada yang saling curi cumbu. Hal itu lumrah terjadi di sini.
“Jangan dilihat.” Arsyad meraih sisi wajah sang istri agar menghadap ke arahnya.
Wanita cantik itu tersenyum lebar sembari menatap sang suami. Syal tebal berwarna putih hari ini menjadi andalannya untuk menutupi bagian leher. Sekaligus menutupi tanda di baliknya. Mengingat itu, rona merah muncul menjalar di pipi Kara.
“Jangan berpikir yang tidak-tidak. Itu tidak baik,” ujar Arsyad sembari mengacak pucuk kepala sang istri.
Padahal rambut Kara yang diacak-acak. Namun, hati wanita cantik itu yang ikut teracak-acak.
“Yanda tahu enggak apa itu childfree?” Tanya Kara tiba-tiba.
__ADS_1
“Childfree?”
Kara mengangguk sembari tersenyum tipis.
“Istilah yang digunakan untuk pemikiran yang membebaskan seseorang tidak memiliki anak?” ucap Arsyad. Jemarinya masih bermain di helaian surai cantik milik sang istri.
“Iya. Sekarang sedang marak diperbincangkan.” Kara kembali buka suara. “Ada banyak alasan kenapa childfree ini terjadi. Salah satunya karena kondisi kesehatan, kesiapan mental si calon Ibu atau calon Ayah, hingga masalah-masalah lainnya.”
“Kalau menurut yanda gimana?”
“Memiliki anak itu memperpanjang keturunan. Kehadirannya adalah anugerah dari Tuhan. Tapi, semua itu kembali kepada Tuhan dan pasangan masing-masing. Apakah Tuhan mengijinkan memiliki keturunan atau tidak. Berlaku juga terhadap pasangan masing-masing.” Arsyad menuturkan sembari menatap sang istri lekat.
“Pasalnya, memiliki keturunan itu tidak mudah. Baik dari segi fisik, fsikis hingga finansial semuanya harus diperhitungkan secara matang-matang. Baik dari pihak suami ataupun istri. Suami harus siap berpikir jauh ke depan sebagai seorang Ayah yang memiliki tanggung jawab lain nantinya. Seorang istri juga harus siap jasamani dan rohani sebagai seorang Ibu.”
Mendengar penjelasan sang suami, Kara kembali menerbitkan senyum. Di genggamnya jemari sang suami erat. “Terus, menurut yanda kapan kita siap jadi Ayah sama Ibu?”
Bohong jika Arsyad tidak terkejud mendengar hal itu. Akan tetapi, dia bisa mengatasi keterkejutannya dengan baik.
“Aku siap,” jawabnya lirih, sembari menggaruk pelipis. “Tapi, entah dengan kamu.”
“Kara siap, kok.” Kara menjawab gamblang.
Lagi, Arsyad berhasil dibuat terkejut oleh wanita cantik tersebut. “Hm. Tapi, menjadi orang tua itu tidak mudah, Kara. Apa kamu yakin?”
Lagi, Kara mengangguk mantap. Arsyad bingung harus beraksi bagaimana. Di satu sisi dia bahagia karena sang istri sudah siap menjadi Ibu. Tetapi, di sisi yang lain dia juga gamang akan kenyataan jika tekanan akan datang dari berbagai arah saat mereka menyelesaikan pendidikan mereka nanti.
“Dosennya datang. Kita bicara lagi nanti, ya.”
Wanita cantik itu mengerucutkan bibirnya kesal. Dia masih belum puas dengan jawaban sang suami. Baginya, percakapan mereka kali ini masih sangat menggantung. Topik yang mereka bicarakan ini memang berat. Seberat resiko yang akan mereka ambil nantinya jika memilih memiliki keterunun di tengah-tengah pertempuran dua keluarga.
...**...
...TBC...
...Jangan lupa like, vote, share, & follow Author 👋...
...Maaf karena telat update 🙏...
...Sukabumi 23 Agustus 2021...
__ADS_1